Pilkada Jakarta. Linimasa media sosial semakin riuh. Namun, ada satu hal yang membuat hati sedikit lega di balik pekaknya suasana: tulisan berbalas tulisan. Seorang netizen mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu cagub lewat tulisannya (2-1-2017), kemudian direspons oleh netizen lain lewat tulisan (3-1-2017) pula. Tidak berhenti sampai di situ, netizen pertama meluncurkan tulisan keduanya (5-1-2017).
Saya tidak akan membahas isi tulisan-tulisan tersebut. Yang jelas, ini adalah sebuah kebiasaan literasi yang baik yang semoga terus tumbuh di Indonesia.
Kejadian ini mengingatkan saya dengan iklim serupa yang sudah masif terbangun di luar Indonesia. Ada sebuah mata kuliah wajib bernama understanding travel behaviour. Saya ingat betul kuliah itu dimulai dengan satu pertanyaan: why people travel? Tugas kuliah (coursework) pertama berupa esai 1.500 kata tentang travel as derived demand yang bobotnya 25% dari nilai total modul.
Sistem pendidikan di sana memaksa mahasiswa untuk membaca jurnal dan mengutip kembali data ilmiah yang disampaikan oleh penulis jurnal dengan kalimat sendiri (paraphrase). Lagipula, salin-tempel sangat tidak disarankan mengingat ada Turnitin yang mampu mengecek tingkat keaslian kata-kata yang dibuat.
Penjelasan umum travel as derived demand adalah orang bepergian hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka di tempat lain. Button (2010) menguatkan argumen ini lewat teori ekonomi bahwa konsumen bertindak berdasarkan keputusan rasional. Dalam hal ini, memaksimalkan kesejahteraan dapat diperoleh dengan meminimalkan waktu tempuh. Penjelasan Button tadi didukung oleh Fowkes (2010) dan Mackie (2001) yang menjelaskan bahwa waktu adalah komponen terbatas dan perlu dikuantifikasi dalam analisis skema pembiayaan infrastruktur transportasi lewat VTTS (value of travel time saving).
Mokhtarian (2001) punya kritik terhadap penjelasan di atas dan mengatakan "travel is not purely derived from demand". Dari survei yang ia lakukan untuk 1.900 sampel, lebih dari 75% sampel menyatakan mereka bepergian hanya untuk kesenangan dan dua pertiga sampel tidak setuju kalau mencapai tujuan adalah hal yang paling penting. Metz (2007) melihat ada ketidaksempurnaan metode penaksiran investasi transportasi (transport investment appraisal) ketika VTTS masuk di dalamnya.
Saya takjub sendiri mereka bisa berdebat secara sehat dalam ruang dan waktu yang berbeda. Kondisi beda pendapat namun tetap kepala dingin ini semoga juga bisa menjalar di Indonesia.
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Minggu, Januari 08, 2017
Tulisan Berbalas Tulisan
Label:
Indonesia,
Jakarta,
Kampus,
Kuliah,
Leeds,
Mahasiswa,
Pengalaman,
Sipil,
Transportasi,
UK
Jumat, September 12, 2014
The Acknowledgements
I would like to thank to my first and second supervisor,
Jeremy Shires and Daniel Johnson respectively, who have frequently spent their
time to give priceless guidance of supervision with regards to this
dissertation topic. Many thanks also to Munajat Tri Nugroho for his assistance teaching
the basic use of Biogeme.
I should also give thanks to all students of Institute for
Transport Studies, who have all shown outstanding transport passion across the
world combined with warm friendship, to all staff at Institute for Transport
Studies, who have all been more than helpful for students.
Massive thanks to Indonesia Endowment Fund for Education,
whose scholarship allow me to have focus of study without any financial
pressure.
Finally, thanks to my parents, Sri Nurhayanti and Suparyono
for their invaluable support and endless care.
Rabu, Desember 14, 2011
Mahasiswa
Nama Sondang mencuat seiring dengan tindakan bakar diri di depan Istana Negara yang harus ditebus dengan nyawanya sendiri.
Pertama kali mendengar berita ini, logika saya menyatakan kalau itu adalah tindakan bodoh. Dirinya ingin Indonesia lebih baik tapi keputusan yang dipilih justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Di sisi lain, kalbu saya mengatakan kalau itu adalah keputusan seorang Sondang yang sepatutnya kita hargai bersama dan tidak semestinya keluar judgement bodoh, tolol, atau goblok. Seperti biasa, logika dan kalbu jarang akur.
Secara normatif, kita ketahui bersama kalau setiap pilihan kata dan tindakan menimbulkan konsekuensi, kan?
Ternyata aksi yang dilakukan Sondang berdampak sistemik hingga terjadi suatu kejadian unik tadi sore (14 Desember 2011) di kampus saya, Institut Teknologi Bandung atau biasa dikenal dengan Kampus Ganesha. Malamnya langsung ada headline berita 'Tidak Mau Ikut Demo, Mahasiswa ITB Didemo' di media elektronik. Menarik sekali judulnya. Secara singkat, ratusan mahasiswa perguruan tinggi di Bandung mengadakan aksi solidaritas mengenang Sondang Hutagalung di Gerbang Ganesha lalu sempat terjadi kericuhan karena ITB tidak tergabung dalam aksi tersebut.
Saya sangat menyayangkan keluarnya kata-kata kotor dan tindakan pemberian celana dalam wanita kepada Presiden KM ITB. Simple, dengan predikat mahasiswa yang notabene adalah kaum intelek, kok melakukan hal seperti itu? Untung tidak ada pembakaran ban bekas di depan kampus.
Kampus Ganesha ini sangat kental dengan budaya diskusi. Harus selalu ada dasar untuk bertindak, apapun itu. Tidak heran kalau pembahasan latar belakang, tujuan, dan hal-hal lain yang mendasar bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Saya percaya kalau sang Presiden beserta jajarannya sudah mendiskusikan hal ini dengan matang sehingga terciptalah sebuah keputusan kalau ITB tidak ikut dalam aksi. Layaknya agama, haruskah sebuah keputusan dipaksakan?
Sebagai mahasiswa, kita mempunyai akses menyalurkan aspirasi rakyat ke pemerintah dengan dua hal: Ruang diskusi dan unjuk rasa atau demonstrasi. Demonstrasi adalah metode penyampaian aspirasi secara masif untuk mendapat perhatian publik dengan syarat setiap individu yang terlibat tahu dasar mengapa bertindak demikian. Artinya, demonstrasi adalah sebuah muara yang dihasilkan dari kajian atau analisis mendalam mengenai suatu hal. Dengan demikian, materi yang disampaikan dalam sebuah demonstrasi itu jelas, efektif, dan efisien. Tidak ada anarkisme atau perusakan lingkungan sekitar yang justru merugikan masyarakat. Akhir kata, mari menjadi mahasiswa yang cerdas, kritis, dan peka terhadap kehidupan sosial.
Saya mahasiswa ITB dan saya bangga.
When you can't speak that much, listen that much, act that much.
Pertama kali mendengar berita ini, logika saya menyatakan kalau itu adalah tindakan bodoh. Dirinya ingin Indonesia lebih baik tapi keputusan yang dipilih justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Di sisi lain, kalbu saya mengatakan kalau itu adalah keputusan seorang Sondang yang sepatutnya kita hargai bersama dan tidak semestinya keluar judgement bodoh, tolol, atau goblok. Seperti biasa, logika dan kalbu jarang akur.
Secara normatif, kita ketahui bersama kalau setiap pilihan kata dan tindakan menimbulkan konsekuensi, kan?
Ternyata aksi yang dilakukan Sondang berdampak sistemik hingga terjadi suatu kejadian unik tadi sore (14 Desember 2011) di kampus saya, Institut Teknologi Bandung atau biasa dikenal dengan Kampus Ganesha. Malamnya langsung ada headline berita 'Tidak Mau Ikut Demo, Mahasiswa ITB Didemo' di media elektronik. Menarik sekali judulnya. Secara singkat, ratusan mahasiswa perguruan tinggi di Bandung mengadakan aksi solidaritas mengenang Sondang Hutagalung di Gerbang Ganesha lalu sempat terjadi kericuhan karena ITB tidak tergabung dalam aksi tersebut.
Saya sangat menyayangkan keluarnya kata-kata kotor dan tindakan pemberian celana dalam wanita kepada Presiden KM ITB. Simple, dengan predikat mahasiswa yang notabene adalah kaum intelek, kok melakukan hal seperti itu? Untung tidak ada pembakaran ban bekas di depan kampus.
Kampus Ganesha ini sangat kental dengan budaya diskusi. Harus selalu ada dasar untuk bertindak, apapun itu. Tidak heran kalau pembahasan latar belakang, tujuan, dan hal-hal lain yang mendasar bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Saya percaya kalau sang Presiden beserta jajarannya sudah mendiskusikan hal ini dengan matang sehingga terciptalah sebuah keputusan kalau ITB tidak ikut dalam aksi. Layaknya agama, haruskah sebuah keputusan dipaksakan?
Sebagai mahasiswa, kita mempunyai akses menyalurkan aspirasi rakyat ke pemerintah dengan dua hal: Ruang diskusi dan unjuk rasa atau demonstrasi. Demonstrasi adalah metode penyampaian aspirasi secara masif untuk mendapat perhatian publik dengan syarat setiap individu yang terlibat tahu dasar mengapa bertindak demikian. Artinya, demonstrasi adalah sebuah muara yang dihasilkan dari kajian atau analisis mendalam mengenai suatu hal. Dengan demikian, materi yang disampaikan dalam sebuah demonstrasi itu jelas, efektif, dan efisien. Tidak ada anarkisme atau perusakan lingkungan sekitar yang justru merugikan masyarakat. Akhir kata, mari menjadi mahasiswa yang cerdas, kritis, dan peka terhadap kehidupan sosial.
Saya mahasiswa ITB dan saya bangga.
When you can't speak that much, listen that much, act that much.
Rabu, Desember 22, 2010
Aden Barber Shop
Perkenalkan! Temen gue yang satu ini namanya Aden Firdaus. Namanya sungguh surgawi, ya? Ngeri kali fotonya. Doi berasal dari SMA Negeri 9 Yogyakarta. Selain berkegiatan di HMS macem nge-danlap kaderisasi (ngeri), BPA, dan sebagainya, doi juga mempunyai keahlian merapikan rambut orang lain.Lihat saja!


Dalam tiga foto tersebut, Ghazi dengan ikhlas dan ridho rambutnya dirapikan oleh Bung Aden. Setelah Ghazi, sebenarnya giliran gue, cuman sayang sekali tidak ada yang mendokumentasikan. Haha.Biasanya tukang cukur rambut tuh tidak mengerti kata-kata "potong sedikit aja ya". Akan tetapi Aden sungguh mengerti gue. Potong sedikit berarti sedikit aja. Gokil loh dia mempunyai keterampilan yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Hasilnya memuaskan! Garansi!
Monggo dicoba.
All hail Aden!
Aden!
Minggu, Oktober 03, 2010
HMS
Malam itu. Sabtu, 2 Oktober 2010. Detik-detik pelantikan menjadi HMS 2009. Aku duduk beristirahat di dekat benteng ditemani Bow Sang Danlap. Kita ngobrol-ngobrol enteng. Akhirnya mereka akan menjadi bagian dari HMS.
Dengan mata tertutup slayer, Kuya-Kuyi memasuki area depan benteng. Sebelum SK pelantikan dibacakan, ada orasi dari Danlap Swasta: Bang Rizgan dan Bang Nando. Menurutku orasi mereka sangat luar biasa, sangat mengena. Sempurna sekali perpaduan pencahayaan dengan gaya khas Sang Danlap.
Bang Rizgan
Hari ini adalah hari jadi HMS! HMS tidak dinilai dari simbol dan sejarahnya! HMS ada di sini! (sambil menghentakkan tangan kanan ke dada sebelah kiri)
Bang Nando
Seharusnya kebersamaan tak diartikan sebagai proses yang prematur, yang tak berarah, yang tak memiliki konsistensi!
Seharusnya kebersamaan adalah nilai yang diilhami bersama, proses penyatuan hati yang tak berkesudahan, proses yang menjadi landasan keinginan yang sepatutnya diperjuangkan bersama!
Seharusnya kebersamaan adalah simbol pemersatu komunitas yang takkan mati bahkan jika mentari tak bersinar!
Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka seluruh anggota HMS adalah saudaraku!
Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku!
*
Kau harus merasakannya secara langsung jika ingin mendapat greget-nya.
Ayo tunjukkan kehangatan, keterbukaan, dan kedewasaan kepada mereka.
Tunjukkan bagaimana seorang kakak bersikap.
Selamat datang, adikku, HMS 2009.
Dengan mata tertutup slayer, Kuya-Kuyi memasuki area depan benteng. Sebelum SK pelantikan dibacakan, ada orasi dari Danlap Swasta: Bang Rizgan dan Bang Nando. Menurutku orasi mereka sangat luar biasa, sangat mengena. Sempurna sekali perpaduan pencahayaan dengan gaya khas Sang Danlap.
Bang Rizgan
Hari ini adalah hari jadi HMS! HMS tidak dinilai dari simbol dan sejarahnya! HMS ada di sini! (sambil menghentakkan tangan kanan ke dada sebelah kiri)
Bang Nando
Seharusnya kebersamaan tak diartikan sebagai proses yang prematur, yang tak berarah, yang tak memiliki konsistensi!
Seharusnya kebersamaan adalah nilai yang diilhami bersama, proses penyatuan hati yang tak berkesudahan, proses yang menjadi landasan keinginan yang sepatutnya diperjuangkan bersama!
Seharusnya kebersamaan adalah simbol pemersatu komunitas yang takkan mati bahkan jika mentari tak bersinar!
Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka seluruh anggota HMS adalah saudaraku!
Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku!
*
Kau harus merasakannya secara langsung jika ingin mendapat greget-nya.
Ayo tunjukkan kehangatan, keterbukaan, dan kedewasaan kepada mereka.
Tunjukkan bagaimana seorang kakak bersikap.
Selamat datang, adikku, HMS 2009.
Selasa, Agustus 17, 2010
Victory Lap
Pagi hari pada tanggal 16 Agustus 2010 Cucu tiba-tiba memberikan pernyataan padaku via Yahoo Messenger. "Gan, nanti jam 12 malam kita victory lap merayakan kemerdekaan Indonesia". Wah aku kaget bukan kepayang.
Victory lap itu semacam lari-lari kecil mengelilingi kampus yang biasa diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Victory lap pertama angkatan 2008 adalah beberapa hari setelah kami dilantik menjadi HMS. Waktu itu kami lakukan sore hari hingga menjelang maghrib.
Akhirnya aku memutuskan, masa bodo dengan pukul 12 tengah malam, ini acara setahun sekali, aku datang saja. Setelah menyelesaikan LPJ OHU, aku ke kampus bersama dengan Ghazi pukul setengah 12 malam. Sesampainya di himpunan kami santai-santai dulu, entah itu ngobrol atau main ping-pong.
Pukul 12 malam kami dibariskan dalam dua banjar. Dengan sepatu keds dan jaket himpunan yang melekat di badan, kami bersiap-siap untuk victory lap. Sebelumnya kami di-briefing untuk serius dalam melakukan hal ini. Kami diminta untuk membayangkan pejuang kemerdekaan melihat keadaan Indonesia yang sekarang.
Sigh, awalnya aku biasa saja. Barisan mulai berjalan. Bendera HMS dikibarkan di depan barisan oleh Afriansyah Putra dan Cucu memimpin menyanyikan lagu kebangsaan mulai dari 17 Agustus, Bangun Pemudi-Pemuda, Bendera Merah Putih, dan lain-lain.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Kami, pasukan hijau tua, menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, dengan semangat untuk lagu tertentu bahkan hingga urat di leher ini tampak ke permukaan. Saat itu sedikit hujan lalu aku melihat ke atas jalan CC. Seolah-olah pohon-pohon besar itu menyambut kami.
Perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Entah itu senang, sedih, atau terharu.
Suara kami tetap menggema di 4 Labtek lalu kami sampai di Plaza Widya. Pasukan hijau tua berbaris memanjang. Hari Triwibowo, sang komandan lapangan, berdiri menjulang tinggi untuk berorasi. Aku mendengarkan setiap perkataannya.
Selanjutnya pasukan hijau tua bergerak ke arah gerbang depan. Kami melewati bapak satpam dengan senyuman. Haha bagus sekali mereka juga menyambut senyum kami, bukan mengusir seperti K3L. Kami berbaris di depan Sang Saka Merah Putih. Mungkin dinginnya udara menyebabkan bendera itu malas untuk berkibar. Kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya!
Amri Sanusi, sang Kahim, memimpin hormat kepada Merah-Putih dengan suara lantangnya. Lagi-lagi perasaan ini tidak bisa dijelaskan. Pasukan hijau dimobilisasi kembali ke arah himpunan kami. Lalu kami berkumpul di selasar BSC A untuk diskusi mengenai kemerdekaan.
Simpel saja, apa yang telah kita perbuat untuk Indonesia?
Sebagai tambahan, sesuatu yang simpel itu tidak selamanya mudah.
Victory lap itu semacam lari-lari kecil mengelilingi kampus yang biasa diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Victory lap pertama angkatan 2008 adalah beberapa hari setelah kami dilantik menjadi HMS. Waktu itu kami lakukan sore hari hingga menjelang maghrib.
Akhirnya aku memutuskan, masa bodo dengan pukul 12 tengah malam, ini acara setahun sekali, aku datang saja. Setelah menyelesaikan LPJ OHU, aku ke kampus bersama dengan Ghazi pukul setengah 12 malam. Sesampainya di himpunan kami santai-santai dulu, entah itu ngobrol atau main ping-pong.
Pukul 12 malam kami dibariskan dalam dua banjar. Dengan sepatu keds dan jaket himpunan yang melekat di badan, kami bersiap-siap untuk victory lap. Sebelumnya kami di-briefing untuk serius dalam melakukan hal ini. Kami diminta untuk membayangkan pejuang kemerdekaan melihat keadaan Indonesia yang sekarang.
Sigh, awalnya aku biasa saja. Barisan mulai berjalan. Bendera HMS dikibarkan di depan barisan oleh Afriansyah Putra dan Cucu memimpin menyanyikan lagu kebangsaan mulai dari 17 Agustus, Bangun Pemudi-Pemuda, Bendera Merah Putih, dan lain-lain.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Kami, pasukan hijau tua, menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, dengan semangat untuk lagu tertentu bahkan hingga urat di leher ini tampak ke permukaan. Saat itu sedikit hujan lalu aku melihat ke atas jalan CC. Seolah-olah pohon-pohon besar itu menyambut kami.
Perasaan itu tidak bisa dijelaskan. Entah itu senang, sedih, atau terharu.
Suara kami tetap menggema di 4 Labtek lalu kami sampai di Plaza Widya. Pasukan hijau tua berbaris memanjang. Hari Triwibowo, sang komandan lapangan, berdiri menjulang tinggi untuk berorasi. Aku mendengarkan setiap perkataannya.
Selanjutnya pasukan hijau tua bergerak ke arah gerbang depan. Kami melewati bapak satpam dengan senyuman. Haha bagus sekali mereka juga menyambut senyum kami, bukan mengusir seperti K3L. Kami berbaris di depan Sang Saka Merah Putih. Mungkin dinginnya udara menyebabkan bendera itu malas untuk berkibar. Kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya!
Amri Sanusi, sang Kahim, memimpin hormat kepada Merah-Putih dengan suara lantangnya. Lagi-lagi perasaan ini tidak bisa dijelaskan. Pasukan hijau dimobilisasi kembali ke arah himpunan kami. Lalu kami berkumpul di selasar BSC A untuk diskusi mengenai kemerdekaan.
Simpel saja, apa yang telah kita perbuat untuk Indonesia?
Sebagai tambahan, sesuatu yang simpel itu tidak selamanya mudah.
Langganan:
Postingan (Atom)