Sabtu, Desember 18, 2010

Parkir di ITB

Jumat, 17 Desember 2010 sekitar pukul 7 malam.

Aku, Andi, Ghazi, dan Rendy akan makan di Balubur. Dari sekre HMS, kami berjalan melewati salah satu lahan parkir di ITB. Karena berada dekat area sipil, lahan tersebut sering dinamakan parkir sipil. Melewati gerbang parkir, kami bertegur sapa hangat dengan Aa' parkir. Terlebih lagi Andi yang memang sudah sangat akrab dengan mereka.

Lalu Andi berkata: "Jam 8 malem udah bakal dipecat mereka. Kasihan ya, Boi".

Kami makan ayam bakar bumbu Padang di Talago Biru. Selepas dari sana, kami melewati gerbang sipil lagi. Waktu menunjukkan pukul 19.30. Terlihat beberapa Aa' parkir sedang duduk di selasar sedang berdiskusi. Kami menghampiri. Andi dengan santainya bercengkrama dengan mereka. Aku lihat wajah mereka. Senyum mereka lebar seperti biasanya tapi aku yakin di dalam hati sedang berkecamuk.

"Yaa kalo emang ini yang terbaik, mau gimana lagi, kami kan ngikut sama yang di atas. Saya minta maaf ya, Dek, seumpama pernah berbuat salah", ucap Aa'. Kalau tidak salah ada empat Aa' di sana, kami berjabat tangan. Kupegang erat tangan Aa' lalu kulihat wajahnya serta kuucapkan agar mereka tetap semangat.

Aku bergeming.

(Dulu) aku juga seorang pengendara sepeda motor. Setiap hari memarkir sepeda motor di parkir sipil. Setiap hari kulihat wajah-wajah ramah mereka. Namun takdir berkata lain, pembuat kebijakan di ITB menetapkan ISS Parking Management sebagai pengelola parkir.

Aku: Menurut lo gimana, Ren?
Rendy: Gue yakin bapak-bapak yang ada di atas sana sebenarnya juga berat mengambil keputusan ini. Ambil positifnya, ingin diciptakan sebuah sistem parkir yang teratur di ITB. Salah kita juga sih, Gan. Contohnya sih parkir vallet, itu sebenarnya gak boleh, terus kongkalikong dengan Aa' bawa kendaraan pribadi masuk kampus.

Kenyataannya adalah luas lahan parkir tetap tapi pertumbuhan mahasiswa yang membawa kendaraan bermotor cenderung naik. ITB itu dikelilingi oleh Jalan Ganeca, Tamansari, dan Dayang Sumbi. Orang tua mahasiswa ITB pada umumnya adalah masyarakat golongan menengah ke atas yang mampu memberikan sebuah mobil pribadi kepada anaknya. Hal ini tercermin dari besarnya uang pangkal yang bisa menembus ratusan juta rupiah.


Tak heran jika jalan di sekitar ITB malah dijadikan lahan parkir. Menurutku itu penyalahgunaan lahan jalan ditambah lagi mengurangi keindahan. Solusi dari Sarpras ITB adalah memaksimalkan penggunaan terowongan. Mahasiswa parkir di Saraga lalu ke kampus melewati terowongan tersebut. Cara preventifnya adalah dengan menggunakan angkutan kota atau sepeda. Wah, kalau berbicara mengenai angkutan kota, bahasan akan lebih panjang. Haha.


Sistem berganti tapi yang membuatku heran kenapa Aa' parkir juga harus diganti?
Yuk kita ambil sisi positif dari setiap kebijakan.

Aku tak akan lupa wajah-wajah kalian
Aku tak akan lupa gelak tawa kalian

-Teruntuk Aa' parkir

Sumber 1
Sumber 2

Rabu, Desember 08, 2010

(Sedikit) Tampilan Baru

Ada dua perubahan tampilan dalam blog ini. Latar dan judul blog.

Latar
Entah mengapa ada tampilan yang mengganggu pada latar sebelumnya. "Tinypic, this image bla bla bla". Kira-kira seperti itu tulisan si pengganggu mata. Tidak mau ambil pusing, aku mengambil simple template yang sudah disediakan oleh blogger. Gak ngerti JavaScript, HTML, dan teman-temannya, euy! Haha. Warna favoritku adalah merah tapi kupilih warna cokelat. Kenapa cokelat? Tidak tahu, suka saja, seperti menenangkan.

Judul
Tadinya judul blog ini adalah "The Red Squad". Sebenarnya itu insidental. Di awal kelahiran blog ini, aku memasang foto tim sepak bola SMA kelasku sebagai latar judul blog. Kebetulan warna baju bolanya adalah merah. Jadilah "The Red Squad". Sekarang blog ini bernama "Eirdnag Nahdamar", namaku sendiri jika dibaca dari sisi kanan. Random memang.

Tampilan tidak terlalu penting. Isi jauh lebih penting, kan? Hehe.
Pernah mendengar pepatah jangan menilai buku dari sampulnya, eh?

Tetap menulis, tumpahkan isi pikiran dalam sebuah media.

Sabtu, November 27, 2010

Perpisahan dan Kebersamaan


Saat itu akan kuliah tapi aku duduk santai dulu di depan sekre HMS sambil menyeruput susu putih hangat buatan Entang. HMS langganan Koran Kompas, lumayan lah, gratisan sekaligus menambah wawasan dan mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana. Bolak-balik halaman, mataku tertuju pada sebuah artikel karangan Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog.

Membentuk relasi yang bertahan lama merupakan hal yang sulit karena menuntut kapasitas untuk menjaga keseimbangan antara penghayatan personal sebagai 'aku' dan penghayatan perasaan kebersamaan pasangan sebagai 'kami'. Tarikan kedua arah 'keakuan-kekamian' tentu saja sangat kuat.

Intro-nya seperti di atas. Aku langsung tertarik dan terus membaca. Cakupan bahasan artikel ini adalah ikatan perkawinan. Sepertinya terlalu jauh untuk membicarakan pernikahan/perkawinan untuk seusiaku. Makanya, aku akan mencoba mengutarakannya sesuai dengan pikiran remaja-remaja labil dan galau zaman sekarang, setidaknya menurutku. Haha.

Pada satu sisi kita ingin menjadi individu yang merdeka, bebas, berdiri sendiri, dan mampu memperoleh kepuasan atas upaya diri sendiri, tetapi di sisi lain kita mencari keterikatan dan keintiman dengan orang lain, seperti halnya ikatan kekasih atau keluarga.

Errgh, benar?

Apa yang terjadi bila perasaan kekamian tidak mampu mencukupi kebersamaan relasi pasangan? Tentu saja masing-masing merasa sendiri dan tidak berbagi perasaan emosional. Lebih buruk lagi kedua pasangan berada dalam posisi yang benar-benar otonom dan terlontar kalimat "aku tidak butuh kamu".

Berikutnya, apa yang terjadi bila perasaan keakuan tidak mampu mencukupi kebersamaan relasi pasangan? Ya, keduanya akan mengorbankan identitas dan tanggung jawab terhadap diri sendiri akan sirna. Keduanya berupaya sekuat tenaga untuk mengubah perilaku pasangannya. Keduanya merasa bertanggung jawab dengan kenyamanan pasangannya daripada kenyamanan diri sendiri.

Pertengkaran terjadi karena mencari kesalahan pasangan. Jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, maka terucaplah "rasanya saya sudah mengupayakan segala macam cara dalam bersikap namun dia tidak pernah menghargai saya dan tidak mau mengubah sikapnya".

Kondisi lain adalah hubungan yang terkesan harmonis. Bisa berupa salah satu pasangan selalu menerima dominasi pasangannya atau seolah-olah keduanya sudah saling berbagi masalah dalam hubungan mereka.

'Aku' dan 'Kami'.

Intinya, setiap pasangan membutuhkan keduanya, 'aku' dan 'kami', dalam porsi yang seimbang sehingga memberikan makna dalam menyikapi sisi personal tiap pasangan.

Bagaimana cara agar keduanya berimbang? Misal saat kita marah dan kesal tahap kronis kepada pasangan, itu menunjukkan kita sedang meningkatkan penguatan penghayatan 'aku'. Oleh karena itu, evaluasi diri itu penting untuk mendapatkan apa yang sebenarnya kita pikirkan, rasakan, dan inginkan serta perubahan dalam cara berinteraksi kepada pasangan. Semakin kita lebih menghayati posisi 'aku' dalam kebersamaan pasangan, semakin nyamanlah penghayatan keintiman dan kesendirian dalam sebuah relasi.

Nah, sudah sejauh mana kita sudah menyeimbangkan keakuan dan kekamian?

Sigh, jangan tanya padaku. Aku sendiri masih bobrok untuk hal seperti ini.
Semoga artikel di atas dapat menambah wawasan kita.

-Kompas

Selasa, November 23, 2010

Me in Sketch

Gambar di atas bukanlah hasil karyaku. Aku sadar otak kananku jarang aku gunakan sehingga tumpul layaknya pisau karatan yang sudah tidak tajam lagi. Sigh. Apapun itu, semua bermula dari seorang temanku yang mengisi ShoutMix di blog-ku.

Aku buka blog baru miliknya dan ternyata penuh dengan goresan pena yang membentuk gambar-gambar. Goresan pena yang ia torehkan bukanlah pena biasa. Intinya, sketsa yang ada dihasilkan dalam bentuk digital. Dengan egois aku menyebut alat yang ia gunakan adalah digital drawing pen.

Untung saja dia menyukai julukan yang aku sebutkan. Padahal ngasal. Haha.

'I like the way it sounds. I love drawing pen and mouse pen is my digital drawing pen', ucapnya.

Aku suka dengan tagline yang ia buat:
'people dance, people sing, I draw'

Anyway, huge thanks for Sybil Yusrina Putri!
You're awesome as always!
Keep in touch!

Check her fabulous drawings at:
http://sybilyusrinaputri.blogspot.com/

Selasa, November 16, 2010

Ekskursi dan Kersos

Selamat pagi! Salam sejahtera untuk kita semua. Dalam post kali ini aku ingin berbagi cerita dan (banyak) gambar tentang dua kegiatan yang sudah aku jalani. Pertama adalah ekskursi ke PT. Wika Beton di Cibinong dan kedua adalah Kerja Sosial (Kersos) HMS ITB 2010, Sipil Bangun Desa (Sibades).

1. Ekskursi!
Kuliah lapangan ke sebuah pabrik beton yang katanya terbesar di Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 12 November 2010. Kami, Teknik Sipil ITB 2008 a.k.a Cakarlangit, berkumpul pagi hari pukul 06.30 di gerbang Ganesha dengan kode baju: Hijau. Telah disediakan 3 bus utama dan 1 mini bus sebagai moda transportasi ke Cibinong, Bogor. Seharusnya kami berangkat sekitar pukul 07.00 namun pada kenyataannya kami berangkat pukul 08.00 karena ada yang telat bangun dan harus boker dulu. Haha.

Modal kami hanya pakaian yang melekat di badan namun kami disuguhkan materi dan non-materi yang berlimpah. Materi berupa makan siang Ayam Suharti dan makan sore Hoka-Hoka Bento. Sangat wah tentunya untuk ukuran anak kosan, terlebih lagi: Gratis! Non-materi berupa ilmu dan pengalaman tentang ketekniksipilan khususnya di bidang material beton.

Lelahku tidak berarti jika dibandingkan dengan chemistry hangat bersama teman-teman seperjuanganku. Entah mengapa ketika Pak Bambang Budiono menyebut kami sebagai generasi penerus bangsa Indonesia, aku terhenyak. Ya, sebuah tanggung jawab moral yang ada di setiap pundak insan muda. Sebuah konsekuensi logis setiap mahasiswa Cap Ganesha untuk memikirkan dan melakukan langkah nyata mengenai mau dibawa ke mana bangsa ini nanti.

Cukup berat memang pikiran seperti. Akan tetapi, hei! Lihatlah beberapa foto ekskursi ini!

2. Kersos!
Sebuah bentuk aplikasi dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Sipil membangun Jembatan Cicariuk di Desa Ciroyom, Kecamatan Cipendeuy, Kabupaten Bandung Barat. Selain pengmas, kegiatan ini juga ditujukan untuk mengasah sense ketekniksipilan kami. Kami belajar tahap-tahap apa saja yang harus dilakukan untuk membangun sebuah jembatan, manajemen proyek, site manager, hingga membantu mang-mang di lokasi eksekusi.

Minggu, 14 November 2010 aku berangkat ke lokasi bersama yang lain, kebanyakan HMS 2009. Kami naik tronton tentara dan perjalanan memakan waktu selama 90 menit dari ITB. Aku berperan sebagai pendamping beberapa HMS 2009. Di sana kami sama-sama belajar. Pertama, kami memeriksa apakah kondisi di lapangan sesuai dengan desain yang telah kita rancang. Kedua, kami melakukan pekerjaan mang-mang. Selain itu kami juga melakukan social engineering, yakni menganalisis pengaruh dibangunnya jembatan terhadap kehidupan masyarakat sekitar dengan metode wawancara.

Hal yang aku pelajari, tenaga mang-mang itu sungguh super. Mungkin aku harus memukul si batu sebanyak 1000 kali dengan godam barulah pecah sedangkan mang-mang cukup melakukannya dengan satu-dua pukulan. Punten mang kalau kami malah merepotkan. Hehe. Setelah dua jam berkutat di sana, kami disuguhkan sajian ala desa. Daun pisang dibentangkan hingga bermeter-bermeter lalu nasi, lauk-pauk, lalap, sambal, dan kerupuk ditaruh di atasnya. Kami semua makan dengan lahap. Akhirnya kami kembali ke ITB dengan truk tronton yang sama, jalur yang sama namun berlawanan. Angin menabrak rambut dan sekujur tubuhku di dalam tronton hingga mata ini sayup-sayup selama perjalanan pulang. Rapuh namun aku senang. Doakan jembatan ini cepat selesai ya.

Pictures? Cekidot, Gan.
Sekian informasi dari saya
Ambil sisi positif dari setiap kegiatan.
Karena hidup di dunia ini hanya sekali, mari kita buat berarti.

Sabtu, November 06, 2010

Pesan Dari Bunda

Kemarin aku menerima sebuah pesan elektronik dari ibuku. Isinya adalah sebagai berikut:

Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kau sedang belajar keikhlasan.

Ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan.

Ketika kau merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kau sedang belajar tentang ketangguhan.

Tetap semangat, tetap tersenyum, dan terus belajar karena bumi ini adalah universitas kehidupan!

Terima kasih, Bunda.

Minggu, Oktober 03, 2010

HMS

Malam itu. Sabtu, 2 Oktober 2010. Detik-detik pelantikan menjadi HMS 2009. Aku duduk beristirahat di dekat benteng ditemani Bow Sang Danlap. Kita ngobrol-ngobrol enteng. Akhirnya mereka akan menjadi bagian dari HMS.

Dengan mata tertutup slayer, Kuya-Kuyi memasuki area depan benteng. Sebelum SK pelantikan dibacakan, ada orasi dari Danlap Swasta: Bang Rizgan dan Bang Nando. Menurutku orasi mereka sangat luar biasa, sangat mengena. Sempurna sekali perpaduan pencahayaan dengan gaya khas Sang Danlap.

Bang Rizgan
Hari ini adalah hari jadi HMS! HMS tidak dinilai dari simbol dan sejarahnya! HMS ada di sini! (sambil menghentakkan tangan kanan ke dada sebelah kiri)

Bang Nando
Seharusnya kebersamaan tak diartikan sebagai proses yang prematur, yang tak berarah, yang tak memiliki konsistensi!

Seharusnya kebersamaan adalah nilai yang diilhami bersama, proses penyatuan hati yang tak berkesudahan, proses yang menjadi landasan keinginan yang sepatutnya diperjuangkan bersama!

Seharusnya kebersamaan adalah simbol pemersatu komunitas yang takkan mati bahkan jika mentari tak bersinar!

Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka seluruh anggota HMS adalah saudaraku!

Ilmu logika!
Jika dan hanya jika aku anggota HMS, maka ketua himpunan adalah pemimpinku!

*

Kau harus merasakannya secara langsung jika ingin mendapat greget-nya.

Ayo tunjukkan kehangatan, keterbukaan, dan kedewasaan kepada mereka.
Tunjukkan bagaimana seorang kakak bersikap.

Selamat datang, adikku, HMS 2009.