Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 16, 2017

Pesan Awal Hatta

"Allah tidak kekurangan suatu apa pun, tidak kurang hormat, tidak kurang kebesaran, tidak ingin disembah dan dipuji. Sembah dan pujian kepada Allah tidak lain maksudnya daripada didikan kepada diri sendiri, supaya menjadi orang yang lebih baik dan cinta kepada yang benar yang ditunjukkan Allah, kepada yang adil dan jujur, serta kasih antara sesama manusia."
Hatta, Mohammad
Bukittinggi - Rotterdam Lewat Betawi
h.20

Minggu, Januari 08, 2017

Tulisan Berbalas Tulisan

Pilkada Jakarta. Linimasa media sosial semakin riuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sedikit lega di balik pekaknya suasana: tulisan berbalas tulisan. Seorang netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu cagub lewat tulisannya (2-1-2017), kemudian direspons oleh netizen lain lewat tulisan (3-1-2017) pula. Tidak berhenti sampai di situ, netizen pertama meluncurkan tulisan keduanya (5-1-2017).

Saya tidak akan membahas isi tulisan-tulisan tersebut. Yang jelas, ini adalah sebuah kebiasaan literasi yang baik yang semoga terus tumbuh di Indonesia.

Kejadian ini mengingatkan saya dengan iklim serupa yang sudah masif terbangun di luar Indonesia. Ada sebuah mata kuliah wajib bernama understanding travel behaviour. Saya ingat betul kuliah itu dimulai dengan satu pertanyaan: why people travel? Tugas kuliah (coursework) pertama berupa esai 1.500 kata tentang travel as derived demand yang bobotnya 25% dari nilai total modul.

Sistem pendidikan di sana memaksa mahasiswa untuk membaca jurnal dan mengutip kembali data ilmiah yang disampaikan oleh penulis jurnal dengan kalimat sendiri (paraphrase). Lagipula, salin-tempel sangat tidak disarankan mengingat ada Turnitin yang mampu mengecek tingkat keaslian kata-kata yang dibuat.

Penjelasan umum travel as derived demand adalah orang bepergian hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka di tempat lain. Button (2010) menguatkan argumen ini lewat teori ekonomi bahwa konsumen bertindak berdasarkan keputusan rasional. Dalam hal ini, memaksimalkan kesejahteraan dapat diperoleh dengan meminimalkan waktu tempuh. Penjelasan Button tadi didukung oleh Fowkes (2010) dan Mackie (2001) yang menjelaskan bahwa waktu adalah komponen terbatas dan perlu dikuantifikasi dalam analisis skema pembiayaan infrastruktur transportasi lewat VTTS (value of travel time saving).

Mokhtarian (2001) punya kritik terhadap penjelasan di atas dan mengatakan "travel is not purely derived from demand". Dari survei yang ia lakukan untuk 1.900 sampel, lebih dari 75% sampel menyatakan mereka bepergian hanya untuk kesenangan dan dua pertiga sampel tidak setuju kalau mencapai tujuan adalah hal yang paling penting. Metz (2007) melihat ada ketidaksempurnaan metode penaksiran investasi transportasi (transport investment appraisal) ketika VTTS masuk di dalamnya.

Saya takjub sendiri mereka bisa berdebat secara sehat dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kondisi beda pendapat namun tetap kepala dingin ini semoga juga bisa menjalar di Indonesia.

Senin, November 05, 2012

Guangzhou Visit

Berjarak sekitar 3323 kilometer dari Jakarta, Guangzhou adalah salah satu kota metropolitan di Cina. Secara sekelabat bisa diperhatikan bahwa trotoarnya sangat lebar, tidak ada sepeda motor yang boleh masuk ke dalam kota, tidak ada papan reklame yang merusak estetika, tidak ada kabel listrik yang berseliweran, dan banyak toko pangkas rambut. Efektif dua hari saya ditugaskan untuk meninjau BRT (bus rapid transit), bike sharing, dan greenway.

1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?

TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.

Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.

Pak Bos sedang menjelaskan

GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!

Halte dengan panjang hingga 200 meter
Overtaking lane

Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.

LED di samping bus
LED di sub-pemberhentian
Daftar bus yang lewat














Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.

Kantor GBRT
Berbagai operator pengendali
Mbak sedang menjelaskan











Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.

2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.

Gowes dulu yuk!
Public bike!
Peta pesebaran halte
























Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!

3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.

Main yuk!
Kanan-kiri adalah tempat tinggal penduduk

Bisa buat merenung dan galau
Di bawah jembatan layang







Guling-guling
Awas kecebur, Pak!











Airnya jernih! Banyak ikan!

Masuk greenway!

























Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini:  berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!

Kulo

Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:

Mau tidak?

Rabu, Januari 05, 2011

Garuda (tetap) di dadaku!

Selamat datang! Selamat datang di Stadion Utama Gelora Bung Karno!
Masih seputar final AFF, kalau tulisan sebelum ini membahas jerih payah kami memperoleh tiket final, tulisan sekarang menggambarkan kondisi stadion saat pertandingan final di kandang Garuda!

Bisa dilihat, warna merah sangat dominan, tidak ada tempat untuk si biru atau kuning. Sudah sepatutnya Harimau Malaya menjadi ciut karena sorak-sorai pendukung Garuda.

Menurutku, momen paling mengharukan adalah saat kami, ya kami, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia: Indonesia Raya. Aku menggenggam erat Garuda yang ada di dada sebelah kiri dengan tangan kanan. Terlepas dari suaraku yang amburadul, aku berteriak tanpa mempedulikan seraknya tenggorokan, demi menyanyikan Indonesia Raya! Aku bernyanyi Indonesia Raya hingga paru-paruku menyerah!

Bayangkan, puluhan ribu orang dari berbagai macam umur, agama, dan suku melafaskan satu nada, Indonesia Raya! Aku gemetar!

Unexplainable! Dude, you gotta FEEL that!

Garuda menang di kandangnya, tetapi tidak berhasil menyabet juara AFF. Sungguh malang.

Garuda (tetap) di dadaku!

Selasa, Agustus 17, 2010

Victory Lap

Pagi hari pada tanggal 16 Agustus 2010 Cucu tiba-tiba memberikan pernyataan padaku via Yahoo Messenger. "Gan, nanti jam 12 malam kita victory lap merayakan kemerdekaan Indonesia". Wah aku kaget bukan kepayang.

Victory lap itu semacam lari-lari kecil mengelilingi kampus yang biasa diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Victory lap pertama angkatan 2008 adalah beberapa hari setelah kami dilantik menjadi HMS. Waktu itu kami lakukan sore hari hingga menjelang maghrib.

Akhirnya aku memutuskan, masa bodo dengan pukul 12 tengah malam, ini acara setahun sekali, aku datang saja. Setelah menyelesaikan LPJ OHU, aku ke kampus bersama dengan Ghazi pukul setengah 12 malam. Sesampainya di himpunan kami santai-santai dulu, entah itu ngobrol atau main ping-pong.

Pukul 12 malam kami dibariskan dalam dua banjar. Dengan sepatu keds dan jaket himpunan yang melekat di badan, kami bersiap-siap untuk victory lap. Sebelumnya kami di-briefing untuk serius dalam melakukan hal ini. Kami diminta untuk membayangkan pejuang kemerdekaan melihat keadaan Indonesia yang sekarang.

Sigh, awalnya aku biasa saja. Barisan mulai berjalan. Bendera HMS dikibarkan di depan barisan oleh Afriansyah Putra dan Cucu memimpin menyanyikan lagu kebangsaan mulai dari 17 Agustus, Bangun Pemudi-Pemuda, Bendera Merah Putih, dan lain-lain.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Kami, pasukan hijau tua, menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, dengan semangat untuk lagu tertentu bahkan hingga urat di leher ini tampak ke permukaan. Saat itu sedikit hujan lalu aku melihat ke atas jalan CC. Seolah-olah pohon-pohon besar itu menyambut kami.

Perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Entah itu senang, sedih, atau terharu.

Suara kami tetap menggema di 4 Labtek lalu kami sampai di Plaza Widya. Pasukan hijau tua berbaris memanjang. Hari Triwibowo, sang komandan lapangan, berdiri menjulang tinggi untuk berorasi. Aku mendengarkan setiap perkataannya.

Selanjutnya pasukan hijau tua bergerak ke arah gerbang depan. Kami melewati bapak satpam dengan senyuman. Haha bagus sekali mereka juga menyambut senyum kami, bukan mengusir seperti K3L. Kami berbaris di depan Sang Saka Merah Putih. Mungkin dinginnya udara menyebabkan bendera itu malas untuk berkibar. Kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya!

Amri Sanusi, sang Kahim, memimpin hormat kepada Merah-Putih dengan suara lantangnya. Lagi-lagi perasaan ini tidak bisa dijelaskan. Pasukan hijau dimobilisasi kembali ke arah himpunan kami. Lalu kami berkumpul di selasar BSC A untuk diskusi mengenai kemerdekaan.

Simpel saja, apa yang telah kita perbuat untuk Indonesia?
Sebagai tambahan, sesuatu yang simpel itu tidak selamanya mudah.