Tampilkan postingan dengan label Kerja Praktek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerja Praktek. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 01, 2011

ENG-PJC

Sebagian besar masa kerja praktek dihabiskan di kantor Total di Jalan Yos Sudarso atau lebih dikenal dengan Jalan Minyak. Sebut saja Geng Astek, karena kami ngekos di Gang Astek, yang setiap paginya berangkat ke kantor naik angkutan kota. Perjalanan kosan-kantor biasa ditempuh selama kurang lebih 20 menit. Kantor Total Balikpapan tidak seperti kantor di Jakarta. Area kantor Total Balikpapan sangat luas sehingga bangunan tidak dibangun secara vertikal melainkan horizontal.
Aku ditempatkan di divisi engineering, departemen project. Secara tertulis, mentorku adalah Pak Firdauzi tapi aku juga sering dibimbing oleh Pak Satya dan Pak Fikri. Pak Firdauzi adalah sipil ITB '99, beliau adalah mantan ketua kaderisasi yang sekarang memegang jabatan contract manager sedangkan Pak Satya (sipil ITB '00) dan Pak Fikri (fisika teknik UGM) adalah project engineer. Tiga orang ini yang sering berinteraksi denganku di kantor.

Pak Firdauzi. Perawakannya besar dan tegas. Aku pernah 'terjebak' di Handil selama 11 hari karena laporan yang masih belum detail, masih seperti salesman katanya. Pernah juga pernyataanku dibilang 'totally rubbish' karena tidak didukung dengan data yang akurat. 'No prove, no respect' juga pernah beliau lontarkan. Pedas dan tajam tapi justru itu yang membuatku tersadar kalau dunia profesional sangat berbeda dengan dunia yang belum profesional, sebut saja dunia kuliah. Di sisi lain, aku sangat menghormatinya. Seorang contract manager mau saja menerima anak KP yang kerjaannya bisa dikatakan hanya nyampah, tidak berkontribusi ke perusahaan sama sekali. Apa lagi kalau bukan bakti almamater?

Atas adalah Pak Satya dan bawah adalah Pak Fikri. Mereka ini seperti bumbu bawang putih di nasi goreng. Pertama kali jumpa dengan Pak Fikri, pakaiannya tidak seperti orang kantoran: Polo shirt, bando, dan sepatu puma striping hijau. Impresi pertama bertemu Pak Satya adalah orang yang galak dan sewot tapi semua itu sirna jika sehari-hari sudah bersama beliau. Pak Satya adalah orang yang ngebanyol kerjaannya. Haha.

Selain mereka bertiga masih ada beberapa orang lagi:
Pak Wahyu, Pak Rohadi, Pak Heru, Pak Chris, Pak Pranar, Mbak Nurul, dan Mbak Nunu.

Selain teknis, aku juga belajar hal-hal non-teknis seperti gambaran dunia kerja, S2, menikah, dan berkeluarga. Intinya lakukan pekerjaan yang kamu suka dan semua sudah digariskan oleh Allah SWT. Terima kasih pisan, ENG-PJC!
Cintai bumi!
Eh?

Selasa, Juni 28, 2011

Protection Frame

Aku pergi ke Handil (sekitar 2 jam dari Balikpapan) untuk menjalankan sebuah misi dari Bos Mentor: Mengevaluasi instalasi protection frame. Singkat cerita, protection frame adalah sebuah modul tambahan yang dipasang untuk melindungi sumur baru dari tumbukan kapal. Ada beberapa masalah saat pemasangan modul ini dan itulah bahan evaluasi.
Berdiskusi dengan narasumber dan survey langsung ke lokasi (yard dan lepas pantai) sudah dilakukan sebagai input data. Setelah itu, laporan dibuat dan dikirim lewat surat elektronik untuk diperiksa oleh Bos Mentor.

"Kuy,

Nice try tapi masih belum keliatan engineernya. Baru 2 halaman yang diliat sudah 5 major comment. Kesimpulannya, “ternyata kerja jadi engineer itu susah”. Not good enough, harusnya kalian bisa nangkep typical komentar saya untuk halaman-halaman berikutnya. Tolong tunjukkan kemampuan teknis anak ITB. “NO Prove, NO Respect”. Pelajaran awal untuk kalian dalam dunia profesional. Selama kalian belum bisa mendeliver report seperti bagaimana seharusnya engineer berpikir, kalian masih harus belajar sendiri di Handil.

Thanks"


Bos Mentor adalah sipil ITB angkatan '99. Dia juga ketua kaderisasi pada tahun 2001. Untuk ukuran pembimbing KP, beliau sangat peduli dengan anak-anak OJT (On the Job Training). Keras memang tanggapan dari beliau tapi itu justru adalah cambuk semangat.

Life's hard and must go on.