Menunggu.
Jarang ada orang yang suka dengan kegiatan menunggu. Apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti. Terlebih lagi menunggu dengan sia-sia. Menunggu apapun atau siapapun itu butuh kesabaran. Tentunya harus dibarengi dengan usaha, ya. Hanya karena sebuah kegiatan bernama menunggu, banyak musisi di seluruh dunia menuangkannya dalam bentuk lagu. Saya punya dua contoh. Easy listening with fabulous lyrics. Yeah, check them out!
*
Endah N Rhesa - Waiting
I am not the only one who adore you anyway.
But someday you will know that I am here.
I don't care what people say about who you are and what you do.
And all I see that perfect lies in you.
*
Kings of Convenience - Waiting in Vain (Bob Marley Cover)
Beberapa minggu yang lalu pertama kali saya mendengar lagu ini. Malam itu sedang ngopi di Kopi Ireng bersama Rendy, Dikka, dan Mirza dan kami dinyanyikan beberapa buah lagu, salah satunya Waiting in Vain yang ternyata lagunya Om Bob Marley. Search di YouTube, dapet link yang Kings of Convenience. Putar sampai habis! Nagih!
Delicating! Erlend Øye is indescribably cool! Coolness overload!
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Minggu, Februari 26, 2012
Jumat, November 04, 2011
Kisah Yang Indah
Monita Angelica Maharani Tahalea
Legit! Saya sepakat dengan pendapat teman saya kalau legit adalah satu kata yang pas untuk mendeskripsikan suara indah Monita.
Vokal Monita yang khas menarik perhatian Indra Lesmana untuk memproduseri album perdananya yang berjudul "Dream, Hope & Faith" pada tahun 2010.
Jangan ragu-ragu klik tombol play di atas lalu dengarkan suaranya, dengan headset atau headphone lebih baik.

Seperti matahari
Semasa menyinari
Kelam berlalu terangi bahagia
Yang ku tunggu
Seperti kau dihati
Selama ku menanti
Tak ada lagi keraguan diri yang menguji
Walau hari tak selalu indah berseri
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Kau kan kembali membawa cahaya hidup ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Walau t'lah terpisah waktu
Kau kan mampu kembali dalam pelukku
Senyummu, setiamu jadikan kisah indahku
Kau yang selalu ku tunggu
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Legit euy!
Senin, April 12, 2010
Galang Rambu Anarki
galang rambu anarki anakku
lahir awal januari menjelang pemilu
galang rambu anarki dengarlah
terompet tahun baru menyambutmu
galang rambu anarki ingatlah
tangisan pertamamu ditandai bbm
membumbung (melambung) tinggi
maafkan kedua orangtuamu
kalau tak mampu beli susu
bbm naik tinggi
susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
mungkin bayi (anak kami) kurang gizi
galang rambu anarki dengarlah
terompet tahun baru menyambutmu
galang rambu anarki anakku
cepatlah besar matahariku
menangis yang keras, janganlah ragu
tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
doa kami di nadimu
cepatlah besar matahariku
menangis yang keras, janganlah ragu
hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
doa kami di nadimu
Iwan Fals
Ini pertama kalinya aku menuliskan lirik lagu dalam blog sendiri. Galang Rambu Anarki, sebuah karya yang brilian dari Iwan Fals. Lagu ini didedikasikan Iwan Fals untuk Almarhum anaknya, Galang Rambu Anarki. Ya, Galang Rambu Anarki adalah sebuah nama. Bukan 'rambu lalu-lintas' seperti yang aku pikir dahulu.
Lagu ini masuk ke dalam 150 lagu terbaik Indonesia versi Rolling Stones. Aku lupa peringkat ke berapa. Anda mendengar suara wanita dalam lagu ini? Ya, backing vocal lagu ini diisi oleh istri Iwan Fals sendiri. Sungguh paduan yang sempurna. Lagu ini menceritakan pesimisme dan optimisme kedua orang tua dalam membesarkan anaknya.
Pesimisme
Setiap orang tua pasti takut kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Curahan kasih sayang terkadang tidak sebanding dengan himpitan ekonomi yang melanda sebagian besar orang tua di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Orang tua takut tidak bisa membeli susu. Takut anaknya kurang gizi. Orang tua takut nanti anaknya tumbuh menjadi orang yang 'gak bener'. Segala ketakutan itu pasti dialami oleh setiap orang tua.
Optimisme
Di balik semua ketakutan itu, Iwan Fals mengajarkan agar tetap optimis menghadapi kerasnya dunia ini. Keras bukan kejam. "Cepatlah besar, matahariku" dan "Menangis yang keras janganlah ragu", kata orang tua kepada anaknya.
"Tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku"
"Hantamlah sombongnya dunia, buah hatiku"
Kedua kalimat itu dibisikkan kedua orang tua, langsung atau tidak langsung, kepada anak-anaknya.
Kedua kalimat itu merupakan bentuk optimisme orang tua dalam menghadapi dunia yang selalu berputar ini.
"Doa kami di nadimu"
Kalimat di atas adalah klimaks sekaligus penutup lagu ini. Betapa dekatnya doa kedua orang tua.
Sungguh indah.
lahir awal januari menjelang pemilu
galang rambu anarki dengarlah
terompet tahun baru menyambutmu
galang rambu anarki ingatlah
tangisan pertamamu ditandai bbm
membumbung (melambung) tinggi
maafkan kedua orangtuamu
kalau tak mampu beli susu
bbm naik tinggi
susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
mungkin bayi (anak kami) kurang gizi
galang rambu anarki dengarlah
terompet tahun baru menyambutmu
galang rambu anarki anakku
cepatlah besar matahariku
menangis yang keras, janganlah ragu
tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
doa kami di nadimu
cepatlah besar matahariku
menangis yang keras, janganlah ragu
hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
doa kami di nadimu
Iwan Fals
Ini pertama kalinya aku menuliskan lirik lagu dalam blog sendiri. Galang Rambu Anarki, sebuah karya yang brilian dari Iwan Fals. Lagu ini didedikasikan Iwan Fals untuk Almarhum anaknya, Galang Rambu Anarki. Ya, Galang Rambu Anarki adalah sebuah nama. Bukan 'rambu lalu-lintas' seperti yang aku pikir dahulu.
Lagu ini masuk ke dalam 150 lagu terbaik Indonesia versi Rolling Stones. Aku lupa peringkat ke berapa. Anda mendengar suara wanita dalam lagu ini? Ya, backing vocal lagu ini diisi oleh istri Iwan Fals sendiri. Sungguh paduan yang sempurna. Lagu ini menceritakan pesimisme dan optimisme kedua orang tua dalam membesarkan anaknya.
Pesimisme
Setiap orang tua pasti takut kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya. Curahan kasih sayang terkadang tidak sebanding dengan himpitan ekonomi yang melanda sebagian besar orang tua di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Orang tua takut tidak bisa membeli susu. Takut anaknya kurang gizi. Orang tua takut nanti anaknya tumbuh menjadi orang yang 'gak bener'. Segala ketakutan itu pasti dialami oleh setiap orang tua.
Optimisme
Di balik semua ketakutan itu, Iwan Fals mengajarkan agar tetap optimis menghadapi kerasnya dunia ini. Keras bukan kejam. "Cepatlah besar, matahariku" dan "Menangis yang keras janganlah ragu", kata orang tua kepada anaknya.
"Tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku"
"Hantamlah sombongnya dunia, buah hatiku"
Kedua kalimat itu dibisikkan kedua orang tua, langsung atau tidak langsung, kepada anak-anaknya.
Kedua kalimat itu merupakan bentuk optimisme orang tua dalam menghadapi dunia yang selalu berputar ini.
"Doa kami di nadimu"
Kalimat di atas adalah klimaks sekaligus penutup lagu ini. Betapa dekatnya doa kedua orang tua.
Sungguh indah.
Rabu, November 05, 2008
Numpang Lewat :p
Cuiy,
maaf yia kalo blog gue sekarang jarang di-update, jadi ngebusuk deh. Hee. Faktanya di kosan gue gak ada internet dan gue belom dikasih modem (kayak ai) yang tinggal colok lalu surfing sepuas hati dah...
Bukan cuman itu aja, materi TPB (Tahap Persiapan Bersama) ITB banyak, konsepnya lebih didalemin dari pelajaran SMA, kudu dingertiin laah, kinda busy here...
Gue dibatasi dengan hal itu...
Sekarang aja gue lagi di warnet, gak pewe, mending cepet, bau rokok pula. Wuekks...
Gue juga maunya ngebacot dengan cerita-cerita gue selama di Bandung, tapi belum memungkinkan...
Btw, gue lagi suka sama lagunya Ipang - Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi), coba elo dengerin deh. Menurut gue enak looh...
Nih penggalan liriknya:
melawan keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
takkan menyerah
untuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
Oke, logging out, cuiy...
Cao...
maaf yia kalo blog gue sekarang jarang di-update, jadi ngebusuk deh. Hee. Faktanya di kosan gue gak ada internet dan gue belom dikasih modem (kayak ai) yang tinggal colok lalu surfing sepuas hati dah...
Bukan cuman itu aja, materi TPB (Tahap Persiapan Bersama) ITB banyak, konsepnya lebih didalemin dari pelajaran SMA, kudu dingertiin laah, kinda busy here...
Gue dibatasi dengan hal itu...
Sekarang aja gue lagi di warnet, gak pewe, mending cepet, bau rokok pula. Wuekks...
Gue juga maunya ngebacot dengan cerita-cerita gue selama di Bandung, tapi belum memungkinkan...
Btw, gue lagi suka sama lagunya Ipang - Sahabat Kecil (OST Laskar Pelangi), coba elo dengerin deh. Menurut gue enak looh...
Nih penggalan liriknya:
melawan keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
takkan menyerah
untuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
Oke, logging out, cuiy...
Cao...
Langganan:
Postingan (Atom)