Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 26, 2017

Ramadan 2014

Riuh suasana pemilihan presiden di tanah air tidak akan bisa memudarkan pesona Ramadan tahun ini. Jika sebelumnya penempaan Ramadan terjadi di ekuatorial, kali ini perantauan menyeret jauh ke Utara, ke Negeri Ratu Elizabeth!

Kombinasi 23,5 derajat sudut inklinasi Bumi, pertengahan tahun, dan posisi belahan Bumi Utara membuat matahari betah berlama-lama singgah setiap harinya. Subuh pukul 02:30 dan Magrib pukul 21:30 membuat durasi puasa bisa mencapai 19 jam. Seorang rekan lokal bahkan berkata, "That's insane, it's too much!".

Tidak ada suara adzan bergema, tidak ada penjaja takjil, tidak ada sabetan sarung para bocah. Apapun wujudmu, wahai Ramadan, terima kasih telah hadir sebagai sebuah sistem kontemplasi.

Leeds, Juli 2014

Minggu, Januari 01, 2017

Memulai 2017

Penghujung 2016 ditutup dengan percakapan ringan dan sebuah pesan dari seorang sahabat.
"Semesta sudah terkondisikan dengan baik, Gan, tinggal bagaimana kita meresponnya saja."
Saatnya melepas kisah 2016, memulai kembali di 2017 dengan percaya sungguh-sungguh Tuhan memeluk mereka yang terus punya asa.

Senin, November 30, 2015

Komunitas

Mayoritas orang berhadapan dengan jam kerja rutin dari Senin hingga Jumat. Hal ini sebaiknya diseimbangkan dengan kegiatan lain sebagai penangkal rasa monoton. Di tengah Jakarta yang terasa itu-itu saja selama hari kerja, terdapat berbagai macam komunitas yang bisa diikuti sesuai dengan preferensi pribadi. Saya sendiri sangat menikmati bisa tergabung dalam komunitas futsal, tinju, dan sepeda lipat. Syarat utamanya hanya satu: berani mencemplungkan diri!

Futsal AECOM
Tinju pagi
Bakar-bakar geng tinju
Gowes @Kebun Raya Bogor
Terus bergerak!

Selasa, Juni 16, 2015

Kartu Pos

Metode komunikasi lewat kartu pos punya keunikan tersendiri. Ia antik secara fisik maupun konten. Ia memiliki gambar di satu sisi dan kolom tulisan personal di sisi lainnya. Di situ selain isi pesan yang terbaca secara eksplisit, ada guratan tinta yang bersifat implisit. Tak jarang ada kata yang dicoret yang menunjukkan pembetulan kesalahan. Ingat, tidak ada tombol backspace! Emotikon berekspresi dan bisa lepas dari pakem. Tak lupa ada prangko beserta cap kantor pos setempat yang biasanya terletak di pojok kanan atas.

Kartu pos tidak sampai dalam sekejap. Sejauh mana manusia berekspektasi sembari mengelola kekhawatiran?

Minggu, Desember 14, 2014

Revisi

Tadinya 'konsistensi' berada di peringkat pertama sebagai hal tersulit untuk dilakukan menurut versi saya. Sekarang ada revisi! Berikut daftar peringkat terbaru:
  1. Pasrah
  2. Qana'ah (merasa cukup)
  3. Konsistensi
Semoga berhasil!

Sabtu, September 27, 2014

To love is to be vulnerable

"To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable."
C.S. Lewis

Jumat, September 05, 2014

Niat Melanjutkan Studi

Sekolah ke luar negeri menjadi sesuatu yang 'wah' bagi sebagian orang, terutama bagi yang tidak sanggup secara finansial tapi berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh studi lanjutnya. Penulis memiliki hasrat yang kuat untuk melanjutkan jenjang master sejak tingkat tiga kuliah sarjana. Dasarnya ada dua dan sangat sederhana: memperdalam ilmu transportasi agar nantinya bisa berperan membuat kebijakan yang pro-rakyat dan sengaja menceburkan diri ke zona tidak nyaman.

Penulis berdomisili di Jakarta dari TK hingga SMA. Hijrah ke Bandung pada tahun 2008 untuk melanjutkan kuliah sarjana tidak membuat penulis puas dengan zona tidak nyaman yang ada. Bandung sangat nyaman! Masih ada nasi goreng tek-tek pinggir jalan, kemudahan berkomunikasi, cuaca yang bersahabat, pecel lele, kamar kos dibersihkan, dan baju dicucikan sebagai beberapa contoh kecil. Atmosfer Bandung yang terasa berbeda di hati menambah kota ini jauh dari kata tidak nyaman.

Sungguh pas rasanya kombinasi kenyamanan Bandung dan hasrat melanjutkan studi master di luar sana. Setelah kalkulasi kasar, estimasi biaya satu tahun (uang kuliah, akomodasi, makan, dan lain-lain) bisa menembus 400-500 juta rupiah! Sebuah angka yang fantastis! Penulis tidak tahu detail pendapatan orang tua setiap bulannya, tetapi bisa merasakan bahwa tidaklah mungkin meminta setengah milyar rupiah. Bisa-bisa dipecat dari status anak! Di sisi lain, penulis juga bertekad bisa lepas dari dukungan finansial orang tua setelah sarjana. Tanpa penulis minta, pernah dalam sebuah obrolan meja makan terlontar secara gamblang bahwa mereka tidak sanggup. Untuk pembaca yang orang tuanya mampu, bersyukurlah karena tidak semua orang bernasib demikian. Jalan kehidupan ini ajaib.

Kebetulan ada LPDP! Terima kasih kepada Farhan Febrianto yang dulu mengenalkan penulis ke LPDP. Sekarang LPDP sudah menjadi buah bibir dan setiap tahunnya terus mengirimkan ribuan penerima beasiswa ke penjuru dunia. Kesempatan emas ini bisa menjadi batu loncatan atau bumerang, tergantung niat Anda.

"Inna mal a'malu bin niat"
"Segala sesuatu bermula dari niat"

Jika Anda menanam biji mangga, maka buah mangga yang kelak Anda petik, tidak mungkin buah apel. Analogi ini bisa diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk tujuan Anda melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sebagai kesimpulan, mulailah dari diri sendiri untuk meluruskan niat, niscaya semesta mendukung dan menempa kita menjadi pribadi yang arif dan bijak.

Minggu, Agustus 18, 2013

Seniman

Salut mengalir untuk mereka para pekerja seni!

Ketika dunia teknik dielu-elukan dan identik dengan gelimang harta, dunia seni seakan menjadi barang lapuk. Indra Tranggono, pemerhati kebudayaan, mengatakan bahwa merasa cukup kaya, itulah yang hilang dalam kesadaran etis bangsa ini. Tak heran negeri ini menjadi tempat favorit untuk berbagai macam sandiwara busuk.

Seniman seringkali menyentil rezim dengan caranya sendiri. Contohnya adalah teater. Melalui teater, masyarakat disodori cermin untuk melihat kondisi sosial dari sisi yang lebih santai. Seniman mengangkat tema yang relevan dengan kondisi terkini agar masyarakat sadar dan tidak lagi apatis. Melalui seni di atas panggung, masyarakat dapat belajar untuk mencapai keseimbangan sosial, mencapai keselarasan hidup bersama.

Setiap orang memiliki peran untuk berbakti ke ibu pertiwi. Lalu pertanyaan terakhir adalah apakah kesenian mampu menyelesaikan masalah? Jawabannya, kesenian memang tidak begitu saja menuntaskan masalah, tetapi satu hal, dengan berkesenian (aktif atau pasif) berarti menghaluskan budi, mengolah roso. Hal inilah yang menjadikan manusia seutuhnya insan yang bijak dan peka.

The "Earth" without "art" is just "eh".

Kamis, Agustus 15, 2013

Nrimo

Franz Magnis Suseno atau biasa dikenal Romo Magnis sempat memberikan kuliah umum filsafat etika pada bulan Februari lalu. Sebagai orang teknik yang awam dengan dunia filsafat, saya masa bodo dan datang saja karena sepertinya menarik. Lagipula kuliah bersifat gratis, hanya perlu mendaftar. Hasilnya? Menurut saya, seorang filsuf memiliki kemampuan melihat sebuah realita secara luas lalu menerjemahkannya dalam bentuk ilmu. Tentunya masih banyak istilah asing yang tidak familiar di telinga. Tak apa, ada kok yang tercantol di otak. Haha.

Salah satu mata kuliah bertajuk etika Jawa.

Etika Jawa identik dengan etika keselarasan. Keselarasan dengan masyarakat, alam, dan alam gaib. Keselarasan ini diwujudkan dengan menghindari konflik, menghormati orang lain sesuai struktur hirarki masyarakat, dan menghindar dari emosi yang berlebihan. Benar adanya semua itu tercermin dari mayoritas orang Jawa.

Salah satu wujud nyata keselarasan adalah konsep Lingga dan Yoni yang ada di Monas dan batu di Babakan Siliwangi (Bandung). Lingga sebagai simbol laki-laki, sedangkan Yoni adalah metafor dari perempuan. Ketika keduanya disatukan menjadi simbol keselarasan atau keharmonisan.

Manusia Jawa dianjurkan belajar sikap nrimo (menerima), ikhlas, dan legowo (merelakan). Dalam tulisan ini, saya ingin menekankan pentingnya nrimo. Konsep dasar nrimo ternyata tidak serta-merta menerima apa adanya yang berlanjut pada kepasrahan begitu saja. Akan tetapi, lebih dari itu, nrimo adalah kekuatan dan ketegaran untuk memiliki kepantulan dan bangkit dari keterpurukan. #okesip

Easier said than done.

Menurut Teori Gandrie, hal tersulit setelah konsistensi adalah nrimo. Alam dunia ini begitu misterius dan Tuhan menciptakan saya dan kamu yang sedang membaca tulisan ini pasti bukan tanpa alasan. Waktu terus berputar tanpa bisa menawar. Sejatinya itu menjadi pertanyaan ke diri sendiri setiap individu hingga akhir hayatnya.

"Syukur, Aku tambah nikmatmu. Kufur, siksa-Ku amat pedih."

Senin, Juli 22, 2013

Abnormal

Negeri ini abnormal, tidak bisa diselesaikan secara normal.

Kalimat di atas mengawali sebuah sesi bertajuk "Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Mendatang" oleh Imam Budidarmawan Prasodjo. Judulnya berat, ya? Pak Imam ini adalah seorang sosiolog sekaligus dosen tetap FISIP UI. Saya sempat melihat beliau beberapa kali tampil di layar kaca dan  saya beruntung memiliki kesempatan mendengarkan pandangannya secara langsung.

Dua kata yang perlu digarisbawahi adalah kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah kemampuan membaca masalah, sedangkan karakter berujung pada penentuan tindakan. Pak Imam meyakini bahwa para pemangku jabatan sudah memiliki kapasitas yang mumpuni. Akan tetapi, nol karakter. Ini yang membuat masalah tidak selesai. Keterjebakan di dalam kerusakan sistemik tidak bisa dijadikan kambing hitam banyaknya tindak pidana dan penyelewengan kekuasaan. Semua berakar dari pendidikan. Pendidikan karakter. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencetak manusia Indonesia yang berkarakter? Jujur saya belum merumuskan metodenya secara menyeluruh.

Saya selalu sadar, niat baik saja tidak cukup.
Harus urakan. Harus abnormal.

Rabu, Mei 01, 2013

Umar

Alkisah seorang Umar bin Khattab adalah pemimpin kaum muslim kala itu. Tak tanggung-tanggung seorang Umar sering terjun langsung ke permukiman warga kota. Blusukan mungkin namanya sekarang.

Suatu malam Umar menyamar menjadi warga biasa. Berbalut jubah hitam yang menutupi hampir seluruh badan dan wajahnya, ia berkeliling sendiri ke setiap pelosok negeri yang sedang ia pimpin. Tibalah di sebuah pondok kecil dan kumuh, Umar mengintip dan menguping lewat jendela. Alangkah terkejut dirinya mendapati seorang ibu yang sedang memasak batu. Anak-anaknya merengek kelaparan minta diberi makan. Tak ada bahan makanan, sang ibu berpura-pura memasak sambil menenangkan anak-anaknya. Pada akhirnya mereka letih karena menangis lalu terlelap dengan sendirinya.

Tertegun Umar menyaksikan kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri. Umar langsung berlari pulang ke istana selepas beresnya peristiwa yang memilukan hatinya. Dengan otot tangannya sendiri, dia memikul bahan makanan di atas pundaknya dan bersegera ke lokasi kembali. Sesampainya di sana, Umar memberikan sekarung bahan makanan kepada sang ibu dengan ikhlas.

*

Aku merindukan seorang pemimpin yang terjun langsung merasakan kondisi rakyatnya tanpa kawalan voorijder yang angkuh, sirene yang memekakkan telinga, bodyguard yang awas, atau kilatan lampu flash media yang memusingkan mata. Akankah ada? Aku sangat berharap akan ada suatu saat nanti.

Saat pengharapan itu terasa berada di titik nadir, ada baiknya aku, kamu, dan semua yang membaca tulisan ini memproyeksikan diri layaknya Umar ketika menjadi khalifah nanti.

Minggu, November 04, 2012

Surat buat Bung Hatta

Gajah pergi meninggalkan gading. Tapi ia tak memilih bagaimana gading itu diukir. Generasi datang dan pergi, membentuknya, menatahnya, dan menimbang-nimbangnya. Mungkin mencampakkannya. Seorang besar memperoleh arti karena beribu-ribu orang yang tak dikenal datang sebelumnya, bersamanya, dan sesudahnya.

Sumber: Tokoh + Pokok halaman 11, GM

Jumat, Agustus 17, 2012

Sustainable Transportation

When talking about sustainability, it means what we are currently doing and developing in the present must not sacrifice the next generation of human being in the future. Transport is crucial to development. Basically, people move to fulfill their needs. In order to move, access is needed. Without access to places where people can meet their needs, the quality of life degenerates. Inappropriately designed transport strategies and programs can result in the poor environment condition, lack of economy profit, and exceed the capacity of public finances.

In order to be effective, transport policy must satisfy three main requirements. First, it must ensure that a continuing capability exists to support an improved material standard of living. This corresponds to the concept of economic and financial sustainability. Second, it must generate the greatest possible movement improvement in the general quality of life, not merely in increase in traded goods. This relates to the concept of environmental and ecological sustainability. Third, the benefits that transport produces must be shared equitably by all sections of the community. This we term social sustainability.

The rapid growth cities in developing countries has seriously compromised existing transportation systems and significantly increased the challenge of creating future transportation system. It is indeed in developing countries that the greatest growth in private motorized vehicles has been seen in the past few years and is expected in the future, primarily in urban areas. In order to reach sustainable transportation, developing countries must create a rapid, affordable, low-cost construction, and environmental-friendly transportation system in the downtown which is integrated with the suburbs. We need to dare to create transport system which giving priority to the needs of the poor majority rather than the automobile owning minority.

Show your guts. Yes, we have to dare.

Kamis, Juli 12, 2012

A Poem

"I have never cared for castles or a crown that grips too tight. 
Let the night sky be my starry roof, and the moon my only light.
My heart was born a Hero, my storm-bound sword won't rest.
I left the Harbor long ago on a never-ending Quest.
I am off to the horizon, where the wild wind blows the foam.
Come get lost with me, Love, and the sea shall be our home..."

Tantrum O'UGerly

Senin, Mei 28, 2012

Skype

Sebenarnya sudah sejak TPB saya punya akun Skype, hanya saja jarang pisan saya gunakan.
Anyway, please kindly add my Skype: gandrie.ramadhan
Feel free to reach me.

Like father, like son. Do we look alike?

Kamis, April 26, 2012

Penempa

Kampus menempa.
Setiap semester punya cerita.
Suka, duka, bahkan cinta.
Bergulat dengan permainan rasa dan logika.

Selalu ada yang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.

Selasa, Maret 27, 2012

Pengurangan Subsidi BBM


Saya masih belum bisa mengambil sikap terkait pengurangan subsidi BBM.

Banyak sektor yang harus ditinjau mulai dari ekonomi, perminyakan dunia, perminyakan nasional, energi, sosial, dan lain-lain. Saya tidak mempunyai kapabilitas yang handal untuk menjelaskan sektor-sektor yang telah saya sebutkan. Di sisi lain, saya tetap berusaha memantau perkembangan berita ini lewat media cetak maupun elektronik. Sayangnya, sulit rasanya menemukan informasi yang menjelaskan kasus ini secara sistematis. Kebanyakan informasi justru tidak objektif dan mengandung bumbu tambahan. Saya tidak mau disetir oleh media.

Nantinya, saya berharap bisa berkesimpulan sendiri. Sendiri, tidak ikut-ikutan.

Ada pihak yang berpendapat bahwa pengurangan subsidi BBM bisa menyelamatkan APBN negara hingga puluhan trilyun rupiah sehingga bisa dialokasikan untuk modal lain. Di sisi yang berseberangan, ada yang berpendapat dengan perhitungan bahwa itu semua adalah kebohongan yang dilakukan pemerintah untuk memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, bukan menambal kebolongan. Rakyat Indonesia, termasuk saya, dibuat pusing.

Peningkatan harga BBM secara langsung berdampak pada peningkatan harga barang. Hal ini logis karena ada biaya assembly dan distribution dalam proses pembuatan sebuah barang. Ditambah lagi dengan peningkatan tarif angkutan umum karena 60-70% dari total BOK (biaya operasi kendaraan) adalah konsumsi bahan bakar. Biaya transportasi di negara berkembang adalah 30-200% dari biaya total. Sebagai tambahan, negara kepulauan seperti Indonesia memiliki tantangan besar di bidang transportasi karena terjadi transit cost (penambahan biaya) saat perpindahan moda di terminal (misal bandara dan pelabuhan). Jadi, jangan heran jika harga segelas plastik air mineral di tanah Papua adalah lima ribu rupiah. Efisiensi di terminal; itu yang dibutuhkan di Indonesia.

Sekarang saya membayangkan pengurangan subsidi BBM itu terjadi. Artinya, terjadi peningkatan harga di sana-sini. Artinya, pengeluaran masyarakat semakin besar. Artinya, pemerintah punya trilyunan rupiah untuk sektor lain. Lantas, apakah kesejahteraan rakyat terakselerasi? Belum tentu. Apakah terbangun infrastruktur dan sistem logistik sebagai prasarana mobilitas dan penumbuh perekonomian? Tidak pasti. Apa jaminan pemerintah? Tidak ada.

Saya jengah. Masyarakat lelah. Lihatlah media sekarang, isinya korupsi yang berkepanjangan di jajaran tinggi pemerintahan. Dengan mindset kekuasaan (bukan pembenahan), tikus-tikus busuk itu dengan bebas meraup uang rakyat sehingga APBN jebol perlahan-lahan namun pasti. Skenario bunglon terjadi; manis saat kampanye lalu jahanam saat berkuasa. Belum lagi law enforcement yang masih lemah di Indonesia. Di Arab, koruptor dipotong tangannya. Di Cina, koruptor dipenggal kepalanya. Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanannya. Suap-menyuap dengan lembaga yudikatif sudah biasa.

*

The concept of demand management. Sebuah konsep makro yang tidak lagi berkiblat ke prinsip predict and provide, tetapi ke prinsip predict and prevent. Artinya, penekanan jumlah permintaan dilakukan secara masif yang harus diiringi dengan pengembangan keberpihakan angkutan publik. Penekanan jumlah kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan perbaikan pelayanan transportasi publik. Akar persoalan membengkaknya subsidi BBM terletak di sisi permintaan, yakni konsumsi secara besar-besaran dari kendaraan pribadi. Miris sekali ketika ada Alphard yang mengantri premium di SPBU.

Agar masyarakat mau beralih moda, angkutan umum harus memiliki asas transportasi: andal, aman, nyaman, efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Angkutan publik berhak menikmati BBM yang bersubsidi karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Selama ini subsidi angkutan umum hanya 3% tapi 90% lebih untuk kendaraan pribadi. Selain itu, konversi BBM ke BBG masih belum memiliki taring. Di seluruh Indonesia baru ada 20 stasiun pengisi bahan bakar gas. Delapan di Jakarta, hanya empat yang beroperasi. Banyak hal memang yang harus dipertimbangkan seperti converter-kit atau pengalihan produksi secara keseluruhan kendaraan berbahan bakar gas. Padahal harga satu liter BBG lebih murah daripada satu liter premium, yakni Rp 3.100,00 per liter.

*

Other resources. Alternative energy.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (ratusan ribu kilometer), namun potensinya belum dimaksimalkan. Brazil memiliki Pantai Copacabana yang hanya memiliki panjang tujuh kilometer tapi mampu menyumbang 20% dari total APBN Brazil. Pemanfaatan pasang-surut untuk menggerakkan turbin hidro di sepanjang daerah pesisir. Indonesia memiliki 40% dari total energi panas bumi di dunia karena terdapat barisan gunung berapi aktif, namun baru termanfaatkan 4% dari total potensi. Energi matahari! Energi angin! Sejak tahun 2006, pemerintah sudah merencanakan infrastruktur untuk energi terbarukan hingga tahun 2025. Saya yakin konsepnya sudah ada, tetapi dibutuhkan komitmen dan ketegasan secara menyeluruh. Dan tidak korupsi.

Indonesia, harapan itu masih ada.
Hiduplah Indonesia Raya!

Sabtu, Agustus 27, 2011

Epilogue by Hiccup

"But size isn't everything. However small we are, we should always fight for what we believe to be right. And I don't mean fight with the power of our fists or the power of our swords. I mean the power of our brains and our thoughts and our dreams."

Hiccup Horrendous Haddock the Third
How to Train Your Dragon Book 3: How to Speak Dragonese

Rabu, Agustus 24, 2011

Logika Luntur

Aku menikmati saat-saat diriku bersimpuh di hadapan-Nya. Dibutuhkan situasi dan kondisi yang kondusif memang. Tidak boleh ada keributan berarti dalam radius, katakanlah, 50 meter. Secara logika, adalah sebuah ketololan yang maha dahsyat ketika aku mengadu dan menangis ke sesuatu yang tidak tampak, bahkan bukan manusia.

Logika luntur.

Rasa itu terlampau nikmat. Dengan penuh cita, aku berharap sesuatu yang tak tampak ini memberikan reaksi. Aku tak mau jadi manusia penjilat layaknya peribahasa 'habis manis, sepah dibuang'. Penghambaan ini adalah rasa syukur. Nikmat dari-Nya tiada batas sehingga (seharusnya) peribahasa kolot itu tidak berlaku. Strata penghambaan harus berubah dari kewajiban menjadi kebutuhan. Di akhir pertapaan, aku berharap bisa menyebut nama-Nya dan utusan-Nya saat Izrail datang menjemputku, berpindah alam, berpindah ke kehidupan selanjutnya yang aku yakin ada. Entah aku akan bertransformasi menjadi atau seperti apa.

Logika luntur.

Bahu Tuhan adalah bahu terbaik untuk bersandar.

Jumat, Juni 24, 2011

Cecoretan

Sigh, entah 'cecoretan' adalah kata yang baku atau tidak.

Kapanpun kita berusaha membuktikan diri bahwa kita punya kualitas tertentu, artinya kita belum memiliki kualitas tersebut. Itu kata Osho (via Reza Gunawan).

Mungkin kelebihan kita adalah kekurangan orang lain, bisa juga sebaliknya, kelebihan orang lain adalah kekurangan kita. Di mana poin saling menghargai jika kita selalu merasa yang paling hebat? Enek sekali rasanya ketika ada orang yang berpendapat bahwa seleranya yang paling baik.

Tidak usah dulu lah berkoar-koar bagaimana seharusnya negara, apalagi dunia, jika belum bisa menjaga tingkah laku diri sendiri. Aku ingat sekali pesan Aa Gym dulu. Sampai-sampai waktu SMP, saat aku menjadi ketua kelas, aku memasangnya besar-besar di dalam kelas. Ada yang ingat 3M?

Mulai dari diri sendiri.
Mulai dari yang kecil.
Mulai dari sekarang.

Orang pintar bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tapi orang yang mengandalkan kerendahan hati dalam segala hal akan selalu mendapatkan kemuliaan.