Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 01, 2016

Energi

Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Setiap manusia sangat wajar punya ketertarikan terhadap suatu benda, orang, pemikiran, pementasan, hingga klub sepak bola. Sayangnya, ketertarikan dan cinta itu seringkali meletup tidak terkontrol sehingga menimbulkan fanatisme. Padahal, ketika rasa itu bisa dialirkan secara proporsional, justru terjalin mutualisme antara subjek dengan objek.

Sebagai contoh, saya mengagumi karya dan pemikiran Cressida Cowell. Dalam sebuah artikel, Cressida menekankan pentingnya mempertahankan buku dan berbagi cerita, terutama untuk anak-anak. Sebuah misi yang sederhana namun sangat berarti.

“Film and TV are great, and I watch loads with my children, but I want books to survive as a medium because they offer something completely different. Films tell you everything, whereas books fill in the gaps. I want to get a generation of children reading for pleasure like I did. We need to stop libraries closing, but children’s book sales are holding up so I hope we are winning the battle. We have only had TV in the last century, but for thousands of years we have sat down and told each other stories.”

Petualangan How To Train Your Dragon berakhir di buku ke-12. Saya berkicau di Twitter dengan tujuan mentransfer energi positif agar ia terus berkarya.

Contoh nyata lainnya adalah Learn To Fly! Jika saya adalah salah seorang personel Foo Fighters, kemungkinan besar saya akan menangis terharu melihat video ini.



*

Suntikkan energi positif ke orang-orang yang kita kasihi atau hargai. Sebaliknya, ketika kita menerima suntikan itu, balas dengan dekapan yang erat. Saya banyak belajar dari pengalaman ini. Tak perlu takut kehabisan amunisi karena kita adalah bagian dari sebuah sistem yang kekal di semesta.

Kamis, November 19, 2015

Cornwall


Sampai juga di rumah setelah berjejalan di dalam Bus Transjakarta yang pendingin udaranya tidak berfungsi. Makan, mandi, lalu merebahkan badan di atas kasur sembari menonton televisi. Setelah beberapa kali mengganti saluran televisi, pencarian terhenti karena birunya laut pada tayangan Nat Geo People yang berjudul Charlie Luxton's Homes by the Sea.

Saya sempat termenung sesaat karena yang sedang dibahas adalah rumah tepian pantai di Cornwall, sebuah daerah peninsula di sebelah Barat Daya Inggris. Tayangan ini mengingatkan saya dengan memori liburan Paskah tahun 2014 yang nyaris satu bulan. Tepatnya 1518 April 2014 saya menyempatkan menjelajah Cornwall di tengah badai tugas yang melanda. April adalah waktu yang tepat karena cuaca sangat cerah dan bersahabat. Namun, tetap saja angin pantai mengharuskan saya yang orang tropis ini memakai jaket!

St. Ives
Minack Theatre
Cornwall itu layaknya Bandung, ia tersemat di hati.
Saya akan ke sana lagi.

Minggu, September 20, 2015

Satu Sisi

Konon, kita tercipta dalam dunia yang memiliki dua sisi. Sebut saja pandawa-kurawa, fajar-senja, darat-laut, sinonim-antonim, dan seterusnya.

Ada sepenggal munajat yang selalu teringat karena repetisi mingguan sewaktu upacara sekolah dasar. Saya yang dulu masih bocah SD terkadang tergelitik sendiri mendengar "haqqa-haqqa" dan "batila-batila" yang selalu dibacakan dalam penutup upacara. Ternyata, rasanya tidak cocok dijadikan bahan candaan.

Tunjukkan yang benar itu benar dan berikan kami kemampuan untuk menjalaninya.
Tunjukkan pula yang salah itu salah dan berikan kami kemampuan untuk menghindarinya.

Hitam-putih semakin kabur, malah abu-abu yang semakin pop. Ada masanya kita harus memilih tempat berpijak pada satu sisi. Hidup itu layaknya durian! Ketika mengalir nafas memperjuangkan sesuatuterlepas dari benar-salah dan baik-buruksetidaknya akan ada titik terang penjelasan kenapa kita tercipta.

Semoga langkah ini tidak keliru.

Minggu, Februari 08, 2015

Kala di Bukit

Kota Bandung memiliki bentuk layaknya mangkuk raksasa. Hal ini adalah kabar baik buat mereka yang mendapatkan ketenangan melalui pemandangan di atas bukit. Pada kenyataannya, sewaktu masih berstatus mahasiswa, saya sering menepi sendiri ke dataran tinggi hanya untuk duduk di atas rumput, memejamkan mata, mengosongkan pikiran, dan bernapas panjang. Saya butuh dan teramat rindu dengan suasana seperti itu.

Sesekali saya butuh kabur dari rutinitas gaduh dan bising di tengah kota. Mal atau kafe cantik yang kini menjamur tidak akan bisa menggantikan rasa damai di atas sana. Pasti masih banyak tempat cantik yang bisa dijelajah, terutama dengan jalan kaki. Tetaplah lestari karena saya akan ke sana lagi dan menjelajah tempat baru yang tentunya syahdu.

Minggu, Desember 14, 2014

Revisi

Tadinya 'konsistensi' berada di peringkat pertama sebagai hal tersulit untuk dilakukan menurut versi saya. Sekarang ada revisi! Berikut daftar peringkat terbaru:
  1. Pasrah
  2. Qana'ah (merasa cukup)
  3. Konsistensi
Semoga berhasil!

Selasa, Oktober 15, 2013

The Treatment


Being raised in the arm of a Queen, I have people to treat like I'm raised.
Take a good care of them, claim the prize: happiness.

Selasa, April 09, 2013

Toothless



"But sometimes the bravest thing a Hero has to do is not fighting monsters and cheating death and witches. It is facing the consequences of his own actions."

Selasa, Maret 27, 2012

Pengurangan Subsidi BBM


Saya masih belum bisa mengambil sikap terkait pengurangan subsidi BBM.

Banyak sektor yang harus ditinjau mulai dari ekonomi, perminyakan dunia, perminyakan nasional, energi, sosial, dan lain-lain. Saya tidak mempunyai kapabilitas yang handal untuk menjelaskan sektor-sektor yang telah saya sebutkan. Di sisi lain, saya tetap berusaha memantau perkembangan berita ini lewat media cetak maupun elektronik. Sayangnya, sulit rasanya menemukan informasi yang menjelaskan kasus ini secara sistematis. Kebanyakan informasi justru tidak objektif dan mengandung bumbu tambahan. Saya tidak mau disetir oleh media.

Nantinya, saya berharap bisa berkesimpulan sendiri. Sendiri, tidak ikut-ikutan.

Ada pihak yang berpendapat bahwa pengurangan subsidi BBM bisa menyelamatkan APBN negara hingga puluhan trilyun rupiah sehingga bisa dialokasikan untuk modal lain. Di sisi yang berseberangan, ada yang berpendapat dengan perhitungan bahwa itu semua adalah kebohongan yang dilakukan pemerintah untuk memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, bukan menambal kebolongan. Rakyat Indonesia, termasuk saya, dibuat pusing.

Peningkatan harga BBM secara langsung berdampak pada peningkatan harga barang. Hal ini logis karena ada biaya assembly dan distribution dalam proses pembuatan sebuah barang. Ditambah lagi dengan peningkatan tarif angkutan umum karena 60-70% dari total BOK (biaya operasi kendaraan) adalah konsumsi bahan bakar. Biaya transportasi di negara berkembang adalah 30-200% dari biaya total. Sebagai tambahan, negara kepulauan seperti Indonesia memiliki tantangan besar di bidang transportasi karena terjadi transit cost (penambahan biaya) saat perpindahan moda di terminal (misal bandara dan pelabuhan). Jadi, jangan heran jika harga segelas plastik air mineral di tanah Papua adalah lima ribu rupiah. Efisiensi di terminal; itu yang dibutuhkan di Indonesia.

Sekarang saya membayangkan pengurangan subsidi BBM itu terjadi. Artinya, terjadi peningkatan harga di sana-sini. Artinya, pengeluaran masyarakat semakin besar. Artinya, pemerintah punya trilyunan rupiah untuk sektor lain. Lantas, apakah kesejahteraan rakyat terakselerasi? Belum tentu. Apakah terbangun infrastruktur dan sistem logistik sebagai prasarana mobilitas dan penumbuh perekonomian? Tidak pasti. Apa jaminan pemerintah? Tidak ada.

Saya jengah. Masyarakat lelah. Lihatlah media sekarang, isinya korupsi yang berkepanjangan di jajaran tinggi pemerintahan. Dengan mindset kekuasaan (bukan pembenahan), tikus-tikus busuk itu dengan bebas meraup uang rakyat sehingga APBN jebol perlahan-lahan namun pasti. Skenario bunglon terjadi; manis saat kampanye lalu jahanam saat berkuasa. Belum lagi law enforcement yang masih lemah di Indonesia. Di Arab, koruptor dipotong tangannya. Di Cina, koruptor dipenggal kepalanya. Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanannya. Suap-menyuap dengan lembaga yudikatif sudah biasa.

*

The concept of demand management. Sebuah konsep makro yang tidak lagi berkiblat ke prinsip predict and provide, tetapi ke prinsip predict and prevent. Artinya, penekanan jumlah permintaan dilakukan secara masif yang harus diiringi dengan pengembangan keberpihakan angkutan publik. Penekanan jumlah kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan perbaikan pelayanan transportasi publik. Akar persoalan membengkaknya subsidi BBM terletak di sisi permintaan, yakni konsumsi secara besar-besaran dari kendaraan pribadi. Miris sekali ketika ada Alphard yang mengantri premium di SPBU.

Agar masyarakat mau beralih moda, angkutan umum harus memiliki asas transportasi: andal, aman, nyaman, efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Angkutan publik berhak menikmati BBM yang bersubsidi karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Selama ini subsidi angkutan umum hanya 3% tapi 90% lebih untuk kendaraan pribadi. Selain itu, konversi BBM ke BBG masih belum memiliki taring. Di seluruh Indonesia baru ada 20 stasiun pengisi bahan bakar gas. Delapan di Jakarta, hanya empat yang beroperasi. Banyak hal memang yang harus dipertimbangkan seperti converter-kit atau pengalihan produksi secara keseluruhan kendaraan berbahan bakar gas. Padahal harga satu liter BBG lebih murah daripada satu liter premium, yakni Rp 3.100,00 per liter.

*

Other resources. Alternative energy.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (ratusan ribu kilometer), namun potensinya belum dimaksimalkan. Brazil memiliki Pantai Copacabana yang hanya memiliki panjang tujuh kilometer tapi mampu menyumbang 20% dari total APBN Brazil. Pemanfaatan pasang-surut untuk menggerakkan turbin hidro di sepanjang daerah pesisir. Indonesia memiliki 40% dari total energi panas bumi di dunia karena terdapat barisan gunung berapi aktif, namun baru termanfaatkan 4% dari total potensi. Energi matahari! Energi angin! Sejak tahun 2006, pemerintah sudah merencanakan infrastruktur untuk energi terbarukan hingga tahun 2025. Saya yakin konsepnya sudah ada, tetapi dibutuhkan komitmen dan ketegasan secara menyeluruh. Dan tidak korupsi.

Indonesia, harapan itu masih ada.
Hiduplah Indonesia Raya!

Sabtu, Maret 10, 2012

Hidayah

hi·da·yah n petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.

Saya terlahir Islam. Ayah dan Ibu saya Islam. Mereka menikah secara sakral di bawah panji Islam. Ibu menyebut nama-Nya ketika berusaha mengeluarkan saya dari perutnya dan Ayah mengumandangkan adzan seketika alam dunia menyapa saya dengan gembiranya. Saya hanya bisa menangis.

Dulu, hidayah yang menggiring saya ke payudara Ibu. Mengecap dan meminum ASI dari puting Ibu membuat saya tenang dan damai. Hidayah yang membuat saya mampu merespons peristiwa: tertawa saat bahagia dan merana saat duka. Hidayah yang menuntun saya untuk berpikir. Pelajaran hidup senantiasa direkam agar tidak seperti keledai yang jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lubang yang sama. Hidayah yang membantu saya membedakan kebajikan dengan kebatilan. Dan hidayah yang membuat manusia menjadikan agama sebagai panduan hidup.

Pada kenyataannya, di dunia ini terdapat beberapa golongan manusia. Mereka menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Kalau Tuhan yang dimaksud sama, apakah Tuhan bermasalah dengan metode penyembahan yang berbeda-beda? Saya rasa jawabannya iya.

Saya tidak bisa menjamin diri saya Islam sekarang apabila dulu terlahir sebagai seorang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Yahudi, Konghucu, atau agama lain. Namun, saya bersyukur saya Islam dan satu hal yang saya yakin adalah Tuhan itu satu dan Dia tidak bisa dijangkau dengan nalar manusia.

Berbicara dalam konteks Islam, siapa yang berhak menerima hidayah Islam? Apa saja syarat menerima hidayah Islam? Hanya Dia yang tahu jawabannya. Bahkan seorang Muhammad yang berhati dan berkepribadian suci tidak mampu meluluhkan hati Abu Thalib untuk memeluk Islam.

Apa yang bisa saya lakukan?
Tidak ada selain bermunajat.

Selasa, Januari 24, 2012

Bumi Medika Ganesha

Gendang telinga saya bolong.

Sewaktu kecil, telinga saya, tepatnya telinga kiri, sering bermasalah dengan mengeluarkan lendir dan kadang terasa sakit. Rasa sakit yang luar biasa sangat dirasakan saat pesawat take-off dan landing. Masalah itu nampak sirna seiring saya beranjak dewasa dengan catatan tidak naik pesawat. Kini masalah itu muncul kembali ke permukaan tepat sehari sebelum semester 8 dimulai, semester dimana saya mulai mengerjakan tugas akhir.

Ceritanya seketika saya membuang lendir dari hidung, telinga kiri saya bindeng dan sempat mengeluarkan cairan. Hal ini bertambah parah apabila saya naik mobil tertutup. Secara otomatis kualitas indra pendengaran saya berkurang. Pergilah saya ke sebuah klinik. Bumi Medika Ganesha namanya.

"Ada dokter THT?" tanya saya.
"Oh, nggak ada. Di sini adanya dokter umum dan dokter gigi." jawab pegawai.
"Ya sudah deh nggak apa-apa. Sama dokter umum saja." tukas saya.

Sehabis proses administrasi, seorang pria memanggil saya untuk masuk ke dalam ruangan. Telinga kiri saya diperiksa dengan sebuah alat khusus lalu dokter meyakinkan kalau gendang telinga saya pecah, bolongnya besar bahkan. Saya tidak kaget. Apabila tidak ingin bermasalah lagi, dokter menyarankan untuk operasi 'menambal' gendang telinga dengan membran khusus di dokter THT. Dokter memberikan antibiotik dan dua jenis obat lagi untuk meredakan sakit.

Dokter menyarankan jangan berenang dulu. Kuliah saya di semester 8 ini sangat lowong sehingga rencananya saya ingin jogging di Saraga, berenang di Saraga, dan bersepeda masing-masing sehari di waktu pagi di setiap minggunya. Sigh, ada sedikit kendala di berenang, sialnya. Melihat raut muka saya yang kecewa, dokter memberikan opsi boleh berenang asal pakai earplug, sebuah alat penyumpal telinga yang terbuat dari gabus atau karet yang berguna mencegah air masuk saat berenang.

Setelah semuanya beres, basa-basi saya melontarkan pertanyaan kepada dokter yang menangani saya. Seorang perempuan yang perawakannya sudah lanjut usia nan bijak.

"Udah lama di sini, Dok?"

"Yah, saya sudah puluhan tahun di sini (28 tahun kalau nggak salah). Dokter yang lain bahkan ada yang sampai 40 tahun, Mas. Semua dokter di sini adalah istri dari pengajar di ITB." tancap dia dengan logat Jawa yang cukup kental.

"Woah, betah banget di sini, ya?"

"Takdir sepertinya yang membawa saya ke sini, Mas. Di sini lebih ditekankan pengabdian. Kalau buka praktek sendiri sih bisa saja dan jelas penghasilan lebih banyak tapi saya senang di sini. Makanya sampai sekarang susah banget loh nyari dokter spesialis. Makanya ndak ada dokter THT di sini. Ini alhamdulillah kita sudah ketemu dokter mata buat BMG, Mas."

"Wah, hebat banget, Dok. Salut saya."

"Namanya juga hidup, Mas. Yang penting ikhlas ngejalanin. Rejeki ndak ke mana toh."

"Iya benar, Dok. Saya tebus obatnya, ya. Nuhun pisan, Dok."

Saya berpikir dan melihat struk. Biaya konsultasi dokter BMG sebesar 30 ribu tapi karena saya mahasiswa ITB ada subsidi sebesar 20 ribu sehingga saya hanya membayar 10 ribu. Seharusnya saya membayar biaya obat sebesar Rp 74.500,00 tapi digratiskan pula. Sebelum meninggalkan ruangan, saya sempat melihat sang dokter membubuhkan stempel nama berwarna merah di atas resep yang dia tulis.

Dokter Yuliati.

Senin, September 05, 2011

Jilbab

Jilbab adalah salah satu fenomena yang unik. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga perempuan mengenakan jilbab itu biasa saja. Di negara dimana Islam merupakan minoritas, aku yakin perempuan berjilbab mau tidak mau terlihat berbeda dan (mungkin) menjadi pusat perhatian.

Di dalam buku ini, penulis (Quraish Shihab) membentangkan pendapat dari ulama-ulama terdahulu yang terkesan ketat dan pendapat dari cendikiawan kontemporer yang terkesan longgar.

Wajar terjadi keragaman, karena itu merupakan ciri dari redaksi al-Qur'an dan hadits yang memang dapat menampung aneka pendapat. Mengemukakan lebih dari satu pendapat berarti memberi alternatif-alternatif semuanya bisa ditampung oleh kebenaran sehingga mempermudah umat melakukan aktivitas yang dibenarkan oleh agama.

Islam mengajarkan pengikutnya untuk menggunakan potensi akal. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama universal yang mampu berinteraksi dengan seluruh manusia tanpa mengenal waktu dan tempat.

QS. an-Nahl [16]: 44
"Dan Kami menurunkan kepadamu al-Qur'an, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan."

Pakaian selain terkait dengan kebutuhan juga terkait dengan keindahan. Tetapi, apakah keindahan itu? Dulu kegemukan merupakan pertanda kesejahteraan hidup dan digemari oleh wanita. Sekarang wanita berlomba-lomba tidak makan dan minum agar tampak ramping dan kurus. Demikianlah definisi keindahan yang berubah-ubah antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain dan juga terkait dengan perkembangan zaman.

Agama Islam menghendaki pemeluknya untuk berpakaian semestinya atau paling tidak memiliki fungsi terpenting, yakni menutup aurat. Mulai dari sini timbullah perdebatan mengenai batas aurat wanita dan pria.

Tidak usah munafik, sedikit senyuman atau betis yang terungkap dari seorang wanita bisa menimbulkan pikiran yang bermacam-macam bagi seorang pria. Oleh karena itu Islam memberikan batasan. Agama tidak memerintahkan untuk membunuh nafsu, tetapi untuk mengendalikannya.

Setiap manusia pasti menyadari ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan bagi pria dan wanita, baik bagian tubuh tertentu, ucapan, ataupun perbuatan. Hal tersebut sangat rawan dan bisa berujung pada hubungan seksual sehingga diperlukan suatu aturan khusus. Hal yang rawan tersebut dinamakan aurat.

Jangan berkata bahwa Anda dapat menjaga diri. Sekian orang malah terjerumus setelah mengatakan demikian. Bukankah kecelakaan dapat terjadi walaupun kita sudah menyetir dengan hati-hati?

*

Al-Qur'an tidak menyebutkan secara jelas dan rinci batas-batas aurat, makanya timbul perbedaan pendapat. Ulama-ulama masa lalu terbagi menjadi dua dalam hal batasan aurat wanita. Yang pertama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat dan yang kedua mengecualikan muka dan telapak tangan. Ada beberapa ayat dalam al-Qur'an yang dijadikan rujukan. Ayat-ayat tersebut dipahami berbeda oleh kedua kelompok dan dijadikan dasar suatu ketetapan ulama. Berikut rujukannya, sila cek sendiri di al-Qur'an milikmu.

QS. al-Ahzab [33]: 53
QS. al-Ahzab [33]: 59
QS. an-Nur [24]: 30-31
QS. al-Ahzab [33]: 32-33
QS. an-Nur [24]: 60

Di buku ini dijelaskan perbedaan pendapat ulama di setiap ayat. Rasanya terlalu panjang untuk dibahas di sini dan aku sendiri belum menjamin diriku mengerti. Baca sendiri saja ya bukunya. Hehe.

Selain al-Qur'an, para ulama juga merujuk ke hadits. Redaksi al-Qur'an dipastikan tidak disentuh sedikit perubahan pun. Ayat al-Qur'an disampaikan Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad persis sama dalam lafazh (ucapan) dan maknanya hingga sekarang. Sedangkan hadits, walaupun telah disepakatai keshahihannya, masih bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda.

Penulis cenderung mengacu kepada kelompok kedua.

Suka tidak suka, diakui atau tidak, wanita cenderung untuk berhias. Terlebih lagi zaman sekarang, tidak bisa masuk logika wanita yang menghalangi mereka berhias apalagi dalam batasan yang masih dibolehkan oleh agama.

Dengan wanita tampil seluruh tubuhnya tertutupi pakaian hitam longgar, hanya dua bola mata yang terlihat, tidak jarang ditutupi kacamata hitam, mereka seperti hantu yang sedang berjalan. Maka musnahlah fungsi hiasan atau keindahan dalam pakaian. Demikian menurut penulis dan aku sepakat.

*

Cendikiawan kontemporer juga terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama
Kelompok ini mengemukakan pendapatnya tanpa acuan dalil manapun dan merupakan subjektivitas semata. Kelompok ini sangat ditentang oleh para ulama.
"Hijab (pakaian tertutup) telah menutup keterlibatan wanita dalam berkegiatan. Menutup atau telanjang, menjadikan wanita sebagai jasad semata. Saya, ketika menutup badan saya, maka itu mengandung arti bahwa saya adala fitnah (penggoda/perayu). Saya adalah akal dan bukan jasad yang mengundang syahwat atau rayuan."

Kelompok kedua
Berpendapat mengacu pada ulama terdahulu namun tidak mendapat dukungan dari ulama yang menganut paham ulama-ulama terdahulu.

*

Masalah batas aurat wanita tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengafirkan. Disepakati dalam Forum Pengkajian Islam IAIN Syarif Hidayatullah Maret 1988: "Tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup menurut hukum Islam, dan menyerahkan kepada masing-masing menurut situasi, kondisi, dan kebutuhan."

Di bagian penutup penulis menganjurkan pemakaian jilbab sesuai dengan pendapat mayoritas ulama, apalagi pemakainya sama sekali tidak terhalangi untuk melakukan kegiatan positif di manapun dan untuk kepentingan siapapun.

*

Quraish Shihab mengatakan menganjurkan, bukan mewajibkan sehingga hal ini pula yang menimbulkan polemik.

Aku juga mau berpendapat. Tetapi jangan jadikan ini sebagai acuan, ilmu agamaku tidak sebanding dengan para ulama. Menurutku jilbab wajib hukumnya dikenakan oleh wanita muslimah. Aurat dari seorang wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Pun sudah memakai pakaian wanita muslimah, tolong jangan yang ketat juga. Lekuk tubuh kalian itu sangat mengundang pikiran kotor. Dan yang sering terabaikan adalah bagian leher. Bagian itu sering terungkap, sengaja atau tidak sengaja.

4 September adalah hari hijab internasional. Pesan seorang temanku kepada seluruh wanita muslimah adalah sebagai berikut:
"Semoga para muslimah saling peduli dan saling mengingatkan ketimbang merasa benar sendiri."

Subjektifku, kalian indah dengan jilbab itu.

Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyenangi keindahan.

Selasa, Maret 08, 2011

Teknik Sipil

Terkadang aku salut dengan teman-temanku yang sejak SMA sudah membulatkan tekad untuk masuk teknik sipil ITB. Alhasil, mereka dengan bangga mendapatkan titel mahasiswa teknik sipil ITB sekarang.

Sistem pendidikan di ITB mengharuskan mahasiswa baru untuk melewati TPB (Tahap Persiapan Bersama) selama satu tahun. Jadi, sebelum masuk ke program studi yang ilmunya lebih spesifik, mahasiswa baru digodok terlebih dahulu dengan kemampuan dasar seperti kalkulus, fisika, kimia, olahraga, tata tulis karya ilmiah, dan lain-lain.

Untuk masuk ke program studi teknik sipil, seorang harus memilih dan mendapatkan FTSL (Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan) sebagai TPB-nya. FTSL sendiri terdiri dari tiga program studi: Teknik sipil, teknik lingkungan, dan teknik kelautan. Di akhir tahun pertama akan ada penjurusan untuk memilih salah satu di antara tiga program studi tersebut berdasarkan minat dan indeks prestasi.

Apa cerita seorang Gandrie?

Aku sadar bahwa aku tidak piawai dalam menyelesaikan soal fisika. Aku tidak suka dengan fisika. Kelas 2 SMA, aku mulai mencari informasi tentang perguruan tinggi mana yang cocok untukku meniti ilmu. Singkat kata, aku memilih teknik industri ITB. Pikiranku saat itu, jurusan teknik industri pasti akan sangat menarik karena menggabungkan ilmu teknik dengan bumbu manajemen untuk megoptimalkan suatu industri.

Aku membulatkan tekad untuk masuk ke teknik industri ITB.

Berarti aku harus masuk FTI karena jurusan yang aku inginkan ada di fakultas itu. Sejak awal kelas 3 SMA, sebuah poster bertuliskan "Teknik Industri ITB! Here I Come!" terpampang dengan megah di kamarku. Untuk masuk ITB, ada dua kesempatan yakni USM 1 dan USM 2. Tidak mau (lebih) memberatkan kedua orang tuaku tentang uang, aku hanya mengambil USM 2, terpusat, di Bandung, di ITB.

Aku hanya memiliki satu kesempatan.

Hidup adalah perjuangan benar-benar aku rasakan selama kelas 3 SMA. Belajar di tempat bimbingan hingga larut malam. Mengerjakan buku tes potensi akademik berkali-kali. Mengikuti try out berulang kali. Baiklah, soal USM sudah ada di hadapanku. Dua hari ujian saringan masuk itu berlangsung. Selesai USM, aku hanya bisa pasrah.

Penuh pengharapan aku memasukkan nomor registrasi apakah aku diterima atau tidak di ITB. Seandainya diterima, di fakultas apa? Pilihanku: FTI, FTTM, dan FTSL. Enter. Aku diterima, aku diterima di FTSL, bukan FTI. Perasaanku layaknya permen nano-nano saat itu. Manis, asam, dan asin, ramai rasanya, semuanya ada. Entah, aku sedih dan kecewa, namun juga senang.

Ibuku berkata bahwa semua keputusan ada di tanganku. Aku ambil FTSL itu. Di akhir TPB, aku memilih teknik sipil sebagai pilihan pertama. Aku sadar bahwa teknik sipil penuh dengan mekanika, fisika, dan teman-temannya itu. Teknik lingkungan ada biologi dan kimia, aku tidak suka. Teknik kelautan jauh lebih sulit menurutku. Oleh karena itu aku (lebih) memilih teknik sipil.

Benar saja, aku disuguhi dengan mata kuliah struktur yang penuh dengan gaya, momen, geser, dan lain-lain. Sungguh bukan diriku. Terus bertahan, aku melihat peluang ternyata ada bidang teknik sipil yang tidak menghitung jembatan dan bangunan tinggi itu. Ada ilmu teknik sipil yang berbicara tentang sistem dan manajemen. Sebut saja transportasi dan juga manajemen dan rekayasa konstruksi.

Aku condong ke dua bidang itu untuk tingkat akhir nanti. Tidak lagi aku mau berkutat dengan ke-strukturan. Walaupun demikian, aku tidak menjamin diriku akan berkecimpung di dunia teknik sipil di masa depan. Entah mengapa. Yang jelas, aku mau dan harus bisa melanjutkan pendidikan S2 di luar Indonesia tanpa campur tangan suntikan dana dari orang tua. Apa yang mau aku dalami? Entah. Mungkin manajemen, mungkin transportasi, mungkin perencanaan kota dan regional, dan masih banyak mungkin-mungkin yang lain.

Aku bangga menjadi mahasiswa teknik sipil ITB.

Guide me, Dear Allah. Show me your light, please.
Learning from the past, managing the present, shaping the future.

*

Inspirasi tulisan ini berawal di kuliah ke-sekian analisis struktur dengan metode matriks. Aku sudah sangat jenuh dengan variabel-variabel yang menurutku tidak nyata itu.

We do all have choices, right? And we're the decision maker of our life journey. Mine not structure. Period.

Rabu, Desember 08, 2010

(Sedikit) Tampilan Baru

Ada dua perubahan tampilan dalam blog ini. Latar dan judul blog.

Latar
Entah mengapa ada tampilan yang mengganggu pada latar sebelumnya. "Tinypic, this image bla bla bla". Kira-kira seperti itu tulisan si pengganggu mata. Tidak mau ambil pusing, aku mengambil simple template yang sudah disediakan oleh blogger. Gak ngerti JavaScript, HTML, dan teman-temannya, euy! Haha. Warna favoritku adalah merah tapi kupilih warna cokelat. Kenapa cokelat? Tidak tahu, suka saja, seperti menenangkan.

Judul
Tadinya judul blog ini adalah "The Red Squad". Sebenarnya itu insidental. Di awal kelahiran blog ini, aku memasang foto tim sepak bola SMA kelasku sebagai latar judul blog. Kebetulan warna baju bolanya adalah merah. Jadilah "The Red Squad". Sekarang blog ini bernama "Eirdnag Nahdamar", namaku sendiri jika dibaca dari sisi kanan. Random memang.

Tampilan tidak terlalu penting. Isi jauh lebih penting, kan? Hehe.
Pernah mendengar pepatah jangan menilai buku dari sampulnya, eh?

Tetap menulis, tumpahkan isi pikiran dalam sebuah media.

Rabu, September 15, 2010

Lego

Hello, everyone! It's a pleasure to meet you all again. It's Lego time!

Having a bit conversation about Lego with my friends in twitter, I'd like to explore more about this toy.

Lego. Who doesn't know Lego? Yeah, Lego is a construction toys. It was created by Ole Kirk Christiansen, a carpenter from Billund, Denmark. Lego in Danish means 'play well'. The name could also interpreted as 'I put together' and 'I assemble' in Latin. The Lego Group's motto is kun det bedste er godt nok which means 'only the best is good enough'. Lego has released thousands products of set themes in a variety of topics such as town and city, spaces, vikings, racers, bionicle, airports, star wars, batman, toy story, and many more.

Yup, enough for the little history. You can learn more here. Now I want to share my Lego thingy, I have some. So why don't you chek it out? Go!

1. Toa Tahu, Mistika (Bionicle)

2. Toa Tahu and Toa Lewa (Bionicle)

3. Chameleon Hunter (Exo-Force)

4. Padde and Sharky

Now that I crave for this thing below:
That (Lego) Buzz Lightyear is tremendously awesome! I must spend 380000 rupiah to get it. Darn. Anyway, where's Woody, Buzz?

Lego is a unique toy. I know Lego since I was in the kindergarten, I guess. Too bad I was too young at that time, I lost some parts of my Lego. Kids, blah. Lego is not a cheap toy now, you have to spend hundred thousand, even million rupiah to have it as your toy. Though it's expensive, my children should play Lego later! Haha!

Lego, create your own imagination, you're the director.

Rabu, September 08, 2010

I am a Modeler

Posting kali ini akan mengisahkan kegiatan yang aku senang lakukan. Apa itu? Gundam Modeling. Sudah lama aku jatuh cinta dengan Gundam. Entah mengapa, merakitnya dan melihatnya berpose ada kesenangan tersendiri. Yaa namanya juga hobi. Sulit untuk dijelaskan.

Oke. Berbicara tentang merakit, dulu aku hanya melakukan snap-fit. Beli, rakit, dan pose. Sekarang aku mau maju ke tahap yang lebih pro. Airbrushing. Kata temanku, dengan meng-airbrush kita seolah-olah menghilangkan unsur plastik jadi si Gundam terlihat lebih nyata. Aku tidak akan memberikan tutorial di sini karena aku masih pemula. Hehe. Yang akan kuberikan di sini adalah beberapa gambaran kegiatanku di bidang ini.

Pertama, untuk memulai yang namanya airbrushing, Anda harus punya sebuah benda yang bernama (Mini) Air Compressor + Airbrush. Kira-kira bentuknya seperti ini:
Benda di atas aku beli seharga 800 ribu rupiah. Butuh kerja keras untuk menabung hingga mencapai uang sebesar itu. Aku membelinya di Lindeteves Trade Center. Mereknya MultiPro. Kalau mau lebih pro lagi, silahkan membeli merek Iwata dengan harga jutaan rupiah. Aku yang masih pemula cukup lah dengan yang ini.

Kedua, untuk naik dari tingkatan snap-fit, butuh peralatan ekstra dan cat tentunya.
Gambar di atas adalah thinner, putty/dempul, tamiya cement, dan cat primer kaleng.

Nah kalau yang ini adalah beberapa jenis cat. Cat sendiri dibedakan menjadi tiga tipe: lacquer, acrylic, dan enamel. Masing-masing punya karakteristik. Tidak boleh sembarangan, thinner-nya pun harus disesuaikan dengan jenis cat.

Ketiga, setelah siap dengan semua alat dan bahan, saatnya beraksi!
Sebelum cat yang berwarna, Gundam dicat dulu dengan cat dasar. Campur cat dengan thinner. Berapa rasionya? Di situ lah 'seni'-nya. Tidak ada rasio pasti sebenarnya. Feeling bermain di sini. Cat yang terlalu kental atau encer hasilnya tidak akan bagus bila digunakan. Butuh pengalaman untuk mengetahui apakah kadar cat dan thinner sudah pas. Namun kata temanku, kalau sudah sekental susu cair Indomilk berarti sudah bagus tuh. Mengapa Indomilk bukan Susu Bendera? Entahlah. Hehe.


Keempat, airbrushing!

Fungsi yang berlaku di sini (duileh) adalah tekanan kompresor dan jarak cat. Sebenarnya paling enak jika kita punya ruangan sendiri dan meja khusus jadi tidak perlu duduk di lantai seperti yang aku lakukan. Hehe. Kenapa aku pakai masker? Bau cat sangat tidak sedap dan bisa merusak organ pernafasan dalam jangka waktu yang lama. I love my lungs, dude.

Aku punya beberapa rekomendasi halaman di internet yang bisa kita gunakan sebagai acuan. Semacam tips dan trik. Plus aku tahu di mana sebaiknya membeli Gundam atau peralatannya. Silahkan hubungi aku jika berminat dan mari kita saling berbagi. Aku masih pemula di sini. Hehe.

Kira-kira seperti itulah gambaran dari hobiku. Ada kesenangan tersendiri saat melakukan hobimu kan? Don't judge me as if I were such a childish then.

In my humble opinion, Gundam is cool. But I'm not that Japan freak, oke? Haha.

Ini hobi gue.
Apa hobi lo?

Sabtu, Juli 03, 2010

Busway Oh Busway

Ditinjau secara etimologis, busway terdiri dari dua kata. Bus dan way (jalan). Sehingga busway dapat kita artikan sebagai jalan bus. Ah sudah lupakan saja.

Siapa yang tidak kenal busway? Apalagi kalau Anda adalah warga Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta berusaha memecahkan masalah kemacetan ibukota dengan busway. Aku lupa ada berapa koridor yang sudah dibangun di seluruh Jakarta. Akan tetapi tidak semua koridor dioperasikan karena tidak ada pihak yang berani menaruh resiko tidak dapat untung. Apakah busway sudah menjadi solusi kemacetan di Jakarta?

Aku rasa tidak.

Baiklah. Sebenarnya inti dari kemacetan di mana pun adalah tidak sebandingnya jumlah kendaraan (pribadi dan umum) dengan kapasitas jalan yang ada. Hambatan samping, sistem lampu lalu-lintas, dan perilaku tidak disiplin pengemudi adalah bumbu tambahan kemacetan.

Pemerintah sudah sadar untuk mengalihkan perpindahan manusia dari transportasi pribadi ke transportasi umum. Makanya busway dibangun. Mengapa bukan subway, monorail, atau waterway? Aku tak tahu. Namanya juga pembangunan infrastruktur, tidak bisa lepas dari aspek ekonomi, politik, dan sosial.

Belakangan ini aku sering naik busway. Sayangnya aku kecewa dengan keseluruhan sistemnya. Pertama adalah menapaki jembatan penyebrangan yang rapuh dan aku yakin licin saat hujan. Terkadang ada coretan yang tidak indah dilihat oleh mata. Belum lagi ada yang berjualan di jembatan penyebrangan sehingga mempersempit orang berjalan.

Di halte busway, aku harus berdiri berdesak-desakan saat mengantri busway yang akan datang.
Pemandangan seperti gambar di atas bisa dijumpai di halte transit seperti harmoni, senen, dll saat waktu tertentu. Belum selesai, aku pun naik ke dalam bus dan harus berdiri berdesak-desakan lagi. Tindakan pencopetan dan cabul adalah sesuatu yang mudah saat situasi seperti ini.

Oh what a day!


Entah mengapa aku berpendapat kalau di negara ini hanya bisa membangun, tidak bisa merawat. Bagaimana orang mau beralih ke busway kalau situasi dan kondisi busway menyedihkan seperti ini? Sekarang busway seperti kendaraan umum kelas bawah. Sesak, padat, dan sempit. Maafkan aku. Aku sepertinya memojokkan usaha pemerintah mengatasi kemacetan ini. Akan tetapi kenyataannya memang seperti ini.

Pak Presiden, Pak Wakil Presiden, Pak Menteri, dan anggota DPR mah tidak merasakan kemacetan! Naik mobil mewah dan duduk di jok belakang yang empuk. Kalau mau jalan di tengah kota, jalanan pasti disterilkan dulu. Dikawal pula. Pak, rakyatmu menderita!

Salah satu sub-jurusan di teknik sipil adalah transportasi. Ini merupakan tantangan besar yang harus dipecahkan! Baiklah. Aku akan mencoba memberikan beberapa solusi.

1. Pajak
Berikan pajak yang tinggi untuk kendaraan pribadi. Berikan pajak yang lebih tinggi untuk orang yang mempunyai lebih dari satu kendaraan pribadi. Berikan pajak yang super tinggi untuk kendaraan mewah. Yaa setidaknya orang akan berpikir dua kali (bahkan lebih) jika ingin membeli kendaraan pribadi.

2. Infrastruktur
Kondisi jalan harus dalam keadaan prima untuk menopang arus kendaraan yang lewat. Selain itu, flyover dan underpass yang strategis mungkin bisa menjadi solusi.

3. MRT
Mass Rapid Transportation. Busway sebenarnya adalah salah satu MRT tapi tidak adanya perawatan membuatnya amburadul. Kalau waterway, ada yang mau lewat Sungai Ciliwung? Sepertinya sungai itu harus dibersihkan dulu. Hehe. Subway atau monorail bisa menjadi solusi optimal.

4. Perawatan MRT
Menekankan poin nomor 3. Hehe.

5. Tata Ruang Kota
Bagaimana menata ruang sebuah kota yang sudah jadi? Mungkin anak teknik planologi lebih mengerti hal ini.

6. Peraturan
Dibuat sebuah peraturan yang jelas, adil, dan tegas. Disosialisasikan lalu diterapkan dengan baik di lapangan. Terutama untuk angkutan umum. Tahu sendiri lah bagaimana perilaku supir angkutan umum.

Keenam poin di atas hanyalah teori dan cuap-cuap semata. Praktik pasti jauh lebih sulit daripada teori. Semoga nantinya kemacetan di Jakarta bisa diatasi. Amin.

Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3

Sabtu, Mei 08, 2010

Pagelaran Seni Budaya ITB 2010

Sewaktu aku masih TPB (tahun pertama) di ITB, aku selalu parkir di parkiran Utara. Hampir setiap hari kuliah dimulai pukul 7 pagi. Dari parkiran Utara, aku menuju GKU (Gedung Kuliah Umum) Barat atau sesekali Timur, tergantung aku kuliah apa pada waktu itu. Untuk mencapi GKU, aku selalu melewati suatu kawasan yang bernama Sunken Court. Entah mengapa namanya Sunken Court, mungkin ada sejarahnya sendiri.

Sunken Court adalah suatu kawasan di Utara ITB yang isinya adalah sekretariat berbagai macam unit. Mataku selalu tertuju pada UKSU (Sumatera Utara) dan MUSI (Sumatera Selatan) selagi aku berjalan menuju GKU. Selain itu ada juga unit Loedroek (Jawa Timur), UBALA (Bandar Lampung), dan lain-lain. Pikiranku pada saat itu mengatakan, "unit kedaerahan kayak gini mah cuman bakal bikin ITB terkotak-kotakkan".

Akan tetapi, pikiranku itu adalah pikiran kolot. Aku baru sadar setelah aku menyaksikan PSB dengan mata kepalaku sendiri. Dengan adanya berbagai macam unit kesenian kedaerahan, wajah ITB semakin cerah penuh warna. Berbagai macam unit seni dan budaya, dari Sabang hingga Merauke, telah diblend alias dicampur dalam sebuah event bernama PSB ITB 2010.

Inilah kekayaan budaya Indonesia.
Mereka memiliki karakteristik tersendiri, berbeda dengan yang lain namun tetap satu Indonesia.

Inilah kekayaan Institut Teknologi Bandung.
Walaupun berbeda suku, walaupun berbeda program studi, hal itu bukan halangan untuk bersatu di bawah lambang Ganesha.

Aku melihat temanku orang Aceh menarikan saman. Aku melihat temanku orang Jawa Tengah memainkan gamelan. Aku melihat temanku orang Jawa Timur mementaskan ludruk. Aku melihat temanku orang Jawa Barat memainkan angklung. Aku melihat temanku orang Bali memainkan gamelan Bali. Aku melihat temanku orang Sulawesi, Kalimantan, dan Papua menarikan tari yang aku lupa namanya. Mereka semua adalah temanku.

Mata ini takjub melihat mereka tampil. Bulu kuduk ini merinding ketika mereka melenggak-lenggok di atas panggung. Bahkan air mata ini sempat menjebol bendungan yang ada di kelopak mataku.

Arogansi itu memang harus ada. Silahkan kau bangga dengan himpunanmu, silahkan kau bangga dengan status kedaerahanmu. Kau harus bangga akan itu, tapi ingat jangan sampai arogansi itu berlebihan. Itulah yang akan memecah belah kita, kawan.

Aku bangga menjadi orang Indonesia. Aku bangga menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung.


Agaknya pemuda Indonesia zaman sekarang memerlukan siraman budaya pribumi, tidak hanya konser band luar negeri seharga ratusan ribu rupiah itu.
-Gandrie