Geser sedikit ke bawah, bagian kanan, coba tengok 'Next Projects'.
Semua bermula dari kalimat "Kamu jangan berhenti di S1". Dulu. Dulu sekali. Mungkin ketika saya masih SMP. Entahlah, pondasi kalimat itu berhasil menancap dengan kukuh di dalam benak saya. Segala kepanikan mulai muncul di awal semester enam – semester terakhir sebelum berpredikat 'swasta' (mahasiswa tingkat akhir) di ITB. Ditetapkanlah secara mandiri bahwa melanjutkan studi master adalah rencana inisial.
Saya tidak mau S2 di Indonesia. Pertimbangan saya adalah kualitas
pendidikan (bukan berarti S2 di Indonesia tidak berkualitas) dan kaum
minoritas. Saya ingin berguru kepada orang yang murni dan fokus berada di bidang tertentu tanpa intervensi dari pihak manapun. Kesejahteraan dosen di luar negeri sangat diperhatikan sehingga mereka bisa mengabdikan diri secara menyeluruh untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, saya beragama Islam dan berkebangsaan Indonesia yang tinggal di negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Saya yakin dengan menjadi kaum minoritas akan mengasah kemandirian, toleransi, dan kepekaan sosial.
Fokus adalah saya lakukan. Sangat fokus. Tak heran bisa berjam-jam di depan laptop menelusuri berbagai macam informasi yang dibutuhkan. Tak hanya itu, bahkan sebuah buku mengenai kisah Erasmus Mundus saya pesan lewat surat elektronik. Beberapa hari kemudian tiba, langsung saya libas buku itu. Ternyata, secara garis besar, dokumen yang dibutuhkan untuk melamar studi master sama-sama saja: transkrip akademik, tulisan motivasi, surat rekomendasi, dan sertifikat bahasa. Hanya beda format dan sebagian besar universitas sudah menerapkan aplikasi on-line yang bisa disimpan secara berkala.
Sudah jelas apa saja yang dibutuhkan, itu yang saya cari. Yang penuh tantangan adalah tulisan motivasi. Tulisan ini berisi penjelasan jati diri, alasan memilih program tersebut, hingga ekspektasi yang diharapkan setelah lulus. Oh, jelas ini bukan perkara gampang, apalagi mengenal jati diri. Belum lagi kata-kata yang diuntai seindah mungkin dengan tetap berpegang teguh pada tata bahasa yang baku. Saya bahkan meminta dua orang teman untuk memeriksa hasil yang sudah saya buat.
Sertifikat bahasa. Proses yang satu ini memakan waktu dan biaya. Saya mengambil kelas reguler (ada kelas ekspres) IELTS di TBI selama tiga bulan. Jadilah dalam tiga hari di setiap minggunya, sehabis kuliah, saya mempelajari medan tes internasional yang akan saya hadapi. Tak murah, sertifikat yang diakui secara internasional itu seharga $195, hampir dua juta rupiah. Sangat disayangkan apabila hasilnya kurang dari target atau batas minimum yang universitas sudah tetapkan. Mengenai surat rekomendasi, saya yakin para dosen selalu mendukung penuh mahasiswa yang punya impian untuk melanjutkan studinya. Akan tetapi, yang perlu diwaspadai adalah kesibukan para dosen yang terkadang sulit diprediksi.
Singkat cerita, alhamdulillah saya diterima di suatu universitas di Inggris. Saya hanya bercerita kepada orang-orang tertentu saja. Sialnya kicauan di dunia maya berefek bola salju. Sepertinya, bukan bermaksud gede rasa, hampir seluruh ITB tahu. Saya anggap semua itu sebagai doa. Belum beres, ada satu tantangan lagi: finansial. Saya sudah bertekad tidak akan meminta ke orangtua untuk biaya kuliah S2. Beasiswa adalah satu-satunya jalan keluar. Setelah digantungkan beberapa bulan, keluarlah pengumuman beasiswa yang menyatakan bahwa saya belum lolos. Untungnya, keberangkatan saya bisa ditunda untuk tahun 2013. Pun belum jadi lagi karena kendala finansial, saya sudah tercatat sebagai calon mahasiswa di sana sehingga aplikasi yang saya layangkan untuk tahun 2014 dan seterusnya hanya bersifat formalitas saja. Sungguh mujur.
Sempat tertunduk lesu tapi saya tak mau larut. Senangnya saya sudah melakukan totalitas dalam perjuangan sehingga tidak ada penyesalan sedikitpun. Skenario Tuhan berkata demikian. Skenario Tuhan adalah skrip terbaik tanpa cacat.
Hingga tulisan ini diturunkan, ada dua yang belum dicoret dalam 'Next Projects'.
'Belum akan saya coret', bukan 'tidak akan saya coret'.
Dunia ini terlalu luas untuk dijelajahi oleh kaum pesimis.
Tampilkan postingan dengan label Target. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Target. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Agustus 04, 2012
Selasa, Februari 21, 2012
Tugas Akhir
Berdasarkan kalender akademik, 24 Januari 2012 adalah hari pertama kuliah semester genap tahun ajaran 2011/2012. Hingga tulisan ini dibuat, berarti sudah 28 hari semester genap berjalan. Sejujurnya, tugas akhir (TA) sangat memenuhi pikiran saya melebihi apapun. Bahasa sundanya, 'ini teh TA aing kumaha iyeu?'. Sadar akan seperti ini, saya sudah mengambil ancang-ancang sejak semester 7. Saya sudah meminta seorang dosen untuk menjadi pembimbing TA dan kami sudah beberapa kali berdiskusi tentang hal ini.
SI-4099 Tugas Akhir.
Dosen pembimbing saya bernama Bapak Idwan Santoso. Kebetulan saya pernah diajar beliau saat semester 3. Saya merasa beruntung mendapatkan dosen pembimbing seperti beliau. Sejujurnya, di awal saya sangat ragu karena saya merasa sangat 'dilepas' namun akhirnya saya sadar kalau kemandirian sangat dituntut selama mengerjakan tugas akhir. Saya diminta mencari tema dan topik sendiri seputar permasalahan transportasi yang saya suka. Saya nemu lima buah lalu kami berdiskusi lagi di pertemuan berikutnya dan akhirnya keluar satu buah tema besar.
"Saya mau Anda bangga dengan hasil karya Anda. Tugas akhir buatan Anda."
Beliau menekankan sebenarnya banyak bahan dan data proyek yang beliau punya. Namun bukan TA namanya kalau saya mendapatkan data secara 'cuma-cuma' lalu tinggal diolah. Teman akrab saya juga mengatakan kalau pengambilan data TA pasti butuh perjuangan. Selain itu, saya dianjurkan membuat timeline yang berisi hari wisuda, batas akhir sidang, batas akhir ujian komprehensif, rencana seminar, dan target hari penyelesaian tiap bab. Beliau menyarankan agar timeline itu dicetak besar-besar lalu ditempel di kamar. Wejangan-wejangan kecil selama bimbingan yang membuat saya termotivasi mengerjakan TA walaupun terkadang saya teh juga masih bingung bagaimana mengambil dan mengolah data. Haha.
Semester 8 dan konsistensi.
Saat semester 7 saya mengambil 17 SKS dan itu terasa sangat lowong. Di semester 8 ini saya mengambil 10 SKS. Bagaimana kondisinya? Super-duper lowong. Saya hanya kuliah hari Senin (09.00-11.00), Selasa (16.00-18.00), dan Rabu (11.00-13.00). Ya, masing-masing hanya dua jam. Kamis dan Jumat libur, Sob! Makanya saya mendedikasikan untuk berolahraga lari, renang, dan bersepeda setiap minggunya. Hitung-hitung refreshing biar tidak usang di kosan dan kampus.
Pernah saya sedikit berkeluh kesah ke seorang teman mengenai kelowongan ini. Reaksi darinya cukup menohok. "Itu seharusnya bukan alasan yang menjadikan lo nggak produktif, Gan. Gan, kita ini mahasiswa semester 8 loh. Sadar nggak sadar, waktu yang kosong itu seharusnya bisa lo manfaatkan untuk mengerjakan TA atau membaca buku referensi yang menunjang TA lo. Baca buku engineering yang setebel gambreng nggak kayak baca novel, kan? Ya, semuanya butuh konsistensi."
Saya punya target.
Saya punya impian.
Saya punya orang-orang yang tidak boleh saya kecewakan.
SI-4099 Tugas Akhir.
Dosen pembimbing saya bernama Bapak Idwan Santoso. Kebetulan saya pernah diajar beliau saat semester 3. Saya merasa beruntung mendapatkan dosen pembimbing seperti beliau. Sejujurnya, di awal saya sangat ragu karena saya merasa sangat 'dilepas' namun akhirnya saya sadar kalau kemandirian sangat dituntut selama mengerjakan tugas akhir. Saya diminta mencari tema dan topik sendiri seputar permasalahan transportasi yang saya suka. Saya nemu lima buah lalu kami berdiskusi lagi di pertemuan berikutnya dan akhirnya keluar satu buah tema besar.
"Saya mau Anda bangga dengan hasil karya Anda. Tugas akhir buatan Anda."
Beliau menekankan sebenarnya banyak bahan dan data proyek yang beliau punya. Namun bukan TA namanya kalau saya mendapatkan data secara 'cuma-cuma' lalu tinggal diolah. Teman akrab saya juga mengatakan kalau pengambilan data TA pasti butuh perjuangan. Selain itu, saya dianjurkan membuat timeline yang berisi hari wisuda, batas akhir sidang, batas akhir ujian komprehensif, rencana seminar, dan target hari penyelesaian tiap bab. Beliau menyarankan agar timeline itu dicetak besar-besar lalu ditempel di kamar. Wejangan-wejangan kecil selama bimbingan yang membuat saya termotivasi mengerjakan TA walaupun terkadang saya teh juga masih bingung bagaimana mengambil dan mengolah data. Haha.
Semester 8 dan konsistensi.
Saat semester 7 saya mengambil 17 SKS dan itu terasa sangat lowong. Di semester 8 ini saya mengambil 10 SKS. Bagaimana kondisinya? Super-duper lowong. Saya hanya kuliah hari Senin (09.00-11.00), Selasa (16.00-18.00), dan Rabu (11.00-13.00). Ya, masing-masing hanya dua jam. Kamis dan Jumat libur, Sob! Makanya saya mendedikasikan untuk berolahraga lari, renang, dan bersepeda setiap minggunya. Hitung-hitung refreshing biar tidak usang di kosan dan kampus.
Pernah saya sedikit berkeluh kesah ke seorang teman mengenai kelowongan ini. Reaksi darinya cukup menohok. "Itu seharusnya bukan alasan yang menjadikan lo nggak produktif, Gan. Gan, kita ini mahasiswa semester 8 loh. Sadar nggak sadar, waktu yang kosong itu seharusnya bisa lo manfaatkan untuk mengerjakan TA atau membaca buku referensi yang menunjang TA lo. Baca buku engineering yang setebel gambreng nggak kayak baca novel, kan? Ya, semuanya butuh konsistensi."
Saya punya target.
Saya punya impian.
Saya punya orang-orang yang tidak boleh saya kecewakan.
Sabtu, Oktober 01, 2011
Rumah Masa Depan
Bumi berputar, bumi makin sesak.
Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?
Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.
Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.
Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?
Aku takut namun mari bermimpi.
Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.
Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.
Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.
Lantai dua.
Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.
Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.
Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!
Seperti apa rumah masa depan Anda?
Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?
Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.
Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.
Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?
Aku takut namun mari bermimpi.
Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.
Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.
Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.
Lantai dua.
Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.
Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.
Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!
Seperti apa rumah masa depan Anda?
Senin, Januari 18, 2010
Kata Mama Papa
Kata Mama Papa
Kamu sekolah deh sana sampai sarjana. Berapapun biayanya papa bayarin, papa fasilitasin. Tapi maaf, keluarga ini gak mengenal warisan harta. Mama papa cuman bisa ngasih akhlak dan warisan pendidikan biar kamu pinter. Gak ada rumah buat kamu nanti, gak ada mobil mewah buat kamu nanti. Kalau kamu mau itu semua, usaha sendiri.
Kata Mama Papa
Nanti kamu jangan berhenti di S1 yia. Banyak beasiswa buat S2. Kalo kamu pinter nyarinya, pasti dapet. Kalo bisa di luar negeri.
Kata Mama Papa
Allah paling suka dengan orang yang sholat tepat waktu.
Kata Mama Papa
Siapapun wanita itu, ini adalah jalan hidup biar kamu belajar ngerti seorang perempuan . Kalau hubungan ini harus putus di tengah jalan, jangan terlalu sedih. Bukan berarti kita main-main dalam menjalani sebuah hubungan, kalau bisa dipertahankan sampai kamu nikah nanti. Inget ya, jangan pernah mempermainkan perasaan perempuan. Papa percaya kamu gak bakal macem-macem.
Kata Mama Papa
Hati-hati yia kalau keluar malam di Bandung. Kamu kan naek motor, ngeri kalau ada geng motor. Belajar yang rajin, makan yang banyak biar gendut.
Kata Mama Papa
Mama papa selalu doain Ita, Gandrie, Ica biar sukses dunia akhirat.
All I did was nodding when they said those.
Kamu sekolah deh sana sampai sarjana. Berapapun biayanya papa bayarin, papa fasilitasin. Tapi maaf, keluarga ini gak mengenal warisan harta. Mama papa cuman bisa ngasih akhlak dan warisan pendidikan biar kamu pinter. Gak ada rumah buat kamu nanti, gak ada mobil mewah buat kamu nanti. Kalau kamu mau itu semua, usaha sendiri.
Kata Mama Papa
Nanti kamu jangan berhenti di S1 yia. Banyak beasiswa buat S2. Kalo kamu pinter nyarinya, pasti dapet. Kalo bisa di luar negeri.
Kata Mama Papa
Allah paling suka dengan orang yang sholat tepat waktu.
Kata Mama Papa
Siapapun wanita itu, ini adalah jalan hidup biar kamu belajar ngerti seorang perempuan . Kalau hubungan ini harus putus di tengah jalan, jangan terlalu sedih. Bukan berarti kita main-main dalam menjalani sebuah hubungan, kalau bisa dipertahankan sampai kamu nikah nanti. Inget ya, jangan pernah mempermainkan perasaan perempuan. Papa percaya kamu gak bakal macem-macem.
Kata Mama Papa
Hati-hati yia kalau keluar malam di Bandung. Kamu kan naek motor, ngeri kalau ada geng motor. Belajar yang rajin, makan yang banyak biar gendut.
Kata Mama Papa
Mama papa selalu doain Ita, Gandrie, Ica biar sukses dunia akhirat.
All I did was nodding when they said those.
Langganan:
Postingan (Atom)