Bandung membentuk saya menjadi pribadi yang gemar bersepeda. Indekos di Tubagus Ismail dan kampus di Jalan Ganeca adalah rute yang kerap ditempuh sebagai rutinitas. Dago bagian atas hingga Lembang menambah orgasme bersepeda di kota itu. Lalu ada lagi tindakan konyol gowes Bandung – Jakarta yang dulu pernah saya jalani bersama dua sahabat. Kami tidak sebanding dengan Darren Alff atau Paimo, yang jelas, perjalanan Bandung – Jakarta kala itu cukup membuat dada kami menjadi busung dan layak diceritakan kepada anak dan cucu dengan penuh antusias.
Masa penuh kekonyolan itu telah usai. Sekarang saatnya menyambung hidup di ibukota.
Mari realistis, bersepeda rutin di Jakarta sama saja bunuh diri! Bukannya sehat didapat, malah sekarat. Kota ini dibanjiri sepeda motor berbahan bakar fosil yang tidak hanya merusak tubuh, tetapi juga perilaku (mayoritas) pengendaranya yang jauh dari kata beradab. Mengapa sepeda motor menjadi primadona? Ternyata warga Jakarta masih bisa berpikir jernih: sepeda motor adalah moda transportasi yang paling rasional. Ia menawarkan fleksibilitas dengan harga yang sangat terjangkau. Mobil lebih parah lagi, ruang jalan yang diambil oleh sebuah mobil lebih sering diisi hanya satu-dua orang. Pada saat yang bersamaan, pemerintah seakan kalah dengan mafia. Publik yang kena imbasnya.
Ah, semua orang tahu rumus itu. Maafkan jalan Jakarta!
Saya bermimpi sebuah Jakarta yang dirajai oleh pejalan kaki dan pesepeda. Sepertinya tidak mungkin, ya? Akan tetapi, Tony Fernandes memberikan petuah seperti ini: "Believe the unbelievable, dream the impossible". #azek
Dan itu semua dimulai dari diri sendiri. Saya memulai dengan sepeda listrik! Dengan sepeda listrik, penggunaan sepeda sebagai moda transportasi utama bisa menjadi sesuatu yang rasional. Berbicara realistis lagi, saya sadar sepeda listrik secara masif pun tidak akan menyelesaikan persoalan mobilitas secara menyeluruh. Ini hanyalah salah satu butir solusi.
Dari dulu saya ingin memiliki sepeda lipat! Oh, perkenalkan, namanya Vitalia, sebuah Dahon Vitesse D8 keluaran 2014. Sebenarnya Indonesia sudah memproduksi sepeda listrik secara massal, tetapi saya tidak suka dengan modelnya dan memutuskan membeli sepeda dengan model yang saya suka dan merakit sendiri kit elektriknya. Konsekuensinya adalah harus jeli agar setiap komponen kit elektrik bisa kompatibel dengan sepeda. Sayangnya, hanya sepeda yang saya beli di Indonesia, semua kit elektrik masih impor. Saya mengalami kesulitan menemukan komponen ini di dalam negeri. Bagi para pembaca yang tahu, tolong informasikan ke saya.
Komponen dasar sepeda listrik terdiri dari motor, kontroler, baterai, dan monitoring tool. Akan lebih baik pula untuk mengenal istilah-istilah dasar di bidang elektro. Senior saya, Dwinanto Setyo, telah menuliskan hal-hal dasar yang perlu diketahui di blognya. Cek di sini. Electricbike.com, ebikes.ca, dan Endless Sphere juga layak untuk dieksplorasi.
Sepeda saya mampu menjelajah hingga 60 kilometer dengan baterai terisi penuh. Kecepatan maksimalnya 43 kilometer per jam. Daya jelajah dan kecepatan seperti itu sudah lebih dari cukup untuk para komuter. Saya memilih sepeda lipat karena ide awalnya adalah agar bisa terintegrasi dengan moda lain seperti BRT, KRL, dsb. Akan tetapi, bobot total sekitar 24 kilogram bukan ide yang baik untuk diangkat secara terus-menerus.
Persoalan selanjutnya adalah fasilitas penunjang. Pertama, tempat parkir sepeda masih minim disediakan oleh pemerintah atau pengelola gedung sehingga harus berpikir ekstra untuk memarkirkan sepeda. Kedua adalah integrasi dengan moda lain seperti akes berupa ramp (bidang miring) atau lift di stasiun dan tempat khusus meletakkan sepeda selama berada di bus atau kereta.
Semoga kelak Jakarta dapat memanusiakan warganya dalam bermobilitas. Aamiin!
Tampilkan postingan dengan label Impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Impian. Tampilkan semua postingan
Senin, Desember 22, 2014
Jumat, September 06, 2013
Dua Tercoret
14 September 2013. 00:40 dini hari.
Tepat satu minggu lagi sebuah pesawat akan lepas landas dari Jakarta menuju Dubai. Transit selama dua jam, perjalanan dilanjutkan mengarah ke Manchester. Selanjutnya, sebuah gerbong kereta bergerak ke kota tujuan akhir: Leeds. Beberapa bilang Leeds adalah Yogyakarta-nya Inggris.
Senyum boleh saja terlukis di wajah karena dua impian akhirnya bisa segera tercoret dari daftar. Keduanya adalah master di bidang transportasi (MSc in Transport Planning) dan beasiswa untuk mendanai pendidikan tersebut. Padahal, bab baru kehidupan akan terbit. Cemas, takut, penuh semangat, penasaran, hingga berapi-api adalah yang dirasa. Semoga lukisan senyum di wajah itu tetap ada.
Kedua impian ini tercetus saat kuliah sarjana. Bagi sebagian orang, kuliah di luar negeri adalah biasa saja, bagi sebagian yang lain, ini adalah sesuatu yang besar, Bung. If your dream doesn't scare you, it isn't big enough. Parameter besar dan kecilnya impian pasti berbeda di setiap orang. Terserah pembaca memosisikan dirinya di mana. Yang jelas, definisikan impian setinggi-tingginya dan sedetail-detailnya.
Pada akhirnya, semua kembali lagi ke niat. Glenn bilang jadilah terang jangan di tempat yang terang, tetapi jadilah terang di tempat yang gelap. Indonesia adalah negara yang sedang berkembang dan percayalah masih banyak tempat gelapnya. Melalui bekal pendidikan dan proses pematangan diri, ada tempat gelap yang harus penulis terangi.
Dua tercoret, akan terbit daftar tunggu coret yang lain. Penulis menjamin itu.
Home is behind, world is ahead!
Tepat satu minggu lagi sebuah pesawat akan lepas landas dari Jakarta menuju Dubai. Transit selama dua jam, perjalanan dilanjutkan mengarah ke Manchester. Selanjutnya, sebuah gerbong kereta bergerak ke kota tujuan akhir: Leeds. Beberapa bilang Leeds adalah Yogyakarta-nya Inggris.
Senyum boleh saja terlukis di wajah karena dua impian akhirnya bisa segera tercoret dari daftar. Keduanya adalah master di bidang transportasi (MSc in Transport Planning) dan beasiswa untuk mendanai pendidikan tersebut. Padahal, bab baru kehidupan akan terbit. Cemas, takut, penuh semangat, penasaran, hingga berapi-api adalah yang dirasa. Semoga lukisan senyum di wajah itu tetap ada.
Kedua impian ini tercetus saat kuliah sarjana. Bagi sebagian orang, kuliah di luar negeri adalah biasa saja, bagi sebagian yang lain, ini adalah sesuatu yang besar, Bung. If your dream doesn't scare you, it isn't big enough. Parameter besar dan kecilnya impian pasti berbeda di setiap orang. Terserah pembaca memosisikan dirinya di mana. Yang jelas, definisikan impian setinggi-tingginya dan sedetail-detailnya.
Pada akhirnya, semua kembali lagi ke niat. Glenn bilang jadilah terang jangan di tempat yang terang, tetapi jadilah terang di tempat yang gelap. Indonesia adalah negara yang sedang berkembang dan percayalah masih banyak tempat gelapnya. Melalui bekal pendidikan dan proses pematangan diri, ada tempat gelap yang harus penulis terangi.
Dua tercoret, akan terbit daftar tunggu coret yang lain. Penulis menjamin itu.
Home is behind, world is ahead!
Langganan:
Postingan (Atom)
