Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juli 02, 2017

Lingkaran

Saya langsung mengganti saluran televisi yang menyiarkan acara motivasi. Saya tidak berpikir motivasi bisa didapatkan dengan menonton atau duduk dalam sebuah acara formal melalui wejangan seorang motivator. Sebaliknya, motivasi, inspirasi, hingga rasa syukur justru singgah secara natural dan organik melalui perbincangan santai di dalam lingkaran-lingkaran pergaulan kecil ketika tidak ada ekspektasi. Beberapa lingkaran patut dijaga.

Minggu, Januari 01, 2017

Memulai 2017

Penghujung 2016 ditutup dengan percakapan ringan dan sebuah pesan dari seorang sahabat.
"Semesta sudah terkondisikan dengan baik, Gan, tinggal bagaimana kita meresponnya saja."
Saatnya melepas kisah 2016, memulai kembali di 2017 dengan percaya sungguh-sungguh Tuhan memeluk mereka yang terus punya asa.

Minggu, Januari 17, 2016

Ikigai


Ikigai (生きがい), dengan menggunakan google translate, berarti tujuan dalam hidup (purpose in life). Secara lebih mendasar, ikigai bisa diartikan alasan untuk bangun bergairah di pagi hari. Menarik sekali melihat setiap irisannya.

Pasti sempat terpintas pertanyaan mengapa saya ada di bumi ini, terutama bagi mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi dan memulai karier. Istilah quarter-life crisis menjadi populer dan disebut-sebut sebagai frase yang paling pas untuk menggambarkan fenomena ini. Mungkin benar adanya manusia butuh menepi sesaat untuk merenungkan eksistensinya seperti yang dilakukan para pendahulu.

Terlepas dari itu, manusia tidak patut cemas, galau, atau sendu berkelamaan. Katakanlah istilah quarter-life mengasumsikan umur manusia hanya 100 tahun. Kenapa hanya? Karena 100 tahun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjalanan waktu geologi bumi (Binarandi, 2016).

YOLO, make it count.

Jumat, Januari 01, 2016

Energi

Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Setiap manusia sangat wajar punya ketertarikan terhadap suatu benda, orang, pemikiran, pementasan, hingga klub sepak bola. Sayangnya, ketertarikan dan cinta itu seringkali meletup tidak terkontrol sehingga menimbulkan fanatisme. Padahal, ketika rasa itu bisa dialirkan secara proporsional, justru terjalin mutualisme antara subjek dengan objek.

Sebagai contoh, saya mengagumi karya dan pemikiran Cressida Cowell. Dalam sebuah artikel, Cressida menekankan pentingnya mempertahankan buku dan berbagi cerita, terutama untuk anak-anak. Sebuah misi yang sederhana namun sangat berarti.

“Film and TV are great, and I watch loads with my children, but I want books to survive as a medium because they offer something completely different. Films tell you everything, whereas books fill in the gaps. I want to get a generation of children reading for pleasure like I did. We need to stop libraries closing, but children’s book sales are holding up so I hope we are winning the battle. We have only had TV in the last century, but for thousands of years we have sat down and told each other stories.”

Petualangan How To Train Your Dragon berakhir di buku ke-12. Saya berkicau di Twitter dengan tujuan mentransfer energi positif agar ia terus berkarya.

Contoh nyata lainnya adalah Learn To Fly! Jika saya adalah salah seorang personel Foo Fighters, kemungkinan besar saya akan menangis terharu melihat video ini.



*

Suntikkan energi positif ke orang-orang yang kita kasihi atau hargai. Sebaliknya, ketika kita menerima suntikan itu, balas dengan dekapan yang erat. Saya banyak belajar dari pengalaman ini. Tak perlu takut kehabisan amunisi karena kita adalah bagian dari sebuah sistem yang kekal di semesta.

Minggu, Desember 06, 2015

Pot, Sebuah Batas

Entah apa nama tanaman di atas, yang jelas, ada dua buah pot berisikan tanaman tersebut di halaman atas rumah. Keterbatasan lahan membuat penghijauan menggunakan media tanah di dalam pot menjadi solusi alternatif bagi rumah di kawasan padat penduduk.

Semua tanaman rutin disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Ia tumbuh ke atas dan ke samping. Batang utama tumbuh ke atas dan selang beberapa waktu tumbuh pucuk yang siap menjadi cabang yang berdaun ke samping.

Ternyata, tanaman yang sama sering ditemukan di sudut-sudut ibukota dengan versi yang jauh lebih besar. Foto di atas adalah jenis tanaman yang sama seperti foto pertama dan diambil saat hari bebas kendaraan bermotor. Apa perbedaannya?

Oh jelas, tanaman pada foto kedua memiliki batang yang lebih kokoh dan daun yang lebih rimbun. Di dalam tanah, tidak terlihat, terdapat akar yang lebih masif dan kuat. Mengapa bisa? Karena pot, sebuah batas.

Kasus ini bisa menjadi berbagai analogi dalam kehidupan. Intinya, agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas (lebih rimbun), batang harus kokoh dengan pondasi akar yang kuat.

Poin yang paling penting, pot itu adalah sebuah batas, sebuah kekangan. Lepaskan batas karena potensi manusia lebih daripada apa yang sekedar dipikirkan. Ia tidak terbatas.

Kamis, Agustus 15, 2013

Nrimo

Franz Magnis Suseno atau biasa dikenal Romo Magnis sempat memberikan kuliah umum filsafat etika pada bulan Februari lalu. Sebagai orang teknik yang awam dengan dunia filsafat, saya masa bodo dan datang saja karena sepertinya menarik. Lagipula kuliah bersifat gratis, hanya perlu mendaftar. Hasilnya? Menurut saya, seorang filsuf memiliki kemampuan melihat sebuah realita secara luas lalu menerjemahkannya dalam bentuk ilmu. Tentunya masih banyak istilah asing yang tidak familiar di telinga. Tak apa, ada kok yang tercantol di otak. Haha.

Salah satu mata kuliah bertajuk etika Jawa.

Etika Jawa identik dengan etika keselarasan. Keselarasan dengan masyarakat, alam, dan alam gaib. Keselarasan ini diwujudkan dengan menghindari konflik, menghormati orang lain sesuai struktur hirarki masyarakat, dan menghindar dari emosi yang berlebihan. Benar adanya semua itu tercermin dari mayoritas orang Jawa.

Salah satu wujud nyata keselarasan adalah konsep Lingga dan Yoni yang ada di Monas dan batu di Babakan Siliwangi (Bandung). Lingga sebagai simbol laki-laki, sedangkan Yoni adalah metafor dari perempuan. Ketika keduanya disatukan menjadi simbol keselarasan atau keharmonisan.

Manusia Jawa dianjurkan belajar sikap nrimo (menerima), ikhlas, dan legowo (merelakan). Dalam tulisan ini, saya ingin menekankan pentingnya nrimo. Konsep dasar nrimo ternyata tidak serta-merta menerima apa adanya yang berlanjut pada kepasrahan begitu saja. Akan tetapi, lebih dari itu, nrimo adalah kekuatan dan ketegaran untuk memiliki kepantulan dan bangkit dari keterpurukan. #okesip

Easier said than done.

Menurut Teori Gandrie, hal tersulit setelah konsistensi adalah nrimo. Alam dunia ini begitu misterius dan Tuhan menciptakan saya dan kamu yang sedang membaca tulisan ini pasti bukan tanpa alasan. Waktu terus berputar tanpa bisa menawar. Sejatinya itu menjadi pertanyaan ke diri sendiri setiap individu hingga akhir hayatnya.

"Syukur, Aku tambah nikmatmu. Kufur, siksa-Ku amat pedih."