Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, November 30, 2015

Komunitas

Mayoritas orang berhadapan dengan jam kerja rutin dari Senin hingga Jumat. Hal ini sebaiknya diseimbangkan dengan kegiatan lain sebagai penangkal rasa monoton. Di tengah Jakarta yang terasa itu-itu saja selama hari kerja, terdapat berbagai macam komunitas yang bisa diikuti sesuai dengan preferensi pribadi. Saya sendiri sangat menikmati bisa tergabung dalam komunitas futsal, tinju, dan sepeda lipat. Syarat utamanya hanya satu: berani mencemplungkan diri!

Futsal AECOM
Tinju pagi
Bakar-bakar geng tinju
Gowes @Kebun Raya Bogor
Terus bergerak!

Minggu, Januari 05, 2014

Pak Bisman dan Sukses

Ada beberapa hal yang tertanam dan mengakar dengan kuat dari semua ritme kejadian yang manusia lalui dalam fase hidupnya. Syukur-syukur hal tersebut adalah petuah yang arif dan bijaksana tapi bisa juga kejadian buruk yang justru membuat trauma. Dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi satu hal yang entah mengapa tidak bisa pudar dalam benaknya. Sedikit normatif, tetapi layak untuk direnungkan.

SMP Negeri 89 Jakarta Barat adalah sebuah sekolah yang berada di bilangan Tanjung Duren dan berada dekat dengan Pasar Tradisional Tomang Barat, atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Kopro. Sampai sekarang, penulis masih belum tahu apa itu Kopro. Ah, lupakan hal itu sementara. Penulis ingat benar sewaktu kelas I SMP, guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) bernama Bapak Bisman Lubis. Perawakannya tambun, logatnya khas, berkacamata, dan berambut hanya di sisi kepalanya. Suatu hari, beliau merumuskan bagaimana cara mencapai sukses. Rumusnya seksi.

          "Sukses = A x B x C x D"

Dengan penuh semangat Pak Bisman menjelaskan setiap komponen dengan menganalogikannya dengan cara mendapat nilai bagus di ulangandulu penggunaan kata ulangan sepertinya lebih populer daripada ujian.

A untuk alat. Sukses butuh modal. Siswa setidaknya harus punya senjata pribadi dalam menggempur soal ujian. Apa saja? Gampang sekali jawabannya. Pulpen, pensil, penghapus, penggaris, tip-ex, dan sebagainya.

B untuk bekerja. Semua dimulai dari usaha diri sendiri. Jaminan nilai jelek di tangan apabila siswa tidak merencanakan waktunya dan tidak mempersiapkan diri dalam ujian. Di sini Pak Bisman menekankan pentingnya bekerja (belajar) dan pembagian waktu.

C untuk cita-cita. Ini mengenai visi jauh ke depan. Cita-citakan nilai bagus dan tanamkan itu terus-menerus. Hal ini penting sebagai koridor agar tidak salah jalan.

D untuk doa. Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945 menyebutkan "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Manusia berusaha, Tuhan yang memutuskan. Jangan pernah putus alunan doa kepada ilahi.

Satu hal yang perlu diingat bahwa rumus tersebut menggunakan unsur perkalian, bukan penjumlahan. Ketika salah salah satu komponen bernilai nol, maka nilai nol yang akan dihasilkan. Pak Bisman dengan analogi ujiannya; rumus tersebut fleksibel dan bisa diterapkan untuk hal lain.

Penulis tidak pernah berjumpa lagi dengan Pak Bisman semenjak lulus SMP. Atas petuahnya yang berhasil merekat hingga saat ini, sungguh penulis bermunajat semoga beliau selalu berada di dalam lindungan Tuhan.

Penulis berjanji akan menanamkan rumus ini ke generasi penerusnya.

Salam Pancasila!

Rabu, Juli 18, 2012

Naik ke Puncak Gunung

Naik, naik, ke puncak gunung.
Tinggi, tinggi sekali.
Kiri, kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara.

Agaknya lagu di atas sudah dilupakan oleh anak-anak zaman sekarang. Coba tengok lagu Coboy Junior yang berjudul 'Kamu'. Akh. Belum saatnya anak-anak itu merasakan asmara. Ke mana 'Potong Bebek Angsa', 'Balonku', 'Topi Saya Bundar', dan sejenisnya? Pokoknya anak saya nanti akan saya jaga tontonannya. Loh? Kha-Kha-Kha.

Paragraf di atas hanya intro. Dalam tulisan ini saya ingin menceritakan pengalaman saya naik gunung. Sebenarnya baru dua kali sih saya naik gunung: Manglayang dan Papandayan. Tak apa lah, secuil cerita dari newbie semoga bisa memberikan inspirasi bagi para pembaca.

Tujuannya apa sih naik gunung? Saya yakin setiap orang punya persepsinya sendiri dan tidak sepatutnya ada yang menghakimi pendapat orang tersebut. Toh tidak ada yang salah selama niatnya baik. Kalau saya ada tiga. Pertama, saya gemar menjelajah kawasan yang baru. Sesuatu yang baru biasanya menyegarkan jiwa. Dan ingat, Tuhan menyuruh umat-Nya menjelajah loh! Buka QS. al-Mulk ayat 15. Kedua, Tuhan adalah pelukis terbaik. Saya yakin Tuhan tak sudi memberikan lukisan-Nya secara cuma-cuma. Kasarnya, ada harga, ada kualitas. Ketiga, saya mengincar kebersamaan dengan teman-teman saya. Semakin ekstrem kondisi, sifat asli orang tersebut akan keluar. Di sini letak kebersamaan dan kekompakan diuji. Ketika ego pribadi berhasil dikesampingkan, maka orang tersebut berhasil mengontrol hawa nafsunya dan menaklukkan sisi jahat dirinya.

Seusai Perang Badar, seorang sahabat bertanya. "Ya Rasulullah, adakah perang yang lebih besar daripada Perang Badar ini?" Rasul menjawab, "Ada. Perang itu adalah perang melawan hawa nafsumu sendiri." Saya percaya dengan hal itu.

Tinggalkan hiruk-pikuk kota urban, mari bersatu dengan alam. Ternyata medan penjelajahan tidaklah mudah. Jalan yang terkadang curam dan penuh kerikil senantiasa harus dilewati. Akan tetapi di situ asiknya penjelajahan! Sebuah peribahasa mengatakan bahwa apa yang ditanam, itu yang didapat. Penjelajahan berat itu biasanya berbuah manis di akhir pendakian. Tuhan menyuguhi para pencapai puncak dengan keindahan goresan pena-Nya. Hasil jepret yang ditangkap oleh kamera memang mengagumkan, tetapi percayalah kedua bola mata ini adalah lensa terbaik dengan otak sebagai prosesor terbaik pula yang menghasilkan imaji indah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata atau foto di dunia maya. Percayalah.

Di pendakian saya yang terakhir, saya mendaki bersama sembilan orang teman saya. Melewati seluruh rangkaian jalur secara bersama-sama membuat kami percaya kalau kebersamaan itu ada. Mengutip kata-kata teman saya bahwa kebahagiaan itu tidak harus mahal, cukup kebersamaan di tengah kesederhanaan. Mulai dari hal kecil, bayangkan saja, botol air mineral yang digilir selama perjalanan dengan sandi "Bagi aer dong, Sob!". Kemudian nasi hangat dicampur dengan mie goreng, sarden, sosis, dan kornet yang terasa begitu nikmat. Serasa makanan di hotel bintang lima karena kebersamaan dan kesederhanaan itu.

Oh iya, kedua pendakian yang saya alami berdurasi dua hari satu malam. Saya menahan eek! Untungnya, alam bawah sadar berhasil mengontrol organ tubuh ini. Sejujurnya, saya masih belum terbayang teknik eek di alam bebas. Suatu saat saya harus bisa! Kha-Kha-Kha!

Ayo naik ke puncak gunung!

Selasa, Februari 21, 2012

Tugas Akhir

Berdasarkan kalender akademik, 24 Januari 2012 adalah hari pertama kuliah semester genap tahun ajaran 2011/2012. Hingga tulisan ini dibuat, berarti sudah 28 hari semester genap berjalan. Sejujurnya, tugas akhir (TA) sangat memenuhi pikiran saya melebihi apapun. Bahasa sundanya, 'ini teh TA aing kumaha iyeu?'. Sadar akan seperti ini, saya sudah mengambil ancang-ancang sejak semester 7. Saya sudah meminta seorang dosen untuk menjadi pembimbing TA dan kami sudah beberapa kali berdiskusi tentang hal ini.

SI-4099 Tugas Akhir.

Dosen pembimbing saya bernama Bapak Idwan Santoso. Kebetulan saya pernah diajar beliau saat semester 3. Saya merasa beruntung mendapatkan dosen pembimbing seperti beliau. Sejujurnya, di awal saya sangat ragu karena saya merasa sangat 'dilepas' namun akhirnya saya sadar kalau kemandirian sangat dituntut selama mengerjakan tugas akhir. Saya diminta mencari tema dan topik sendiri seputar permasalahan transportasi yang saya suka. Saya nemu lima buah lalu kami berdiskusi lagi di pertemuan berikutnya dan akhirnya keluar satu buah tema besar.

"Saya mau Anda bangga dengan hasil karya Anda. Tugas akhir buatan Anda."

Beliau menekankan sebenarnya banyak bahan dan data proyek yang beliau punya. Namun bukan TA namanya kalau saya mendapatkan data secara 'cuma-cuma' lalu tinggal diolah. Teman akrab saya juga mengatakan kalau pengambilan data TA pasti butuh perjuangan. Selain itu, saya dianjurkan membuat timeline yang berisi hari wisuda, batas akhir sidang, batas akhir ujian komprehensif, rencana seminar, dan target hari penyelesaian tiap bab. Beliau menyarankan agar timeline itu dicetak besar-besar lalu ditempel di kamar. Wejangan-wejangan kecil selama bimbingan yang membuat saya termotivasi mengerjakan TA walaupun terkadang saya teh juga masih bingung bagaimana mengambil dan mengolah data. Haha.

Semester 8 dan konsistensi.

Saat semester 7 saya mengambil 17 SKS dan itu terasa sangat lowong. Di semester 8 ini saya mengambil 10 SKS. Bagaimana kondisinya? Super-duper lowong. Saya hanya kuliah hari Senin (09.00-11.00), Selasa (16.00-18.00), dan Rabu (11.00-13.00). Ya, masing-masing hanya dua jam. Kamis dan Jumat libur, Sob! Makanya saya mendedikasikan untuk berolahraga lari, renang, dan bersepeda setiap minggunya. Hitung-hitung refreshing biar tidak usang di kosan dan kampus.

Pernah saya sedikit berkeluh kesah ke seorang teman mengenai kelowongan ini. Reaksi darinya cukup menohok. "Itu seharusnya bukan alasan yang menjadikan lo nggak produktif, Gan. Gan, kita ini mahasiswa semester 8 loh. Sadar nggak sadar, waktu yang kosong itu seharusnya bisa lo manfaatkan untuk mengerjakan TA atau membaca buku referensi yang menunjang TA lo. Baca buku engineering yang setebel gambreng nggak kayak baca novel, kan? Ya, semuanya butuh konsistensi."

Saya punya target.
Saya punya impian.
Saya punya orang-orang yang tidak boleh saya kecewakan.

Selasa, Januari 24, 2012

Bumi Medika Ganesha

Gendang telinga saya bolong.

Sewaktu kecil, telinga saya, tepatnya telinga kiri, sering bermasalah dengan mengeluarkan lendir dan kadang terasa sakit. Rasa sakit yang luar biasa sangat dirasakan saat pesawat take-off dan landing. Masalah itu nampak sirna seiring saya beranjak dewasa dengan catatan tidak naik pesawat. Kini masalah itu muncul kembali ke permukaan tepat sehari sebelum semester 8 dimulai, semester dimana saya mulai mengerjakan tugas akhir.

Ceritanya seketika saya membuang lendir dari hidung, telinga kiri saya bindeng dan sempat mengeluarkan cairan. Hal ini bertambah parah apabila saya naik mobil tertutup. Secara otomatis kualitas indra pendengaran saya berkurang. Pergilah saya ke sebuah klinik. Bumi Medika Ganesha namanya.

"Ada dokter THT?" tanya saya.
"Oh, nggak ada. Di sini adanya dokter umum dan dokter gigi." jawab pegawai.
"Ya sudah deh nggak apa-apa. Sama dokter umum saja." tukas saya.

Sehabis proses administrasi, seorang pria memanggil saya untuk masuk ke dalam ruangan. Telinga kiri saya diperiksa dengan sebuah alat khusus lalu dokter meyakinkan kalau gendang telinga saya pecah, bolongnya besar bahkan. Saya tidak kaget. Apabila tidak ingin bermasalah lagi, dokter menyarankan untuk operasi 'menambal' gendang telinga dengan membran khusus di dokter THT. Dokter memberikan antibiotik dan dua jenis obat lagi untuk meredakan sakit.

Dokter menyarankan jangan berenang dulu. Kuliah saya di semester 8 ini sangat lowong sehingga rencananya saya ingin jogging di Saraga, berenang di Saraga, dan bersepeda masing-masing sehari di waktu pagi di setiap minggunya. Sigh, ada sedikit kendala di berenang, sialnya. Melihat raut muka saya yang kecewa, dokter memberikan opsi boleh berenang asal pakai earplug, sebuah alat penyumpal telinga yang terbuat dari gabus atau karet yang berguna mencegah air masuk saat berenang.

Setelah semuanya beres, basa-basi saya melontarkan pertanyaan kepada dokter yang menangani saya. Seorang perempuan yang perawakannya sudah lanjut usia nan bijak.

"Udah lama di sini, Dok?"

"Yah, saya sudah puluhan tahun di sini (28 tahun kalau nggak salah). Dokter yang lain bahkan ada yang sampai 40 tahun, Mas. Semua dokter di sini adalah istri dari pengajar di ITB." tancap dia dengan logat Jawa yang cukup kental.

"Woah, betah banget di sini, ya?"

"Takdir sepertinya yang membawa saya ke sini, Mas. Di sini lebih ditekankan pengabdian. Kalau buka praktek sendiri sih bisa saja dan jelas penghasilan lebih banyak tapi saya senang di sini. Makanya sampai sekarang susah banget loh nyari dokter spesialis. Makanya ndak ada dokter THT di sini. Ini alhamdulillah kita sudah ketemu dokter mata buat BMG, Mas."

"Wah, hebat banget, Dok. Salut saya."

"Namanya juga hidup, Mas. Yang penting ikhlas ngejalanin. Rejeki ndak ke mana toh."

"Iya benar, Dok. Saya tebus obatnya, ya. Nuhun pisan, Dok."

Saya berpikir dan melihat struk. Biaya konsultasi dokter BMG sebesar 30 ribu tapi karena saya mahasiswa ITB ada subsidi sebesar 20 ribu sehingga saya hanya membayar 10 ribu. Seharusnya saya membayar biaya obat sebesar Rp 74.500,00 tapi digratiskan pula. Sebelum meninggalkan ruangan, saya sempat melihat sang dokter membubuhkan stempel nama berwarna merah di atas resep yang dia tulis.

Dokter Yuliati.

Sabtu, Oktober 01, 2011

Rumah Masa Depan

Bumi berputar, bumi makin sesak.

Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?

Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.

Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.

Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?

Aku takut namun mari bermimpi.

Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.

Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.

Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.

Lantai dua.

Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.

Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.

Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!

Seperti apa rumah masa depan Anda?

Selasa, September 13, 2011

Gitar

Tidak ada yang tidak tahu alat musik ini. Lekukan tubuhnya sangat seksi sehingga mayoritas perempuan menginginkan bentuk yang serupa. Layaknya sepakbola yang merupakan olahraga paling mendunia dan merakyat, gitar demikian dalam hal alat musik, pikirku.

Pemainnya beragam, mulai dari pinggir jalan hingga sekelas konser. Gitar ini fleksibel karena bisa berasimilasi dengan berbagai macam jenis aliran musik mulai dari dangdut, R&B, pop, jazz, hingga metal. Tidak hanya petikan, pukulan pun bisa dilakukan untuk menghasilkan bunyi.

Ceritanya, aku les gitar klasik mulai kelas enam SD. Dulu aku masih lugu, ayah dan ibu yang mendaftarkanku, aku ikut saja. Ternyata les berlangsung hingga aku kelas dua SMA. Sekitar lima tahun. Cukup lama, ya?

Dulu les dilaksanakan seminggu sekali dan setiap pertemuan hanya setengah jam. Seingatku bayarnya mahal juga. Guruku bernama Kak Banu, seorang musisi sejati, beda lah dengan diriku yang hanya ikut kehendak orang tua waktu itu. Tetapi aku bersyukur aku les gitar klasik. Aku jadi bisa baca not balok dan diajarkan teknik tertentu.

Seiring meningkatnya jam terbang bermain alat musik, dalam hal ini gitar, aku semakin sadar kalau musik ini bukan bidangku. Kenapa? Otakku tidak bisa sinkron dengan nada-nada. Tidak ada feeling bahasa campur aduknya. Beda dengan teman-temanku seperti Awan Wibisono, Handal Prahamadhanno, Fadhillah Akbar, Reza Harevi, Ian Sofian, Jeisen Frederik, Adrian Firdaus, dan lain-lain.

Gitar itu teman yang pas. Dia paling mengerti kondisimu. Walaupun aku tidak ada feeling dengan gitar, tetap dia adalah sobatku. Berikut aku persembahkan satu buah lagu berjudul Choros kepada para pembaca. Maksimalkan volume dan selamat menikmati. Maaf jika jelek secara permainan maupun rekaman. Maklum, tidak ada feeling dan kamar-kost-quality.



I don't sing.
My guitar does.

Jumat, Agustus 26, 2011

Enam Hewan

Hadits Qudsi.

Enam hewan sedang berada dalam sebuah perbincangan. Mereka adalah Sapi, Kambing, Ayam, Kucing, Anjing, dan Babi.

Sapi selaku hewan terbesar di sana berkata bahwa dialah yang paling mulia di antara yang lain. Seluruh tubuhnya bisa dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari kulit, daging, tulang, hingga susunya. Saat kurban, satu ekor sapi bisa mewakili tujuh manusia. Kambing sedih namun tak lama kemudian dia tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Derajatmu berada di bawahku", ucap Sapi.

"Kau benar. Saat kurban aku hanya bisa mewakili seorang manusia. Walaupun demikian aku tetap membawa keberkahan untuk manusia. Kulit, daging, tulang, dan susuku bermanfaat untuk manusia walaupun tidak sebesarmu, Sapi. Rasulullah pernah meminum susuku saat dia kehausan", tegas Kambing. Ayam sedih namun tak lama kemudian dia tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Derajatmu berada di bawahku", ucap Kambing.

"Daging dan telurku bermanfaat untuk manusia. Bahkan saat seorang ingin berkurban namun dia tidak memiliki uang yang cukup, dia diperbolehkan menyembelih ayam. Setidaknya aku halal dan tidak najis buat manusia", tegas Ayam. Kucing sedih namun tak lama kemudian dia tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Derajatmu berada di bawahku", ucap Ayam.

"Dagingku memang haram dimakan manusia tapi aku tidak najis. Manusia suka padaku. Mereka memangkuku, membelaiku, bahkan tidur bersamaku. Aku senang dengan hal itu. Dulu, aku sempat tidur di atas sorban Mustofa. Mustofa ingin solat dengan sorbannya namun dia tidak tega mengusikku. Sejak saat itu Rasulullah menjuluki Mustofa dengan Abu Hurairah (Bapak Kucing)", tandas Kucing. Anjing sedih namun tak lama kemudian dia tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Derajatmu berada di bawahku", ucap Kucing.

"Dagingku haram dan air liurku najis tapi aku tetap memiliki manfaat untuk manusia. Penciumanku tajam, aku membantu manusia mengendus sesuatu yang dibutuhkan. Lariku kencang, aku membantu manusia berburu. Saat hewan buruan aku gigit, walau hingga tewas, buruan itu terhitung halal untuk manusia. Tubuhku kekar, aku menjaga kediaman manusia dari pencuri dan perampok", tukas Anjing. Babi sedih namun tak lama kemudian dia tertawa.

"Kenapa kau tertawa? Derajatmu berada di bawahku", ucap Anjing.

"Dibanding kalian semua, akulah makhluk yang paling hina. Aku tidak berkontribusi sekecil apapun buat manusia. Dagingku haram dan haram manusia menyetuh kulitku. Tak apa pikirku, ada yang lebih menyedihkan dariku", ketus Babi.

Kelima hewan yang lain penasaran.

"Siapa dia? Sampai kau bohong akan kutabrak kau!", tegas Sapi.
"Akan kutanduk jika kau berbohong!", tegas Kambing.
"Patukku singgah di kulitmu saat kau berdusta!", tegas Ayam.
"Cakarku tidak akan segan menggores tubuhmu!", tegas Kucing.
"Gigitanku maut!", tegas Anjing.

"Dia adalah manusia yang melalaikan solat dan tidak mau memaafkan sesamanya", bisik Babi.

*

Kurang lebih kayak gitu. Data sekunder yang diambil saat khutbah solat Jumat di Masjid Baiturrahman, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Mari dirikan solat dan saling memaafkan.
Baiklah.

Sabtu, Agustus 20, 2011

19 Agustus 2011

Hari ini tidak biasa.

07.30
Aku sudah bangun dari pukul 6 pagi. Beberapa orang aku tanya via SMS apakah hari ini masuk pukul 07.00 atau 07.30. Jawabannya adalah 07.30. Sulit beranjak dari kasur apabila kuliah dimulai sepagi ini. Dua pesan singkat masuk, 'Bro, kuliah, Bro' dari Andi dan 'Gan, Pak Harmein udah ada' dari Almira. Aku tepat akan berangkat saat membaca kedua pesan singkat itu. Toleransi telat 15 menit, aku menggowes sepedaku sekuat tenaga mengingat Simpang Dago yang (pasti) macet.

07.40-09.00
Kuliah evaluasi dan pemeliharaan prasarana transportasi oleh Pak Harmein. Di luar dugaan, ilmu perkerasan adalah ilmu yang menarik. Banyak fakta menarik di balik jalan (perkerasan) yang senantiasa kita lewati setiap hari. Semakin semangat dengan kuliah transportasi! Ternyata, jalan di Indonesia belum dirancang tahan gempa. Perkerasan bandara saja yang mempertimbangkan aspek percepatan gempa agar pesawat tetap bisa mendarat selamat setelah terjadi gempa di landasan pacu.

09.00-11.00
Kuliah rekayasa struktur yang bertujuan mengevaluasi dan merancang bangunan tahan gempa. Kuliah hari ini membahas respons spektra lebih detail.

11.00-11.30
Pinjam kunci pas di sekretariat GB (Ganesha Bicycler) untuk mengganti pedal lama dengan pedal baru yang sudah kubeli dua bulan yang lalu. Sehabis itu main ping-pong melawan Rendy dan aku menang 21-15. Yes!

11.30-12.30
Sholat Jumat.

12.30-13.00
Main ping-pong, kali ini double. Aku bersama Rendy melawan Renard dan Tian. Menang tipis 22-20. Yes!

13.00-15.00
Kuliah metoda dan peralatan konstruksi (MPK) membahas bagaimana suatu peralatan memiliki tenaga untuk melawan tahanan (resistance) bergerak berupa gesekan dan kemiringan. Banyak aspek yang dipertimbangkan, seperti: berat, suhu, jenis ban, ketinggian tempat kerja, kecepatan, dan lain-lain.

15.00-17.30
Rentang waktu ini agak absurd. Aku melaluinya bersama seorang Dhimas Satria Pinilih. Aku memang merencanakan mengobrol bersamanya membahas tes IELTS, eh obrolan ini malah semakin jauh. 'Gan, kita ngobrolnya di mobil aja. Aing mau balik dulu', ucapnya. Aku mengiyakan tanpa pikir panjang. Di tengah jalan barulah aku tersadar untuk bertanya mengapa dia ingin pulang ke rumah. Jawabnya, 'Semalem aing makan kripik pedes, sekarang mules euy. Mau boker di rumah'. Asem! Rumahnya di daerah Arcamanik yang notabene s-a-n-g-a-t-j-a-u-h dari ITB. Kampret nih orang.

Apa daya situasi dan kondisi berkata lain, jalanan di Bandung sore itu luar biasa macet. Sekitar pukul 16.30 kami baru sampai di Jalan Belitung. Akhirnya dia memutuskan untuk mengeluarkannya di WC gedung terdekat. Di tengah kemacetan yang benar-benar diam, Dhimas keluar dari mobil dan aku diminta yang menyetir. 'Lu muter aja, Gan. Nanti jemput gue'. Kampret nih orang.

Ambil hikmahnya, kami saling bertukar pikiran selama di mobil. Kami berbicara mengenai studi S2, kultur budaya negara barat, kerja, keluarga, bahkan asmara. Gak salah deh 'mengantar' dia buang air. Haha. Emang kampret nih orang.

17.30-20.30
Buka bersama angkatanku, teknik sipil ITB 2008, Cakarlangit! Acara diadakan di ruang ALSI. Aku salut dengan ketua angkatanku yang rela mengatur segala hal agar buka puasa bersama ini bisa berlangsung. Ya, tidak terasa, Insya Allah setahun lagi kami akan lulus, mencari peruntungan masing-masing demi hidup yang lebih baik. Aku terharu saat beberapa orang berbicara di depan mengemukakan pendapat tentang angkatanku ini.

Ada doorprize kecil-kecilan-lucu-lucuan yang memang sudah disiapkan. Setiap pasang mata tertuju pada layar putih di mana proyektor menyorot sinarnya. Semacam software untuk mengundi, bagi yang NIM-nya keluar, dia berhak mendapatkan hadiah. Ada 12 macam hadiah. Di penghujung acara, kami berfoto 'rusuh' lalu berdoa agar selalu diberikan yang terbaik. Acara diakhiri dengan mars angkatan!

20.30-22.00
Leha-leha di himpunan. Main ping-pong melawan Adhys dan menang 21-18. Yes!

22.00-00.10
Forum massa, namun aku dan Icang malah merancang parkiran sepeda yang rencananya akan dibiayai oleh program studi. Semoga berhasil.

00.15-00.25
Pulang ke kosan naik sepeda. Dingin parah! Jalan Dago ramai dengan polisi yang menertibkan geng motor. Alhamdulillah aku aman dan sentosa.

00.25-00.45
Makan mi goreng kornet telor dadar dan minum susu jeruk di Layeut Tubagus, seberang Alfa Mart, samping Nasi Goreng Dona.

00.45-02.00
Leha-leha, ngenet, dan menulis tulisan ini.

Semoga selalu dalam lindungan Allah!

Minggu, Februari 20, 2011

Grand Seminar IEC 2011

Sabtu, 19 Februari 2011 aku mengikuti sebuah seminar tentang kewirausahaan di Sabuga bersama teman-temanku. Seminar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan IEC (ITB Entrepreneurship Challenge). Pembicaranya gokil-gokil, Sob. Enggak rugi lah datang ke seminar ini. Giga luar biasa inspiratif!

Aku mencatat poin-poin yang aku anggap w-o-a-h selama seminar berlangsung. Just check these out, Dude.

1. Hendy Setiono
Beliau adalah pemilik Kebab Baba Turki. Usahanya terinspirasi saat dia pergi ke Qatar dan membeli kebab di sana. Sekarang sudah ada ratusan cabang di Indonesia dan mempekerjakan ratusan, bahkan ribuan orang. Aku lupa jumlah pastinya.

Jatuh bangun adalah hal yang biasa dalam berbisnis. Yang penting adalah kemauan. Satu hal yang perlu diingat, semuanya butuh proses karena tidak ada yang instan di dunia ini.

2. Silverius Oscar UnggulIni dia pembicara yang paling atraktif menurutku. Biasa dipanggil Onte, beliau memulai usahanya sejak mahasiswa. Onte berkecimpung di Unhalu, Kendari, Sultra. Nomor polisi Kota Kendari adalah DT. Banyolannya: Unhalu (Universitas Hati yang Terluka), Kendari (kenapa datang kemari?), Sultra (sulit transportasi), DT (daerah tertinggal).

Mungkin pembaca tidak akan tertawa membaca paragraf di atas tapi begitu Onte yang mengucapkan, aku yakin semuanya akan terbahak-bahak. Harus dapet feel-nya, Sob. Hehe.

Usaha Onte bukan dari peluang bisnis melainkan dari rasa keprihatinan. Dulu masyarakat Sultra terpaksa bekerja untuk para cukong kayu, terpaksa melakukan penggundulan hutan di daerah mereka sendiri demi sesuap nasi. Akhirnya Onte membuat pengolahan hutan yang dananya berasal dari koperasi.

Awalnya sulit. Sulit sekali. Yang Onte tekankan adalah dignity dan konsistensi. Bagaimana caranya membuat orang lain menjadi percaya diri dan yakin dengan diri kita.

Tindakan nyata lain yang Onte lakukan adalah membuat stasiun televisi dan radio di Sultra. Lagi-lagi awal adalah masa yang tersulit. Namun dengan kebulatan tekad akhirnya stasiun itu menjadi stasiun yang terbesar di Sultra. Lucu sekali, acara televisi berupa acara keluarga seperti sunatan, kawinan, dan lain-lain. Haha. Ada pula acara dapur dengan format ala kadarnya.

Katanya, jangan main-main dengan simplicity! The power of kesederhanaan! Hidup ini singkat, mari buat bermanfaat untuk orang lain, tidak memperkaya diri saja.

3. Ananda SiregarCEO Blitz Megaplex. Seorang yang jeli melihat peluang usaha bioskop di Indonesia. Dulu, mengapa di negara sebesar Indonesia hanya ada 21? Singapura, Malaysia, dan Thailand yang sekecil itu saja memiliki lebih dari 2. "Tidak akan pernah telat untuk belajar", katanya.

4. Pandji PragiwaksonoSiapa yang tidak kenal dengan Pandji? Namanya mencuat sejak acara 'Kena Deh'. Setelah itu doi menjadi pembawa acara 'Hole in The Wall'. Dan yang sekarang dia sedang naik daun karena acara 'Provocative Proactive' di Metro TV.

Pembawaannya santai dan jiwa mudanya sungguh menggelora. Pandji adalah alumni FSRD ITB angkatan '97. Doi memulai bisnis dengan empat orang teman dan satu orang pacar yang kini menjadi istrinya. Untung saja. Haha. Modalnya masing-masing Rp. 500.000,00.

Prinsip seorang Pandji adalah, jika seharusnya ada tapi ternyata tidak ada, maka adakan sendiri. Dengan modal keberanian (atau nekat?) akhirnya mereka memulai bisnis semacam baju basket di Indonesia. Tidak ada yang mudah, jalan penuh liku dan kadang kerikil malah membuat mereka terjatuh. Akan tetapi bisnis yang bangkrut adalah bisnis yang menyerah.

Empat orang yang aku telah aku jabarkan ada di sesi satu. Di sesi dua ada Hiramsyah Sambudy (Presiden Direktur Bakrieland), Dahlan Iskandar (CEO Jawa Pos & Direltur Utama PLN), dan Karmaka Surdaudaja (Chairman OCBC NISP). Agaknya terlalu panjang jika dikisahkan di sini. Hei, mereka juga tak kalah inspiratif loh!

*

Benang merah yang bisa ditarik dari semua pembicara adalah passion. Bagaimana memulai bisnis kita sesuai dengan apa yang kita suka. Selain itu, kompetensi bersifat mutlak, harus tahu bidang bisnis yang digeluti secara detail, menjadi the best in what we're doing. Belum tahu? Belum mahir? Satu kata: Belajar.

"Tiru semangat kami. Eksekusi dengan caramu sendiri", ucap Pak Onte.

Rabu, Desember 22, 2010

Aden Barber Shop

Perkenalkan! Temen gue yang satu ini namanya Aden Firdaus. Namanya sungguh surgawi, ya? Ngeri kali fotonya. Doi berasal dari SMA Negeri 9 Yogyakarta. Selain berkegiatan di HMS macem nge-danlap kaderisasi (ngeri), BPA, dan sebagainya, doi juga mempunyai keahlian merapikan rambut orang lain.

Lihat saja!
Dalam tiga foto tersebut, Ghazi dengan ikhlas dan ridho rambutnya dirapikan oleh Bung Aden. Setelah Ghazi, sebenarnya giliran gue, cuman sayang sekali tidak ada yang mendokumentasikan. Haha.

Biasanya tukang cukur rambut tuh tidak mengerti kata-kata "potong sedikit aja ya". Akan tetapi Aden sungguh mengerti gue. Potong sedikit berarti sedikit aja. Gokil loh dia mempunyai keterampilan yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Hasilnya memuaskan! Garansi!

Monggo dicoba.

All hail Aden!
Aden!

Minggu, Agustus 15, 2010

Bagai Pinang Dibelah Lima!

Gambar di atas adalah foto aku, Gandrie Ramadhan, seorang mahasiswa Teknik Sipil ITB angkatan 2008. Perhatikan wajahku, hidungku, bibirku, mataku, dan mulutku. Yaa intinya perhatikan gambar di atas. Sudah? Bagus. Sekarang akan saya tampilkan beberapa foto yang katanya mirip dengan seorang Gandrie. Cekidot, Gan!

1. Satwiko Wirawan Indrawanto
Biasa dipanggil Iko, seorang mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2008. Aktif di Liga Film Mahasiswa.

2. Faisal Wicaksono
Faisal adalah seorang pemain piano. Dia adalah mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2007.

3. Muhamad Yasir Syawaludin
Yasir adalah mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2007. Dia adalah ketua tim senator HMS.

4. Yuamar Imarrazan Basarah
Biasa dipanggil Yuma. Teknik Sipil angkatan 2006 ini sudah lulus dengan predikat cumlaude.

Pertanyaannya adalah, apakah aku memang mirip dengan mereka?
Foto diambil dari akun facebook masing-masing.
Sorry for the stalking. Hehe.

Kesimpulannya.
Mukaku pasaran.

Haha.

This post is just for fun. Enjoy. :D

Jumat, Juni 04, 2010

Semester IV

'Wah ini sih tikungannya jenis Full Circle, jari-jarinya besar, gak kerasa pas belok.'

'Tebal kolom utama yang kita gunakan adalah 30 cm, kalau kolom praktis 15 cm. Plafon tebalnya 3 mm. Jarak lantai 1 ke lantai 2 adalah 3,2 m - 3,5 m.'

'Parameter kekuatan tanah bisa diuji dengan tes triaxial atau direct shear.'

'Hmmm, kira-kira nih rumah tampak depannya kayak gitu, kalo tampak sampingnya kayak gini.'

'Ini teh tebal aspalnya kira-kira 10 cm, kayaknya kendaraan berat jarang lewat sini.'

'Tanah warna abu-abu gini kayaknya jenis clay (lempung).'

'Dari data hujan dan debit, nantinya akan digunakan untuk mendesain saluran pengairan.'



Kalimat-kalimat di atas mungkin adalah sense yang gue rasakan setelah melalui semester IV ini. Benar, semester IV telah berlalu. Artinya, dua tahun sudah gue menuntut ilmu di ITB.

Menurut gue, semester inilah yang paling berat. Begitu banyak tekanan dari sana-sini. Tumpukan tugas seringkali mengamuk tiada ampun. Belum lagi kepanitiaan yang juga meminta perhatian lebih.

Dari semua mata kuliah, mungkin gambar konstruksi lah yang paling berkesan. Mulai dari merasa keren hingga merasa malas membawa si tabung merah. Tugas gambar konstruksi ditagih setiap minggu. Menggambar denah, fondasi, tampak, dll. Dan itu semua dilakukan secara manual di kertas A1!

Mungkin di sinilah letak kenangannya. Sebelum menggelar kertas A1 itu, meja belajar harus dikosongkan mengingat besarnya ukuran si kertas. Ada juga teman gue yang mengerjakannya di lantai. Akan tetapi, sebagian anak sipil sering menyerbu CC atas untuk mengerjakan gambar karena banyak meja kosong di sana.

Seringkali temen gue begadang mengerjakan tugas gambar ini. Gue pernah begadang sekali dan itu gak enak banget. Mending selesai, nah ini enggak, harus ada finishing touch sebelum dikumpulkan. Belom lagi tubuh yang rapuh dan mata yang siwer. Gak enak deh begadang.

Itu sedikit cerita tentang semester ini. Kalau ada senior yang membaca tulisan ini, mungkin dia akan berkata kalau semua yang gue rasakan semester ini belum ada apa-apanya. Haha, gue sepakat kok. Toh gue belum merasakan apa yang dia rasakan.

Selamat tinggal tingkat 2! Selamat datang tingkat 3!
Semoga gue menjadi lebih baik. Amin.

'Do the best, let Allah do the rest'

Kamis, Juni 18, 2009

Dahulu VS Sekarang

Menurut gue, berikut adalah perbedaan mendasar antara generasi dahulu dan generasi anak muda sekarang...
These are just my thoughts...

1. Informasi
Dahulu : Orang-orang kudu mencari informasi secara manual. Perpustakaan dan buku teks masih digandrungi.
Sekarang: Internet. All you have to do is type the keywords then all the information you want is available instantly.

2. Makanan
Dahulu : Kualitas makanan masih alami, gak ada campur tangan bahan-bahan kimia.
Sekarang: Kebanyakan serba instan, mulai dari mi instan sampai bubur instan. Bahan-bahan kimia bertebaran di setiap makanan.
Ada paradigma:
Makan ayam, flu burung! Makan daging sapi, antrax! Makan daging babi, flu babi (lagian haram juga, bodoh)! Makan ikan, minamata!
Makan buah dan sayuran, pestisida! Makan tahu tempe, formalin! Minum susu, melanin!
Susah nyari makanan yang alami hari gini, kita kudu jeli.

3. Transportasi
Dahulu : Boro-boro kendaraan pribadi macem mobil dan sepeda motor, kendaraan umum juga masih jaraaaang banget. Yup, mau gak mau kudu jalan kaki. Paling banter genjot sepeda. Coba deh tanya bonyok atau kakek-nenek elo, mungkin mereka menempuh beberapa kilometer jalan kaki tiap harinya untuk ke sekolah dan kegiatan lainnya.
Sekarang: Hampir setiap pemuda punya at least sepeda motor. Bagi mereka yang bonyoknya tajir, mereka mendapatkan mobil pribadi. Ke mana-mana tinggal tarik gas! Hahahaha...

4. Kualitas Lingkungan
Dahulu : Sebenarnya masih ada hubungannya dengan populasi kendaraan bermotor. Dulu udara dan lingkungan masih bersih, masih bisa tarik nafas panjang di tengah jalan.
Sekarang: Tarik nafas panjang di tengah jalan = bodoh. Berbagai macam jenis polusi sudah menyebar luas hingga sudut-sudut kota.

5. Bermain dan Mainan
Dahulu : Bermain biasanya ramai-ramai. Anak-anak satu kampung pada ikutan maen kali. Biasanya permainannya bersifat fisik kayak 'tak jongkok', galasin, 'tak benteng', 'tak umpet', batu tujuh, bola, dll.
Karena keterbatasan alat permainan, mau gak mau kudu kreatif. Bikin apaan kek sendiri, kayak ketapel, gasing, dsb.
Sekarang: Di rumah, sendiri, duduk, nyalain PS, maen ampe berjam-jam. Paling banter juga maen berdua. Kalau jalan-jalan tinggal bawa yang portable. Hahaha...

6. Komunikasi
Dahulu : Surat-menyurat adalah wahana yang digemari. Belom ada henpon, pager juga masih jaraaang banget. Mau gak mau kudu sabar menanti balasannya. Gue gak kebayang -__-'.
Karena komunikasi yang terbatas, gue yakin hubungan asmara alias percintaan butuh pengorbanan yang luar biasa besar. Coba aja tanya bonyok atau kakek-nenek elo gimana mereka ketemu, jadian, pacaran, dan nikah. Pasti seru deh. :)
Sekarang: Ada teknologi pencet yang namanya SMS. Dalam hitungan detik pesan sudah tersampaikan. Dalam hitungan detik pula kita dapat menerima balasannya.
Kalo udah ngebet pengen ngobrol langsung, tinggal telepon aja. Nelpon mahal? Chat aja di internet, hee...


Menurut gue, dulu semuanya serba terbatas sehingga daya kreatifitas terasah dengan baik...
Bener juga kata temen gue, Ai, kalo manusia udah kepepet biasanya dia mengerahkan segala kemampuannya...
Semoga kita sebagai generasi penerus tetap sehat, kreatif, gak ansos, dan bijak menggunakan teknologi...