Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juli 02, 2017
Lingkaran
Saya langsung mengganti saluran televisi yang menyiarkan acara motivasi. Saya tidak berpikir motivasi bisa didapatkan dengan menonton atau duduk dalam sebuah acara formal melalui wejangan seorang motivator. Sebaliknya, motivasi, inspirasi, hingga rasa syukur justru singgah secara natural dan organik melalui perbincangan santai di dalam lingkaran-lingkaran pergaulan kecil ketika tidak ada ekspektasi. Beberapa lingkaran patut dijaga.
Sabtu, Februari 04, 2017
#LPLK
Orisinal adalah kata yang tepat untuk menyimpulkan acara spesial @adrianoqalbi. Adri tampil sebagai Adri. Dia tidak peduli dengan penilaian orang sekitar, termasuk ketika membawakan acara spesialnya.
Contoh yang diingat oleh banyak orang pasti bit Adri yang satu ini, "Stand-up kan adu lucu, bukan adu hafal". Bit itu disampaikan tanpa kepalsuan dengan kertas daftar materi yang dijajarkan setengah lingkaran di lantai panggung. Sesekali Adri melirik bukan tanpa ketahuan oleh penonton.
Sesuai judulnya, "Lo Pikir Lo Keren" berangkat dari keresahan Adri melihat banyak hal sehari-hari yang konyol dan tidak santai. Mulai dari percakapan grup whatsapp, pilkada DKI, hingga hubungan asmara. Ketika begitu banyak orang melampaui batas dan merasa dirinya benar atau keren, mungkin saat itu tercetus pertanyaan "lo pikir lo keren dengan kayak gitu?".
Stand-up comedy yang secara harfiah adalah penyampaian komedi dengan berdiri, maknanya bisa lebih luas daripada itu, ia berarti berdiri atas apa yang diyakini. Malam itu di Usmar Ismail kami berbagi keresahan yang sama. Keresahan itu sama-sama kami tertawakan. Di situ ada kesamaan perspektif antara komika dengan penonton dan sialnya Adri selalu saja punya analogi sederhana yang tepat.
Malam itu cerah, kami semua pulang dengan senyum merekah.
Lo pikir lo keren, huh?
*
Acara ini dibuka oleh tiga komika yang juga luar biasa: @bendhanio, @patragumala, dan @kukuhya.
Foto oleh @piokharisma.
Contoh yang diingat oleh banyak orang pasti bit Adri yang satu ini, "Stand-up kan adu lucu, bukan adu hafal". Bit itu disampaikan tanpa kepalsuan dengan kertas daftar materi yang dijajarkan setengah lingkaran di lantai panggung. Sesekali Adri melirik bukan tanpa ketahuan oleh penonton.
Sesuai judulnya, "Lo Pikir Lo Keren" berangkat dari keresahan Adri melihat banyak hal sehari-hari yang konyol dan tidak santai. Mulai dari percakapan grup whatsapp, pilkada DKI, hingga hubungan asmara. Ketika begitu banyak orang melampaui batas dan merasa dirinya benar atau keren, mungkin saat itu tercetus pertanyaan "lo pikir lo keren dengan kayak gitu?".
Malam itu cerah, kami semua pulang dengan senyum merekah.
Lo pikir lo keren, huh?
*
Foto oleh @piokharisma.
Minggu, Januari 17, 2016
Ikigai
Ikigai (生きがい), dengan menggunakan google translate, berarti tujuan dalam hidup (purpose in life). Secara lebih mendasar, ikigai bisa diartikan alasan untuk bangun bergairah di pagi hari. Menarik sekali melihat setiap irisannya.
Pasti sempat terpintas pertanyaan mengapa saya ada di bumi ini, terutama bagi mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi dan memulai karier. Istilah quarter-life crisis menjadi populer dan disebut-sebut sebagai frase yang paling pas untuk menggambarkan fenomena ini. Mungkin benar adanya manusia butuh menepi sesaat untuk merenungkan eksistensinya seperti yang dilakukan para pendahulu.
Terlepas dari itu, manusia tidak patut cemas, galau, atau sendu berkelamaan. Katakanlah istilah quarter-life mengasumsikan umur manusia hanya 100 tahun. Kenapa hanya? Karena 100 tahun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjalanan waktu geologi bumi (Binarandi, 2016).
YOLO, make it count.
Jumat, Januari 01, 2016
Energi
Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Setiap manusia sangat wajar punya ketertarikan terhadap suatu benda, orang, pemikiran, pementasan, hingga klub sepak bola. Sayangnya, ketertarikan dan cinta itu seringkali meletup tidak terkontrol sehingga menimbulkan fanatisme. Padahal, ketika rasa itu bisa dialirkan secara proporsional, justru terjalin mutualisme antara subjek dengan objek.
Sebagai contoh, saya mengagumi karya dan pemikiran Cressida Cowell. Dalam sebuah artikel, Cressida menekankan pentingnya mempertahankan buku dan berbagi cerita, terutama untuk anak-anak. Sebuah misi yang sederhana namun sangat berarti.
“Film and TV are great, and I watch loads with my children, but I want books to survive as a medium because they offer something completely different. Films tell you everything, whereas books fill in the gaps. I want to get a generation of children reading for pleasure like I did. We need to stop libraries closing, but children’s book sales are holding up so I hope we are winning the battle. We have only had TV in the last century, but for thousands of years we have sat down and told each other stories.”
Petualangan How To Train Your Dragon berakhir di buku ke-12. Saya berkicau di Twitter dengan tujuan mentransfer energi positif agar ia terus berkarya.
*
Suntikkan energi positif ke orang-orang yang kita kasihi atau hargai. Sebaliknya, ketika kita menerima suntikan itu, balas dengan dekapan yang erat. Saya banyak belajar dari pengalaman ini. Tak perlu takut kehabisan amunisi karena kita adalah bagian dari sebuah sistem yang kekal di semesta.
Setiap manusia sangat wajar punya ketertarikan terhadap suatu benda, orang, pemikiran, pementasan, hingga klub sepak bola. Sayangnya, ketertarikan dan cinta itu seringkali meletup tidak terkontrol sehingga menimbulkan fanatisme. Padahal, ketika rasa itu bisa dialirkan secara proporsional, justru terjalin mutualisme antara subjek dengan objek.
Sebagai contoh, saya mengagumi karya dan pemikiran Cressida Cowell. Dalam sebuah artikel, Cressida menekankan pentingnya mempertahankan buku dan berbagi cerita, terutama untuk anak-anak. Sebuah misi yang sederhana namun sangat berarti.
“Film and TV are great, and I watch loads with my children, but I want books to survive as a medium because they offer something completely different. Films tell you everything, whereas books fill in the gaps. I want to get a generation of children reading for pleasure like I did. We need to stop libraries closing, but children’s book sales are holding up so I hope we are winning the battle. We have only had TV in the last century, but for thousands of years we have sat down and told each other stories.”
Petualangan How To Train Your Dragon berakhir di buku ke-12. Saya berkicau di Twitter dengan tujuan mentransfer energi positif agar ia terus berkarya.
@CressidaCowell Greetings from Indonesia! Keep writing there! pic.twitter.com/myuzLVvcDu
— Gandrie Ramadhan (@gandrie) January 1, 2016
@gandrie Greetings from London! I'll keep writing...x
— Cressida Cowell (@CressidaCowell) January 1, 2016
Contoh nyata lainnya adalah Learn To Fly! Jika saya adalah salah seorang personel Foo Fighters, kemungkinan besar saya akan menangis terharu melihat video ini.*
Suntikkan energi positif ke orang-orang yang kita kasihi atau hargai. Sebaliknya, ketika kita menerima suntikan itu, balas dengan dekapan yang erat. Saya banyak belajar dari pengalaman ini. Tak perlu takut kehabisan amunisi karena kita adalah bagian dari sebuah sistem yang kekal di semesta.
Label:
Hidup,
Inspirasi,
Opini,
Pengalaman,
Personal
Minggu, Desember 06, 2015
Pot, Sebuah Batas
Entah apa nama tanaman di atas, yang jelas, ada dua buah pot berisikan tanaman tersebut di halaman atas rumah. Keterbatasan lahan membuat penghijauan menggunakan media tanah di dalam pot menjadi solusi alternatif bagi rumah di kawasan padat penduduk.
Semua tanaman rutin disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Ia tumbuh ke atas dan ke samping. Batang utama tumbuh ke atas dan selang beberapa waktu tumbuh pucuk yang siap menjadi cabang yang berdaun ke samping.
Ternyata, tanaman yang sama sering ditemukan di sudut-sudut ibukota dengan versi yang jauh lebih besar. Foto di atas adalah jenis tanaman yang sama seperti foto pertama dan diambil saat hari bebas kendaraan bermotor. Apa perbedaannya?
Oh jelas, tanaman pada foto kedua memiliki batang yang lebih kokoh dan daun yang lebih rimbun. Di dalam tanah, tidak terlihat, terdapat akar yang lebih masif dan kuat. Mengapa bisa? Karena pot, sebuah batas.
Kasus ini bisa menjadi berbagai analogi dalam kehidupan. Intinya, agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas (lebih rimbun), batang harus kokoh dengan pondasi akar yang kuat.
Poin yang paling penting, pot itu adalah sebuah batas, sebuah kekangan. Lepaskan batas karena potensi manusia lebih daripada apa yang sekedar dipikirkan. Ia tidak terbatas.
Semua tanaman rutin disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Ia tumbuh ke atas dan ke samping. Batang utama tumbuh ke atas dan selang beberapa waktu tumbuh pucuk yang siap menjadi cabang yang berdaun ke samping.
Ternyata, tanaman yang sama sering ditemukan di sudut-sudut ibukota dengan versi yang jauh lebih besar. Foto di atas adalah jenis tanaman yang sama seperti foto pertama dan diambil saat hari bebas kendaraan bermotor. Apa perbedaannya?
Oh jelas, tanaman pada foto kedua memiliki batang yang lebih kokoh dan daun yang lebih rimbun. Di dalam tanah, tidak terlihat, terdapat akar yang lebih masif dan kuat. Mengapa bisa? Karena pot, sebuah batas.
Kasus ini bisa menjadi berbagai analogi dalam kehidupan. Intinya, agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas (lebih rimbun), batang harus kokoh dengan pondasi akar yang kuat.
Poin yang paling penting, pot itu adalah sebuah batas, sebuah kekangan. Lepaskan batas karena potensi manusia lebih daripada apa yang sekedar dipikirkan. Ia tidak terbatas.
Kamis, Juli 02, 2015
Memikat Burung Liar
![]() |
| Suasana dari balik jendela kamar di Leeds |
Beruntung sekali dengan jarak sehari-hari yang dekat ini. Selain menyehatkan, ada yang menarik dari koridor jalan yang selalu saya lewati. Ada sebuah rumah yang menggantungkan benda yang tidak biasa di pekarangannya. Hingga akhirnya saya tahu niatan sang penghuni: menarik burung liar! Benda yang digantungkan itu berisi pakan burung dan ada pula yang berisi air.
Mengamati burung liar (bird watching) adalah lumrah dan bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ketimbang memenjarakan burung di dalam sangkar, lebih baik berikan kebebasan dan cukup pikat mereka dengan pakan dan air. Sebagai balasan, penghuni rumah mendapatkan pemandangan lestari serta ciutan merdu tepat di halaman depan. Suatu hal yang langka, apalagi di kota urban.
| Pakan burung dan bukan air soda |
Apa hasilnya seminggu pertama? Duh, nihil. Namanya juga usaha!
Tadinya saya curiga pakan biji-bijian kurang menarik burung gereja di Jakarta. Sebelum mengganti jenis pakan, saya coba jalan lain: letakkan wadah di dasar, jangan digantung.
![]() |
| Suasana dari balik jendela kamar di Jakarta |
Setiap burung punya karakteristiknya sendiri. Burung Leeds jelas berbeda dengan burung Jakarta!
Bagi yang berminat melakukan hal serupa, ditunggu pengalaman dan tipsnya, ya!
Label:
Burung Liar,
Inspirasi,
Jakarta,
Leeds,
Pengalaman,
UK
Jumat, Januari 16, 2015
Umpan Balik
Saya lebih dari beruntung karena berkesempatan mengikuti sebuah acara yang bernama Talent Assessment yang diselenggarakan oleh LPDP. Mengapa beruntung? Karena saya termasuk gelombang pertama yang berangkat dan menyelesaikan studi. Dengan kata lain, acara yang dikhususkan untuk alumni LPDP ini masih terbuka lebar tanpa seleksi karena jumlah alumninya masih terbilang sedikit, yakni 96 orang.
Melalui pelatihan ini, peserta diberikan materi tentang perencanaan karier. Hal ini cocok sekali dengan saya yang tepat akan memulai kembali perjalanan karier setelah satu tahun di Leeds. Sesi yang paling saya nikmati bernama 720 Degree Feedback. Dalam sesi ini, peserta diminta menjawab tujuh butir pertanyaan. Setelah itu, pertanyaan yang sama ditanyakan ke lima rekan terdekat. Berikut adalah daftar pertanyaannya:
Setiap orang memiliki lingkar terdekatnya. Saya pun menanyai orang-orang terdekat saya via media Whatsapp. Hasilnya menarik. Apa yang menjadi persepsi saya belum tentu sama dengan apa yang dipersepsikan orang lain. Hal ini menjadi penting sebagai bahan refleksi diri sekaligus mengarahkan personal branding (duh, maaf saya bingung padanan kata yang sesuai) yang ingin saya bangun.
Bisa dibilang saya terpaksa menanyakan ini karena menjadi peserta pelatihan. Saran saya, cobalah tanyakan hal serupa ke lingkar terdekat Anda. Selain mendapat masukan yang positif, Anda pasti tersadar bahwa Anda memiliki lingkar yang senantiasa mendukung Anda. Itu yang dibutuhkan. Dan itu menyenangkan!
Melalui pelatihan ini, peserta diberikan materi tentang perencanaan karier. Hal ini cocok sekali dengan saya yang tepat akan memulai kembali perjalanan karier setelah satu tahun di Leeds. Sesi yang paling saya nikmati bernama 720 Degree Feedback. Dalam sesi ini, peserta diminta menjawab tujuh butir pertanyaan. Setelah itu, pertanyaan yang sama ditanyakan ke lima rekan terdekat. Berikut adalah daftar pertanyaannya:
- What are my strongest human qualities?
- What should I pursue as a career?
- What career I should NOT pursue?
- What is my career potential: difficulties, limitations or problems?
- What are my lifestyle strengths?
- What are my lifestyle weaknesses, or things that should be developed?
- What personal advice would you give to me?
Setiap orang memiliki lingkar terdekatnya. Saya pun menanyai orang-orang terdekat saya via media Whatsapp. Hasilnya menarik. Apa yang menjadi persepsi saya belum tentu sama dengan apa yang dipersepsikan orang lain. Hal ini menjadi penting sebagai bahan refleksi diri sekaligus mengarahkan personal branding (duh, maaf saya bingung padanan kata yang sesuai) yang ingin saya bangun.
Bisa dibilang saya terpaksa menanyakan ini karena menjadi peserta pelatihan. Saran saya, cobalah tanyakan hal serupa ke lingkar terdekat Anda. Selain mendapat masukan yang positif, Anda pasti tersadar bahwa Anda memiliki lingkar yang senantiasa mendukung Anda. Itu yang dibutuhkan. Dan itu menyenangkan!
Rabu, Februari 19, 2014
Risma
Satu hal yang bisa dipetik dari seorang Risma adalah niat tulus membantu sesama.
Risma 'hanya' lulusan sarjana teknik arsitektur yang kemudian melanjutkan karirnya 'hanya' menjadi PNS dan sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya.
Mendengar setiap lantunan jawaban yang ditanyakan oleh Najwa, tercermin bahwa Risma bukan seorang yang mahir beretorika menyulap rangkaian kata menjadi kalimat yang syahdu. Akan tetapi, justru kesyahduan itu dengan sendirinya tercipta lewat ketulusannya menjadi abdi masyarakat.
Kesalehan sosial yang ia implementasikan berakar dari kesalehan pribadi. Ya, pribadi yang terus merasa diawasi oleh Tuhannya dan terus berpikir apa yang bisa diperbuat agar sekitar lebih sejahtera karena alam dunia ini bersifat fana. Sesimpel itu pola pikirnya. Iya, sungguh sesimpel itu. Implikasinya, Tuhan pun tak bosan mengarahkan ke mana ia harus melangkah setiap harinya entah itu Timur, Barat, Selatan, atau Utara.
Sekarang Risma goyah. Tekanan politik membuatnya terlampau lelah.
Yang jelas, Risma telah berhasil menyuntikkan semangat dan inspirasi kepada penulis. Ternyata sebuah simplisitas yang diiringi dengan konsistensi bisa begitu jauh bermakna untuk publik. Kalau Risma tegar, maka kami selaku generasi berikutnya harus lebih tegar.
Doa dari penulis mengalir untukmu, Risma.
Tuhan, kuatkan Risma.
Risma 'hanya' lulusan sarjana teknik arsitektur yang kemudian melanjutkan karirnya 'hanya' menjadi PNS dan sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya.
Mendengar setiap lantunan jawaban yang ditanyakan oleh Najwa, tercermin bahwa Risma bukan seorang yang mahir beretorika menyulap rangkaian kata menjadi kalimat yang syahdu. Akan tetapi, justru kesyahduan itu dengan sendirinya tercipta lewat ketulusannya menjadi abdi masyarakat.
Kesalehan sosial yang ia implementasikan berakar dari kesalehan pribadi. Ya, pribadi yang terus merasa diawasi oleh Tuhannya dan terus berpikir apa yang bisa diperbuat agar sekitar lebih sejahtera karena alam dunia ini bersifat fana. Sesimpel itu pola pikirnya. Iya, sungguh sesimpel itu. Implikasinya, Tuhan pun tak bosan mengarahkan ke mana ia harus melangkah setiap harinya entah itu Timur, Barat, Selatan, atau Utara.
Sekarang Risma goyah. Tekanan politik membuatnya terlampau lelah.
Yang jelas, Risma telah berhasil menyuntikkan semangat dan inspirasi kepada penulis. Ternyata sebuah simplisitas yang diiringi dengan konsistensi bisa begitu jauh bermakna untuk publik. Kalau Risma tegar, maka kami selaku generasi berikutnya harus lebih tegar.
Doa dari penulis mengalir untukmu, Risma.
Tuhan, kuatkan Risma.
Minggu, Januari 05, 2014
Pak Bisman dan Sukses
Ada beberapa hal yang tertanam dan mengakar dengan kuat dari semua ritme kejadian yang manusia lalui dalam fase hidupnya. Syukur-syukur hal tersebut adalah petuah yang arif dan bijaksana tapi bisa juga kejadian buruk yang justru membuat trauma. Dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi satu hal yang entah mengapa tidak bisa pudar dalam benaknya. Sedikit normatif, tetapi layak untuk direnungkan.
SMP Negeri 89 Jakarta Barat adalah sebuah sekolah yang berada di bilangan Tanjung Duren dan berada dekat dengan Pasar Tradisional Tomang Barat, atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kopro. Sampai sekarang, penulis masih belum tahu apa itu Kopro. Ah, lupakan hal itu sementara. Penulis ingat benar sewaktu kelas I SMP, guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) bernama Bapak Bisman Lubis. Perawakannya tambun, logatnya khas, berkacamata, dan berambut hanya di sisi kepalanya. Suatu hari, beliau merumuskan bagaimana cara mencapai sukses. Rumusnya seksi.
"Sukses = A x B x C x D"
Dengan penuh semangat Pak Bisman menjelaskan setiap komponen dengan menganalogikannya dengan cara mendapat nilai bagus di ulangan –dulu penggunaan kata ulangan sepertinya lebih populer daripada ujian.
A untuk alat. Sukses butuh modal. Siswa setidaknya harus punya senjata pribadi dalam menggempur soal ujian. Apa saja? Gampang sekali jawabannya. Pulpen, pensil, penghapus, penggaris, tip-ex, dan sebagainya.
B untuk bekerja. Semua dimulai dari usaha diri sendiri. Jaminan nilai jelek di tangan apabila siswa tidak merencanakan waktunya dan tidak mempersiapkan diri dalam ujian. Di sini Pak Bisman menekankan pentingnya bekerja (belajar) dan pembagian waktu.
C untuk cita-cita. Ini mengenai visi jauh ke depan. Cita-citakan nilai bagus dan tanamkan itu terus-menerus. Hal ini penting sebagai koridor agar tidak salah jalan.
D untuk doa. Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945 menyebutkan "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Manusia berusaha, Tuhan yang memutuskan. Jangan pernah putus alunan doa kepada ilahi.
Satu hal yang perlu diingat bahwa rumus tersebut menggunakan unsur perkalian, bukan penjumlahan. Ketika salah salah satu komponen bernilai nol, maka nilai nol yang akan dihasilkan. Pak Bisman dengan analogi ujiannya; rumus tersebut fleksibel dan bisa diterapkan untuk hal lain.
Penulis tidak pernah berjumpa lagi dengan Pak Bisman semenjak lulus SMP. Atas petuahnya yang berhasil merekat hingga saat ini, sungguh penulis bermunajat semoga beliau selalu berada di dalam lindungan Tuhan.
Penulis berjanji akan menanamkan rumus ini ke generasi penerusnya.
Salam Pancasila!
SMP Negeri 89 Jakarta Barat adalah sebuah sekolah yang berada di bilangan Tanjung Duren dan berada dekat dengan Pasar Tradisional Tomang Barat, atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kopro. Sampai sekarang, penulis masih belum tahu apa itu Kopro. Ah, lupakan hal itu sementara. Penulis ingat benar sewaktu kelas I SMP, guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) bernama Bapak Bisman Lubis. Perawakannya tambun, logatnya khas, berkacamata, dan berambut hanya di sisi kepalanya. Suatu hari, beliau merumuskan bagaimana cara mencapai sukses. Rumusnya seksi.
"Sukses = A x B x C x D"
Dengan penuh semangat Pak Bisman menjelaskan setiap komponen dengan menganalogikannya dengan cara mendapat nilai bagus di ulangan –dulu penggunaan kata ulangan sepertinya lebih populer daripada ujian.
A untuk alat. Sukses butuh modal. Siswa setidaknya harus punya senjata pribadi dalam menggempur soal ujian. Apa saja? Gampang sekali jawabannya. Pulpen, pensil, penghapus, penggaris, tip-ex, dan sebagainya.
B untuk bekerja. Semua dimulai dari usaha diri sendiri. Jaminan nilai jelek di tangan apabila siswa tidak merencanakan waktunya dan tidak mempersiapkan diri dalam ujian. Di sini Pak Bisman menekankan pentingnya bekerja (belajar) dan pembagian waktu.
C untuk cita-cita. Ini mengenai visi jauh ke depan. Cita-citakan nilai bagus dan tanamkan itu terus-menerus. Hal ini penting sebagai koridor agar tidak salah jalan.
D untuk doa. Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945 menyebutkan "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Manusia berusaha, Tuhan yang memutuskan. Jangan pernah putus alunan doa kepada ilahi.
Satu hal yang perlu diingat bahwa rumus tersebut menggunakan unsur perkalian, bukan penjumlahan. Ketika salah salah satu komponen bernilai nol, maka nilai nol yang akan dihasilkan. Pak Bisman dengan analogi ujiannya; rumus tersebut fleksibel dan bisa diterapkan untuk hal lain.
Penulis tidak pernah berjumpa lagi dengan Pak Bisman semenjak lulus SMP. Atas petuahnya yang berhasil merekat hingga saat ini, sungguh penulis bermunajat semoga beliau selalu berada di dalam lindungan Tuhan.
Penulis berjanji akan menanamkan rumus ini ke generasi penerusnya.
Salam Pancasila!
Senin, Juli 22, 2013
Abnormal
Negeri ini abnormal, tidak bisa diselesaikan secara normal.
Kalimat di atas mengawali sebuah sesi bertajuk "Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Mendatang" oleh Imam Budidarmawan Prasodjo. Judulnya berat, ya? Pak Imam ini adalah seorang sosiolog sekaligus dosen tetap FISIP UI. Saya sempat melihat beliau beberapa kali tampil di layar kaca dan saya beruntung memiliki kesempatan mendengarkan pandangannya secara langsung.
Dua kata yang perlu digarisbawahi adalah kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah kemampuan membaca masalah, sedangkan karakter berujung pada penentuan tindakan. Pak Imam meyakini bahwa para pemangku jabatan sudah memiliki kapasitas yang mumpuni. Akan tetapi, nol karakter. Ini yang membuat masalah tidak selesai. Keterjebakan di dalam kerusakan sistemik tidak bisa dijadikan kambing hitam banyaknya tindak pidana dan penyelewengan kekuasaan. Semua berakar dari pendidikan. Pendidikan karakter. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencetak manusia Indonesia yang berkarakter? Jujur saya belum merumuskan metodenya secara menyeluruh.
Saya selalu sadar, niat baik saja tidak cukup.
Harus urakan. Harus abnormal.
Kalimat di atas mengawali sebuah sesi bertajuk "Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Mendatang" oleh Imam Budidarmawan Prasodjo. Judulnya berat, ya? Pak Imam ini adalah seorang sosiolog sekaligus dosen tetap FISIP UI. Saya sempat melihat beliau beberapa kali tampil di layar kaca dan saya beruntung memiliki kesempatan mendengarkan pandangannya secara langsung.
Dua kata yang perlu digarisbawahi adalah kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah kemampuan membaca masalah, sedangkan karakter berujung pada penentuan tindakan. Pak Imam meyakini bahwa para pemangku jabatan sudah memiliki kapasitas yang mumpuni. Akan tetapi, nol karakter. Ini yang membuat masalah tidak selesai. Keterjebakan di dalam kerusakan sistemik tidak bisa dijadikan kambing hitam banyaknya tindak pidana dan penyelewengan kekuasaan. Semua berakar dari pendidikan. Pendidikan karakter. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencetak manusia Indonesia yang berkarakter? Jujur saya belum merumuskan metodenya secara menyeluruh.
Saya selalu sadar, niat baik saja tidak cukup.
Harus urakan. Harus abnormal.
Selasa, April 09, 2013
Ardian Syaf
Ketik "Ardian Syaf" di pencarian gambar Om Google. Jarang muncul wajahnya, justru karyanya yang mendominasi.
Pasti hanya segelintir orang yang mengetahui siapa dia. Wong saya juga baru tahu setelah dia mejeng di kolom Sosok Kompas beberapa bulan yang lalu. Kisahnya menarik, seru untuk ditelisik, dan banyak pelajaran yang bisa dipetik.
Namanya Ardian Syaf, asli Indonesia, arek Tulungagung. Sebenarnya namanya sudah tidak asing lagi di dunia komik. Goresan penanya berhasil menarik perhatian penerbit komik Amerika Serikat sekaliber DC Comics. Tangannya mampu menghasilkan sosok superhero seperti Batman, Batgirl, dan Superman. Lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang ini mengaku bercita-cita menjadi komikus sejak masih kecil.
Pasang surut kehidupan sudah dia lalui. Bahkan ibunya sempat cemas dengan konsistensi Aan (panggilan Ardian Syaf) di dunia komik. "Aan dari menggambar bisa kerja apa ya?", celoteh ibunya dulu. Aan sempat bekerja lepas dengan bayaran sekitar 25 dollar AS per halaman untuk komik pendek delapan halaman. Di samping itu, pada saat yang sama Aan bekerja sebagai pengatur tata letak buku Lembar Kerja Siswa SMA dengan bayaran Rp 2.500 per halaman. Keadaan makin terpuruk ketika anaknya sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saat itu Aan ingin mengubur cita-citanya menjadi seorang komikus.
Saat itu pula tangan Tuhan bergerak.
Seorang penulis naskah asal Irlandia menghubungi Aan lewat surat elektronik untuk dibuatkan komik. Ini adalah titik balik kehidupan seorang Aan. Sejak saat itu karya Aan mulai dilirik oleh mata internasional. Setelah itu DC Comics secara eksklusif mengontrak Aan untuk menggarap komik superhero. Coretannya kini dihargai 300 dollar AS per lembar. Dan tentunya Aan sudah menggarap berbuku-buku komik.
Uniknya, Aan kerap kali menyisipkan unsur-unsur keindonesiaan dalam karyanya seperti baliho dengan gambar Jokowi-Ahok dan latar Jakarta. Aan tidak mau berhenti sampai di sini. Hingga sekarang dirinya ingin menghidupkan kembali eksistensi komik Indonesia.
*
Saya beberapa kali menemukan orang tua yang memaksakan kehendak kepada anaknya. Agaknya kebanyakan orang tua sudah dibutakan dengan jurusan tertentu; yang berefek pada lupa pada satu hal: kesenangan anak mengerjakan sesuatu. Padahal, ketika hal itu dirampas, jiwa anak akan berontak secara terlihat ataupun tidak terlihat. Beruntung Aan memiliki ibu yang sabar dan senantiasa mendukung.
Asal berlandaskan niat yang baik, mau menjadi apapun itu, tangan Tuhan pasti akan bergerak pada saat yang tepat, saat yang tidak diduga-duga.
Sabtu, Januari 26, 2013
Ainun
Sudah nonton Habibie & Ainun?
Menurut saya, Habibie adalah seorang sosok ideal yang berhasil di dalam tiga bidang: teknologi, nasionalisme, dan cinta. Sebenarnya impian Habibie itu sangat sederhana: dia ingin Indonesia memiliki teknologi pesawat terbang karya anak bangsa. "Pokoknya, Indonesia harus bisa buat pesawat sendiri!", saya yakin kalimat itu yang selalu terpatri di dalam benak Habibie. Dengan niat yang baik dan dibarengi dengan kerja keras, Tuhan memberikan jalan.
Konon katanya, di samping laki-laki sukses, ada perempuan yang senantiasa setia mendampingi. Saya yakin berlaku sebaliknya: di samping perempuan sukses, ada laki-laki yang senantiasa setia mendampingi. Di sini letak peran seorang Ainun dalam kehidupan Habibie. Ada yang diciptakan untuk berakting di depan layar tapi ada juga yang berperan di belakang layar. Keduanya memiliki peran tersendiri dan sama pentingnya. Saya yakin tidaklah mudah menjadi seorang perempuan; menjadi seorang istri. Terlebih lagi istri seorang teknokrat besar semacam Habibie.
Begini. Bayangkan. Seorang suami pasti menceritakan setiap detail liku kehidupan kepada istrinya. Oh, dan saya yakin tidak ada laki-laki yang suka dengan kecerewetan perempuan. Maksudnya, cukuplah perempuan menjadi pendengar yang baik. Gampang kah? Tidak.
Ketika cerita itu mengalir, secara otomatis, mau atau tidak mau, sang istri akan ikut memikirkan bagaimana seharusnya ia berbuat ke depannya. Walaupun pada kenyataannya, saat proses penumpahan cerita berlangsung, istri hanya bisa manggut-manggut dan berpesan sabar. "Nggih, Mas. Sabar, ya. Pasti ada kok jalannya. Yuk, kita jalani bersama". Pun dengan reaksi seperti itu, sang suami merasa jauh lebih lega walaupun sebenarnya masalah masih ada dan solusi belum ditemukan. Kira-kira seperti itu.
Tidak ada yang salah. Adalah sebuah kewajaran terjadi curahan hati dalam pasangan. Namun, saya mencoba melihat dari sudut pandang perempuan. Ditambah lagi sisi emosional perempuan sangatlah sensitif dan fluktuatif akibat gejolak hormon di dalam tubuhnya yang terjadi setiap jangka waktu tertentu dan terus berlangsung hingga tiba masa menopause.
Nah, bayangkan Anda menjadi Ainun lalu Habibie curhat bahwa dia akan menjadi menristek, dia akan menjadi wakil presiden, dia akan menjadi presiden, dia memutuskan untuk melepas Timor Timur, dan skenario kehidupan lain yang ukurannya tidaklah sekecil biji zarah. Skalanya luar biasa besar. Saya tidak begitu mengamati Habibie dan Ainun dulu, tetapi setelah Ainun meninggalkan dunia ini, saya sadar bahwa Habibie-Ainun adalah satu kesatuan yang saling bersandar.
Saya angkat topi untuk Ainun.
Seorang perempuan luar biasa yang berhasil dengan ikhlas mengerem egonya.
Sesuatu yang melebihi sabar.
Menurut saya, Habibie adalah seorang sosok ideal yang berhasil di dalam tiga bidang: teknologi, nasionalisme, dan cinta. Sebenarnya impian Habibie itu sangat sederhana: dia ingin Indonesia memiliki teknologi pesawat terbang karya anak bangsa. "Pokoknya, Indonesia harus bisa buat pesawat sendiri!", saya yakin kalimat itu yang selalu terpatri di dalam benak Habibie. Dengan niat yang baik dan dibarengi dengan kerja keras, Tuhan memberikan jalan.
Konon katanya, di samping laki-laki sukses, ada perempuan yang senantiasa setia mendampingi. Saya yakin berlaku sebaliknya: di samping perempuan sukses, ada laki-laki yang senantiasa setia mendampingi. Di sini letak peran seorang Ainun dalam kehidupan Habibie. Ada yang diciptakan untuk berakting di depan layar tapi ada juga yang berperan di belakang layar. Keduanya memiliki peran tersendiri dan sama pentingnya. Saya yakin tidaklah mudah menjadi seorang perempuan; menjadi seorang istri. Terlebih lagi istri seorang teknokrat besar semacam Habibie.
Begini. Bayangkan. Seorang suami pasti menceritakan setiap detail liku kehidupan kepada istrinya. Oh, dan saya yakin tidak ada laki-laki yang suka dengan kecerewetan perempuan. Maksudnya, cukuplah perempuan menjadi pendengar yang baik. Gampang kah? Tidak.
Ketika cerita itu mengalir, secara otomatis, mau atau tidak mau, sang istri akan ikut memikirkan bagaimana seharusnya ia berbuat ke depannya. Walaupun pada kenyataannya, saat proses penumpahan cerita berlangsung, istri hanya bisa manggut-manggut dan berpesan sabar. "Nggih, Mas. Sabar, ya. Pasti ada kok jalannya. Yuk, kita jalani bersama". Pun dengan reaksi seperti itu, sang suami merasa jauh lebih lega walaupun sebenarnya masalah masih ada dan solusi belum ditemukan. Kira-kira seperti itu.
Tidak ada yang salah. Adalah sebuah kewajaran terjadi curahan hati dalam pasangan. Namun, saya mencoba melihat dari sudut pandang perempuan. Ditambah lagi sisi emosional perempuan sangatlah sensitif dan fluktuatif akibat gejolak hormon di dalam tubuhnya yang terjadi setiap jangka waktu tertentu dan terus berlangsung hingga tiba masa menopause.
Nah, bayangkan Anda menjadi Ainun lalu Habibie curhat bahwa dia akan menjadi menristek, dia akan menjadi wakil presiden, dia akan menjadi presiden, dia memutuskan untuk melepas Timor Timur, dan skenario kehidupan lain yang ukurannya tidaklah sekecil biji zarah. Skalanya luar biasa besar. Saya tidak begitu mengamati Habibie dan Ainun dulu, tetapi setelah Ainun meninggalkan dunia ini, saya sadar bahwa Habibie-Ainun adalah satu kesatuan yang saling bersandar.
Saya angkat topi untuk Ainun.
Seorang perempuan luar biasa yang berhasil dengan ikhlas mengerem egonya.
Sesuatu yang melebihi sabar.
Minggu, Desember 09, 2012
Paperman
Please kindly hear the song. Inner peace.
All audiences were completely astonished –I was one of them– during a screening of short animated film titled Paperman before Wreck-It Ralph began. It's a silent story about fate and love. It said so much without a single word. That time was such a joy!
Uniquely, Paperman was made by hybrid of computer-generated and hand-drawn technique. Using a minimalist black-and-white style, the story took place in New York in mid-century. Once, a lonely young man met a beautiful girl unexpectedly on his daily morning commute to his office. The meet made the young man numb, charmed by the woman's beauty. Unfortunately, they didn't have enough time to do some chit-chat, so the woman got into the train, left the young man alone again.
The young man got his second chance when he spot the same woman in the skyscraper building across the avenue from his office. He flipped the paper on his desk into a paper-plane then threw it to get her attention. His efforts were no match for the fate that had been made at that time. Yeah, the wind continually blew every single paper-plane to the wrong direction. In the end, fate rewarded whoever tried really hard to make something happen. Sweetness!
"Do your best, God do the rest" is not a piece of bull shit. God has His own scenario. He is the best director of your life and His script is flawless.
We all have the desired to be loved. People, this life is all about connection. I know that kind of feeling is unexplainable, but if you feel so, when you are convinced that he or she will inspire you for the rest of your life: take risks, do strive, find love.
And in the end, the love you take is equal to the love you make.
-The Beatles
Senin, November 05, 2012
Guangzhou Visit
Berjarak sekitar 3323 kilometer dari Jakarta, Guangzhou adalah salah satu kota metropolitan di Cina. Secara sekelabat bisa diperhatikan bahwa trotoarnya sangat lebar, tidak ada sepeda motor yang boleh masuk ke dalam kota, tidak ada papan reklame yang merusak estetika, tidak ada kabel listrik yang berseliweran, dan banyak toko pangkas rambut. Efektif dua hari saya ditugaskan untuk meninjau BRT (bus rapid transit), bike sharing, dan greenway.
1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?
TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.
Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.
GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!
Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.
Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.
Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.
2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.
Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!
3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.
Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini: berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!
Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:
Mau tidak?
1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?
TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.
Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.
| Pak Bos sedang menjelaskan |
GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!
| Halte dengan panjang hingga 200 meter |
| Overtaking lane |
Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.
| LED di samping bus |
| LED di sub-pemberhentian |
| Daftar bus yang lewat |
Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.
| Kantor GBRT |
| Berbagai operator pengendali |
| Mbak sedang menjelaskan |
Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.
2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.
| Gowes dulu yuk! |
| Public bike! |
| Peta pesebaran halte |
Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!
3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.
| Main yuk! |
| Kanan-kiri adalah tempat tinggal penduduk |
| Bisa buat merenung dan galau |
| Di bawah jembatan layang |
| Guling-guling |
| Awas kecebur, Pak! |
| Airnya jernih! Banyak ikan! |
| Masuk greenway! |
Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini: berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!
![]() |
| Kulo |
Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:
Mau tidak?
Minggu, Agustus 26, 2012
Satria Jawa
Tuntas sudah saya membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah karya sastra yang bisa-bisanya diciptakan saat sang maestro berada di dalam bui – diasingkan – di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Semakin ditekan, sepertinya, beliau semakin menggelora menulis. Ya, Pram melawan zaman lewat torehan penanya. Buah pemikirannya yang menggabungkan nilai luhur jati diri bangsa dengan pentingnya ilmu logika adalah sangat visioner dan sungguh memukau.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat-kalimat beliau dan membaginya kepada para pembaca mengenai Satria Jawa. Ada lima persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga.
1. Wisma
Tanpa rumah, orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah adalah tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.
2. Wanita
Tanpa wanita, satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti kau pandang ibumu yang sudah tua, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti harus kau persiapkan.
3. Turangga
Kuda, dia alat yang dapat membawa kau ke mana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kebisaan, keahlian, dan akhirnya – kemajuan. Tanpa turangga, takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.
4. Kukila
Burung, lambang keindahan, kelangenan (hobi), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu, orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.
5. Curiga
Keris, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris, yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan.
Bumi Manusia, halaman 464-465
Dalam tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat-kalimat beliau dan membaginya kepada para pembaca mengenai Satria Jawa. Ada lima persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga.
1. Wisma
Tanpa rumah, orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah adalah tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.
2. Wanita
Tanpa wanita, satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti kau pandang ibumu yang sudah tua, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti harus kau persiapkan.
3. Turangga
Kuda, dia alat yang dapat membawa kau ke mana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kebisaan, keahlian, dan akhirnya – kemajuan. Tanpa turangga, takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.
4. Kukila
Burung, lambang keindahan, kelangenan (hobi), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu, orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.
5. Curiga
Keris, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris, yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan.
Bumi Manusia, halaman 464-465
Langganan:
Postingan (Atom)












