Ke-aku-an.
Hampir dua puluh tiga tahun saya hidup di dunia ini. Betapa banyak saya temukan orang hebat yang memiliki idealisme dan cara pandangnya masing-masing. Di sisi lain, betapa jarang saya temukan orang hebat yang berhasil mengerem rasa keakuan yang ada di dalam dirinya.
Maksud saya, mereka berdiri sendiri seolah-olah merasa menjadi satu-satunya senjata ultimate untuk pembenahan semua kekacauan yang ada sekarang dan masa depan. Kebanyakan mencap dirinya sudah baik dan benar, tetapi tidak memandang individu lain di sekitar mereka. Terlebih lagi yang tidak sepaham dianggap hina dan tolol.
Rasa keakuan yang terlampau tinggi bahkan bisa berujung ekstrem: pemusnahan massal bagi mereka yang tidak sepaham dengannya. Padahal dalam agama saya tertera bahwa Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, bukan saling memusnahkan.
Saya sih tidak peduli dengan mereka yang bertato di sekujur tubuh, dengan mereka yang tidak beragama, dengan mereka yang berpoligami, bahkan dengan mereka yang mengubah kelaminnya. Orang-orang hebat yang saya sebutkan tadi kebanyakan mencap mereka sebagai suatu entitas yang suram dan tidak layak hidup. Kasus-kasus yang saya sebutkan termasuk kondisi ekstrem sih.
Nah, yang saya tekankan adalah dalam kehidupan sehari-hari bahkan terdapat hal sepele–jauh dari kasus ekstrem yang telah saya sebutkan–yang tetap membuat rasa keakuan itu tinggi sekali. Ah, malas betul berinteraksi dengan orang semacam ini. Keakuannya tinggi sekali! Seolah dia membangun benteng virtual yang mampu menahan pendapat, selera, ide, dan pemikiran yang berasal dari luar.
Mari berusaha melihat orang secara objektif atau berdasarkan apa yang telah dia perbuat. Bukankah selama seorang tidak mengganggu, bahkan bermanfaat, dia layak mendapat perlakuan yang sama, yang adil di mata masyarakat?
Gusti Allah mungkin heran karena banyak ciptaan-Nya yang berbeda-beda tapi hendak disamakan oleh manusia.
-Ndoro Kakung
Selasa, Januari 22, 2013
Selasa, Januari 08, 2013
Keselamatan di Jalan
Dunia road safety (keselamatan di jalan) di Indonesia, terutama di Jakarta, seringkali ternoda dengan berita kecelakaan yang menyebabkan korban luka. Lebih parahnya lagi, jalan raya seolah sudah menjadi lahan favorit Malaikat Izrail menuntaskan tugasnya. Nyawa seakan sudah terbiasa melayang di jalan. Secara umum, ada tiga hal yang harus diperhatikan agar perpindahan manusia bisa berlangsung dengan aman:
1. Kendaraan
2. Infrastruktur jalan
3. Driving behavior (perilaku berkendara)
Pertama, saya yakin bahwa teknologi otomotif zaman sekarang sudah sangat mengamankan penggunanya bahkan bila terjadi kecelakaan. Fitur keselamatan sudah menjadi fokus bagi pengembang teknologi mobil dan sepeda motor. Mobil atau sepeda motor yang mengedepankan aspek keselamatan dengan sendirinya akan bernilai jual tinggi karena memang dibutuhkan penelitian dan pengembangan bertahun-tahun lamanya menuju ke arah yang lebih aman. Tak heran jika kendaraan yang berharga mahal pasti lebih mengamankan pengendaranya dari sisi teknologi. Ada harga, ada kualitas (keselamatan).
Kedua, infrastruktur jalan adalah tanggung jawab negara. Pemerintah wajib menyediakan perlengkapan jalan beserta fasilitas pendukung yang mumpuni untuk warga negaranya. Semuanya sudah tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang berisi tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Akan tetapi, apa arti sebuah konsep yang matang tanpa ada implementasi yang tegas dan konsisten di lapangan? Peraturan itu hanya akan menjadi setumpuk kertas tak berarti.
Di antara tiga poin yang telah saya sebutkan di awal, menurut saya, perilaku berkendara memegang peranan terpenting dalam hal keselamatan berlalulintas. Human error adalah faktor utama penyebab kecelakaan. Mirisnya, maksud error yang saya sebutkan lebih mengacu kepada terbiasa dengan error. Ya, terbiasa dengan yang salah.
Pengguna kendaraan bermotor seringkali mengabaikan hal-hal kecil namun mendasar dalam berlalulintas. Perlu diingat bahwa jalan adalah ruang publik. Pengabaian hal yang bersifat esensial dapat berakibat fatal bukan hanya kepada kita, tetapi juga orang lain di sekitar kita yang menggunakan ruang jalan yang sama. Berdasarkan hal ini, banyak contoh pertanyaan yang bisa menjadi cambuk buat kita:
Apakah kita menerobos lampu merah?
Apakah kita menggunakan helm saat berkendara dengan sepeda motor?
Apakah kita berhati-hati, tengok kanan-kiri, selama menyeberang jalan?
Apakah kita menggunakan jembatan penyeberangan apabila disediakan?
Apakah kita melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan?
Apakah kita berhenti di belakang garis stop?
Apakah kita memasang spion dengan baik dan benar?
Apakah kita naik dan/atau turun ke/dari angkutan umum di tempat yang benar?
Apakah kita menghidupkan lampu sein sebelum berbelok?
Apakah kita mematikan lampu sein sesudah berbelok?
Apakah kita memberikan prioritas kepada pejalan kaki dan pesepeda?
Apakah kita menggunakan lajur Transjakarta untuk kendaraan pribadi?
Apakah kita menggunakan trotoar untuk berkendara dengan sepeda motor?
Jalan raya adalah milik bersama dan sudah sepantasnya ada rasa toleransi dan saling menghargai. Ada yang salah ketika kita terbiasa dengan yang salah. Berlalulintas adalah cerminan budaya seseorang dan budaya berawal dari kebiasaan. Ketika terbiasa dengan suatu hal, budaya itu akan mengakar dengan kuat di alam bawah sadar dan sulit dilepas. Apa jadinya kalau yang tertanam adalah sebuah kebiasaan yang buruk?
Poin saya dalam tulisan ini, sadar tidak sadar, ketika kita mengabaikan nilai esensial berlalulintas, kita telah mewariskan sesuatu yang buruk kepada orang-orang di sekitar kita. Terlebih lagi pewarisan nilai ke anak-anak yang notabene adalah peniru ulung orang dewasa di sekitarnya. Mereka meniru apa yang orang dewasa lakukan sehari-hari.
Dilihat secara makro, jika terjadi suatu kecelakaan, bisa jadi bahwa kita adalah dalang di balik semua tragedi berdarah dalam berlalulintas karena telah mentransformasi sebuah nilai yang buruk. Ya, bisa jadi kita adalah pembunuh sebenarnya. Bisa jadi ternyata kita adalah seorang pembunuh keji yang justru merasa biasa saja dengan mencabut nyawa orang. Bayangkan jika itu terjadi di dalam keluarga kita sendiri. Kita telah membunuh orang yang kita cintai. Ironis.
Pada akhirnya, tanpa memandang buruknya kualitas dan kuantitas infrastruktur yang telah disediakan oleh pemerintah dan terlepas dari belum tegaknya hukum di Indonesia, masihkah kita mengutamakan keselamatan di jalan?
Jika tidak, maka yakinlah jalan raya akan menjadi tempat yang paling angker. Ditambah lagi, jangan pernah berharap keturunan kita akan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.
Jika iya, maka yakinlah kita adalah orang paling keren yang ada di muka Bumi ini. Secuil perilaku baik itu telah bermanfaat besar bagi kita dan orang-orang di sekitar kita sebagai sesama pengguna jalan.
1. Kendaraan
2. Infrastruktur jalan
3. Driving behavior (perilaku berkendara)
Pertama, saya yakin bahwa teknologi otomotif zaman sekarang sudah sangat mengamankan penggunanya bahkan bila terjadi kecelakaan. Fitur keselamatan sudah menjadi fokus bagi pengembang teknologi mobil dan sepeda motor. Mobil atau sepeda motor yang mengedepankan aspek keselamatan dengan sendirinya akan bernilai jual tinggi karena memang dibutuhkan penelitian dan pengembangan bertahun-tahun lamanya menuju ke arah yang lebih aman. Tak heran jika kendaraan yang berharga mahal pasti lebih mengamankan pengendaranya dari sisi teknologi. Ada harga, ada kualitas (keselamatan).
Kedua, infrastruktur jalan adalah tanggung jawab negara. Pemerintah wajib menyediakan perlengkapan jalan beserta fasilitas pendukung yang mumpuni untuk warga negaranya. Semuanya sudah tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 yang berisi tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Akan tetapi, apa arti sebuah konsep yang matang tanpa ada implementasi yang tegas dan konsisten di lapangan? Peraturan itu hanya akan menjadi setumpuk kertas tak berarti.
Di antara tiga poin yang telah saya sebutkan di awal, menurut saya, perilaku berkendara memegang peranan terpenting dalam hal keselamatan berlalulintas. Human error adalah faktor utama penyebab kecelakaan. Mirisnya, maksud error yang saya sebutkan lebih mengacu kepada terbiasa dengan error. Ya, terbiasa dengan yang salah.
Pengguna kendaraan bermotor seringkali mengabaikan hal-hal kecil namun mendasar dalam berlalulintas. Perlu diingat bahwa jalan adalah ruang publik. Pengabaian hal yang bersifat esensial dapat berakibat fatal bukan hanya kepada kita, tetapi juga orang lain di sekitar kita yang menggunakan ruang jalan yang sama. Berdasarkan hal ini, banyak contoh pertanyaan yang bisa menjadi cambuk buat kita:
Apakah kita menerobos lampu merah?
Apakah kita menggunakan helm saat berkendara dengan sepeda motor?
Apakah kita berhati-hati, tengok kanan-kiri, selama menyeberang jalan?
Apakah kita menggunakan jembatan penyeberangan apabila disediakan?
Apakah kita melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan?
Apakah kita berhenti di belakang garis stop?
Apakah kita memasang spion dengan baik dan benar?
Apakah kita naik dan/atau turun ke/dari angkutan umum di tempat yang benar?
Apakah kita menghidupkan lampu sein sebelum berbelok?
Apakah kita mematikan lampu sein sesudah berbelok?
Apakah kita memberikan prioritas kepada pejalan kaki dan pesepeda?
Apakah kita menggunakan lajur Transjakarta untuk kendaraan pribadi?
Apakah kita menggunakan trotoar untuk berkendara dengan sepeda motor?
Jalan raya adalah milik bersama dan sudah sepantasnya ada rasa toleransi dan saling menghargai. Ada yang salah ketika kita terbiasa dengan yang salah. Berlalulintas adalah cerminan budaya seseorang dan budaya berawal dari kebiasaan. Ketika terbiasa dengan suatu hal, budaya itu akan mengakar dengan kuat di alam bawah sadar dan sulit dilepas. Apa jadinya kalau yang tertanam adalah sebuah kebiasaan yang buruk?
Poin saya dalam tulisan ini, sadar tidak sadar, ketika kita mengabaikan nilai esensial berlalulintas, kita telah mewariskan sesuatu yang buruk kepada orang-orang di sekitar kita. Terlebih lagi pewarisan nilai ke anak-anak yang notabene adalah peniru ulung orang dewasa di sekitarnya. Mereka meniru apa yang orang dewasa lakukan sehari-hari.
Dilihat secara makro, jika terjadi suatu kecelakaan, bisa jadi bahwa kita adalah dalang di balik semua tragedi berdarah dalam berlalulintas karena telah mentransformasi sebuah nilai yang buruk. Ya, bisa jadi kita adalah pembunuh sebenarnya. Bisa jadi ternyata kita adalah seorang pembunuh keji yang justru merasa biasa saja dengan mencabut nyawa orang. Bayangkan jika itu terjadi di dalam keluarga kita sendiri. Kita telah membunuh orang yang kita cintai. Ironis.
Pada akhirnya, tanpa memandang buruknya kualitas dan kuantitas infrastruktur yang telah disediakan oleh pemerintah dan terlepas dari belum tegaknya hukum di Indonesia, masihkah kita mengutamakan keselamatan di jalan?
Jika tidak, maka yakinlah jalan raya akan menjadi tempat yang paling angker. Ditambah lagi, jangan pernah berharap keturunan kita akan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.
Jika iya, maka yakinlah kita adalah orang paling keren yang ada di muka Bumi ini. Secuil perilaku baik itu telah bermanfaat besar bagi kita dan orang-orang di sekitar kita sebagai sesama pengguna jalan.
Minggu, Desember 09, 2012
Paperman
Please kindly hear the song. Inner peace.
All audiences were completely astonished –I was one of them– during a screening of short animated film titled Paperman before Wreck-It Ralph began. It's a silent story about fate and love. It said so much without a single word. That time was such a joy!
Uniquely, Paperman was made by hybrid of computer-generated and hand-drawn technique. Using a minimalist black-and-white style, the story took place in New York in mid-century. Once, a lonely young man met a beautiful girl unexpectedly on his daily morning commute to his office. The meet made the young man numb, charmed by the woman's beauty. Unfortunately, they didn't have enough time to do some chit-chat, so the woman got into the train, left the young man alone again.
The young man got his second chance when he spot the same woman in the skyscraper building across the avenue from his office. He flipped the paper on his desk into a paper-plane then threw it to get her attention. His efforts were no match for the fate that had been made at that time. Yeah, the wind continually blew every single paper-plane to the wrong direction. In the end, fate rewarded whoever tried really hard to make something happen. Sweetness!
"Do your best, God do the rest" is not a piece of bull shit. God has His own scenario. He is the best director of your life and His script is flawless.
We all have the desired to be loved. People, this life is all about connection. I know that kind of feeling is unexplainable, but if you feel so, when you are convinced that he or she will inspire you for the rest of your life: take risks, do strive, find love.
And in the end, the love you take is equal to the love you make.
-The Beatles
Selasa, November 13, 2012
Kuliner Medan
Empat hari saya sempat di Medan, Sumatera Utara. Bah, belum pernah menginjak tanah Sumatera, sekalinya menginjak langsung tanah Medan, Bah. Daripada pusing membicarakan pekerjaan, lebih asik cari makan. Daripada cemberut, lebih baik isi perut! Sekilas kuliner Medan!
Orang Medan makan duren seperti makan kacang! Tidak cukup satu dan
terus-menerus. Ketika saya di Jakarta merasa cukup makan sebiji atau dua biji
duren di kulkas, orang Medan justru sering berpesta duren sekeluarga dengan
memesan satu becak duren! Satu becak berkarung-karung! Haha.
Kuliner ini baru saeutik, saya yakin masih banyak yang lain. Sampai bertemu lagi, Medan!
![]() |
| Sempat berkunjung juga ke Teknik Sipil USU. |
![]() |
| Mie Aceh Titi Bobrok. |
![]() |
| Penampakan Mie Aceh. Nagih! |
![]() |
| Kampung Keling. Banyak orang Tamil (India) di sini. |
![]() |
| Sumpah. Ini. SATE. KERANG. Enak. Banget. Kerangnya besar, dagingnya kenyal, bumbunya meresap! Resmi habis dua piring! |
![]() |
| Jus Terong Belanda! Seger! |
![]() |
| Dingin-dingin empuk adalah PANCAKE DURIAN! |
![]() |
| Mie Keling. Berkuah sangat kental, berbumbu padat! |
![]() |
| Siap-siap mabok durian. |
![]() |
| Duren! |
![]() |
| Partners in crime. Tersangka pemerkosaan. |
![]() |
| Korban pemerkosaan. |
![]() |
| Siap-siap makan Soto Medan! |
![]() |
| Soto Medan. Berkuah santan, berisi jeroan, nampol pisan. |
Kuliner ini baru saeutik, saya yakin masih banyak yang lain. Sampai bertemu lagi, Medan!
![]() |
| Sebelum meninggalkan Medan, terapi dulu. Haha. |
Senin, November 05, 2012
Guangzhou Visit
Berjarak sekitar 3323 kilometer dari Jakarta, Guangzhou adalah salah satu kota metropolitan di Cina. Secara sekelabat bisa diperhatikan bahwa trotoarnya sangat lebar, tidak ada sepeda motor yang boleh masuk ke dalam kota, tidak ada papan reklame yang merusak estetika, tidak ada kabel listrik yang berseliweran, dan banyak toko pangkas rambut. Efektif dua hari saya ditugaskan untuk meninjau BRT (bus rapid transit), bike sharing, dan greenway.
1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?
TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.
Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.
GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!
Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.
Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.
Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.
2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.
Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!
3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.
Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini: berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!
Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:
Mau tidak?
1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?
TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.
Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.
| Pak Bos sedang menjelaskan |
GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!
| Halte dengan panjang hingga 200 meter |
| Overtaking lane |
Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.
| LED di samping bus |
| LED di sub-pemberhentian |
| Daftar bus yang lewat |
Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.
| Kantor GBRT |
| Berbagai operator pengendali |
| Mbak sedang menjelaskan |
Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.
2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.
| Gowes dulu yuk! |
| Public bike! |
| Peta pesebaran halte |
Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!
3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.
| Main yuk! |
| Kanan-kiri adalah tempat tinggal penduduk |
| Bisa buat merenung dan galau |
| Di bawah jembatan layang |
| Guling-guling |
| Awas kecebur, Pak! |
| Airnya jernih! Banyak ikan! |
| Masuk greenway! |
Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini: berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!
![]() |
| Kulo |
Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:
Mau tidak?
Minggu, November 04, 2012
Surat buat Bung Hatta
Gajah pergi meninggalkan gading. Tapi ia tak memilih bagaimana gading itu diukir. Generasi datang dan pergi, membentuknya, menatahnya, dan menimbang-nimbangnya. Mungkin mencampakkannya. Seorang besar memperoleh arti karena beribu-ribu orang yang tak dikenal datang sebelumnya, bersamanya, dan sesudahnya.
Sumber: Tokoh + Pokok halaman 11, GM
Sumber: Tokoh + Pokok halaman 11, GM
Senin, September 17, 2012
Sambung Asamu
"To endeavor means trying to do something even when you know you might be beaten before you even start."
Quoted from How to Train Your Dragon Book 9: How to Steal a Dragon's Sword. Just for your information, Hiccup named his sword Endeavor.
Ini ada sebuah musik karya anak bangsa yang asik dan semoga memberikan suntikan semangat kepada para pembaca. E.F.A (Everyone For Ambon) Project - Harapan. Setelah endeavor secara maksimal, yakinlah selalu ada harapan, Sob.
Saat putus asa lemah tak berdaya, ingat penciptamu!
Apapun itu, jangan menyerah!
Sambung asamu!
Quoted from How to Train Your Dragon Book 9: How to Steal a Dragon's Sword. Just for your information, Hiccup named his sword Endeavor.
Ini ada sebuah musik karya anak bangsa yang asik dan semoga memberikan suntikan semangat kepada para pembaca. E.F.A (Everyone For Ambon) Project - Harapan. Setelah endeavor secara maksimal, yakinlah selalu ada harapan, Sob.
Saat putus asa lemah tak berdaya, ingat penciptamu!
Apapun itu, jangan menyerah!
Sambung asamu!
Langganan:
Postingan (Atom)
















