Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 08, 2017

Tulisan Berbalas Tulisan

Pilkada Jakarta. Linimasa media sosial semakin riuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sedikit lega di balik pekaknya suasana: tulisan berbalas tulisan. Seorang netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu cagub lewat tulisannya (2-1-2017), kemudian direspons oleh netizen lain lewat tulisan (3-1-2017) pula. Tidak berhenti sampai di situ, netizen pertama meluncurkan tulisan keduanya (5-1-2017).

Saya tidak akan membahas isi tulisan-tulisan tersebut. Yang jelas, ini adalah sebuah kebiasaan literasi yang baik yang semoga terus tumbuh di Indonesia.

Kejadian ini mengingatkan saya dengan iklim serupa yang sudah masif terbangun di luar Indonesia. Ada sebuah mata kuliah wajib bernama understanding travel behaviour. Saya ingat betul kuliah itu dimulai dengan satu pertanyaan: why people travel? Tugas kuliah (coursework) pertama berupa esai 1.500 kata tentang travel as derived demand yang bobotnya 25% dari nilai total modul.

Sistem pendidikan di sana memaksa mahasiswa untuk membaca jurnal dan mengutip kembali data ilmiah yang disampaikan oleh penulis jurnal dengan kalimat sendiri (paraphrase). Lagipula, salin-tempel sangat tidak disarankan mengingat ada Turnitin yang mampu mengecek tingkat keaslian kata-kata yang dibuat.

Penjelasan umum travel as derived demand adalah orang bepergian hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka di tempat lain. Button (2010) menguatkan argumen ini lewat teori ekonomi bahwa konsumen bertindak berdasarkan keputusan rasional. Dalam hal ini, memaksimalkan kesejahteraan dapat diperoleh dengan meminimalkan waktu tempuh. Penjelasan Button tadi didukung oleh Fowkes (2010) dan Mackie (2001) yang menjelaskan bahwa waktu adalah komponen terbatas dan perlu dikuantifikasi dalam analisis skema pembiayaan infrastruktur transportasi lewat VTTS (value of travel time saving).

Mokhtarian (2001) punya kritik terhadap penjelasan di atas dan mengatakan "travel is not purely derived from demand". Dari survei yang ia lakukan untuk 1.900 sampel, lebih dari 75% sampel menyatakan mereka bepergian hanya untuk kesenangan dan dua pertiga sampel tidak setuju kalau mencapai tujuan adalah hal yang paling penting. Metz (2007) melihat ada ketidaksempurnaan metode penaksiran investasi transportasi (transport investment appraisal) ketika VTTS masuk di dalamnya.

Saya takjub sendiri mereka bisa berdebat secara sehat dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kondisi beda pendapat namun tetap kepala dingin ini semoga juga bisa menjalar di Indonesia.

Jumat, September 12, 2014

The Acknowledgements

I would like to thank to my first and second supervisor, Jeremy Shires and Daniel Johnson respectively, who have frequently spent their time to give priceless guidance of supervision with regards to this dissertation topic. Many thanks also to Munajat Tri Nugroho for his assistance teaching the basic use of Biogeme.

I should also give thanks to all students of Institute for Transport Studies, who have all shown outstanding transport passion across the world combined with warm friendship, to all staff at Institute for Transport Studies, who have all been more than helpful for students.

Massive thanks to Indonesia Endowment Fund for Education, whose scholarship allow me to have focus of study without any financial pressure.

Finally, thanks to my parents, Sri Nurhayanti and Suparyono for their invaluable support and endless care.

Senin, Agustus 05, 2013

Proyek Sepanjang Masa


Status facebook seorang rekan saya berisi guyonan. Ternyata, bukan hanya beliau, guyonan itu sudah beredar luas di dunia maya. Isinya adalah tentang megaproyek yang ada di dunia. Pembangunan tembok Cina memakan waktu 573 tahun, pembangunan Piramida di Mesir selama 730 tahun, dan satu megaproyek paling fantastis ternyata ada di Indonesia, di Pulau Jawa tepatnya. Ya, proyek Pantura yang memakan waktu sepanjang masa.

Kuping Kementerian Pekerjaan Umum pasti dibuat panas akibat guyonan ini. Bagaimana tidak, Kementerian PU selaku penanggung jawab jalan nasional selalu berusaha memperbaiki, tetapi isu ini selalu saja mencuat menjelang mudik. Media kerap kali menanyakan keseriusan pemerintah dalam menanggulangi kerusakan jalan di Pantura yang terpotret selalu baru diperbaiki menjelang momentum tertentu. Terpujilah pers selaku pilar keempat demokrasi tidak dibungkam.

Berbicara soal jalan, dulu waktu kuliah (kesannya sudah lama sekali) saya diajarkan bahwa yang namanya jalan memiliki umur atau masa layan. Jadi, ketika diwawancara oleh Metro TV, Pak Dardak berargurmen perbaikan di Pantura adalah hal yang wajar, itu sah-sah saja. Ditambah lagi Kementerian PU yang berwenang untuk melelang proyek perbaikan ruas jalan sehingga memang sudah tertera waktu-waktu tertentu untuk perbaikan.

Whatsapp

Konon ada sebuah grup whatsapp yang berisi 21 orang laki-laki alumni teknik sipil cap gajah duduk. Grup ini terkenal dengan seringnya pergantian nama dan lambang grup tergantung pokok bahasan. Di balik segala guyonan, ejekan, dan kekonyolan yang ada, alhamdulillah Pantura sempat terbahas.

Menurut konvensi jalan internasional, beban maksimal yang boleh dilalui jalan nasional adalah 10 ton. Lalu coba tebak berapa rata-rata berat truk yang lewat di jalur Pantura. Jawabannya adalah 20 ton. Perbedaan beban dua kali lipat ini tidak membuat jalan semakin cepat rusak dua kali lebih cepat, tetapi 16 kali lebih cepat. Aduh, saya lupa rumusnya, pokoknya berpangkat empat. Percayalah itu ada di kuliah saya dulu. Haha.

Lalu pertanyaannya berikutnya, kenapa para truk itu lewat jalur jalan raya? Bukankah ada kereta api atau jalur laut? Orientasi pebisnis adalah profit. Semakin cepat untung, semakin baik. Itu yang tidak didapatkan ketika perpindahan barang dilakukan dengan kereta api atau jalur laut. Pemerintah seolah-olah menutup mata tentang pentingnya aksesibilitas dan optimasi pelayanan sebuah pelabuhan atau stasiun kereta api. Tidak heran kemacetan di Tanjung Priok selalu menjadi momok dan sempat muncul selama beberapa hari di halaman depan Kompas.

Jika ditelaah lebih dalam lagi, saya juga baru tahu, solar yang dipakai oleh kapal angkutan tidak mendapat subsidi sehingga ongkos via jalur laut secara otomatis menjadi lebih mahal. Belum lagi barang yang mendiami pelabuhan juga kena biaya. Jadi, alangkah wajar pebisnis yang merangkap sebagai pemutar roda ekonomi Indonesia memilih jalan raya sebagai prasarana transportasi. Toh lebih murah. Akhirnya, jalan raya yang terkena beban melebihi kapasitasnya dan berlangsung secara terus-menerus (repetisi) menjadi kelelahan (fatigue) hingga akhirnya tumbang terlalu dini.

Kementerian PU bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas hal ini. Kementerian Perhubungan dan kepolisian juga harus menegakkan keadilan. Truk yang melebihi beban harus ditahan dan ditilang. Makanya ada jembatan timbang. Perlu koordinasi antar-instansi agar terjadi distribusi beban dari jalur jalan raya Pantura ke kereta api dan kapal laut. PU, Perhubungan, KAI, Pelindo, Pertamina, PU, Kepolisian, dan sepertinya masih banyak instansi lain yang beririsan. Lagi-lagi, pertanyaannya bukan bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak.

Kompas, Ekonomi, 2 Agustus 2013

Minggu, Juli 15, 2012

Alumni

Sabtu, 14 Juli 2012.

Secara resmi status mahasiswa saya dicopot dari kampus gajah. Sebuah perhelatan akbar digelar di Sasana Budaya Ganesha untuk memfasilitasi mahasiswa yang telah berhasil menempuh studi sarjana. Wisudawan, wisudawati, keluarga, kerabat, angkatan junior, dan angkatan senior yang total jumlahnya ribuan, mungkin juga puluh ribuan, semuanya berkumpul merayakan sebuah momen sakral bernama wisuda.

Pukul lima pagi saya bangun untuk mempersiapkan segalanya mulai dari permukaan hingga ke inti, mulai dari pakaian hingga ke hati. Sebagai laki-laki, persiapan cukup dengan mandi. Lain halnya dengan teman-teman perempuan yang harus make-up dan segala macamnya. Untuk persiapan hati, saya hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dengan terus menyebut nama-Nya.

Jujur saja, setiap transisi kehidupan selalu dipenuhi dengan kecemasan, terlebih lagi wisuda sarjana yang baru saja saya alami. Bayangkan saja, dunia yang sebenarnya, yang penuh liku dan tantangan, menanti. Kali ini dunia yang congkak itu harus benar-benar ditaklukkan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidup. Kemandirian diuji, kebergantungan dengan orang tua harus mulai pudar.

Bagi saya, wisuda adalah momen yang sakral. Saya berusaha mencermati dan menikmati setiap rangkaian acara wisuda dengan khidmat. Benar saja, saya menitikan air mata saat bersama-sama membaca janji alumni ITB yang dilanjutkan dengan lagu 'Bagimu Negeri'. Saya takut. Ketakutan itu bukannya tidak berdasar tapi memang pada kenyataannya dibutuhkan konsistensi idealisme pembenahan kebobrokan Indonesia ini. Konsistensi. Itu yang tersulit.

Janji Lulusan ITB

Kami
Segenap lulusan
Institut Teknologi Bandung

Berjanji
Akan mengabdikan ilmu pengetahuan
Bagi kesejahteraan bangsa Indonesia
Perikemanusiaan dan perdamaian dunia

Kami berjanji
Akan mengabdikan
Segala kebajikan ilmu pengetahuan
Untuk menghantarkan bangsa Indonesia
Ke pintu gerbang masyrakat adil dan makmur
Yang berdasarkan Pancasila

Kami berjanji
Akan tetap setia
Kepada watak pembangunan kesarjanaan Indonesia
Dan menjunjung tinggi susila sarjana
Kejujuran serta keluhuran ilmu pengetahuan
Di mana pun kami berada

Kami berjanji
Akan senantiasa menjunjung tinggi
Nama baik almamater kami
Institut Teknologi Bandung

Dilanjutkan dengan lagu 'Bagimu Negeri' yang terlalu sukar dijelaskan kenikmatan dan kecemasannya dengan kata-kata. Tidak berhenti sampai di situ, saya langsung teringat dengan profil alumni yang tertera di Rancangan Umum Kaderisasi (RUK) KM ITB yang sempat dibacakan oleh reflektor dua hari sebelum hari wisuda. Saya tidak ingat persis sehingga saya browsing untuk mengetahuinya.

Seorang alumni mahasiswa ITB diharapkan mencapai kondisi:
Sadar dengan sifat alumni perguruan tinggi.
Sadar kewajiban sebagai seorang sarjana program studi tertentu.
Sadar akan kewajiban memahami realitas bangsa.
Sadar akan kewajiban menempatkan kesarjanaan di tengah realitas bangsa.
Sadar akan peran pendidikan Indonesia.

Ngeri. Janji dan profil alumni ITB memiliki konten yang ngeri. Berat. Tantangan di depan semakin berat. Ditambah lagi harus menafkahi istri dan anak nanti. Loh? Kha-Kha-Kha. Jangan takut dan jangan layu, ayo bentuk masa depan.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.

Minggu, Juni 17, 2012

Menuju Sarjana

Selasa, 22 Mei 2012, hati semakin bergetar menyadari bahwa batas sidang tugas akhir sebulan lagi. Jumat, 1 Juni 2012, perasaan panik semakin melanda sekujur tubuh menyadari bahwa sudah bulan Juni. Jumat, 8 Juni 2012, saya dengan berani campur nekat mengajukan formulir sidang untuk Jumat depan (15 Juni 2012) kepada dosen pembimbing dan alhamdulillah disetujui padahal saya sadar bahwa masih banyak yang harus dikerjakan.

Di Sipil ITB, semua tergantung mahasiswanya. Tidak ada periode sidang, adanya batas akhir sidang. Di sini juga tantangannya, menyamakan jadwal tiga orang dosen bukanlah perkara mudah mengingat kesibukan mereka di sana-sini.

Lima hari saya berkutat dengan AutoCAD untuk membuat rencana layout parkir beserta sirkulasi internalnya. Sederhana sih sebenarnya. Sehari sebelum sidang, saya memberikan draft tugas akhir kepada dosen pembimbing dan dua orang dosen penguji sekaligus berdiskusi mengenai slide presentasi yang telah saya buat. Ada revisi, tetapi untungnya tidak banyak.

Sorenya saya menyenangkan batin dengan membeli Lego 9391 Crawler Crane. Langsung saya rakit di kosan! Sipil pisan! Haha. Malam itu sebelum tidur, saya berterima kasih atas segala proses yang telah dilalui dan bermunajat agar besok diberikan kelancaran dan kemudahan. Saya tidur pukul sepuluh malam.


Bangun pukul lima pagi, setelah mandi saya mengenakan segala perlengkapan. Terima kasih kepada Rizal dan Ari yang rela meminjamkan jas dan dasinya. Haha. Berangkatlah saya pukul setengah tujuh bersama Sasya. Itu adalah berkendara motor terpelan sepanjang hidup saya. Perasaan sangat cemas dan takut kenapa-kenapa menuju kampus. Sidang yang direncanakan pukul delapan pagi ngaret setengah jam karena menunggu dosen datang.

Alhamdulillah semua berjalan lancar walaupun masih terdapat beberapa kekurangan yang nanti harus ditambal lewat revisi. Saya mengucapkan ultra luar biasa pangkat semilyar terima kasih kepada semua pihak yang telah mengirimkan doa dan suntikan energi yang sangat berarti dalam pengerjaan tugas akhir ini. Rasa terima kasih ini saya tujukan untuk keluarga tercinta (Mama, Papa, Mbak Ita, dan Ica), Cakarlangit (Ari, Ghazi, Bella, Arka, Wira, Andi, Ade Bali, Cucu, Arimbi, Almira, Rendy, Idham, Maya, Mira, Mirza, Dikka, Bre, Viola, Ucup, Prabu, Aci, Dila, Tesa, Nuni, Tya, Mule, Dian, Alif, dan semuanya tanpa mengurangi rasa terima kasih saya), OPI alias OHU Panitia Inti (Bowo, Tiara, Agni, Amri, Imam, dan semuanya!), Adriarani (kwaci energi matahari!), pihak tata usaha prodi teknik sipil (Bu Tik-Tik, Mbak Tika, Pak Agus, Pak Salam, dan semuanya!), Uda fotokopi HMS, dan semua yang telah memberikan energi semangat itu! Tanpa dukungan dari keluarga dan teman-teman, tidak mungkin saya bisa melalui semua proses itu.

Akhir kata, apalah arti gelar S.T. tanpa kontribusi dan karya nyata untuk masyarakat nanti. Pendidikan empat tahun yang saya enyam di ITB adalah hutang bagi seluruh masyarakat. Prinsip yang saya pegang, saya ingin bermanfaat untuk orang banyak, pun tidak optimal, saya tidak ingin menjadi bagian yang merusak.


Masih banyak yang harus saya perjuangkan.
Semangat nomor satu, kan?

Rabu, Desember 14, 2011

Mahasiswa

Nama Sondang mencuat seiring dengan tindakan bakar diri di depan Istana Negara yang harus ditebus dengan nyawanya sendiri.

Pertama kali mendengar berita ini, logika saya menyatakan kalau itu adalah tindakan bodoh. Dirinya ingin Indonesia lebih baik tapi keputusan yang dipilih justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Di sisi lain, kalbu saya mengatakan kalau itu adalah keputusan seorang Sondang yang sepatutnya kita hargai bersama dan tidak semestinya keluar judgement bodoh, tolol, atau goblok. Seperti biasa, logika dan kalbu jarang akur.

Secara normatif, kita ketahui bersama kalau setiap pilihan kata dan tindakan menimbulkan konsekuensi, kan?

Ternyata aksi yang dilakukan Sondang berdampak sistemik hingga terjadi suatu kejadian unik tadi sore (14 Desember 2011) di kampus saya, Institut Teknologi Bandung atau biasa dikenal dengan Kampus Ganesha. Malamnya langsung ada headline berita 'Tidak Mau Ikut Demo, Mahasiswa ITB Didemo' di media elektronik. Menarik sekali judulnya. Secara singkat, ratusan mahasiswa perguruan tinggi di Bandung mengadakan aksi solidaritas mengenang Sondang Hutagalung di Gerbang Ganesha lalu sempat terjadi kericuhan karena ITB tidak tergabung dalam aksi tersebut.

Saya sangat menyayangkan keluarnya kata-kata kotor dan tindakan pemberian celana dalam wanita kepada Presiden KM ITB. Simple, dengan predikat mahasiswa yang notabene adalah kaum intelek, kok melakukan hal seperti itu? Untung tidak ada pembakaran ban bekas di depan kampus.

Kampus Ganesha ini sangat kental dengan budaya diskusi. Harus selalu ada dasar untuk bertindak, apapun itu. Tidak heran kalau pembahasan latar belakang, tujuan, dan hal-hal lain yang mendasar bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Saya percaya kalau sang Presiden beserta jajarannya sudah mendiskusikan hal ini dengan matang sehingga terciptalah sebuah keputusan kalau ITB tidak ikut dalam aksi. Layaknya agama, haruskah sebuah keputusan dipaksakan?

Sebagai mahasiswa, kita mempunyai akses menyalurkan aspirasi rakyat ke pemerintah dengan dua hal: Ruang diskusi dan unjuk rasa atau demonstrasi. Demonstrasi adalah metode penyampaian aspirasi secara masif untuk mendapat perhatian publik dengan syarat setiap individu yang terlibat tahu dasar mengapa bertindak demikian. Artinya, demonstrasi adalah sebuah muara yang dihasilkan dari kajian atau analisis mendalam mengenai suatu hal. Dengan demikian, materi yang disampaikan dalam sebuah demonstrasi itu jelas, efektif, dan efisien. Tidak ada anarkisme atau perusakan lingkungan sekitar yang justru merugikan masyarakat. Akhir kata, mari menjadi mahasiswa yang cerdas, kritis, dan peka terhadap kehidupan sosial.

Saya mahasiswa ITB dan saya bangga.
When you can't speak that much, listen that much, act that much.

Sabtu, Mei 07, 2011

Jodi Firmansjah

SI-3211 Analisis Struktur II

Bagiku, sulit rasanya memahami kuliah struktur. Gaya dan momen terlihat tidak nyata dan tidak mau singgah di otak ini walau sebentar. Letih rasanya bergelut dengan pelajaran mekanika dan struktur.

Ah, peduli setan.

Kuliah Analisis Struktur II berisi bagaimana kita menganalisis suatu struktur dengan menggunakan metode matriks. Oleh karena itu, kuliah ini sering disebut 'anstrik' oleh para mahasiswa. Dalam kuliah ini, aku diajar oleh dosen yang bernama Jodi Firmansjah, sebuah nama yang sudah tidak asing lagi di ketekniksipilan Indonesia, bahkan dunia.

Beliau selalu datang dengan Jaguar miliknya. Apapun yang Pak Jodi punya pasti terlihat elegan. Bahkan alas tetikus miliknya terlihat mahal. Haha.

Gawatnya, kuliah diadakan setiap hari Senin dan Selasa pukul tujuh pagi. Pak Jodi menetapkan toleransi telat 10 menit, lebih dari itu maka mahasiswa tidak boleh masuk. Oh, hebatnya semester ini. Aku selalu berusaha memerhatikan kuliah namun tetap saja aku tidak terlalu mengerti. UTS pun datang dan semua kacau balau. Entah apa yang ada di pikiran Pak Jodi, beliau menetapkan tidak ada UAS namun para mahasiswa dalam kelompok harus membuat atau memodifikasi program dengan Matlab lalu mempresentasikannya di depan kelas.

Singkat cerita, semua kelompok sudah mempresentasikan program dan tibalah akhir kuliah bersama Pak Jodi. Bagiku, saat itu sangat menyentuh. Aku bergeming sesaat selepas kuliah terakhir itu.

Otakku ini berusaha semakin global dalam berpikir. Aku kuliah dibiayai oleh orang tua. Uang kedua orang tuaku. Aku kuliah disubsidi oleh rakyat. Uang rakyat Indonesia. Aku kuliah diajar oleh dosen yang sangat mahir di bidangnya. Jasanya tak ternilai. Bahkan ada gosip kalau Pak Jodi tidak mau dibayar oleh ITB.

Seorang Jodi Firmansjah yang aku yakin saldo tabungannya bermilyar-milyar bahkan trilyun, rela menyempatkan dirinya untuk mengajar mahasiswa ITB. Proyek yang dikerjakan Pak Jodi sangat banyak dan bernilai sangat besar namun jika beliau egois, bisa saja rantai transfer ilmu dan nilai itu diputus.

Mahasiswa! Masihkah kita menyia-nyiakan perjuangan orang tua, rakyat Indonesia, dan orang tanpa pamrih seperti dosenku ini?

Luar biasa

"It's fun being around you. Pesan saya selaku senior, orang yang lebih tua, lakukan apa yang Anda suka dan be the best di bidang itu. Dulu setelah saya beres kuliah di Amerika, saya diminta Pak Habibie untuk mendesain Jembatan Barelang di Batam. Pak Habibie hanya tidur 4 jam setiap harinya dan beliau sehat-sehat saja. Maksud saya, biasakan tubuh ini untuk belajar dan membaca setiap harinya", ucap Pak Jodi.

Terenyuh

Lantas aku berpikir. Nanti apa yang bisa seorang Gandrie lakukan untuk dunia ini? Apa yang bisa kulakukan untuk Islam, untuk Indonesia, dan untuk keluarga? Aku merasa bobrok. Aku tidak punya sesuatu yang 'gue banget'. Kaliber milikku masih teramat kecil untuk melakukan sesuatu yang besar.

"Be the best di bidangmu", ucap Pak Jodi. Kalimat itu yang akan selalu aku ingat. Namun, sialnya, apa itu bidangku? Pertanyaan yang aku belum tahu jawabannya. Sejujurnya, selepas lulus dari teknik sipil ITB pun aku masih belum tahu mau ke mana.

Hal yang tersulit dalam hidup ini adalah menemukan jati dirimu sendiri.
Musuh terbesar dalam hidup ini adalah dirimu sendiri, hawa nafsumu sendiri.

Be the best di bidangmu. Apa bidangku?

Rabu, Maret 30, 2011

Identitas

Lebih baik aku lontarkan semua daripada kupendam sehingga batinku yang meledak. Aku tekankan bahwa blog ini adalah media luapan pemikiran dan perasaanku sehingga tidak ada yang berhak membenarkanku kecuali SARA memang tersinggung, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Baiklah, aku ingin mengungkapkan suatu hal. Dua kali aku mengalami hal ini, menyaksikan lebih tepatnya. Sang raja berkata kepada rakyatnya dalam sebuah pertemuan, "Di mana identitas kalian? Di mana identitas kerajaan kita?".

Bagiku, semua itu adalah omong kosong.

Kita berada dalam kerajaan yang sama. Ini internal kerajaan kita. Tak peduli rakyat memakai identitas kerajaan atau tidak, raja tidak perlu bertanya demikian karena seharusnya dia tahu kalau yang ada di hadapannya adalah rakyatnya. Rakyat yang sudah berusaha loyal kepadanya.

Komandan pernah menyerukan kalau kerajaan ini tidak dinilai dari simbol dan sejarahnya. Kerajaan ini ada di sini, di dada dan hati setiap rakyatnya. Aku tidak akan pernah lupa momen mengharukan itu.

Menurutku, identitas itu penting ketika rakyat berlaga di luar kerajaan. Berlaga untuk mengharumkan nama kerajaan yang ada di hatinya. Identitas itu penting agar kerajaan lain tahu kalau inilah kerajaan kami! Di sini aku mengatakan penting, bukan kewajiban.

Identitas itu tidak harus selalu melekat di tubuh rakyat, wahai raja.


*

Aku yakin beberapa orang setuju dengan pendapatku. Di sisi lain, ada juga beberapa orang yang tidak setuju. Itu hal yang biasa. Dunia ini tidak akan indah tanpa adanya perbedaan pendapat.

Sabtu, Desember 18, 2010

Parkir di ITB

Jumat, 17 Desember 2010 sekitar pukul 7 malam.

Aku, Andi, Ghazi, dan Rendy akan makan di Balubur. Dari sekre HMS, kami berjalan melewati salah satu lahan parkir di ITB. Karena berada dekat area sipil, lahan tersebut sering dinamakan parkir sipil. Melewati gerbang parkir, kami bertegur sapa hangat dengan Aa' parkir. Terlebih lagi Andi yang memang sudah sangat akrab dengan mereka.

Lalu Andi berkata: "Jam 8 malem udah bakal dipecat mereka. Kasihan ya, Boi".

Kami makan ayam bakar bumbu Padang di Talago Biru. Selepas dari sana, kami melewati gerbang sipil lagi. Waktu menunjukkan pukul 19.30. Terlihat beberapa Aa' parkir sedang duduk di selasar sedang berdiskusi. Kami menghampiri. Andi dengan santainya bercengkrama dengan mereka. Aku lihat wajah mereka. Senyum mereka lebar seperti biasanya tapi aku yakin di dalam hati sedang berkecamuk.

"Yaa kalo emang ini yang terbaik, mau gimana lagi, kami kan ngikut sama yang di atas. Saya minta maaf ya, Dek, seumpama pernah berbuat salah", ucap Aa'. Kalau tidak salah ada empat Aa' di sana, kami berjabat tangan. Kupegang erat tangan Aa' lalu kulihat wajahnya serta kuucapkan agar mereka tetap semangat.

Aku bergeming.

(Dulu) aku juga seorang pengendara sepeda motor. Setiap hari memarkir sepeda motor di parkir sipil. Setiap hari kulihat wajah-wajah ramah mereka. Namun takdir berkata lain, pembuat kebijakan di ITB menetapkan ISS Parking Management sebagai pengelola parkir.

Aku: Menurut lo gimana, Ren?
Rendy: Gue yakin bapak-bapak yang ada di atas sana sebenarnya juga berat mengambil keputusan ini. Ambil positifnya, ingin diciptakan sebuah sistem parkir yang teratur di ITB. Salah kita juga sih, Gan. Contohnya sih parkir vallet, itu sebenarnya gak boleh, terus kongkalikong dengan Aa' bawa kendaraan pribadi masuk kampus.

Kenyataannya adalah luas lahan parkir tetap tapi pertumbuhan mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor cenderung naik. ITB itu dikelilingi oleh Jalan Ganeca, Tamansari, dan Dayang Sumbi. Orang tua mahasiswa ITB pada umumnya adalah masyarakat golongan menengah ke atas yang mampu memberikan sebuah mobil pribadi kepada anaknya. Hal ini tercermin dari besarnya uang pangkal yang bisa menembus ratusan juta rupiah.


Tak heran jika jalan di sekitar ITB malah dijadikan lahan parkir. Menurutku itu penyalahgunaan lahan jalan ditambah lagi mengurangi keindahan. Solusi dari Sarpras ITB adalah memaksimalkan penggunaan terowongan. Mahasiswa parkir di Saraga lalu ke kampus melewati terowongan tersebut. Cara preventifnya adalah dengan menggunakan angkutan kota atau sepeda. Wah, kalau berbicara mengenai angkutan kota, bahasan akan lebih panjang. Haha.


Sistem berganti tapi yang membuatku heran kenapa Aa' parkir juga harus diganti?
Yuk kita ambil sisi positif dari setiap kebijakan.

Aku tak akan lupa wajah-wajah kalian
Aku tak akan lupa gelak tawa kalian

-Teruntuk Aa' parkir

Sumber 1
Sumber 2

Minggu, Oktober 03, 2010

HMS

Malam itu. Sabtu, 2 Oktober 2010. Detik-detik pelantikan menjadi HMS 2009. Aku duduk beristirahat di dekat benteng ditemani Bow Sang Danlap. Kita ngobrol-ngobrol enteng. Akhirnya mereka akan menjadi bagian dari HMS.

Dengan mata tertutup slayer, Kuya-Kuyi memasuki area depan benteng. Sebelum SK pelantikan dibacakan, ada orasi dari Danlap Swasta: Bang Rizgan dan Bang Nando. Menurutku orasi mereka sangat luar biasa, sangat mengena. Sempurna sekali perpaduan pencahayaan dengan gaya khas Sang Danlap.

Bang Rizgan
Hari ini adalah hari jadi HMS! HMS tidak dinilai dari simbol dan sejarahnya! HMS ada di sini! (sambil menghentakkan tangan kanan ke dada sebelah kiri)

Bang Nando
Seharusnya kebersamaan tak diartikan sebagai proses yang prematur, yang tak berarah, yang tak memiliki konsistensi!

Seharusnya kebersamaan adalah nilai yang diilhami bersama, proses penyatuan hati yang tak berkesudahan, proses yang menjadi landasan keinginan yang sepatutnya diperjuangkan bersama!

Seharusnya kebersamaan adalah simbol pemersatu komunitas yang takkan mati bahkan jika mentari tak bersinar!

Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka seluruh anggota HMS adalah saudaraku!

Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku!

*

Kau harus merasakannya secara langsung jika ingin mendapat greget-nya.

Ayo tunjukkan kehangatan, keterbukaan, dan kedewasaan kepada mereka.
Tunjukkan bagaimana seorang kakak bersikap.

Selamat datang, adikku, HMS 2009.

Sabtu, September 04, 2010

Arcavatara

Arcavatara merupakan manifestasi Wisnu dalam imajinasi, yang digunakan oleh seseorang agar lebih mudah memujanya sebab pikirannya tidak mampu mencapai wujud Para, Vyuha, Vibhava, dan Antaryami dari Wisnu.

Suatu pagi di akhir bulan Juni. Kegiatan akademik sudah usai untuk semester itu. Indeks sudah terpapar di situs internal ITB. Oh damainya aku berada di Jakarta, tidak ada beban sama sekali. Tiba-tiba datang sebuah SMS.

Isinya, kurang lebih: "Gan, mau bantuin gue gak ngurusin stand OHU?"

SMS itu datang dari Hari Triwibowo, Sipil 2008, Unit Kesenian Minangkabau. Pikir, pikir, lalu dipikir. Bingung juga liburan 2 bulan akan kuhabiskan di mana, aku terima tawaran itu.

BAM!

Berangkatlah seorang Gandrie ke Bandung. Ibunda heran, kenapa masih libur tapi kok sudah ke Bandung? Sesampai di Bandung aku bertemu dengan panitia inti lainnya. Konsep OHU 2010 secara umum sudah ada dan saat itu sedang roadshow ke unit-unit. Oke, aku masuk ke zona baru yakni orang-orang baru dan kegiatan yang baru.

Tadinya aku adalah wakil bidang stand namun karena suatu dan lain hal, aku yang menangani divisi stand non-unit. Ternyata seru sekali menjalani kegiatan ini. Begitu banyak tantangannya. Terlebih lagi dengan adanya K3L yang membuat kami harus ekstra kerja keras terutama di bidang perizinan.

Stand di OHU tidak hanya untuk unit saja tapi juga ada non-unit. Aku senang sekali bisa berhubungan dengan banyak pihak di divisi ini. Ada KM, MWA, Motekar, TBI, NATC, D'Cinnamons, AIESEC, dan pihak lainnya. Tugasku di sini adalah melayani mereka yang ingin membuka stand. Di divisi ini aku juga dituntut menghasilkan uang. Alhamdulillah tercapai targetnya.

Aku senang.

Aku senang bisa bergabung dalam kepanitiaan ini. Aku bertemu dengan tim inti yang luar biasa. Seorang Gandrie yang tadinya tidak tahu apa-apa tentang OHU, dirangkul. Seorang Gandrie yang tidak pandai berargumen dalam sebuah diskusi, dirangkul. Seorang Gandrie yang tidak bisa melawak dan mencairkan suasana di depan umum, dirangkul. Oh terima kasih, teman-teman!

Suka, duka, bahkan cinta ada di dalam kepanitiaan ini.

Arcavatara!
Have a nice flight!
Super OHU 2010!
Sssooooohh!

Akhir kata, aku ingin mengutip pernyataan seorang Hari Triwibowo.
"Tujuan Bow ikut kepanitiaan ini sebenarnya buat nambah temen aja, Gan. Kalo nambah skill organisasi mah alasan klasik, itu bonus aja kali. Bow mau nanti di mana pun Bow berada setidaknya ada orang dari ITB yang Bow kenal".

Selasa, Agustus 17, 2010

Victory Lap

Pagi hari pada tanggal 16 Agustus 2010 Cucu tiba-tiba memberikan pernyataan padaku via Yahoo Messenger. "Gan, nanti jam 12 malam kita victory lap merayakan kemerdekaan Indonesia". Wah aku kaget bukan kepayang.

Victory lap itu semacam lari-lari kecil mengelilingi kampus yang biasa diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Victory lap pertama angkatan 2008 adalah beberapa hari setelah kami dilantik menjadi HMS. Waktu itu kami lakukan sore hari hingga menjelang maghrib.

Akhirnya aku memutuskan, masa bodo dengan pukul 12 tengah malam, ini acara setahun sekali, aku datang saja. Setelah menyelesaikan LPJ OHU, aku ke kampus bersama dengan Ghazi pukul setengah 12 malam. Sesampainya di himpunan kami santai-santai dulu, entah itu ngobrol atau main ping-pong.

Pukul 12 malam kami dibariskan dalam dua banjar. Dengan sepatu keds dan jaket himpunan yang melekat di badan, kami bersiap-siap untuk victory lap. Sebelumnya kami di-briefing untuk serius dalam melakukan hal ini. Kami diminta untuk membayangkan pejuang kemerdekaan melihat keadaan Indonesia yang sekarang.

Sigh, awalnya aku biasa saja. Barisan mulai berjalan. Bendera HMS dikibarkan di depan barisan oleh Afriansyah Putra dan Cucu memimpin menyanyikan lagu kebangsaan mulai dari 17 Agustus, Bangun Pemudi-Pemuda, Bendera Merah Putih, dan lain-lain.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda.

Kami, pasukan hijau tua, menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, dengan semangat untuk lagu tertentu bahkan hingga urat di leher ini tampak ke permukaan. Saat itu sedikit hujan lalu aku melihat ke atas jalan CC. Seolah-olah pohon-pohon besar itu menyambut kami.

Perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Entah itu senang, sedih, atau terharu.

Suara kami tetap menggema di 4 Labtek lalu kami sampai di Plaza Widya. Pasukan hijau tua berbaris memanjang. Hari Triwibowo, sang komandan lapangan, berdiri menjulang tinggi untuk berorasi. Aku mendengarkan setiap perkataannya.

Selanjutnya pasukan hijau tua bergerak ke arah gerbang depan. Kami melewati bapak satpam dengan senyuman. Haha bagus sekali mereka juga menyambut senyum kami, bukan mengusir seperti K3L. Kami berbaris di depan Sang Saka Merah Putih. Mungkin dinginnya udara menyebabkan bendera itu malas untuk berkibar. Kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya!

Amri Sanusi, sang Kahim, memimpin hormat kepada Merah-Putih dengan suara lantangnya. Lagi-lagi perasaan ini tidak bisa dijelaskan. Pasukan hijau dimobilisasi kembali ke arah himpunan kami. Lalu kami berkumpul di selasar BSC A untuk diskusi mengenai kemerdekaan.

Simpel saja, apa yang telah kita perbuat untuk Indonesia?
Sebagai tambahan, sesuatu yang simpel itu tidak selamanya mudah.

Minggu, Agustus 08, 2010

Stipendium

'Stipendium' means scholarship. It is a German language. Why Germany? Never mind, just my random thoughts.

Pertama-tama aku ingin meneriakkan 'Alhamdulillah' sekeras-kerasnya walaupun kalau diucapkan di dalam hati akan tetap didengar Allah SWT. Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa dari Total E&P Indonesie.

Dalam pikiranku, setidaknya harus meringankan beban kedua orang tuaku. Beasiswa adalah cara yang paling visible saat ini. Sejak awal masuk ITB, aku selalu mencari beasiswa, sering ke CC Barat untuk melihat pengumuman penyelenggaraan beasiswa. Sebenarnya, menurutku, ada sebuah beasiswa yang mudah didapatkan di ITB, namanya PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Tinggal isi formulir, tunggu, lalu kemungkinan besar akan dapat.

Unfortunately, I can't achieve that. Aku sudah mencoba tiga kali dan aku heran mengapa namaku tidak pernah terpampang di papan pengumuman. Aku kesal bukan kepalang, teman-temanku yang lain dengan mudah mendapatkannya. Akhirnya aku bertanya kepada si petugas. Ternyata oh ternyata ada satu syarat yang memang tidak bisa keluargaku penuhi. Cih kenapa tidak ngomong dari awal! Usut punya usut, ternyata hal ini bisa diakali dengan sebuah manipulasi. Banyak yang melakukan demikian. Oh aku sms ibuku dan langsung dibalas.

"Mama, aku gak bisa dapet beasiswa PPA karena bla bla bla tapi bisa kok diakalin. Gimana?"

"Nanti ya mama tanya papa dulu."

Keesokan harinya, ibuku mengabari.

"Ndi, mama udah diskusi dengan papa dan gak setuju kalo kayak gitu. Kita masih mampu kok. Coba cari beasiswa yang lain saja ya. Insya Allah kesempatan masih terbuka luas. Oke?"

Aku langsung terhenyak membaca sms itu. Aku balas apa adanya dan langsung bertekad mencari beasiswa lain. Jalan itu semakin cerah ketika ada beasiswa Total dan Sime Darby. Aku coba keduanya. Prosesnya tidak mudah. Untuk Sime Darby, setelah lolos administrasi ada psikotes. Dilanjutkan dengan semacam studi kasus di Hotel Atlet Century. Sayang sekali aku tidak lolos di putaran terakhir.

Untuk Total, setelah administrasi ada tes verbal/aritmatik. Lalu ada FGD (Focus Group Discussion). Lanjut dengan interview pertama. Kalau lolos ada interview terakhir. Kedua interview dilaksanakan di Kantor Total E&P Indonesie di Jalan H.R Rasuna Said, Jakarta. Prosesnya panjang dan aku selalu 'digantungin' menunggu pengumuman setiap jenjangnya. Aku PD di interview pertama namun hopeless di interview terakhir. Aku dibantai. Akan tetapi terima kasih Allah aku masih diberikan kesempatan.

Teman-teman pembaca, aku tidak bermaksud riya, aku hanya menyalurkan kesenangan yang luar biasa ini melalui sebuah tulisan. Ini adalah beasiswa pertamaku dan aku gembira sekali.

Mama, papa, Alhamdulillah aku dapat beasiswa. Mama dan Papa tidak usah bayar uang semesteran dan beberapa kebutuhan lainnya selama satu tahun ini. Semoga aku juga dapat beasiswa perpanjangannya untuk tingkat akhir.

Mama, papa, maaf aku baru bisa bantu segini, belum secara totalitas. Kasih sayang mama dan papa sepanjang masa. Walaupun kasih sayangku hanya sepanjang galah, aku jamin aku memiliki galah itu.

Mama, papa, terima kasih sudah mengajarkan kejujuran dan kerja keras. Kedua hal ini Insya Allah akan selalu tertanam di dalam benakku.

Kejujuran selalu berbuah manis. Selalu.
Tidak pernah tidak.

Jumat, Juni 04, 2010

Semester IV

'Wah ini sih tikungannya jenis Full Circle, jari-jarinya besar, gak kerasa pas belok.'

'Tebal kolom utama yang kita gunakan adalah 30 cm, kalau kolom praktis 15 cm. Plafon tebalnya 3 mm. Jarak lantai 1 ke lantai 2 adalah 3,2 m - 3,5 m.'

'Parameter kekuatan tanah bisa diuji dengan tes triaxial atau direct shear.'

'Hmmm, kira-kira nih rumah tampak depannya kayak gitu, kalo tampak sampingnya kayak gini.'

'Ini teh tebal aspalnya kira-kira 10 cm, kayaknya kendaraan berat jarang lewat sini.'

'Tanah warna abu-abu gini kayaknya jenis clay (lempung).'

'Dari data hujan dan debit, nantinya akan digunakan untuk mendesain saluran pengairan.'



Kalimat-kalimat di atas mungkin adalah sense yang gue rasakan setelah melalui semester IV ini. Benar, semester IV telah berlalu. Artinya, dua tahun sudah gue menuntut ilmu di ITB.

Menurut gue, semester inilah yang paling berat. Begitu banyak tekanan dari sana-sini. Tumpukan tugas seringkali mengamuk tiada ampun. Belum lagi kepanitiaan yang juga meminta perhatian lebih.

Dari semua mata kuliah, mungkin gambar konstruksi lah yang paling berkesan. Mulai dari merasa keren hingga merasa malas membawa si tabung merah. Tugas gambar konstruksi ditagih setiap minggu. Menggambar denah, fondasi, tampak, dll. Dan itu semua dilakukan secara manual di kertas A1!

Mungkin di sinilah letak kenangannya. Sebelum menggelar kertas A1 itu, meja belajar harus dikosongkan mengingat besarnya ukuran si kertas. Ada juga teman gue yang mengerjakannya di lantai. Akan tetapi, sebagian anak sipil sering menyerbu CC atas untuk mengerjakan gambar karena banyak meja kosong di sana.

Seringkali temen gue begadang mengerjakan tugas gambar ini. Gue pernah begadang sekali dan itu gak enak banget. Mending selesai, nah ini enggak, harus ada finishing touch sebelum dikumpulkan. Belom lagi tubuh yang rapuh dan mata yang siwer. Gak enak deh begadang.

Itu sedikit cerita tentang semester ini. Kalau ada senior yang membaca tulisan ini, mungkin dia akan berkata kalau semua yang gue rasakan semester ini belum ada apa-apanya. Haha, gue sepakat kok. Toh gue belum merasakan apa yang dia rasakan.

Selamat tinggal tingkat 2! Selamat datang tingkat 3!
Semoga gue menjadi lebih baik. Amin.

'Do the best, let Allah do the rest'

Sabtu, Mei 08, 2010

Pagelaran Seni Budaya ITB 2010

Sewaktu aku masih TPB (tahun pertama) di ITB, aku selalu parkir di parkiran Utara. Hampir setiap hari kuliah dimulai pukul 7 pagi. Dari parkiran Utara, aku menuju GKU (Gedung Kuliah Umum) Barat atau sesekali Timur, tergantung aku kuliah apa pada waktu itu. Untuk mencapi GKU, aku selalu melewati suatu kawasan yang bernama Sunken Court. Entah mengapa namanya Sunken Court, mungkin ada sejarahnya sendiri.

Sunken Court adalah suatu kawasan di Utara ITB yang isinya adalah sekretariat berbagai macam unit. Mataku selalu tertuju pada UKSU (Sumatera Utara) dan MUSI (Sumatera Selatan) selagi aku berjalan menuju GKU. Selain itu ada juga unit Loedroek (Jawa Timur), UBALA (Bandar Lampung), dan lain-lain. Pikiranku pada saat itu mengatakan, "unit kedaerahan kayak gini mah cuman bakal bikin ITB terkotak-kotakkan".

Akan tetapi, pikiranku itu adalah pikiran kolot. Aku baru sadar setelah aku menyaksikan PSB dengan mata kepalaku sendiri. Dengan adanya berbagai macam unit kesenian kedaerahan, wajah ITB semakin cerah penuh warna. Berbagai macam unit seni dan budaya, dari Sabang hingga Merauke, telah diblend alias dicampur dalam sebuah event bernama PSB ITB 2010.

Inilah kekayaan budaya Indonesia.
Mereka memiliki karakteristik tersendiri, berbeda dengan yang lain namun tetap satu Indonesia.

Inilah kekayaan Institut Teknologi Bandung.
Walaupun berbeda suku, walaupun berbeda program studi, hal itu bukan halangan untuk bersatu di bawah lambang Ganesha.

Aku melihat temanku orang Aceh menarikan saman. Aku melihat temanku orang Jawa Tengah memainkan gamelan. Aku melihat temanku orang Jawa Timur mementaskan ludruk. Aku melihat temanku orang Jawa Barat memainkan angklung. Aku melihat temanku orang Bali memainkan gamelan Bali. Aku melihat temanku orang Sulawesi, Kalimantan, dan Papua menarikan tari yang aku lupa namanya. Mereka semua adalah temanku.

Mata ini takjub melihat mereka tampil. Bulu kuduk ini merinding ketika mereka melenggak-lenggok di atas panggung. Bahkan air mata ini sempat menjebol bendungan yang ada di kelopak mataku.

Arogansi itu memang harus ada. Silahkan kau bangga dengan himpunanmu, silahkan kau bangga dengan status kedaerahanmu. Kau harus bangga akan itu, tapi ingat jangan sampai arogansi itu berlebihan. Itulah yang akan memecah belah kita, kawan.

Aku bangga menjadi orang Indonesia. Aku bangga menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung.


Agaknya pemuda Indonesia zaman sekarang memerlukan siraman budaya pribumi, tidak hanya konser band luar negeri seharga ratusan ribu rupiah itu.
-Gandrie

Selasa, Mei 04, 2010

Imam Sholat

Imam adalah pemimpin. Imam sholat berarti pemimpin sholat. Aku mau mengeluarkan semua keluh kesahku. Loh, apa hubungannya? Sebenarnya ada satu masalah yang sangat mengganjal. Semua itu berawal dari mushola di CC Barat ITB.

Aku pernah mengalami dua jenis kondisi pada hari yang berbeda di mushola CC Barat. Kebetulan keduanya saat sholat Maghrib. Kondisi pertama adalah aku menjadi makmum dan kondisi kedua adalah aku menunggu karena mushola sedang penuh. Yang ingin aku katakan adalah imamku saat itu lamaaa sekali. Lamaaaa sekali.

Kalau aku tidak salah, ada suatu hadits yang mengatakan kalau Nabi Muhammad menjadi imam, maka Beliau akan menjadi imam yang tidak terlalu lama sholatnya. Aku yakin Islam bukan seputar ibadah saja, tapi juga ada aspek sosial di setiap ibadah yang dilaksanakan. Naaah, menurutku, untuk ukuran mushola CC Barat, sangat tidak pas jika durasi sholatnya terlalu lama. Ada tiga alasan dan akan aku bandingkan dengan Masjid Salman.

Pertama
Bung imam, ini bukan Masjid Salman di mana aku bisa sujud dengan nikmatnya di atas lantai berlapis kayu. Ini mushola CC Barat, aku bersujud di atas sajadah yang lembab dan kadang berbau tak sedap.

Kedua
Bung imam, ini bukan Masjid Salman di mana ruang untuk sholat terbentang dengan luasnya. Ini mushola CC Barat, ruangnya sempit dan sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik.

Ketiga
Bung imam, ini bukan Masjid Salman di mana tidak ada antrian untuk sholat. Ini mushola CC Barat, jika kau sangat lama maka akan terjadi antrian panjang di tempat wudhu dan jalan menuju tempat sholat.

Oh, imam! Aku tahu hapalanmu sungguh luar biasa. Aku tahu kau bisa melantunkan ayat Al-Qur'an dengan indahnya. Aku tahu yang kau incar adalah kekhusyukan. Tapi tidakkah kau sadar ada aspek sosial di luar itu semua? Bukankah seharusnya seorang imam memiliki kepekaan kepada pengikutnya?

Oke cukup. Sepertinya tulisanku semua di atas adalah sebuah keluhan yang tak tersampaikan.

Mengutip pernyataan Ghazi:
"Seseorang yang meninggalkan jejak, menulis cinta, dan menumpahkan isi pikirannya dalam dunia maya. Karena ia adalah pengecut dunia nyata."

Ya, aku adalah seorang pengecut dunia nyata.

Minggu, April 11, 2010

Kau Adalah Seorang Pengecut, Boi!

TKP: Parkiran Sepeda Motor SR ITB
Tanggal Kejadian: Sabtu, 10 April 2010
Rentang Waktu Kejadian: 04.30-19.00

Seperti yang bisa dilihat di gambar, spion motor gue patah. Ya, PATAH. Entah disengaja atau tidak disengaja. Kayaknya sih tidak disengaja.

Hari itu adalah hari wisuda. Aku sebagai panitia datang ke kampus pagi-pagi buta untuk briefing lapangan. Dinginnya udara pagi tidak mengalahkan niatku datang sepagi itu. Aku sangat excited. Ini adalah kepanitiaan wisuda pertama bagiku. Aku menjadi LO sekaligus lapangan.

Singkatnya, wisuda hari itu sudah selesai. Semua prosesi wisuda sudah dilaksanakan. Aku pun pulang, sendiri menuju parkiran SR. Setibanya di depan sepeda motorku, aku kaget bukan kepalang. Spion kiri itu sudah tidak berada di tempat yang semestinya melainkan tergeletak begitu saja di atas jok.

Aku kecewa. Aku marah. Aku sedih. Satria F150 yang senantiasa aku jaga (alhamdulillah belom pernah jatuh), rusak begitu saja oleh seorang yang pengecut. Ya, PENGECUT. Jika aku merusak barang orang lain (sengaja/tidak sengaja), aku sebagai laki-laki akan bertanggung jawab. Aku akan meminta maaf dan mengganti rugi kerusakannya.

Oh oh oh! Tapi apa yang kau lakukan, pengecut?! Kau meninggalkannya begitu saja, tidak ada kata maaf sedikit pun. Betapa kecewanya aku.

Kau tidak berani untuk meminta maaf.
Kau tidak bisa bertanggung jawab.
Kau adalah seorang pengecut.

Kalau untuk hal meminta maaf dan bertanggung jawab saja kau tidak bisa, jangan harap orang pengecut sepertimu bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain nantinya.
Kau hanyalah sampah.

P.S.
Allah adalah zat yang Maha Adil.

Jumat, November 20, 2009

Satria 2008!







































Apa yang ada di pikiran elo saat pertama kali melihat kedua foto di atas? Jujur aja, boy. Kalo gue: anjiiiir, siapa tuh? culun banget! kampungan dah!

FYI, dia adalah ketua angkatan gue. KETUA ANGKATAN! Ketua angkatan Teknik Sipil ITB 2008. Namanya Taufan Satria Bijaksana, asalnya dari Purwakarta.

Benar, first impression gue ke dia emang jelek. Dulu gue sempet kaget, anjiiir kenapa ketua angkatan gue si Topan. Mau jadi apa Sipil 2008 nantiii?!

Semua itu salah. Impresi pertama gue salah. Dia adalah pemimpin yang baik dan peduli. Dia adalah seorang yang tahan banting. Jujur aja, gue sendiri gak yakin bisa mengemban title 'ketua angkatan'. Sumpah berat banget deh. Apalagi selama proses kaderisasi. Pengorbanan Topan udah to the maxx!

Tampang boleh kayak gitu, kumis boleh nanggung, tapi yang penting kontribusinya, boy!
Don't judge a book by its cover berlaku di dunia ini.
Ya, gue bangga ketua angkatan gue adalah Topan!
Hidup HMS ITB!
Ijo! Ijo! Ijo!

Jumat, September 04, 2009

Now that's what I call Earthquake!

Sebelum masuk ke intinya, gue mau cerita kalau hari Kamis (030909) lalu gue ke kampus gak pake mandi! Abis saur gue tidur lagi makanya telat bangun. Kuliah jam 7 pagi dan gue baru bangun jam 6.50! Yoi, rusuh laah gue saat itu! Cabut laah gue ke kampus dengan Sasya. Tiba di kampus jam 7.12, gue langsung lariiiii ke kelas! YAK, ternyata dosennya belom dateng. Pak dosen baru dateng jam 7.25. GREAT...

Oia, jam 1 siang ada kuliah tapi dosennya gak dateng. Gue langsung balik ke kosan buat mandi! Sumpah gak enak banget kalo ke kampus gak mandi! Lecek dan lengket gimanaaa gitu. Yaa sekali-kali coba aja, buat nambah pengalaman, lalalalalaaah...

Hari Rabu (020909) gue praktikum mengenai agregat di laboratorium struktur dan bahan teknik sipil. Praktikumnya ternyata menguras tenaga. Kita 'bermain' dengan batu, pasir, kerikil, dan teman-temannya. Sekitar jam 3 sore, gue dan faza ngobrol-ngobrol ringan di sela-sela praktikum. Tiba-tiba ada sedikit goyangan yang gue rasakan. Loh loh loh, goyangannya semakin kerasa! Petugas laboratorium yang berada di deket pintu keluar langsung pada ngibrit keluar gak nagajak-ngajak yang di dalem! Kampret. Gue ditarik Faza terus langsung lari juga. Walhasil para praktikan yang di dalem juga pada ngikutin! Lagian getarannya udah parah banget! Yup, it's an earthquake!

Di luar lab, kami cuman bisa menatap lab dan labtek. SUMPAH lab struktur goyang-goyang gitu, ngeri abis. Lampu di pinggir jalan goyangnya lebih parah! Belom sampai di situ, tanah yang gue pijak juga goyang, waving gitu menggetarkan kedua kaki gue! Sekitar 15 menit kemudian, bokap gue nelfon nanya kondisi gue. Alhamdulillah gue baik-baik aja. It was horrible, dude. Ini gempa yang benar-benar gue rasakan dengan sepenuh rasa. Gue gak kebayang dengan orang-orang di Tasikmalaya. Mereka pasti merasakan JAUH lebih parah!

Semoga ini adalah teguran agar kita bisa lebih dekat dengan Allah SWT...
Kita itu kecil, gak ada apa-apanya, sob...

Sabtu, Agustus 29, 2009

Buka Bareng 19!

YAK, tanggal 27 Agustus 2009 gue buka bareng bersama 'anak-anak' gue. Tadinya kita milih Warung Pasta tapi gara-gara ada isu kalo di sana tuuh mahal dan makanannya seiprit, kita pindah haluan ke Warung Steak!

Yap, kita berbuka, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketiwi, dan foto-fotooo! Oia, 'anak-anak' gue memberikan sebuah hadiah ke gue dan Yessi. Kado itu ternyata adalah sebuah kaos putih bergambar wajah gue dan Yessi! Wow, gue gak nyangka aja mereka bakal ngasih persembahan gini! Kaget dan seneng jadi satu laah, hee. Terima kasih pisan!
Kira-kira seperti itu gambarannya. Sehabis makan, kami meluncur ke Dago Plaza buat karaokean. Ternyata tempat karaokean tau diri, mereka tutup selama bulan puasa, sayang sekalii! Walhasil kita meng-alay di Dago Plaza (baca: foto-foto gak jelas!). Bener banget, next project gue, Yessi, dan 19 adalah karaokean! Abis libur lebaran yia, kawan 19!

Here's some pictures of us:


Last but not least, I have twitter! Thanks to her :). Do follow me, guys!
Just click right here!