Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 07, 2017

How to add traffic congestion to your city? Build more roads

Despite the massive effort and investment into mass transit projects in Jakarta, the city government is still eager to build flyovers and even toll-road, as a way to mitigate the traffic congestion in the city. This post explains why the investment towards road has negative impact on urban mobility.

Inaugurated on the 2017 Independence Day, by President Joko Widodo, the new circle flyover at Semanggi interchange in Jakarta has been praised as an innovative project by many. Claimed as a measure to reduce congestion by 20%, the flyover was built using new construction technology, at least in Indonesia, and built without any public fund. The Rp360 billion investment—from Rp579 billion given—was built using so-called “compensated funding scheme” by private developer, a financing scheme developed as an exchange for extra floor allowance given to the developer.

Induced traffic
Relieving traffic congestion has always been the main argument to build the new road or interchange whilst precisely leading to the fallacy of floor area ratio (KLB) compensation allocation. The phenomenon is called induced traffic which is, economically speaking, people tend to utilise something even more when the supply increases, especially something that is completely free. It happens for the case of adding more roads, too.

Two economists from University of Toronto and University of Pennsylvania, Turner and Duranton, wrote “The Fundamental Law of Road Congestion: Evidence from US Cities”. They compared the number of roads built in cities in the US between 1980 to 2000, and the vehicles kilometer travelled (VKT) in the same period. It is a match correlation that every 10 per cent increase of road between 1980-1990 and 1990-2000 induced 10 per cent more of VKT.

In practical domain, California Department of Transport, commonly known as Caltrans, also admitted that more roads mean more traffic. The institution linked to a policy brief written by Susan Handy from University California, Davis, and highlighted the empirical evidence of induced traffic, VKT addition both in short- and long-term and surprisingly most of the traffic is entirely new.

The traditional way to mitigate congestion by adding more lanes or roads is proven as a myth. The most popular analogy is curing obesity by loosening the belt which does not solve the root of the problem. It may provide faster travel time in the short term, but all the construction benefits are all lost because of the increased demand in the long term.

Six inner-city highways
Not to mention Jakarta is currently facing another huge threat of induced traffic phenomenon. It is the six inner-city highways. The massive Rp41 trillion for 69 kilometers highway investment has begun its construction in Kelapa Gading for Pulogebang - Sunter section. Yes, it is surely intended for cars, not people.

As explained earlier, constructing more roads either elevated or underground is definitely not the answer to solve the problem in urban context. Investment in urban highways reduces the city’s capacity to connect its people for daily interaction.

The torn down Park East Freeway in Milwaukee, Cheonggyecheon Freeway in Seoul and Inner Ring Expressway in Bogota are international examples that cities around the world have shifted their mindset to prioritise people by regenerating the same spot into place of interaction such as boulevards and plazas. Those cities were literally tearing down their freeways, why would Jakarta start again the illusive approach?

There are places outside Jakarta and Java that, foremost, need highway to boost the economic growth. Jakarta is at tipping point to decide whether to prioritise people or cars. Bold and thoughtful commitment from the government alongside with citizen support are crucially needed to turn the project down.

Priority
Logically, similar formula could also be applied to induce pedestrian, cyclist and public transport user. Budget should be allocated for sidewalk, bicycle lane and public transport revitalisation and that is the form of commitment for sustainable and equitable city. It really is a matter of priority. In line with that, the city has no right to limit people from buying their own cars, but it has the obligation to protect and prioritise its people by promoting efficient urban mobility especially in the heart of the city.

Also worth to note that cities improvements do not necessarily have to start with billion or trillion rupiah budget. Janette Sadik-Khan, the former New York City Transport Commissioner, gave example by streets operating code review, existing space adaptation with tactical urbanism and parking regulation adjustment.

It is important to strive for accurate long-term planning and goals because it is too common to see decision makers only execute short-term and easy-to-implement solutions during their defined service length. They often forget that “public”, the people who directly affected by their decision, is the key word in the phrase of public policy. Thus, it is important to decide without compromising fairness and choose the best interest of the public.

To sum up, cities would need countless road to accommodate cars. Rather than building more roads, cities should promote equality by prioritising pedestrian, cyclist and public transport user.

Selasa, Maret 28, 2017

Jumat Sore

Jumat sore itu, lalu lintas seperti biasanya, tersendat di segala arah. Stasiun Transjakarta Cawang UKI semakin sesak, bus untuk beberapa rute yang tidak kunjung datang menyebabkan penumpukan penumpang di area tertentu. Setelah lebih dari 40 menit menunggu, bus jurusan Pluit/Grogol akhirnya tiba. Petugas on-board berteriak dengan lantang, "Lewat tol, ya!", tetapi seakan tidak ada yang peduli. Pikiran para penglaju ini hanya terfokus agar bisa segera naik dan sampai di rumah.

Bus masuk ke jalan tol dalam kota selepas Stasiun BNN. Momen ini mulai menyadarkan banyak orang tentang situasi yang tidak seperti biasanya terjadi. Setelah refleksi diri usai, para penglaju ini akhirnya membagi kebingungan satu sama lain.

"Masuk tol, ya? Keluar lagi di mana, Mas?"
"Semanggi, Pak!"
"Wah, nggak berhenti di Stasiun Cawang? Saya mau ke Depok!"
"Kuningan Barat juga tidak berhenti?"
"Kita keluar di Semanggi, Pak. Pemberhentian selanjutnya adalah Halte Semanggi"

Konstruksi LRT Cawang - Dukuh Atas mengurangi jumlah lajur di Jalan M.T. Haryono dan punya dampak yang signifikan. Bukannya memprioritaskan transportasi publik yang sudah ada, dishub justru menghilangkan separator Transjakarta. Hal ini disesali oleh banyak pihak. Bukan tanpa alasan, Pinang Ranti - Gatot Subroto Jamsostek yang biasanya ditempuh satu jam, kini menjadi lebih dari dua jam karena Transjakarta kehilangan jalur eksklusifnya. Padahal ini momentum yang tepat untuk menunjukkan supremasi sebuah sistem transportasi publik.

Alternatif yang dieksekusi oleh Transjakarta adalah sedikit mengubah rencana operasinya dengan melaju lewat jalan tol dalam kota. Beberapa penglaju kena getahnya. Mereka yang hendak transfer di Stasiun Cawang Cikoko atau Kuningan Barat terpaksa meneruskan hingga Semanggi lalu kembali ke arah yang telah dilalui sebelumnya. Waktu semakin banyak yang terbuang di perjalanan.

Alih-alih terjadi kericuhan di dalam bus, para penglaju malah seperti menertawakan diri sendiri. Di tengah kebingungan dan kepasrahan itu muncul interaksi, saling sapa dan tanya. Kepala mereka akhirnya menengadah dari yang awalnya tertunduk sepanjang perjalanan akibat sihir layar ponsel pintar. Ah, inilah situasi ibukota, pelik, tetapi pilihan untuk menikmati Jumat sore itu selalu ada.

Minggu, Januari 08, 2017

Tulisan Berbalas Tulisan

Pilkada Jakarta. Linimasa media sosial semakin riuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sedikit lega di balik pekaknya suasana: tulisan berbalas tulisan. Seorang netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu cagub lewat tulisannya (2-1-2017), kemudian direspons oleh netizen lain lewat tulisan (3-1-2017) pula. Tidak berhenti sampai di situ, netizen pertama meluncurkan tulisan keduanya (5-1-2017).

Saya tidak akan membahas isi tulisan-tulisan tersebut. Yang jelas, ini adalah sebuah kebiasaan literasi yang baik yang semoga terus tumbuh di Indonesia.

Kejadian ini mengingatkan saya dengan iklim serupa yang sudah masif terbangun di luar Indonesia. Ada sebuah mata kuliah wajib bernama understanding travel behaviour. Saya ingat betul kuliah itu dimulai dengan satu pertanyaan: why people travel? Tugas kuliah (coursework) pertama berupa esai 1.500 kata tentang travel as derived demand yang bobotnya 25% dari nilai total modul.

Sistem pendidikan di sana memaksa mahasiswa untuk membaca jurnal dan mengutip kembali data ilmiah yang disampaikan oleh penulis jurnal dengan kalimat sendiri (paraphrase). Lagipula, salin-tempel sangat tidak disarankan mengingat ada Turnitin yang mampu mengecek tingkat keaslian kata-kata yang dibuat.

Penjelasan umum travel as derived demand adalah orang bepergian hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka di tempat lain. Button (2010) menguatkan argumen ini lewat teori ekonomi bahwa konsumen bertindak berdasarkan keputusan rasional. Dalam hal ini, memaksimalkan kesejahteraan dapat diperoleh dengan meminimalkan waktu tempuh. Penjelasan Button tadi didukung oleh Fowkes (2010) dan Mackie (2001) yang menjelaskan bahwa waktu adalah komponen terbatas dan perlu dikuantifikasi dalam analisis skema pembiayaan infrastruktur transportasi lewat VTTS (value of travel time saving).

Mokhtarian (2001) punya kritik terhadap penjelasan di atas dan mengatakan "travel is not purely derived from demand". Dari survei yang ia lakukan untuk 1.900 sampel, lebih dari 75% sampel menyatakan mereka bepergian hanya untuk kesenangan dan dua pertiga sampel tidak setuju kalau mencapai tujuan adalah hal yang paling penting. Metz (2007) melihat ada ketidaksempurnaan metode penaksiran investasi transportasi (transport investment appraisal) ketika VTTS masuk di dalamnya.

Saya takjub sendiri mereka bisa berdebat secara sehat dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kondisi beda pendapat namun tetap kepala dingin ini semoga juga bisa menjalar di Indonesia.

Kamis, Maret 31, 2016

Mendekatkan Kota

Cuitan di atas sangat menyentil dan enggan lepas dari dalam pikiran walaupun objek yang dimaksud bukanlah saya. Jika asumsi saya tidak salah, maka saya memiliki kesamaan dengan walikota tersebut: bersepeda (listrik) ke tempat kerja.

Faktanya, jarak dari rumah saya ke kantor sekitar 12 kilometer sekali jalan. Sebuah jarak yang cukup menantang mengingat jalan di Jakarta yang tidak ramah buat para pesepeda. Sedangkan Cigadung - Merdeka di Bandung juga cukup menantang karena kontur yang tidak datar seperti Jakarta. Sepeda (listrik) menjadi salah satu pilihan logis untuk dua kasus di atas.

Waktu tempuh saya hanya 35-40 menit sekali jalan tanpa harus menjadi cendol di dalam angkutan umum. Sebuah kemewahan di kota besar ini.

Masalahnya, baru saya, Pak Walikota, dan sebagian kecil warga yang punya pilihan itu. Mayoritas warga tinggal jauh dari tempat kerja. Mendekatkan kota lewat tata ruang, perpajakan, dan sistem angkutan umum yang baik merupakan solusi jitu yang mudah diucapkan tapi butuh perjuangan untuk dieksekusi. Sekarang saya belum bisa berbuat banyak untuk mendekatkan kota ini. Lekas!

Catatan lain:
Linimasa Twitter masih menarik untuk dipantau. Anda mengikuti akun-akun yang keliru ketika Twitter sudah lagi tak menarik.

Minggu, Februari 21, 2016

Om Bagus

Kabar berpulangnya Om Bagus pertama kali saya dengar dari seorang rekan yang baru bekerja di Telkom. Dia bercerita ada pegawai Telkom yang meninggal karena dirampok lalu dijatuhkan dari Metromini sekitar pukul enam sore. Iya, enam sore, bukan 11 atau 12 malam. Betapa Jakarta jauh dari kata aman.

Keesokan harinya kabar serupa saya dapatkan dari grup sepeda lipat. Beberapa tautan berita daring saya baca. Lidah ini teramat kelu mengetahui sosok Om Bagus yang gemar bersepeda, bermain bulutangkis, dan bepergian dengan angkutan umum. Beliau juga mendambakan sebuah sistem transportasi umum yang manusiawi lewat akun media sosial miliknya. Seolah kejadian ini benar-benar cerminan apa yang saya jalani selama ini.

Kasus Om Bagus tidak sepopuler kopi sianida, revisi UU KPK, atau penertiban di Kalijodo. Pun kepergian Om Bagus masih menyisakan misteri apakah murni kecelakaan atau memang ada unsur pidana. Melalui tulisan ini, saya termasuk orang yang menyalakan lilin agar kasus Om Bagus tidak redup dan berlalu begitu saja.

Revitalisasi sistem angkutan umum di Jakarta punya urgensi yang tinggi. Sungguh menyayat hati ketika mereka yang berjiwa besar, mereka yang mau menepikan kendaraan pribadinya, justru takluk dengan ganasnya jalan ibukota.
Selamat jalan, Om Bagus. Semoga lapang di sana.

Minggu, Desember 06, 2015

Pot, Sebuah Batas

Entah apa nama tanaman di atas, yang jelas, ada dua buah pot berisikan tanaman tersebut di halaman atas rumah. Keterbatasan lahan membuat penghijauan menggunakan media tanah di dalam pot menjadi solusi alternatif bagi rumah di kawasan padat penduduk.

Semua tanaman rutin disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Ia tumbuh ke atas dan ke samping. Batang utama tumbuh ke atas dan selang beberapa waktu tumbuh pucuk yang siap menjadi cabang yang berdaun ke samping.

Ternyata, tanaman yang sama sering ditemukan di sudut-sudut ibukota dengan versi yang jauh lebih besar. Foto di atas adalah jenis tanaman yang sama seperti foto pertama dan diambil saat hari bebas kendaraan bermotor. Apa perbedaannya?

Oh jelas, tanaman pada foto kedua memiliki batang yang lebih kokoh dan daun yang lebih rimbun. Di dalam tanah, tidak terlihat, terdapat akar yang lebih masif dan kuat. Mengapa bisa? Karena pot, sebuah batas.

Kasus ini bisa menjadi berbagai analogi dalam kehidupan. Intinya, agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas (lebih rimbun), batang harus kokoh dengan pondasi akar yang kuat.

Poin yang paling penting, pot itu adalah sebuah batas, sebuah kekangan. Lepaskan batas karena potensi manusia lebih daripada apa yang sekedar dipikirkan. Ia tidak terbatas.

Senin, November 30, 2015

Komunitas

Mayoritas orang berhadapan dengan jam kerja rutin dari Senin hingga Jumat. Hal ini sebaiknya diseimbangkan dengan kegiatan lain sebagai penangkal rasa monoton. Di tengah Jakarta yang terasa itu-itu saja selama hari kerja, terdapat berbagai macam komunitas yang bisa diikuti sesuai dengan preferensi pribadi. Saya sendiri sangat menikmati bisa tergabung dalam komunitas futsal, tinju, dan sepeda lipat. Syarat utamanya hanya satu: berani mencemplungkan diri!

Futsal AECOM
Tinju pagi
Bakar-bakar geng tinju
Gowes @Kebun Raya Bogor
Terus bergerak!

Kamis, Juli 02, 2015

Memikat Burung Liar

Suasana dari balik jendela kamar di Leeds
Pemilihan lokasi hunian adalah salah satu faktor penting dalam perencanaan pergerakan sehari-hari. Oleh karena itu, saya memilih akomodasi yang dekat dengan kampus agar bisa pergi-pulang jalan kaki. Tujuannya hanya satu, meminimalisasi ongkos alias hemat. Hidup mahasiswa! Akomodasi dengan gedung kuliah hanya terpaut sekitar 500 meter. Jika kuliah pertama dimulai pukul 09:00, maka saya berangkat pukul 08:55.

Beruntung sekali dengan jarak sehari-hari yang dekat ini. Selain menyehatkan, ada yang menarik dari koridor jalan yang selalu saya lewati. Ada sebuah rumah yang menggantungkan benda yang tidak biasa di pekarangannya. Hingga akhirnya saya tahu niatan sang penghuni: menarik burung liar! Benda yang digantungkan itu berisi pakan burung dan ada pula yang berisi air.



Mengamati burung liar (bird watching) adalah lumrah dan bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ketimbang memenjarakan burung di dalam sangkar, lebih baik berikan kebebasan dan cukup pikat mereka dengan pakan dan air. Sebagai balasan, penghuni rumah mendapatkan pemandangan lestari serta ciutan merdu tepat di halaman depan. Suatu hal yang langka, apalagi di kota urban.

Pakan burung dan bukan air soda
Gaya kebarat-baratan ini coba saya tiru di Jakarta. Saya membeli tempat pakan dan minum khusus yang harus diintegrasikan dengan botol minum bekas.

Apa hasilnya seminggu pertama? Duh, nihil. Namanya juga usaha!

Tadinya saya curiga pakan biji-bijian kurang menarik burung gereja di Jakarta. Sebelum mengganti jenis pakan, saya coba jalan lain: letakkan wadah di dasar, jangan digantung.
Suasana dari balik jendela kamar di Jakarta
Berhasil!

Setiap burung punya karakteristiknya sendiri. Burung Leeds jelas berbeda dengan burung Jakarta!
Bagi yang berminat melakukan hal serupa, ditunggu pengalaman dan tipsnya, ya!