Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, Agustus 26, 2012

Satria Jawa

Tuntas sudah saya membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah karya sastra yang bisa-bisanya diciptakan saat sang maestro berada di dalam bui diasingkan di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Semakin ditekan, sepertinya, beliau semakin menggelora menulis. Ya, Pram melawan zaman lewat torehan penanya. Buah pemikirannya yang menggabungkan nilai luhur jati diri bangsa dengan pentingnya ilmu logika adalah sangat visioner dan sungguh memukau.

Dalam tulisan ini, saya ingin mengutip kalimat-kalimat beliau dan membaginya kepada para pembaca mengenai Satria Jawa. Ada lima persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi Satria Jawa: wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga.

1. Wisma
Tanpa rumah, orang tak mungkin satria. Orang hanya gelandangan. Rumah adalah tempat seorang satria bertolak, tempat dia kembali. Rumah bukan sekedar alamat, dia tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali.

2. Wanita
Tanpa wanita, satria menyalahi kodrat sebagai lelaki. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan. Dia bukan sekedar istri untuk suami. Wanita sumbu pada semua, penghidupan dan kehidupan berputar dan berasal. Seperti kau pandang ibumu yang sudah tua, dan berdasarkan itu pula anak-anakmu yang perempuan nanti harus kau persiapkan.

3. Turangga
Kuda, dia alat yang dapat membawa kau ke mana-mana: ilmu, pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kebisaan, keahlian, dan akhirnya kemajuan. Tanpa turangga, takkan jauh langkahmu, pendek penglihatanmu.

4. Kukila
Burung, lambang keindahan, kelangenan (hobi), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan batin pribadi. Tanpa itu, orang hanya sebongkah batu tanpa semangat.

5. Curiga
Keris, lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya. Tanpa keris, yang empat akan bubar binasa bila mendapat gangguan.

Bumi Manusia, halaman 464-465

Kamis, Mei 10, 2012

1001 Wajah Transportasi Kita

KU-4012 Komposisi menugaskan sebuah resensi. Daripada sekedar dikumpulkan lebih baik saya 'simpan' juga di sini. Kritik dan saran monggo pisan. Nyahaha.
Judul: 1001 Wajah Transportasi Kita
Penulis: Bambang Susantono
Tebal: 273 + iv
Ukuran: 210 mm x 140 mm
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009

Berbicara tentang transportasi di Indonesia berarti berurusan dengan hal yang memiliki kompleksitas tinggi dan bersifat dinamis. Tidak bisa dipungkiri bahwa transportasi di Indonesia layaknya benang kusut yang sudah sangat sulit diurai menjadi lurus kembali. Sulit bukan berarti tidak mungkin dicarikan solusinya, tetapi memang dibutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra.

Publik perlu mengetahui persoalan transportasi secara makro maupun mikro agar tercipta sudut pandang yang jernih sehingga tidak hanya caci maki yang keluar dari mulut, tetapi diharapkan ikut menciptakan solusi transportasi yang konstruktif. Buku ini adalah salah satu sarana edukasi kepada masyarakat sehingga publik mampu memandang persoalan dengan perspektif positif, bukan dengan pola pikir apatis yang berujung pada frustasi.

Buku ini ditulis oleh Bambang Susantono yang sekarang menjabat sebagai Wakil Menteri Perhubungan sekaligus ketua MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia). Di bagian awal, penulis menjelaskan bahwa menjamurnya kendaraan bermotor pribadi (mobil dan sepeda motor) adalah akibat dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengembangkan sistem transportasi massal yang memiliki asas 5K: keselamatan, keamanan, keterjangkauan, kenyamanan, dan kultur. Mega proyek transportasi seolah-olah dijalankan dengan setengah hati sehingga menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Bagian-bagian berikutnya dari buku ini menjelaskan berbagai macam fenomena dan moda transportasi seperti mudik, TransJakarta, becak, MRT, angkutan kota, pesawat terbang, kapal laut, dan sepeda.

Sadarkah ketika kita mengeluh karena terjebak kemacetan, kita sendiri merupakan bagian dari kemacetan itu? Buku ini menggugah kesadaran bahwa kita pun bagian dari penyebab masalah transportasi. Bambang Susantono menjelaskan wajah transportasi di Indonesia secara komprehensif dan apa adanya tanpa menyampingkan rasa optimis pembenahan yang harus dilakukan oleh setiap kalangan. Di sisi lain, penulis menekankan bahwa siapapun yang berada di jalan raya akan memiliki pengaruh bagi keselamatan pengguna jalan di sekitarnya.

Bobot ide yang disampaikan penulis sangat realistis dan aplikatif. Tidak hanya itu, data dalam banyak cabang transportasi disajikan secara sistematis dan menarik sehingga pembaca tidak akan merasa bosan dan bingung. Kreativitas penulis dibuktikan dengan beberapa visualisasi atau wajah sebenarnya transportasi di Indonesia secara gamblang. Di bagian akhir, secara unik penulis menyisipkan tips praktis nyaman dan aman di jalan dengan menggunakan berbagai moda transportasi.

Ditinjau secara tata bahasa, buku ini menerapkan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dengan baik. Tidak ada kesalahan cetak dan kutipan disampaikan dengan benar. Sebagai kesimpulan, buku ini layak untuk dibaca oleh siapapun karena membuka mata pembacanya tentang uniknya seluk-beluk wajah transportasi dan merupakan asupan energi optimis untuk transportasi di Indonesia yang lebih baik.

Rabu, April 18, 2012

Dragons

Once there were dragons.
Imagine a time of dragons –some larger than mountainsides, slumbering in the depths of the ocean; some smaller than your fingernail, hopping through the heather.

Sebuah prolog yang ditulis dengan anggun oleh Cressida Cowell di salah satu seri buku How to Train Your Dragon. Sangat jelas kalau Cowell mengajak pembaca untuk berfantasi tentang keberadaan naga. Siapa yang tidak tahu naga? Sejak kecil, saya selalu membayangkan seekor naga adalah makhluk mitologi yang bertubuh besar, kekar, bersisik, berleher panjang, bersayap, dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.

Layaknya Cowell, saya juga terpesona dengan naga. Makhluk magis ini seringkali diceritakan memiliki elemen bumi, udara, air, atau api. Makanya saya sangat suka dengan segala hal yang berbau tentang naga di video game, buku, atau figure.

How to Train Your Dragon (Books).

Seri buku ini termasuk kategori anak-anak. Agak aneh memang ketika seorang yang berumur 20-an membaca buku ini. Namun, saya tidak peduli. Saya suka dengan naga dan dengan membaca buku ini dapat meningkatkan linguistik Inggris saya. Tanpa disangka-sangka, saya mendapat bonus berupa nilai-nilai positif kehidupan yang sengaja diselipkan oleh Cowell dalam seri buku ini. Menurut saya, Cowell sangat brilian dalam mengombinasikan fantasi dan realita dalam bentuk untaian kata-kata. Perpaduan dua hal itu membuahkan karya nyata yang manis dan merupakan oase bagi mereka, terutama anak-anak, yang haus dengan fantasi.

Terdapat sepuluh buku dalam seri ini. Hingga tulisan ini diturunkan, saya sudah punya delapan dan membaca tujuh. Buku kesembilan sepertinya sudah ada di Indonesia, namun buku kesepuluh baru akan terbit tahun ini (2012). Pertama kali saya membeli buku kesatu versi Indonesia. Tamat, lalu saya membeli buku kesatu versi Inggris. Selanjutnya saya membeli versi Inggris karena lebih menikmati setiap kata-katanya.


Buku ini menceritakan petualangan Hiccup Horrondeus Haddock III. Tidak seperti kebanyakan Viking yang (selalu) mengandalkan otot, Hiccup mengedepankan berpikir sebelum bertindak. Ya, Viking terkenal dengan suku barbar yang meneror siapapun di darat maupun laut. Hiccup terlahir berambut merah dan sangat kurus. Kemampuan yang bisa dibanggakan Hiccup hanya berpedang; sisanya berantakan. Sebagai tambahan, Hiccup dianugerahkan bisa berbahasa naga. Seperti yang tadi saya bilang, banyak segi positif yang bisa dituai dari cerita ini: ukuran bukanlah segalanya, keberanian, persahabatan, perjuangan, kerja keras, kesabaran, berpikir taktis, dan lain-lain. Anak-anak butuh fantasi! Anak-anak butuh penyampaian nilai positif kehidupan dengan cara yang unik. Setidaknya saya akan mendongengkan kisah naga ini ke anak saya nanti. Haha.

Perbedaan antara buku dengan film.

Ini adalah kali pertama saya membaca buku terlebih dahulu lalu menonton sebuah film yang mengadopsi cerita dari buku tersebut. Ditinjau dari segi cerita dan karakter, terdapat perbedaan yang sangat nyata. Di buku pertama, naga-naga ditangkap untuk dilatih, sedangkan di film terjadi peperangan antara naga dengan Viking dan pelatihan naga baru dijalankan setelah Hiccup menunjukkan kalau mereka bisa dilatih. Perbedaan berikutnya yang mencolok penggambaran Toothless (naga milik Hiccup) sebagai seekor naga bernama Night Fury yang merupakan spesies langka, cerdas, dan bisa ditunggangi. Toothless di buku digambarkan sebagai naga biasa sebesar kucing. Yang terakhir, di film Hiccup tidak bisa berbahasa naga.

Terlepas dari banyak perbedaan, film How to Train Your Dragon sangat jempolan! Tak heran rating di IMDb sebesar 8.2. Cowell menyetujui perbedaan-perbedaan itu dan mengatakan kalau intisari dan pesan yang ada di buku tetap tersampaikan di film. Tunggu How to Train Your Dragon 2 pada tahun 2014! Asik!

Figure.

Berhubung saya juga suka dengan Lego, saya punya Lego Creator 6751 Fiery Legend! The great red dragon! Awesomeness! The guardian of my desk!


Proyek berikutnya adalah Lego Creator 4894 Mythical Creature! Aduh tapi yang satu ini mahal. Mari nabung!

Once there were dragons.
Yes, there were dragons.

Senin, Januari 30, 2012

The Zahir


Buku ini adalah karya Coelho ketiga yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca 'The Alchemist' dan 'Veronika Decides to Die'. The Zahir masuk ke dalam jajaran buku favorit saya karena saya sangat senang dengan kedewasaan cinta yang dibahas di dalam buku ini, realistis dan apa adanya. Selain itu, sebagai seorang remaja 21 tahun yang masih ababil dan selalu berusaha mengungkap cinta, buku ini telah membuka mata saya lebih lebar.

Saya meyakini bahwa sebaik-baiknya membaca novel adalah yang bukan terjemahan. Dalam kasus ini, Coelho lahir di Brazil dan menggunakan Bahasa Portugal saat menulis karyanya. Apa daya saya tidak bisa Bahasa Portugal sehingga saya membeli yang versi Inggris. Kenapa bukan yang Indonesia? Untuk novel luar negeri, saya lebih nyaman dengan untaian kata dalam Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. Selera sih.

The Zahir.

Buku ini menceritakan seorang novelis -sekaligus narator- yang mencari keberadaan istrinya yang hilang. Istrinya, Esther, pergi tiba-tiba tanpa meninggalkan jejak, tanpa alasan. Banyak spekulasi yang muncul dalam benak sang novelis, apakah istrinya direkrut oleh organisasi teroris, diculik, dibunuh, atau memang sengaja meninggalkan pernikahan yang telah mereka bina. Kalaupun Esther pergi karena spekulasi terakhir, apa yang salah dalam diri narator? Apa yang salah dalam pernikahan mereka? Toh narator selama ini hidup nyaman dengan banyak uang dan menjadi terkenal karena buku-buku karangannya.

The Zahir adalah metafora kepergian dan bayang-bayang Esther yang diciptakan narator secara otomatis dalam pikirannya. The Zahir berarti sulit untuk tidak diperhatikan dan selalu mengisi pikiran sekalinya tersentuh. Berdasarkan hal itu, narator mulai mengevaluasi apa yang salah dalam dirinya dan pernikahannya. Dalam sebuah peluncuran buku, narator bertemu dengan seseorang bernama Mikhail yang tahu akan keberadaan Esther dan berjanji mempertemukan mereka. Mikhail menegaskan kalau narator ingin menemukan Esther, pertama dia harus menemukan dirinya terlebih dulu.

Pencarian dimulai.

Diceritakan kalau narator adalah orang yang mudah jatuh cinta. Selama pencarian Esther, narator sering berdiskusi dengan Marie, kisah cintanya saat itu. Marie mencintai sang narator dan berharap suatu saat dia mendapat cinta yang sama dari narator. Namun The Zahir terlalu kuat. Narator memutuskan untuk mencari lalu bertemu dengan Esther. Saya sangat suka percakapan perpisahan antara narator dan Marie dengan segala ungkapan, kejujuran, dan analoginya.

Cerita ini mencapai klimaksnya saat narator berhasil menemukan The Zahir setelah melalui perjalanan dari Perancis menuju Kazakhstan. Pertemuan mereka sangat menyentuh hati. Narator mendekap Esther, menyandarkan kepala ke bahunya, dan mulai menangis mengungkapkan segalanya.

*

Beberapa orang berpendapat seperti berikut:

I hardly fall in love. When I do, I fall very hard.

Pernyataan di atas tidak berlaku buat saya. Saya dengan mudahnya jatuh cinta dan seringkali jatuh dengan keras. Kegagalan terjadi di hubungan yang pernah saya bina. Konyolnya, saya sering tergila-gila dengan perempuan yang bahkan saya belum pernah sekalipun berinteraksi dengannya. Semuanya karena jejaring sosial mulai dari facebook, twitter, tulisan di blog, dan lain-lain. Yang sulit adalah membendung perasaan ini.

Teman saya. Dia sangat heran dengan kepribadian saya yang sebegitu mudahnya tertarik dengan lawan jenis. Sekalinya tertarik sangat sulit untuk dilupakan. Satu lagi teman saya pernah berkata kalau tertarik pertama kali secara fisik (pandangan pertama) itu merupakan suatu hal yang wajar. Dia menekankan jangan berhenti di situ dan harus ada langkah nyata berikutnya untuk mengenal secara kepribadian. Tuhan sangat berperan dalam hal ini dimana Dia yang menciptakan momen atau sebuah tipping point pertemuan. Takdir, ya?

Tidaklah mawar dekati kumbang. Ya, laki-laki yang menyatakan cintanya kepada perempuan. Kodratnya memang seperti itu. Anyway life rolls. God plays His role and so do I. God doesn't play dice with the universe. Everything is interconnected and has a meaning.

Quote yang tidak akan pernah saya lupakan adalah sebuah tweet dari Sudjiwo Tedjo di tahun 2011. Susah nih dijabarkan.

Cinta adalah ketika kuat kau rasakan 'kehadiran' Tuhan dalam diri pasanganmu.

Senin, September 05, 2011

Jilbab

Jilbab adalah salah satu fenomena yang unik. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga perempuan mengenakan jilbab itu biasa saja. Di negara dimana Islam merupakan minoritas, aku yakin perempuan berjilbab mau tidak mau terlihat berbeda dan (mungkin) menjadi pusat perhatian.

Di dalam buku ini, penulis (Quraish Shihab) membentangkan pendapat dari ulama-ulama terdahulu yang terkesan ketat dan pendapat dari cendikiawan kontemporer yang terkesan longgar.

Wajar terjadi keragaman, karena itu merupakan ciri dari redaksi al-Qur'an dan hadits yang memang dapat menampung aneka pendapat. Mengemukakan lebih dari satu pendapat berarti memberi alternatif-alternatif semuanya bisa ditampung oleh kebenaran sehingga mempermudah umat melakukan aktivitas yang dibenarkan oleh agama.

Islam mengajarkan pengikutnya untuk menggunakan potensi akal. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama universal yang mampu berinteraksi dengan seluruh manusia tanpa mengenal waktu dan tempat.

QS. an-Nahl [16]: 44
"Dan Kami menurunkan kepadamu al-Qur'an, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan."

Pakaian selain terkait dengan kebutuhan juga terkait dengan keindahan. Tetapi, apakah keindahan itu? Dulu kegemukan merupakan pertanda kesejahteraan hidup dan digemari oleh wanita. Sekarang wanita berlomba-lomba tidak makan dan minum agar tampak ramping dan kurus. Demikianlah definisi keindahan yang berubah-ubah antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain dan juga terkait dengan perkembangan zaman.

Agama Islam menghendaki pemeluknya untuk berpakaian semestinya atau paling tidak memiliki fungsi terpenting, yakni menutup aurat. Mulai dari sini timbullah perdebatan mengenai batas aurat wanita dan pria.

Tidak usah munafik, sedikit senyuman atau betis yang terungkap dari seorang wanita bisa menimbulkan pikiran yang bermacam-macam bagi seorang pria. Oleh karena itu Islam memberikan batasan. Agama tidak memerintahkan untuk membunuh nafsu, tetapi untuk mengendalikannya.

Setiap manusia pasti menyadari ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan bagi pria dan wanita, baik bagian tubuh tertentu, ucapan, ataupun perbuatan. Hal tersebut sangat rawan dan bisa berujung pada hubungan seksual sehingga diperlukan suatu aturan khusus. Hal yang rawan tersebut dinamakan aurat.

Jangan berkata bahwa Anda dapat menjaga diri. Sekian orang malah terjerumus setelah mengatakan demikian. Bukankah kecelakaan dapat terjadi walaupun kita sudah menyetir dengan hati-hati?

*

Al-Qur'an tidak menyebutkan secara jelas dan rinci batas-batas aurat, makanya timbul perbedaan pendapat. Ulama-ulama masa lalu terbagi menjadi dua dalam hal batasan aurat wanita. Yang pertama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat dan yang kedua mengecualikan muka dan telapak tangan. Ada beberapa ayat dalam al-Qur'an yang dijadikan rujukan. Ayat-ayat tersebut dipahami berbeda oleh kedua kelompok dan dijadikan dasar suatu ketetapan ulama. Berikut rujukannya, sila cek sendiri di al-Qur'an milikmu.

QS. al-Ahzab [33]: 53
QS. al-Ahzab [33]: 59
QS. an-Nur [24]: 30-31
QS. al-Ahzab [33]: 32-33
QS. an-Nur [24]: 60

Di buku ini dijelaskan perbedaan pendapat ulama di setiap ayat. Rasanya terlalu panjang untuk dibahas di sini dan aku sendiri belum menjamin diriku mengerti. Baca sendiri saja ya bukunya. Hehe.

Selain al-Qur'an, para ulama juga merujuk ke hadits. Redaksi al-Qur'an dipastikan tidak disentuh sedikit perubahan pun. Ayat al-Qur'an disampaikan Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad persis sama dalam lafazh (ucapan) dan maknanya hingga sekarang. Sedangkan hadits, walaupun telah disepakatai keshahihannya, masih bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda.

Penulis cenderung mengacu kepada kelompok kedua.

Suka tidak suka, diakui atau tidak, wanita cenderung untuk berhias. Terlebih lagi zaman sekarang, tidak bisa masuk logika wanita yang menghalangi mereka berhias apalagi dalam batasan yang masih dibolehkan oleh agama.

Dengan wanita tampil seluruh tubuhnya tertutupi pakaian hitam longgar, hanya dua bola mata yang terlihat, tidak jarang ditutupi kacamata hitam, mereka seperti hantu yang sedang berjalan. Maka musnahlah fungsi hiasan atau keindahan dalam pakaian. Demikian menurut penulis dan aku sepakat.

*

Cendikiawan kontemporer juga terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama
Kelompok ini mengemukakan pendapatnya tanpa acuan dalil manapun dan merupakan subjektivitas semata. Kelompok ini sangat ditentang oleh para ulama.
"Hijab (pakaian tertutup) telah menutup keterlibatan wanita dalam berkegiatan. Menutup atau telanjang, menjadikan wanita sebagai jasad semata. Saya, ketika menutup badan saya, maka itu mengandung arti bahwa saya adala fitnah (penggoda/perayu). Saya adalah akal dan bukan jasad yang mengundang syahwat atau rayuan."

Kelompok kedua
Berpendapat mengacu pada ulama terdahulu namun tidak mendapat dukungan dari ulama yang menganut paham ulama-ulama terdahulu.

*

Masalah batas aurat wanita tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengafirkan. Disepakati dalam Forum Pengkajian Islam IAIN Syarif Hidayatullah Maret 1988: "Tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup menurut hukum Islam, dan menyerahkan kepada masing-masing menurut situasi, kondisi, dan kebutuhan."

Di bagian penutup penulis menganjurkan pemakaian jilbab sesuai dengan pendapat mayoritas ulama, apalagi pemakainya sama sekali tidak terhalangi untuk melakukan kegiatan positif di manapun dan untuk kepentingan siapapun.

*

Quraish Shihab mengatakan menganjurkan, bukan mewajibkan sehingga hal ini pula yang menimbulkan polemik.

Aku juga mau berpendapat. Tetapi jangan jadikan ini sebagai acuan, ilmu agamaku tidak sebanding dengan para ulama. Menurutku jilbab wajib hukumnya dikenakan oleh wanita muslimah. Aurat dari seorang wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Pun sudah memakai pakaian wanita muslimah, tolong jangan yang ketat juga. Lekuk tubuh kalian itu sangat mengundang pikiran kotor. Dan yang sering terabaikan adalah bagian leher. Bagian itu sering terungkap, sengaja atau tidak sengaja.

4 September adalah hari hijab internasional. Pesan seorang temanku kepada seluruh wanita muslimah adalah sebagai berikut:
"Semoga para muslimah saling peduli dan saling mengingatkan ketimbang merasa benar sendiri."

Subjektifku, kalian indah dengan jilbab itu.

Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyenangi keindahan.

Sabtu, Agustus 27, 2011

Epilogue by Hiccup

"But size isn't everything. However small we are, we should always fight for what we believe to be right. And I don't mean fight with the power of our fists or the power of our swords. I mean the power of our brains and our thoughts and our dreams."

Hiccup Horrendous Haddock the Third
How to Train Your Dragon Book 3: How to Speak Dragonese

Minggu, Februari 27, 2011

Perempuan

Selesai membaca buku berjudul perempuan karya Quraish Shihab, aku ingin menuangkannya kembali dalam blog ini. Buku ini luar biasa karena mengupas kehidupan perempuan mulai dari karakternya, cinta, rumah tangga, poligami, aborsi, dan lain-lain. Tulisan di bawah merupakan karya Quraish Shihab dengan sedikit modifikasi dariku.

Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi laki-laki. Perempuan adalah yang terbaik untuk laki-laki. Perempuan memberi ketenangan dan ketentraman hidup untuk laki-laki.

Ibuku perempuan. Kakak dan adikku juga perempuan. Bahkan seorang Muhammad SAW membutuhkan perempuan untuk menyalurkan cinta di dalam jiwanya. Jika seorang laki-laki tidak menemukan seorang perempuan yang dia cintai maka dia akan mencintai perempuan yang dia temukan.

Pertemuan perempuan dan laki-laki begitu indah selama mereka telah terbiasa dan saling mengenal, terlebih lagi saling membutuhkan. Tanpa perempuan, masa muda lelaki menjadi gersang, masa matangnya menjadi hampa, dan masa tuanya menjadi penyesalan.

Laki-laki memerlukan dan mendambakan perempuan.

Dia menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Keberpasangan itu sendiri terdiri dari persamaan dan perbedaan. Kedua hal ini harus diketahui agar perempuan dan laki-laki bisa bekerja sama mencapai suatu tujuan kemanusiaan.

Kecintaan diri sendiri menjadikan perempuan sanggup menahan rasa sakit seperti haid, mengandung dan melahirkan, serta menyusukan dan membesarkan anak. Karena rasa sakit itu pula, Allah menganugerahkan perempuan berupa kenikmatan bukan saja dalam hubungan seks, seperti laki-laki, tapi juga dalam memelihara anak-anaknya. Berbeda dengan laki-laki yang harus berjuang mencari nafkah di luar sana untuk sang istri dan anak.

Dunia ini adalah kesenangan dan yang paling menyenangkan adalah perempuan yang shalihah.
(HR Muslim dan An-Nasa'i)

Kalau perempuan berbicara, jangan dengarkan apa yang diucapkan lidahnya, tetapi perhatikan kalimat-kalimat yang dipancarkan matanya.

Apakah ukuran kecantikan dari seorang perempuan? Jawabannya adalah tergantung dari subjektivitas manusia. Seorang perempuan bisa saja dianggap cantik oleh si A namun belum tentu B mengatakan hal yang sama. Oleh karena itu, sungguh bijak ketika kita menyatakan bahwa tidak ada perempuan yang jelek, yang ada hanyalah sebagian mereka tidak pandai atau belum berhasil membuat diri mereka menarik.

Di samping taraf kecantikan setiap individu, kecantikan sangat relatif antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya, bahkan pada masa tertentu dan masa yang lain.

Agama Islam menganjurkan untuk memadukan keindahan jasmani dengan keindahan rohani. Kecantikan luar hanya menyenangkan mata sedangkan yang bersumber dari dalam akan menawan hati. Kedua keindahan harus terpadu, tidak boleh dikorbankan salah satu. Oleh karena itu, Islam menganjurkan perempuan untuk berdandan, ada hadits mengenai pacar (pewarna kuku).

Hanya satu seni yang dimahiri perempuan: Mencintai dan dicintai. Oleh karena itu Allah menganugerahi perempuan kemampuan menangis, cemburu, berduka, dan kesediaan berkorban untuk kekasih. Karena air mata mengundah kasih dan cinta, cemburu menghangatkannya, sedangkan duka cinta tidak akan terobati kecuali dengan cinta pula.

Perempuan dianugerahi berbicara lebih cepat dan lebih banyak karena yang menyuburkan cinta adalah kata-kata indah sedangkan yang meredupkan cinta adalah diam seribu bahasa. Cinta kepada lawan jenis bagi perempuan adalah kisah romantis yang pemeran utamanya adalah perempuan walau sutradaranya lelaki.

Menurut pakar, cinta antar-manusia adalah hubungan dua 'aku'. Keakuan masing-masing dihormati namun kemudian, secara konseptual, keakuan diri lebur pada keakuan kekasih. Karena cinta mengharuskan adanya dua 'aku'.

Mencintai lawan jenis tidak dilarang agama karena cinta adalah fitrah, naluri dalam diri manusia. Allah tidak mungkin melarang cinta, Dia hanya mengarahkan manusia ke dampak yang lebih baik. Silakan bercinta dan luapkanlah cinta kepada kekasih selama tidak melanggar agama dan norma budaya.

Cinta yang terbesar dan paling langgeng adalah cinta kepada Allah dan cinta antar-sesama manusia yang dijalin karena Allah. Cinta yang dikehendaki agama adalah memandang lawan jenis sebagai makhluk dwi dimensi, roh dan jasad, yang memiliki keindahan rohani dan jasmani. Cinta adalah kecendrungan hati yang mendalam terhadap sifat lahir dan batin kekasih, sedangkan syahwat hanyalah dorongan nafsu kepada sifat lahiriah kekasih, kepada jasad saja.

Semestinya tidak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama karena belum bisa melihat sisi-sisi batiniah sang kekasih, baru sebatas lahiriah. Cinta menuntut kesetiaan dua 'aku'. Menepati janjinya, memelihara nama baik kekasih, menjauhkan segala sesuatu yang mengeruhkan jiwanya, membantu memperbaiki aktivitasnya, menutupi kekurangannya, serta memaafkan kesalahannya.

Cinta adalah pohon yang tumbuh subur di dalam hati. Akarnya adalah kerendahan hati kepada kekasih, batangnya adalah pengenalan kepadanya, dahannya adalah rasa takut kepada Tuhan, dedaunannya adalah rasa malu, buahnya adalah kesatuan hati yang melahirkan kerja sama, sedangkan air yang menyiraminya adalah mengingat dan menyebut namanya.

Pada zaman Yunani kuno saat hidup filosof kenamaan seperti Plato, Socrates, dan Aristoteles, martabat perempuan sangat rendah. Socrates berpendapat kalau dua sahabat setia harus mampu meminjamkan istrinya kepada sahabatnya. Demosthenes berpendapat bahwa istri hanya berfungsi melahirkan anak sedangkan Aristoteles berpendapat kalau perempuan sederajat dengan hamba sahaya.

Seandainya seorang lelaki harus memilih ketenangan tanpa perempuan atau kesusahan bersama perempuan, niscaya lelaki itu akan memilih pilihan yang kedua. Pada dasarnya tidak ada yang suka dengan kesendirian, kesepian, dan kegelisahan. Kita sangat familiar dengan ucapan sebagai berikut, di belakang lelaki yang sukses ada perempuan.

Istri adalah pakaian bagi suami, begitu juga sebaliknya, suami adalah pakaian bagi istri. Tidak bisa dipungkiri, salah satu fungsi istri adalah fungsi reproduksi. Ibaratnya, istri adalah tempat bercocok tanam bagi para suami maka garaplah lahan bercocok tanam itu kapan dan bagaimana saja yang dikehendaki. Oleh karena itu, harus pintar dalam memilih tanah garapan. Tanah yang subur pun harus diatur masa dan musim penanamannya. Setelah ditanam, tanah garapan tersebut juga harus dijaga dari hama atau alang-alang. Dengan demikian, buah yang dihasilkan merupakan buah dengan kualitas tinggi.

Keberpasangan manusia bukan hanya didorong oleh naluri seksual, tetapi lebih dari itu. Ia adalah dorongan jiwanya untuk meraih ketenangan. Sakinah dalam rumah tangga bukan sekedar apa yang terlihat pada ketenangan batin yang tercermin pada kecerahan raut muka. Lebih dari itu, kecerahan raut muka yang diiringi dengan kelapangan dada, budi pekerti yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya pandangan dengan tekad yang jelas dan kuat.

Perempuan berbeda dengan lelaki namun perempuan setara dengan lelaki. Kesetaraan tidak berarti persamaan dalam setiap hal. Perbedaan bukan hanya terletak pada alat reproduksinya, tetapi juga struktur fisik dan cara berpikirnya. Perbedaan ini tidak menjadikan satu jenis kelamin lebih unggul atau istimewa daripada yang lain, tetapi justru menggabungkan keduanya untuk mencapai kesempurnaan kedua pihak.

Seandainya jarum tidak lebih keras daripada kain dan cangkul tidak lebih kuat daripada tanah, maka tidak akan ada jahit-menjahit dan hasil pertanian. Artinya, kekuatan dan kelemahan satu pihak tidak menunjukkan superioritas, tetapi merupakan keistimewaan yang saling membutuhkan guna mencapai tujuan bersama.

Perempuan tidak lepas dari pembentukan watak anak-anaknya. Sifat keibuan seorang perempuan sangat luar biasa. Dorongan ini jauh lebih kuat daripada dorongan haus, lapar, kebutuhan seksual, dan rasa ingin tahu. Seorang Napoleon berkata bahwa dia adalah ciptaan ibunya. Begitu pula Abraham Lincoln yang berkata kalau apa yang dia ketahui, dia kerjakan, dan dia impikan adalah hasil kerja ibunya. Karena itu peranan yang paling agung dan besar bagi seorang perempuan adalah peranannya sebagai ibu. Peranan ini mustahil digantikan oleh lelaki.

Kau luar biasa, Perempuan.

Jumat, Januari 07, 2011

Seputar Sepeda

"Sepeda itu berasal dari bahasa Jawa loh!", ungkap Iswartono bersemangat. Bahasa Inggris sepeda adalah 'bicycle' dan itu diyakini diambil dari bahasa Jawa yakni 'obahe sikil' yang artinya kayuhan kaki.

Itu hanya guyonan seorang onthelis asal Solo.

Mari berbicara sedikit tentang sejarah sepeda. Sebenarnya sulit untuk mencari sejarawan yang mengetahui pasti tentang asal-usul sepeda di muka bumi. Berikut adalah salah satu sumber menurut Mick Hamer di majalah New Scientist pada tahun 2005. Percaya tidak percaya, Indonesia adalah negara yang memiliki kontribusi besar dalam kelahiran sepeda di dunia.

Oh, benarkah?

5 April 1815 dia mulai bergejolak. Siapa dia? Sebuah gunung yang berada di Pulau Sumbawa, Indonesia. Dialah Gunung Tambora. Seminggu kemudian dia memuntahkan apa saja yang ada di dalam perutnya hingga bulan Juli. Ini adalah erupsi terbesar sepanjang sejarah, menewaskan lebih dari 92000 orang dan membuat langit menjadi penuh abu. Selain itu, letusannya memicu pemanasan global, suhu di bumi naik sebesar 3 derajat Celcius.

Lalu apa hubungannya dengan sepeda, Gan?

Tahun 1816 di Eropa disebut sebagai tahun tanpa musim panas. Salju terus turun dan langit terus menunjukkan warna kelabu sehingga menyebabkan gagal panen massal. Kuda adalah transportasi darat pada masa itu. Kasihan, para kuda disembelih karena manusia tidak punya cadangan makanan lagi. Karl Drais, seorang Jerman berusia 34 tahun membuat sebuah alat yang bernama draisine. Draisine terbuat dari kayu dan tidak berpedal. Cara mengendarainya adalah dengan menjejakkan kaki ke tanah agar draisine meluncur. Tahun 1818 draisine dipatenkan sebagai sepeda pertama.

Hormatilah sepeda karena ia adalah nenek moyang dari segala jenis kendaraan darat.

Sepeda adalah moda transportasi yang merakyat. Selain harganya yang terjangkau, pergerakannya yang lambat membuatnya lebih manusiawi. Interaksi dan komunikasi antara pengendara sepeda dengan orang-orang di sekitarnya sangat mungkin terjadi. Berbeda dengan kendaraan bermotor seperti mobil atau sepeda motor di mana interaksi ini hampir tidak mungkin terjadi selama berkendara.

Di Jombang, polisi bersepeda sudah tidak asing. Mereka berpatroli dengan menggunakan sepeda. Melintasi pasar, terminal, hingga pertokoan. "Harus ada sesi ngomong-ngomong dong dengan warga. Ini tujuannya, selain pelayanan masyarakat juga pendekatan," ucap seorang perwira polisi kepada wartawan Kompas.

Di Yogyakarta, ada semboyan segosegawe. Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe yang artinya bersepedalah ke sekolah dan tempat kerja. Di Pekalongan lebih hebat lagi, sepeda jengki asal Jepang sudah menjamur di masyarakat. Sepeda itu sangat khas dengan keranjang yang ada di depan. Tua, muda, pria, dan wanita menggunakan sepeda sebagai moda transportasi.

Bersepeda bukan hanya sekedar teknik mengayuh pedal, tetapi juga menyeimbangkan irama emosi dan pikiran.

Lihat! Bung Karno saja bersepeda! Beliau membonceng Ibu Fatmawati! Alangkah romantis!
27 Agustus 2005 adalah tanggal berdirinya komunitas sosial Bike To Work. Berbagai alasan orang bersepeda, mulai dari penghematan dari segi ekonomi, menyehatkan raga, hingga pemikiran idealis untuk mengerem laju pemanasan global.

Sejak saat itu hari pengharaman kendaraan bermotor (baca = car free day) mulai digencarkan di beberapa kota di Indonesia. Betapa masyarakat merindukan jalanan yang lebih manusiawi dan sepedawi, jalanan yang bebas dari hiruk-pikuk klakson dan yang tidak pengap karena emisi gas buang kendaraan bermotor.

Ada orang yang bersepeda untuk hidup. Tengah malam dia bangun untuk mengangkut sayuran dari rumah dan tiba di Pasar Palmerah pukul dua dini hari. Ada juga yang bersepeda untuk menikmati lukisan Tuhan, menjelajah alam dan isinya dengan sepeda.

Bersepeda bukan sekedar berolahraga, tetapi juga upaya mengendalikan diri dan emosi, serta menyeimbangkan otak dan otot.

Kalau Selandia Baru terkenal dengan populasi domba yang melebihi penduduk, maka Belanda terkenal dengan populasi sepeda yang melebihi penduduk. Jika dibandingkan, maka setiap orang di Belanda memiliki 1,1 sepeda.

Di Belanda, 41% orang bersepeda di bawah 2,5 km tiap harinya. Di Indonesia, banyak orang yang bersepeda hingga 20 km tiap harinya untuk menuju tempat kerja atau tempat mengais rejeki. Ini gila sebenarnya. Belanda yang sudah sangat memanjakan pesepeda dibandingkan dengan Indonesia yang masih miskin dengan prasarana untuk moda transportasi sepeda.

Pemerintah dan masyarakat Eropa sadar kalau mobil sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk mobilitas warga. Kebijakan prosepeda benar-benar digodok, mulai dari jalur, parkir, hingga integrasi moda sepeda dengan moda transportasi lain, kereta api misalnya.

Bagaimana di Indonesia?

Mirisnya, pemerintah seolah-olah tutup mata tentang kebijakan prosepeda. Pemerintah sudah terbuai dengan maraknya kendaraan bermotor yang memang menghasilkan keuntungan buat mereka. Aku berharap akan ada kebijakan radikal prosepeda. Buka matamu, Kawan!

Hidup ini seperti naik sepeda. Untuk mempertahankan keseimbangan, kamu harus tetap bergerak.

Sumber: Jelajah Sepeda Kompas, Melihat Indonesia Dari Sepeda