Tampilkan postingan dengan label Harapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harapan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 01, 2017

Memulai 2017

Penghujung 2016 ditutup dengan percakapan ringan dan sebuah pesan dari seorang sahabat.
"Semesta sudah terkondisikan dengan baik, Gan, tinggal bagaimana kita meresponnya saja."
Saatnya melepas kisah 2016, memulai kembali di 2017 dengan percaya sungguh-sungguh Tuhan memeluk mereka yang terus punya asa.

Kamis, Maret 31, 2016

Mendekatkan Kota

Cuitan di atas sangat menyentil dan enggan lepas dari dalam pikiran walaupun objek yang dimaksud bukanlah saya. Jika asumsi saya tidak salah, maka saya memiliki kesamaan dengan walikota tersebut: bersepeda (listrik) ke tempat kerja.

Faktanya, jarak dari rumah saya ke kantor sekitar 12 kilometer sekali jalan. Sebuah jarak yang cukup menantang mengingat jalan di Jakarta yang tidak ramah buat para pesepeda. Sedangkan Cigadung - Merdeka di Bandung juga cukup menantang karena kontur yang tidak datar seperti Jakarta. Sepeda (listrik) menjadi salah satu pilihan logis untuk dua kasus di atas.

Waktu tempuh saya hanya 35-40 menit sekali jalan tanpa harus menjadi cendol di dalam angkutan umum. Sebuah kemewahan di kota besar ini.

Masalahnya, baru saya, Pak Walikota, dan sebagian kecil warga yang punya pilihan itu. Mayoritas warga tinggal jauh dari tempat kerja. Mendekatkan kota lewat tata ruang, perpajakan, dan sistem angkutan umum yang baik merupakan solusi jitu yang mudah diucapkan tapi butuh perjuangan untuk dieksekusi. Sekarang saya belum bisa berbuat banyak untuk mendekatkan kota ini. Lekas!

Catatan lain:
Linimasa Twitter masih menarik untuk dipantau. Anda mengikuti akun-akun yang keliru ketika Twitter sudah lagi tak menarik.

Senin, Juli 22, 2013

Abnormal

Negeri ini abnormal, tidak bisa diselesaikan secara normal.

Kalimat di atas mengawali sebuah sesi bertajuk "Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Mendatang" oleh Imam Budidarmawan Prasodjo. Judulnya berat, ya? Pak Imam ini adalah seorang sosiolog sekaligus dosen tetap FISIP UI. Saya sempat melihat beliau beberapa kali tampil di layar kaca dan  saya beruntung memiliki kesempatan mendengarkan pandangannya secara langsung.

Dua kata yang perlu digarisbawahi adalah kapasitas dan karakter. Kapasitas adalah kemampuan membaca masalah, sedangkan karakter berujung pada penentuan tindakan. Pak Imam meyakini bahwa para pemangku jabatan sudah memiliki kapasitas yang mumpuni. Akan tetapi, nol karakter. Ini yang membuat masalah tidak selesai. Keterjebakan di dalam kerusakan sistemik tidak bisa dijadikan kambing hitam banyaknya tindak pidana dan penyelewengan kekuasaan. Semua berakar dari pendidikan. Pendidikan karakter. Sekarang pertanyaannya, bagaimana mencetak manusia Indonesia yang berkarakter? Jujur saya belum merumuskan metodenya secara menyeluruh.

Saya selalu sadar, niat baik saja tidak cukup.
Harus urakan. Harus abnormal.

Rabu, Mei 01, 2013

Umar

Alkisah seorang Umar bin Khattab adalah pemimpin kaum muslim kala itu. Tak tanggung-tanggung seorang Umar sering terjun langsung ke permukiman warga kota. Blusukan mungkin namanya sekarang.

Suatu malam Umar menyamar menjadi warga biasa. Berbalut jubah hitam yang menutupi hampir seluruh badan dan wajahnya, ia berkeliling sendiri ke setiap pelosok negeri yang sedang ia pimpin. Tibalah di sebuah pondok kecil dan kumuh, Umar mengintip dan menguping lewat jendela. Alangkah terkejut dirinya mendapati seorang ibu yang sedang memasak batu. Anak-anaknya merengek kelaparan minta diberi makan. Tak ada bahan makanan, sang ibu berpura-pura memasak sambil menenangkan anak-anaknya. Pada akhirnya mereka letih karena menangis lalu terlelap dengan sendirinya.

Tertegun Umar menyaksikan kondisi rakyatnya dengan mata kepalanya sendiri. Umar langsung berlari pulang ke istana selepas beresnya peristiwa yang memilukan hatinya. Dengan otot tangannya sendiri, dia memikul bahan makanan di atas pundaknya dan bersegera ke lokasi kembali. Sesampainya di sana, Umar memberikan sekarung bahan makanan kepada sang ibu dengan ikhlas.

*

Aku merindukan seorang pemimpin yang terjun langsung merasakan kondisi rakyatnya tanpa kawalan voorijder yang angkuh, sirene yang memekakkan telinga, bodyguard yang awas, atau kilatan lampu flash media yang memusingkan mata. Akankah ada? Aku sangat berharap akan ada suatu saat nanti.

Saat pengharapan itu terasa berada di titik nadir, ada baiknya aku, kamu, dan semua yang membaca tulisan ini memproyeksikan diri layaknya Umar ketika menjadi khalifah nanti.

Senin, September 17, 2012

Sambung Asamu

"To endeavor means trying to do something even when you know you might be beaten before you even start."
Quoted from How to Train Your Dragon Book 9: How to Steal a Dragon's Sword. Just for your information, Hiccup named his sword Endeavor.

Ini ada sebuah musik karya anak bangsa yang asik dan semoga memberikan suntikan semangat kepada para pembaca. E.F.A (Everyone For Ambon) Project - Harapan. Setelah endeavor secara maksimal, yakinlah selalu ada harapan, Sob.



Saat putus asa lemah tak berdaya, ingat penciptamu!
Apapun itu, jangan menyerah!
Sambung asamu!

Jumat, Agustus 17, 2012

Sustainable Transportation

When talking about sustainability, it means what we are currently doing and developing in the present must not sacrifice the next generation of human being in the future. Transport is crucial to development. Basically, people move to fulfill their needs. In order to move, access is needed. Without access to places where people can meet their needs, the quality of life degenerates. Inappropriately designed transport strategies and programs can result in the poor environment condition, lack of economy profit, and exceed the capacity of public finances.

In order to be effective, transport policy must satisfy three main requirements. First, it must ensure that a continuing capability exists to support an improved material standard of living. This corresponds to the concept of economic and financial sustainability. Second, it must generate the greatest possible movement improvement in the general quality of life, not merely in increase in traded goods. This relates to the concept of environmental and ecological sustainability. Third, the benefits that transport produces must be shared equitably by all sections of the community. This we term social sustainability.

The rapid growth cities in developing countries has seriously compromised existing transportation systems and significantly increased the challenge of creating future transportation system. It is indeed in developing countries that the greatest growth in private motorized vehicles has been seen in the past few years and is expected in the future, primarily in urban areas. In order to reach sustainable transportation, developing countries must create a rapid, affordable, low-cost construction, and environmental-friendly transportation system in the downtown which is integrated with the suburbs. We need to dare to create transport system which giving priority to the needs of the poor majority rather than the automobile owning minority.

Show your guts. Yes, we have to dare.

Kamis, Juni 21, 2012

Secarik Asa

Gerbang menuju kehidupan dunia yang sebenarnya semakin dekat untuk saya lewati. Perlahan-lahan ketergantungan dengan orang tua dari segi materi mau tidak mau harus segera diakhiri. Titel mahasiswa itu teramat nikmat sehingga acap kali mendapatkan privilege atau hak istimewa. Sebut saja tiket sebuah pertunjukan yang biasanya terbagi menjadi dua: umum dan mahasiswa/pelajar. Contoh lain adalah tarif angkutan kota, pelayanan kesehatan di sebuah klinik, hingga tiket pesawat sebuah maskapai penerbangan. Dengan bukti fisik berupa KTM (Kartu Tanda Mahasiswa), sudah dipastikan potongan harga didapatkan. Bahkan di Singapura, perangkat lunak legal dijual dengan harga yang sangat miring untuk mahasiswa. Oh, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Haha.

Saya jadi ingat sebuah materi PROKM (Pengenalan Ruang dan Orientasi Keluarga Mahasiswa) tentang peran, fungsi, dan posisi mahasiswa. Ulasannya bisa dibaca di sini saja, ya. Dulu, mau tidak mau saya membaca dan mencoba untuk mengerti materi itu karena memang saya ingin menjadi seorang kakak taplok (tata tertib kelompok) yang baik. Haha.

Kata seorang teman saya, kelebihan mahasiswa yang utama adalah independensi. Ya, mahasiswa tidak terikat dan memihak partai atau ormas yang berjuang untuk kepentingan golongan tertentu saja. Makanya, mahasiswa ini bisa terjun tanpa kesulitan ke masyarakat dan menerobos dengan mudah ke sektor pemerintahan. Idealisme mahasiswa itu sangat tinggi. Tidak heran jika mahasiswa bisa berkata lantang nan berani dalam menghadapi persoalan bangsa yang sudah dalam kondisi kronis.

Pertanyaannya, bagaimana mempertahankan idealisme itu?

Saya diajarkan untuk bertindak berdasarkan kebenaran ilmiah. Secara umum, kondisi mahasiswa sangat ideal, termasuk saya. Ingat, secara umum, tolong garis bawahi itu. Lihat saja segala privilege dan sokongan dana dari orang tua yang terus mengalir selama titel mahasiswa masih melekat di badan. Mahasiswa belum memikirkan urusan perut. Benar juga, pengaruh hal ini sangat besar terhadap independensi mahasiswa.

Setelah titel mahasiswa itu lepas, dunia yang congkak ini harus ditinju seperti yang dikatakan oleh lirik 'Galang Rambu Anarki' yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Orang tua mulai memasuki usia senja, masa pensiun segera tiba, dan suatu saat akan sirna. Urusan perut tidak lagi ditanggung mereka.

Nah, kata teman saya lagi, mari kita tengok sebuah teori yang dibuat oleh Abraham Maslow. Teori ini lebih dikenal dengan nama Segitiga Maslow yang mendefinisikan hirarki kebutuhan manusia. Bisa dilihat di sini. Teman saya yang lain melakukan sebuah simplifikasi dengan menggeneralisasi konten segitiga itu menjadi dua: jasmani di bawah dan rohani di atas. Boleh, boleh. Intinya, Maslow menjelaskan tahapan yang ditempuh oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pastinya, bertahan hidup atau katakanlah urusan perut adalah yang pertama.

Logika saya mengatakan hal itu adalah benar. Artinya, bagaimana bisa saya berbuat dan bermanfaat untuk orang lain apabila kebutuhan hidup utama saya saja belum terpenuhi? Kata teman saya lagi, track record atau sejarah mengatakan bahwa sebagian besar tokoh yang berperan besar untuk Indonesia berasal dari kaum bangsawan yang urusan perutnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Soekarno dan Kartini misalnya. Mereka sudah di tahap paling atas: aktualisasi diri.

Berdasarkan hal tersebut, saya bertekad untuk memperkaya diri saya dari segi materi, secara halal tentunya. Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya agar kaya, kan? Selain kaya, beliau sederhana. Subhanallah. Barulah saya bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.

Saya senantiasa berdoa agar tidak menelan ludah sendiri untuk kasus ini. Satu hal lagi yang saya percaya untuk mempertahankan idealisme itu adalah energi positif dari sekeliling. Usahakan berada di dalam lingkungan yang dipenuhi oleh energi positif. Semoga tetap berada di jalan yang lurus dan penuh berkah. Aamiin!

Selasa, Maret 27, 2012

Pengurangan Subsidi BBM


Saya masih belum bisa mengambil sikap terkait pengurangan subsidi BBM.

Banyak sektor yang harus ditinjau mulai dari ekonomi, perminyakan dunia, perminyakan nasional, energi, sosial, dan lain-lain. Saya tidak mempunyai kapabilitas yang handal untuk menjelaskan sektor-sektor yang telah saya sebutkan. Di sisi lain, saya tetap berusaha memantau perkembangan berita ini lewat media cetak maupun elektronik. Sayangnya, sulit rasanya menemukan informasi yang menjelaskan kasus ini secara sistematis. Kebanyakan informasi justru tidak objektif dan mengandung bumbu tambahan. Saya tidak mau disetir oleh media.

Nantinya, saya berharap bisa berkesimpulan sendiri. Sendiri, tidak ikut-ikutan.

Ada pihak yang berpendapat bahwa pengurangan subsidi BBM bisa menyelamatkan APBN negara hingga puluhan trilyun rupiah sehingga bisa dialokasikan untuk modal lain. Di sisi yang berseberangan, ada yang berpendapat dengan perhitungan bahwa itu semua adalah kebohongan yang dilakukan pemerintah untuk memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, bukan menambal kebolongan. Rakyat Indonesia, termasuk saya, dibuat pusing.

Peningkatan harga BBM secara langsung berdampak pada peningkatan harga barang. Hal ini logis karena ada biaya assembly dan distribution dalam proses pembuatan sebuah barang. Ditambah lagi dengan peningkatan tarif angkutan umum karena 60-70% dari total BOK (biaya operasi kendaraan) adalah konsumsi bahan bakar. Biaya transportasi di negara berkembang adalah 30-200% dari biaya total. Sebagai tambahan, negara kepulauan seperti Indonesia memiliki tantangan besar di bidang transportasi karena terjadi transit cost (penambahan biaya) saat perpindahan moda di terminal (misal bandara dan pelabuhan). Jadi, jangan heran jika harga segelas plastik air mineral di tanah Papua adalah lima ribu rupiah. Efisiensi di terminal; itu yang dibutuhkan di Indonesia.

Sekarang saya membayangkan pengurangan subsidi BBM itu terjadi. Artinya, terjadi peningkatan harga di sana-sini. Artinya, pengeluaran masyarakat semakin besar. Artinya, pemerintah punya trilyunan rupiah untuk sektor lain. Lantas, apakah kesejahteraan rakyat terakselerasi? Belum tentu. Apakah terbangun infrastruktur dan sistem logistik sebagai prasarana mobilitas dan penumbuh perekonomian? Tidak pasti. Apa jaminan pemerintah? Tidak ada.

Saya jengah. Masyarakat lelah. Lihatlah media sekarang, isinya korupsi yang berkepanjangan di jajaran tinggi pemerintahan. Dengan mindset kekuasaan (bukan pembenahan), tikus-tikus busuk itu dengan bebas meraup uang rakyat sehingga APBN jebol perlahan-lahan namun pasti. Skenario bunglon terjadi; manis saat kampanye lalu jahanam saat berkuasa. Belum lagi law enforcement yang masih lemah di Indonesia. Di Arab, koruptor dipotong tangannya. Di Cina, koruptor dipenggal kepalanya. Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanannya. Suap-menyuap dengan lembaga yudikatif sudah biasa.

*

The concept of demand management. Sebuah konsep makro yang tidak lagi berkiblat ke prinsip predict and provide, tetapi ke prinsip predict and prevent. Artinya, penekanan jumlah permintaan dilakukan secara masif yang harus diiringi dengan pengembangan keberpihakan angkutan publik. Penekanan jumlah kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan perbaikan pelayanan transportasi publik. Akar persoalan membengkaknya subsidi BBM terletak di sisi permintaan, yakni konsumsi secara besar-besaran dari kendaraan pribadi. Miris sekali ketika ada Alphard yang mengantri premium di SPBU.

Agar masyarakat mau beralih moda, angkutan umum harus memiliki asas transportasi: andal, aman, nyaman, efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Angkutan publik berhak menikmati BBM yang bersubsidi karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Selama ini subsidi angkutan umum hanya 3% tapi 90% lebih untuk kendaraan pribadi. Selain itu, konversi BBM ke BBG masih belum memiliki taring. Di seluruh Indonesia baru ada 20 stasiun pengisi bahan bakar gas. Delapan di Jakarta, hanya empat yang beroperasi. Banyak hal memang yang harus dipertimbangkan seperti converter-kit atau pengalihan produksi secara keseluruhan kendaraan berbahan bakar gas. Padahal harga satu liter BBG lebih murah daripada satu liter premium, yakni Rp 3.100,00 per liter.

*

Other resources. Alternative energy.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (ratusan ribu kilometer), namun potensinya belum dimaksimalkan. Brazil memiliki Pantai Copacabana yang hanya memiliki panjang tujuh kilometer tapi mampu menyumbang 20% dari total APBN Brazil. Pemanfaatan pasang-surut untuk menggerakkan turbin hidro di sepanjang daerah pesisir. Indonesia memiliki 40% dari total energi panas bumi di dunia karena terdapat barisan gunung berapi aktif, namun baru termanfaatkan 4% dari total potensi. Energi matahari! Energi angin! Sejak tahun 2006, pemerintah sudah merencanakan infrastruktur untuk energi terbarukan hingga tahun 2025. Saya yakin konsepnya sudah ada, tetapi dibutuhkan komitmen dan ketegasan secara menyeluruh. Dan tidak korupsi.

Indonesia, harapan itu masih ada.
Hiduplah Indonesia Raya!

Sabtu, Oktober 01, 2011

Rumah Masa Depan

Bumi berputar, bumi makin sesak.

Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?

Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.

Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.

Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?

Aku takut namun mari bermimpi.

Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.

Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.

Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.

Lantai dua.

Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.

Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.

Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!

Seperti apa rumah masa depan Anda?

Senin, April 21, 2008

21 April 2008, Ha Min Satu

Ha min 1? Apaan? Mungkin udah gak asing lagi bagi anak" klas XII se- Indonesia. Yup, UN alias Ujian Nasional udah di depan mata!

Tiga hari mendatang bakal nentuin nilai gw di ijazah SMA, dan smua org pasti berharap 2 kata di ijazah, yakni "TIDAK LULUS" bakal dicoret. Semua org berharap lulus, dude! Tapi banyak cara yang dilakukan buat dapet tuh kelulusan. Mulai dari yang kerja keras dari dulu, sampe yang cuman ngarepin bocoran n contekan. Well, Life is choice yo. Tinggal milih mw yg mana. Tp jgn lupa, tiap pilihan punya konsekuensi...

Gw cuman berharap dimudahkan pas ngrjain n mendapat nilai yang terbaik (bukan berarti yang teringgi). Gw yakin, brapa pun nilai gw nanti, itu PASTI yg terbaik buat gw...
May Allah bless you all...
Amin...

Btw skrg tanggal 21 April, udah 20 hari setelah ulang tahun gw (lalalalalaaah). Hee. Nggak, mxut gw, skrg Hari Kartini yo. Gw mw nyanyi yia... Dengerin yiak...

Ibu kita Kartini putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Wahai Ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Well, gmana lagu gue? Bagus kan? (Bego lu, Gan...) Yaa sebenarny gw sendiri msh ndak ngerti tentang emansipasi. Beneran deh, pengertiannya aj gw ndak tau opo. Adooh. Walopun gak gtu ngerti, nyanyian tadi gw tujukan kpd semua kaum hawa di Indonesia. Hahahaaa...

Narsis bentar ahh...

Heee...

Guess that's all folks for today...
Si yaa, pals...!!!