Senin, Januari 30, 2012

The Zahir


Buku ini adalah karya Coelho ketiga yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca 'The Alchemist' dan 'Veronika Decides to Die'. The Zahir masuk ke dalam jajaran buku favorit saya karena saya sangat senang dengan kedewasaan cinta yang dibahas di dalam buku ini, realistis dan apa adanya. Selain itu, sebagai seorang remaja 21 tahun yang masih ababil dan selalu berusaha mengungkap cinta, buku ini telah membuka mata saya lebih lebar.

Saya meyakini bahwa sebaik-baiknya membaca novel adalah yang bukan terjemahan. Dalam kasus ini, Coelho lahir di Brazil dan menggunakan Bahasa Portugal saat menulis karyanya. Apa daya saya tidak bisa Bahasa Portugal sehingga saya membeli yang versi Inggris. Kenapa bukan yang Indonesia? Untuk novel luar negeri, saya lebih nyaman dengan untaian kata dalam Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. Selera sih.

The Zahir.

Buku ini menceritakan seorang novelis -sekaligus narator- yang mencari keberadaan istrinya yang hilang. Istrinya, Esther, pergi tiba-tiba tanpa meninggalkan jejak, tanpa alasan. Banyak spekulasi yang muncul dalam benak sang novelis, apakah istrinya direkrut oleh organisasi teroris, diculik, dibunuh, atau memang sengaja meninggalkan pernikahan yang telah mereka bina. Kalaupun Esther pergi karena spekulasi terakhir, apa yang salah dalam diri narator? Apa yang salah dalam pernikahan mereka? Toh narator selama ini hidup nyaman dengan banyak uang dan menjadi terkenal karena buku-buku karangannya.

The Zahir adalah metafora kepergian dan bayang-bayang Esther yang diciptakan narator secara otomatis dalam pikirannya. The Zahir berarti sulit untuk tidak diperhatikan dan selalu mengisi pikiran sekalinya tersentuh. Berdasarkan hal itu, narator mulai mengevaluasi apa yang salah dalam dirinya dan pernikahannya. Dalam sebuah peluncuran buku, narator bertemu dengan seseorang bernama Mikhail yang tahu akan keberadaan Esther dan berjanji mempertemukan mereka. Mikhail menegaskan kalau narator ingin menemukan Esther, pertama dia harus menemukan dirinya terlebih dulu.

Pencarian dimulai.

Diceritakan kalau narator adalah orang yang mudah jatuh cinta. Selama pencarian Esther, narator sering berdiskusi dengan Marie, kisah cintanya saat itu. Marie mencintai sang narator dan berharap suatu saat dia mendapat cinta yang sama dari narator. Namun The Zahir terlalu kuat. Narator memutuskan untuk mencari lalu bertemu dengan Esther. Saya sangat suka percakapan perpisahan antara narator dan Marie dengan segala ungkapan, kejujuran, dan analoginya.

Cerita ini mencapai klimaksnya saat narator berhasil menemukan The Zahir setelah melalui perjalanan dari Perancis menuju Kazakhstan. Pertemuan mereka sangat menyentuh hati. Narator mendekap Esther, menyandarkan kepala ke bahunya, dan mulai menangis mengungkapkan segalanya.

*

Beberapa orang berpendapat seperti berikut:

I hardly fall in love. When I do, I fall very hard.

Pernyataan di atas tidak berlaku buat saya. Saya dengan mudahnya jatuh cinta dan seringkali jatuh dengan keras. Kegagalan terjadi di hubungan yang pernah saya bina. Konyolnya, saya sering tergila-gila dengan perempuan yang bahkan saya belum pernah sekalipun berinteraksi dengannya. Semuanya karena jejaring sosial mulai dari facebook, twitter, tulisan di blog, dan lain-lain. Yang sulit adalah membendung perasaan ini.

Teman saya. Dia sangat heran dengan kepribadian saya yang sebegitu mudahnya tertarik dengan lawan jenis. Sekalinya tertarik sangat sulit untuk dilupakan. Satu lagi teman saya pernah berkata kalau tertarik pertama kali secara fisik (pandangan pertama) itu merupakan suatu hal yang wajar. Dia menekankan jangan berhenti di situ dan harus ada langkah nyata berikutnya untuk mengenal secara kepribadian. Tuhan sangat berperan dalam hal ini dimana Dia yang menciptakan momen atau sebuah tipping point pertemuan. Takdir, ya?

Tidaklah mawar dekati kumbang. Ya, laki-laki yang menyatakan cintanya kepada perempuan. Kodratnya memang seperti itu. Anyway life rolls. God plays His role and so do I. God doesn't play dice with the universe. Everything is interconnected and has a meaning.

Quote yang tidak akan pernah saya lupakan adalah sebuah tweet dari Sudjiwo Tedjo di tahun 2011. Susah nih dijabarkan.

Cinta adalah ketika kuat kau rasakan 'kehadiran' Tuhan dalam diri pasanganmu.

Selasa, Januari 24, 2012

Bumi Medika Ganesha

Gendang telinga saya bolong.

Sewaktu kecil, telinga saya, tepatnya telinga kiri, sering bermasalah dengan mengeluarkan lendir dan kadang terasa sakit. Rasa sakit yang luar biasa sangat dirasakan saat pesawat take-off dan landing. Masalah itu nampak sirna seiring saya beranjak dewasa dengan catatan tidak naik pesawat. Kini masalah itu muncul kembali ke permukaan tepat sehari sebelum semester 8 dimulai, semester dimana saya mulai mengerjakan tugas akhir.

Ceritanya seketika saya membuang lendir dari hidung, telinga kiri saya bindeng dan sempat mengeluarkan cairan. Hal ini bertambah parah apabila saya naik mobil tertutup. Secara otomatis kualitas indra pendengaran saya berkurang. Pergilah saya ke sebuah klinik. Bumi Medika Ganesha namanya.

"Ada dokter THT?" tanya saya.
"Oh, nggak ada. Di sini adanya dokter umum dan dokter gigi." jawab pegawai.
"Ya sudah deh nggak apa-apa. Sama dokter umum saja." tukas saya.

Sehabis proses administrasi, seorang pria memanggil saya untuk masuk ke dalam ruangan. Telinga kiri saya diperiksa dengan sebuah alat khusus lalu dokter meyakinkan kalau gendang telinga saya pecah, bolongnya besar bahkan. Saya tidak kaget. Apabila tidak ingin bermasalah lagi, dokter menyarankan untuk operasi 'menambal' gendang telinga dengan membran khusus di dokter THT. Dokter memberikan antibiotik dan dua jenis obat lagi untuk meredakan sakit.

Dokter menyarankan jangan berenang dulu. Kuliah saya di semester 8 ini sangat lowong sehingga rencananya saya ingin jogging di Saraga, berenang di Saraga, dan bersepeda masing-masing sehari di waktu pagi di setiap minggunya. Sigh, ada sedikit kendala di berenang, sialnya. Melihat raut muka saya yang kecewa, dokter memberikan opsi boleh berenang asal pakai earplug, sebuah alat penyumpal telinga yang terbuat dari gabus atau karet yang berguna mencegah air masuk saat berenang.

Setelah semuanya beres, basa-basi saya melontarkan pertanyaan kepada dokter yang menangani saya. Seorang perempuan yang perawakannya sudah lanjut usia nan bijak.

"Udah lama di sini, Dok?"

"Yah, saya sudah puluhan tahun di sini (28 tahun kalau nggak salah). Dokter yang lain bahkan ada yang sampai 40 tahun, Mas. Semua dokter di sini adalah istri dari pengajar di ITB." tancap dia dengan logat Jawa yang cukup kental.

"Woah, betah banget di sini, ya?"

"Takdir sepertinya yang membawa saya ke sini, Mas. Di sini lebih ditekankan pengabdian. Kalau buka praktek sendiri sih bisa saja dan jelas penghasilan lebih banyak tapi saya senang di sini. Makanya sampai sekarang susah banget loh nyari dokter spesialis. Makanya ndak ada dokter THT di sini. Ini alhamdulillah kita sudah ketemu dokter mata buat BMG, Mas."

"Wah, hebat banget, Dok. Salut saya."

"Namanya juga hidup, Mas. Yang penting ikhlas ngejalanin. Rejeki ndak ke mana toh."

"Iya benar, Dok. Saya tebus obatnya, ya. Nuhun pisan, Dok."

Saya berpikir dan melihat struk. Biaya konsultasi dokter BMG sebesar 30 ribu tapi karena saya mahasiswa ITB ada subsidi sebesar 20 ribu sehingga saya hanya membayar 10 ribu. Seharusnya saya membayar biaya obat sebesar Rp 74.500,00 tapi digratiskan pula. Sebelum meninggalkan ruangan, saya sempat melihat sang dokter membubuhkan stempel nama berwarna merah di atas resep yang dia tulis.

Dokter Yuliati.

Rabu, Desember 14, 2011

Mahasiswa

Nama Sondang mencuat seiring dengan tindakan bakar diri di depan Istana Negara yang harus ditebus dengan nyawanya sendiri.

Pertama kali mendengar berita ini, logika saya menyatakan kalau itu adalah tindakan bodoh. Dirinya ingin Indonesia lebih baik tapi keputusan yang dipilih justru mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Di sisi lain, kalbu saya mengatakan kalau itu adalah keputusan seorang Sondang yang sepatutnya kita hargai bersama dan tidak semestinya keluar judgement bodoh, tolol, atau goblok. Seperti biasa, logika dan kalbu jarang akur.

Secara normatif, kita ketahui bersama kalau setiap pilihan kata dan tindakan menimbulkan konsekuensi, kan?

Ternyata aksi yang dilakukan Sondang berdampak sistemik hingga terjadi suatu kejadian unik tadi sore (14 Desember 2011) di kampus saya, Institut Teknologi Bandung atau biasa dikenal dengan Kampus Ganesha. Malamnya langsung ada headline berita 'Tidak Mau Ikut Demo, Mahasiswa ITB Didemo' di media elektronik. Menarik sekali judulnya. Secara singkat, ratusan mahasiswa perguruan tinggi di Bandung mengadakan aksi solidaritas mengenang Sondang Hutagalung di Gerbang Ganesha lalu sempat terjadi kericuhan karena ITB tidak tergabung dalam aksi tersebut.

Saya sangat menyayangkan keluarnya kata-kata kotor dan tindakan pemberian celana dalam wanita kepada Presiden KM ITB. Simple, dengan predikat mahasiswa yang notabene adalah kaum intelek, kok melakukan hal seperti itu? Untung tidak ada pembakaran ban bekas di depan kampus.

Kampus Ganesha ini sangat kental dengan budaya diskusi. Harus selalu ada dasar untuk bertindak, apapun itu. Tidak heran kalau pembahasan latar belakang, tujuan, dan hal-hal lain yang mendasar bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Saya percaya kalau sang Presiden beserta jajarannya sudah mendiskusikan hal ini dengan matang sehingga terciptalah sebuah keputusan kalau ITB tidak ikut dalam aksi. Layaknya agama, haruskah sebuah keputusan dipaksakan?

Sebagai mahasiswa, kita mempunyai akses menyalurkan aspirasi rakyat ke pemerintah dengan dua hal: Ruang diskusi dan unjuk rasa atau demonstrasi. Demonstrasi adalah metode penyampaian aspirasi secara masif untuk mendapat perhatian publik dengan syarat setiap individu yang terlibat tahu dasar mengapa bertindak demikian. Artinya, demonstrasi adalah sebuah muara yang dihasilkan dari kajian atau analisis mendalam mengenai suatu hal. Dengan demikian, materi yang disampaikan dalam sebuah demonstrasi itu jelas, efektif, dan efisien. Tidak ada anarkisme atau perusakan lingkungan sekitar yang justru merugikan masyarakat. Akhir kata, mari menjadi mahasiswa yang cerdas, kritis, dan peka terhadap kehidupan sosial.

Saya mahasiswa ITB dan saya bangga.
When you can't speak that much, listen that much, act that much.

Jumat, November 04, 2011

Kisah Yang Indah



Monita Angelica Maharani Tahalea

Legit! Saya sepakat dengan pendapat teman saya kalau legit adalah satu kata yang pas untuk mendeskripsikan suara indah Monita.

Vokal Monita yang khas menarik perhatian Indra Lesmana untuk memproduseri album perdananya yang berjudul "Dream, Hope & Faith" pada tahun 2010.

Jangan ragu-ragu klik tombol play di atas lalu dengarkan suaranya, dengan headset atau headphone lebih baik.


Seperti matahari

Semasa menyinari
Kelam berlalu terangi bahagia
Yang ku tunggu

Seperti kau dihati
Selama ku menanti
Tak ada lagi keraguan diri yang menguji
Walau hari tak selalu indah berseri
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini

Kau kan kembali membawa cahaya hidup ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini

Walau t'lah terpisah waktu
Kau kan mampu kembali dalam pelukku
Senyummu, setiamu jadikan kisah indahku
Kau yang selalu ku tunggu

Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini
Walau dunia tak selalu indah surgawi
Jangan berhenti kau yakinkan pasti cinta ini


Legit euy!

Sabtu, Oktober 01, 2011

Rumah Masa Depan

Bumi berputar, bumi makin sesak.

Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?

Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.

Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.

Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?

Aku takut namun mari bermimpi.

Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.

Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.

Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.

Lantai dua.

Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.

Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.

Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!

Seperti apa rumah masa depan Anda?

Selasa, September 13, 2011

Gitar

Tidak ada yang tidak tahu alat musik ini. Lekukan tubuhnya sangat seksi sehingga mayoritas perempuan menginginkan bentuk yang serupa. Layaknya sepakbola yang merupakan olahraga paling mendunia dan merakyat, gitar demikian dalam hal alat musik, pikirku.

Pemainnya beragam, mulai dari pinggir jalan hingga sekelas konser. Gitar ini fleksibel karena bisa berasimilasi dengan berbagai macam jenis aliran musik mulai dari dangdut, R&B, pop, jazz, hingga metal. Tidak hanya petikan, pukulan pun bisa dilakukan untuk menghasilkan bunyi.

Ceritanya, aku les gitar klasik mulai kelas enam SD. Dulu aku masih lugu, ayah dan ibu yang mendaftarkanku, aku ikut saja. Ternyata les berlangsung hingga aku kelas dua SMA. Sekitar lima tahun. Cukup lama, ya?

Dulu les dilaksanakan seminggu sekali dan setiap pertemuan hanya setengah jam. Seingatku bayarnya mahal juga. Guruku bernama Kak Banu, seorang musisi sejati, beda lah dengan diriku yang hanya ikut kehendak orang tua waktu itu. Tetapi aku bersyukur aku les gitar klasik. Aku jadi bisa baca not balok dan diajarkan teknik tertentu.

Seiring meningkatnya jam terbang bermain alat musik, dalam hal ini gitar, aku semakin sadar kalau musik ini bukan bidangku. Kenapa? Otakku tidak bisa sinkron dengan nada-nada. Tidak ada feeling bahasa campur aduknya. Beda dengan teman-temanku seperti Awan Wibisono, Handal Prahamadhanno, Fadhillah Akbar, Reza Harevi, Ian Sofian, Jeisen Frederik, Adrian Firdaus, dan lain-lain.

Gitar itu teman yang pas. Dia paling mengerti kondisimu. Walaupun aku tidak ada feeling dengan gitar, tetap dia adalah sobatku. Berikut aku persembahkan satu buah lagu berjudul Choros kepada para pembaca. Maksimalkan volume dan selamat menikmati. Maaf jika jelek secara permainan maupun rekaman. Maklum, tidak ada feeling dan kamar-kost-quality.



I don't sing.
My guitar does.

Senin, September 05, 2011

Jilbab

Jilbab adalah salah satu fenomena yang unik. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam sehingga perempuan mengenakan jilbab itu biasa saja. Di negara dimana Islam merupakan minoritas, aku yakin perempuan berjilbab mau tidak mau terlihat berbeda dan (mungkin) menjadi pusat perhatian.

Di dalam buku ini, penulis (Quraish Shihab) membentangkan pendapat dari ulama-ulama terdahulu yang terkesan ketat dan pendapat dari cendikiawan kontemporer yang terkesan longgar.

Wajar terjadi keragaman, karena itu merupakan ciri dari redaksi al-Qur'an dan hadits yang memang dapat menampung aneka pendapat. Mengemukakan lebih dari satu pendapat berarti memberi alternatif-alternatif semuanya bisa ditampung oleh kebenaran sehingga mempermudah umat melakukan aktivitas yang dibenarkan oleh agama.

Islam mengajarkan pengikutnya untuk menggunakan potensi akal. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama universal yang mampu berinteraksi dengan seluruh manusia tanpa mengenal waktu dan tempat.

QS. an-Nahl [16]: 44
"Dan Kami menurunkan kepadamu al-Qur'an, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan."

Pakaian selain terkait dengan kebutuhan juga terkait dengan keindahan. Tetapi, apakah keindahan itu? Dulu kegemukan merupakan pertanda kesejahteraan hidup dan digemari oleh wanita. Sekarang wanita berlomba-lomba tidak makan dan minum agar tampak ramping dan kurus. Demikianlah definisi keindahan yang berubah-ubah antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain dan juga terkait dengan perkembangan zaman.

Agama Islam menghendaki pemeluknya untuk berpakaian semestinya atau paling tidak memiliki fungsi terpenting, yakni menutup aurat. Mulai dari sini timbullah perdebatan mengenai batas aurat wanita dan pria.

Tidak usah munafik, sedikit senyuman atau betis yang terungkap dari seorang wanita bisa menimbulkan pikiran yang bermacam-macam bagi seorang pria. Oleh karena itu Islam memberikan batasan. Agama tidak memerintahkan untuk membunuh nafsu, tetapi untuk mengendalikannya.

Setiap manusia pasti menyadari ada hal-hal yang menimbulkan rangsangan bagi pria dan wanita, baik bagian tubuh tertentu, ucapan, ataupun perbuatan. Hal tersebut sangat rawan dan bisa berujung pada hubungan seksual sehingga diperlukan suatu aturan khusus. Hal yang rawan tersebut dinamakan aurat.

Jangan berkata bahwa Anda dapat menjaga diri. Sekian orang malah terjerumus setelah mengatakan demikian. Bukankah kecelakaan dapat terjadi walaupun kita sudah menyetir dengan hati-hati?

*

Al-Qur'an tidak menyebutkan secara jelas dan rinci batas-batas aurat, makanya timbul perbedaan pendapat. Ulama-ulama masa lalu terbagi menjadi dua dalam hal batasan aurat wanita. Yang pertama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat dan yang kedua mengecualikan muka dan telapak tangan. Ada beberapa ayat dalam al-Qur'an yang dijadikan rujukan. Ayat-ayat tersebut dipahami berbeda oleh kedua kelompok dan dijadikan dasar suatu ketetapan ulama. Berikut rujukannya, sila cek sendiri di al-Qur'an milikmu.

QS. al-Ahzab [33]: 53
QS. al-Ahzab [33]: 59
QS. an-Nur [24]: 30-31
QS. al-Ahzab [33]: 32-33
QS. an-Nur [24]: 60

Di buku ini dijelaskan perbedaan pendapat ulama di setiap ayat. Rasanya terlalu panjang untuk dibahas di sini dan aku sendiri belum menjamin diriku mengerti. Baca sendiri saja ya bukunya. Hehe.

Selain al-Qur'an, para ulama juga merujuk ke hadits. Redaksi al-Qur'an dipastikan tidak disentuh sedikit perubahan pun. Ayat al-Qur'an disampaikan Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad persis sama dalam lafazh (ucapan) dan maknanya hingga sekarang. Sedangkan hadits, walaupun telah disepakatai keshahihannya, masih bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda.

Penulis cenderung mengacu kepada kelompok kedua.

Suka tidak suka, diakui atau tidak, wanita cenderung untuk berhias. Terlebih lagi zaman sekarang, tidak bisa masuk logika wanita yang menghalangi mereka berhias apalagi dalam batasan yang masih dibolehkan oleh agama.

Dengan wanita tampil seluruh tubuhnya tertutupi pakaian hitam longgar, hanya dua bola mata yang terlihat, tidak jarang ditutupi kacamata hitam, mereka seperti hantu yang sedang berjalan. Maka musnahlah fungsi hiasan atau keindahan dalam pakaian. Demikian menurut penulis dan aku sepakat.

*

Cendikiawan kontemporer juga terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama
Kelompok ini mengemukakan pendapatnya tanpa acuan dalil manapun dan merupakan subjektivitas semata. Kelompok ini sangat ditentang oleh para ulama.
"Hijab (pakaian tertutup) telah menutup keterlibatan wanita dalam berkegiatan. Menutup atau telanjang, menjadikan wanita sebagai jasad semata. Saya, ketika menutup badan saya, maka itu mengandung arti bahwa saya adala fitnah (penggoda/perayu). Saya adalah akal dan bukan jasad yang mengundang syahwat atau rayuan."

Kelompok kedua
Berpendapat mengacu pada ulama terdahulu namun tidak mendapat dukungan dari ulama yang menganut paham ulama-ulama terdahulu.

*

Masalah batas aurat wanita tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengafirkan. Disepakati dalam Forum Pengkajian Islam IAIN Syarif Hidayatullah Maret 1988: "Tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup menurut hukum Islam, dan menyerahkan kepada masing-masing menurut situasi, kondisi, dan kebutuhan."

Di bagian penutup penulis menganjurkan pemakaian jilbab sesuai dengan pendapat mayoritas ulama, apalagi pemakainya sama sekali tidak terhalangi untuk melakukan kegiatan positif di manapun dan untuk kepentingan siapapun.

*

Quraish Shihab mengatakan menganjurkan, bukan mewajibkan sehingga hal ini pula yang menimbulkan polemik.

Aku juga mau berpendapat. Tetapi jangan jadikan ini sebagai acuan, ilmu agamaku tidak sebanding dengan para ulama. Menurutku jilbab wajib hukumnya dikenakan oleh wanita muslimah. Aurat dari seorang wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

Pun sudah memakai pakaian wanita muslimah, tolong jangan yang ketat juga. Lekuk tubuh kalian itu sangat mengundang pikiran kotor. Dan yang sering terabaikan adalah bagian leher. Bagian itu sering terungkap, sengaja atau tidak sengaja.

4 September adalah hari hijab internasional. Pesan seorang temanku kepada seluruh wanita muslimah adalah sebagai berikut:
"Semoga para muslimah saling peduli dan saling mengingatkan ketimbang merasa benar sendiri."

Subjektifku, kalian indah dengan jilbab itu.

Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyenangi keindahan.