Saya pernah menulis tentang Warung Bandrek. Selengkapnya bisa dibaca di sini.
Hampir setiap minggu saya bersepeda ke Warung Bandrek. Beruntung sekali Bandung memiliki destinasi bersepeda yang hijau dan menantang di daerah Utara. Coba saja bandingkan dengan Jakarta. Tanjakan-turunan di Bandung ada karena kontur yang memang berbukit-bukit. Jakarta? Jembatan layang mungkin. Aduh.
Sekitar dua atau tiga minggu yang lalu, saya ke Warung Bandrek lagi. Kali ini beda. Teman saya, seorang perempuan, bernama Febrini atau biasa dipanggil Tya telah membulatkan tekadnya untuk gowes ke Warban. Saya sangat mengapresiasi dia. Sangat. Pisan. Faktanya, pondokannya berada di daerah Kanayakan (dekat Borma Dago) dan dia gowes ke kampus! Hore!
Dengan modal semangat, Tya didampingi oleh saya, Rendy, dan Ari. Sebut saja kami Tya's Angels.
Hampir setiap orang yang pertama kali melahap beberapa tanjakan menuju Warban pasti bermuka pucat layaknya mayat. Tidak heran sih, tanjakannya memang terjal dan ada satu buah yang bernama 'putus asa'. Ya, bayangkan saja dari namanya. Selama mendampingi Tya, pikiran saya berkecamuk hingga ke ranah filosofis. Saya baru sadar ternyata sepeda dan perempuan memiliki korelasi antara satu dengan yang lain. Haha. Jadi seperti ini.
Perempuan diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang lembut. Bukan bermaksud menurunkan derajat, tetapi secara umum fisik laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Di sisi yang berseberangan, perempuan punya peran yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki. Makanya, kedua makhluk ini saling membutuhkan.
Perempuan, makhluk pembawa sejuk dan pemanja rasa, butuh keberadaan laki-laki dari tiga posisi: depan, belakang, dan sejajar. Saya menganalogikannya dengan gowes bersama. Hidup itu ibarat tanjakan terjal yang mau tidak mau harus dilalui secara berpasang-pasangan.
Sesekali saya berada di belakang Tya sebagai pengawas sehingga saya akan menjadi orang pertama yang menolongnya apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sesekali saya tepat berada di sampingnya; sebagai teman bercerita, bercengkerama, atau bersenda gurau. Sesekali saya melaju terlebih dahulu meninggalkan yang lain menuju puncak bukit lalu meneriakkan semangat kalau dia bisa melalui semua itu. Kemudian saya langsung teringat dengan perkataan Ki Hajar Dewantara:
Ing ngarso sung tulodo.
Ing madyo mangun karso.
Tut wuri handayani.
Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Sedikit kurang sreg sih dengan apa yang saya tulis sebelumnya tapi biarlah. Haha. Tidak berhenti sampai di situ, saat turun dari Warban juga melakukan hal yang sama. Intinya mendampingi perempuan ini. Biasanya, di antara teman-teman saya, saya adalah orang yang paling ekstrem saat melibas turunan. Kecepatan penuh! Tuh benar kan, manfaat bersepeda banyak loh. Tidak hanya menjadi sahabat Bumi, bersepeda juga menyegarkan tubuh dan pikiran. Yay!
Bersepedalah sebelum payah!
Senin, April 23, 2012
Rabu, April 18, 2012
Dragons
Once there were dragons.
Imagine a time of dragons –some larger than mountainsides, slumbering in the depths of the ocean; some smaller than your fingernail, hopping through the heather.
Sebuah prolog yang ditulis dengan anggun oleh Cressida Cowell di salah satu seri buku How to Train Your Dragon. Sangat jelas kalau Cowell mengajak pembaca untuk berfantasi tentang keberadaan naga. Siapa yang tidak tahu naga? Sejak kecil, saya selalu membayangkan seekor naga adalah makhluk mitologi yang bertubuh besar, kekar, bersisik, berleher panjang, bersayap, dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.
Layaknya Cowell, saya juga terpesona dengan naga. Makhluk magis ini seringkali diceritakan memiliki elemen bumi, udara, air, atau api. Makanya saya sangat suka dengan segala hal yang berbau tentang naga di video game, buku, atau figure.
How to Train Your Dragon (Books).
Seri buku ini termasuk kategori anak-anak. Agak aneh memang ketika seorang yang berumur 20-an membaca buku ini. Namun, saya tidak peduli. Saya suka dengan naga dan dengan membaca buku ini dapat meningkatkan linguistik Inggris saya. Tanpa disangka-sangka, saya mendapat bonus berupa nilai-nilai positif kehidupan yang sengaja diselipkan oleh Cowell dalam seri buku ini. Menurut saya, Cowell sangat brilian dalam mengombinasikan fantasi dan realita dalam bentuk untaian kata-kata. Perpaduan dua hal itu membuahkan karya nyata yang manis dan merupakan oase bagi mereka, terutama anak-anak, yang haus dengan fantasi.
Terdapat sepuluh buku dalam seri ini. Hingga tulisan ini diturunkan, saya sudah punya delapan dan membaca tujuh. Buku kesembilan sepertinya sudah ada di Indonesia, namun buku kesepuluh baru akan terbit tahun ini (2012). Pertama kali saya membeli buku kesatu versi Indonesia. Tamat, lalu saya membeli buku kesatu versi Inggris. Selanjutnya saya membeli versi Inggris karena lebih menikmati setiap kata-katanya.
Buku ini menceritakan petualangan Hiccup Horrondeus Haddock III. Tidak seperti kebanyakan Viking yang (selalu) mengandalkan otot, Hiccup mengedepankan berpikir sebelum bertindak. Ya, Viking terkenal dengan suku barbar yang meneror siapapun di darat maupun laut. Hiccup terlahir berambut merah dan sangat kurus. Kemampuan yang bisa dibanggakan Hiccup hanya berpedang; sisanya berantakan. Sebagai tambahan, Hiccup dianugerahkan bisa berbahasa naga. Seperti yang tadi saya bilang, banyak segi positif yang bisa dituai dari cerita ini: ukuran bukanlah segalanya, keberanian, persahabatan, perjuangan, kerja keras, kesabaran, berpikir taktis, dan lain-lain. Anak-anak butuh fantasi! Anak-anak butuh penyampaian nilai positif kehidupan dengan cara yang unik. Setidaknya saya akan mendongengkan kisah naga ini ke anak saya nanti. Haha.
Perbedaan antara buku dengan film.
Ini adalah kali pertama saya membaca buku terlebih dahulu lalu menonton sebuah film yang mengadopsi cerita dari buku tersebut. Ditinjau dari segi cerita dan karakter, terdapat perbedaan yang sangat nyata. Di buku pertama, naga-naga ditangkap untuk dilatih, sedangkan di film terjadi peperangan antara naga dengan Viking dan pelatihan naga baru dijalankan setelah Hiccup menunjukkan kalau mereka bisa dilatih. Perbedaan berikutnya yang mencolok penggambaran Toothless (naga milik Hiccup) sebagai seekor naga bernama Night Fury yang merupakan spesies langka, cerdas, dan bisa ditunggangi. Toothless di buku digambarkan sebagai naga biasa sebesar kucing. Yang terakhir, di film Hiccup tidak bisa berbahasa naga.
Terlepas dari banyak perbedaan, film How to Train Your Dragon sangat jempolan! Tak heran rating di IMDb sebesar 8.2. Cowell menyetujui perbedaan-perbedaan itu dan mengatakan kalau intisari dan pesan yang ada di buku tetap tersampaikan di film. Tunggu How to Train Your Dragon 2 pada tahun 2014! Asik!
Figure.
Berhubung saya juga suka dengan Lego, saya punya Lego Creator 6751 Fiery Legend! The great red dragon! Awesomeness! The guardian of my desk!
Proyek berikutnya adalah Lego Creator 4894 Mythical Creature! Aduh tapi yang satu ini mahal. Mari nabung!
Once there were dragons.
Yes, there were dragons.
Imagine a time of dragons –some larger than mountainsides, slumbering in the depths of the ocean; some smaller than your fingernail, hopping through the heather.
Sebuah prolog yang ditulis dengan anggun oleh Cressida Cowell di salah satu seri buku How to Train Your Dragon. Sangat jelas kalau Cowell mengajak pembaca untuk berfantasi tentang keberadaan naga. Siapa yang tidak tahu naga? Sejak kecil, saya selalu membayangkan seekor naga adalah makhluk mitologi yang bertubuh besar, kekar, bersisik, berleher panjang, bersayap, dan bisa menyemburkan api dari mulutnya.
Layaknya Cowell, saya juga terpesona dengan naga. Makhluk magis ini seringkali diceritakan memiliki elemen bumi, udara, air, atau api. Makanya saya sangat suka dengan segala hal yang berbau tentang naga di video game, buku, atau figure.
How to Train Your Dragon (Books).
Seri buku ini termasuk kategori anak-anak. Agak aneh memang ketika seorang yang berumur 20-an membaca buku ini. Namun, saya tidak peduli. Saya suka dengan naga dan dengan membaca buku ini dapat meningkatkan linguistik Inggris saya. Tanpa disangka-sangka, saya mendapat bonus berupa nilai-nilai positif kehidupan yang sengaja diselipkan oleh Cowell dalam seri buku ini. Menurut saya, Cowell sangat brilian dalam mengombinasikan fantasi dan realita dalam bentuk untaian kata-kata. Perpaduan dua hal itu membuahkan karya nyata yang manis dan merupakan oase bagi mereka, terutama anak-anak, yang haus dengan fantasi.
Buku ini menceritakan petualangan Hiccup Horrondeus Haddock III. Tidak seperti kebanyakan Viking yang (selalu) mengandalkan otot, Hiccup mengedepankan berpikir sebelum bertindak. Ya, Viking terkenal dengan suku barbar yang meneror siapapun di darat maupun laut. Hiccup terlahir berambut merah dan sangat kurus. Kemampuan yang bisa dibanggakan Hiccup hanya berpedang; sisanya berantakan. Sebagai tambahan, Hiccup dianugerahkan bisa berbahasa naga. Seperti yang tadi saya bilang, banyak segi positif yang bisa dituai dari cerita ini: ukuran bukanlah segalanya, keberanian, persahabatan, perjuangan, kerja keras, kesabaran, berpikir taktis, dan lain-lain. Anak-anak butuh fantasi! Anak-anak butuh penyampaian nilai positif kehidupan dengan cara yang unik. Setidaknya saya akan mendongengkan kisah naga ini ke anak saya nanti. Haha.
Perbedaan antara buku dengan film.
Ini adalah kali pertama saya membaca buku terlebih dahulu lalu menonton sebuah film yang mengadopsi cerita dari buku tersebut. Ditinjau dari segi cerita dan karakter, terdapat perbedaan yang sangat nyata. Di buku pertama, naga-naga ditangkap untuk dilatih, sedangkan di film terjadi peperangan antara naga dengan Viking dan pelatihan naga baru dijalankan setelah Hiccup menunjukkan kalau mereka bisa dilatih. Perbedaan berikutnya yang mencolok penggambaran Toothless (naga milik Hiccup) sebagai seekor naga bernama Night Fury yang merupakan spesies langka, cerdas, dan bisa ditunggangi. Toothless di buku digambarkan sebagai naga biasa sebesar kucing. Yang terakhir, di film Hiccup tidak bisa berbahasa naga.
Terlepas dari banyak perbedaan, film How to Train Your Dragon sangat jempolan! Tak heran rating di IMDb sebesar 8.2. Cowell menyetujui perbedaan-perbedaan itu dan mengatakan kalau intisari dan pesan yang ada di buku tetap tersampaikan di film. Tunggu How to Train Your Dragon 2 pada tahun 2014! Asik!
Figure.
Proyek berikutnya adalah Lego Creator 4894 Mythical Creature! Aduh tapi yang satu ini mahal. Mari nabung!
Once there were dragons.
Yes, there were dragons.
Rabu, April 04, 2012
Al-Irsyad
Sudah lama saya ingin melihat secara langsung masjid kotak itu karena selama ini hanya melihat dari dunia maya. "Pokoknya gue harus ke sana!" adalah perkataan dalam hati seketika melihat masjid itu di layar kaca laptop. Telusur punya telusur, ternyata masjid itu terletak di Kota Baru Parahyangan. Namanya Masjid Al-Irsyad.
Kota Baru Parahyangan itu di sebelah mananya Bandung? Teman saya bilang ke arah Padalarang dan ada di sebelah kiri; lebih cepat naik mobil karena via jalan tol. Semuanya terjawab dengan jelas saat saya melakukan perjalanan Bandung-Jakarta dengan moda transportasi sepeda beberapa minggu yang lalu. Cerita perjalanannya bisa dilihat di sini. Setelah gowes melewati Cimahi lalu menuju Padalarang, ada papan penunjuk jalan berlatar hijau dan bertuliskan Kota Baru Parahyangan dengan arah panah ke kiri. Beberapa meter kemudian terdapat gerbang yang luas. Ini dia!
30 Maret 2012
Setelah Salat Jumat, saya memutuskan pergi ke lokasi bersama pacar saya, Sasya namanya. Tidak lupa saya membawa pacar ketiga saya, Keny namanya. Silvi –pacar kedua saya– sengaja tidak saya ajak karena bisa sedikit merepotkan. Aduh, pacar saya banyak, ya. Sekilas foto tentang Sasya bisa dilihat di sini. Foto Silvi bisa dilihat di sini, tetapi sayangnya saya belum punya foto pacar ketiga saya, padahal dia yang membantu saya mengambil gambar. Cukup dengan pacar.
Perjalanan sempat tersendat karena ada arak-arakan demonstrasi penolakan kenaikan BBM yang diadakan oleh serikat buruh di Kota Cimahi. Keadaan sangat macet tapi dengan bermodalkan selap-selip dan kenekatan, saya berhasil menerobos hingga barisan terdepan dan melaju meninggalkan demonstrasi. Selebihnya perjalanan lancar, hanya saja harus berbagi jalan dengan banyak truk besar.
Memasuki Kota Baru Parahyangan, saya disuguhi dengan jalan dua arah yang sangat lebar dan mulus dengan median yang lebar dan ditanami pohon. Tidak hanya itu, ada jalur khusus sepeda! Dengan kontur yang sedikit naik-turun, tempat ini sangat cocok untuk sepedahan! Satu hal yang membuat saya kaget adalah adanya sebuah SPBU di dalam komplek Kota Baru Parahyangan.
Saya melaju terus tanpa bertanya. Bentuknya yang khas langsung menarik perhatian dan membuat saya yakin kalau itu adalah Al-Irsyad. Turun dari motor, saya diam sejenak sembari mengarahkan pandangan ke masjid. Wah, puas. Sore itu sedikit berawan dan berangin. Saya mengambil air wudu dan lekas menunaikan solat asar. Kondisi di dalam masjid juga membuat saya terkesima. Tanpa kolom, masjid ini terasa lebih lapang seperti Masjid Salman di depan ITB.
Nikmatnya solat asar saat itu. Angin dari empat arah senantiasa mengalir. Beres solat, saya celingak-celinguk memerhatikan interior mesjid. Di bagian pinggir ditabur banyak batu koral berwarna putih. Terdapat semacam kolam memanjang sepanjang sisi samping masjid yang berisi air jernih dan bermuara ke belakang mimbar. Di bagian depan tidak terdapat dinding, dibiarkan bolong begitu saja. Di tengah kolam, terdapat sebuah bola yang diukir dengan simbol Allah.
Saya melihat ke langit-langit masjid. Terdapat banyak pilar yang menjulang pendek dari atas ke bawah. Dugaan saya benar, jumlahnya 99. Dengan susunan 9 baris dan 11 kolom, terdapat 99 inisial nama Allah atau biasa disebut Asmaul Husna. Saat gelap, lampu-lampu nama Allah itu akan dinyalakan. Sebelum jepret sana-sini, saya meminta izin terlebih dahulu kepada pengurus masjid dan alhamdulillah direstui.


Selesai di dalam, saya beranjak ke luar untuk memerhatikan dinding masjid secara lebih detail. Arsitektural masjid ini luar biasa indah. Tumpukan dua warna bata yang salah satunya berjenis hollow section disusun sedemikian rupa hingga membentuk kaligrafi. Burung gereja dengan cerdiknya memanfaatkan hollow section itu sebagai tempat peristirahatan. Saya pikir sengaja salah satu bata yang digunakan berjenis hollow section agar kesegaran dan kesejukan senantiasa terasa di dalam masjid. Saya menjauh, menikmati sebuah bentuk kotak simpel yang memikat setiap orang yang beribadah di sana.Masjid Al-Irsyad berhasil memesona batin saya dengan kesederhanaan desainnya, belum lagi matahari sore dan suasana senja yang terasa hangat bila disantap oleh hati yang damai.
Jumat, Maret 30, 2012
The Escort
Kata 'escort' pertama kali saya ketahui saat bermain permainan simulasi pesawat bernama ATF (Advanced Tactical Fighters) Gold di komputer semasa sekolah dasar. Berkat permainan itu, saya menjadi tahu lebih banyak tentang berbagai jenis pesawat tempur, helikopter, tank, kapal induk, hingga peluru kendali. Ditambah lagi dulu ayah saya senang merakit dan mengoleksi miniatur pesawat, helikopter, dan kapal induk. Dan semuanya hancur gara-gara saya yang masih bocah. Ya, koleksi itu untuk dipajang, bukan untuk dimainkan oleh seorang bocah. Makanya saya sempat bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur.
Kembali ke topik, ada banyak misi dan campaign (operasi militer) di ATF Gold. Salah satunya adalah misi pengawalan atau the escort. Intinya, saya selaku pilot pesawat tempur harus mengawal pesawat kargo atau penumpang dari posisi A ke posisi B. Jelas, misi kubu musuh adalah menjatuhkan pesawat kargo atau penumpang. Di sini serunya; pertempuran terjadi. Akan tetapi saya tidak mau membahas escort di bidang militer.
Saya selaku pengguna jalan sering merasa dongkol sendiri ketika terjadi the escort. Tidak mengindahkan lampu lalu lintas, petugas memblokir sementara simpul (persimpangan) agar yang dikawal dapat melaju dengan mulus tanpa hambatan. Sebagai tambahan informasi, kesemrawutan lampu lalu lintas berdampak sistemik pada fase di simpang itu dan simpang-simpang berikutnya. Tidak hanya itu, petugas membunyikan klakson meminta pengguna kendaraan minggir karena ada yang mau lewat di sepanjang ruas jalan. Saya yakin banyak masyarakat pengguna jalan juga merasakan kekesalan yang sama.
Saya sebagai warga biasa menganggap bahwa jalan adalah milik bersama. Artinya, apapun yang terjadi di jalan adalah konsekuensi yang harus diterima bersama. Prinsip duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi seringkali tidak diindahkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Pantas saja pembenahan di bidang transportasi seringkali mandek. Toh para pejabat itu tidak merasakan lalu lintas yang sesungguhnya terjadi.
Saya mau mengutip sebuah tweet seorang senior saya. Kira-kira isinya seperti ini: "Siapa bilang Jakarta panas? Di rumah ber-AC, perjalanan ke kantor dengan mobil ber-AC, kantor ber-AC, pulang kantor dengan mobil ber-AC". Agaknya para pejabat dan pemegang kebijakan itu harus merasakan kondisi keseharian masyarakat pada umumnya, misalnya pergi-pulang kantor dengan menggunakan angkutan publik. Pernahkah mereka mengantre saat sore hari jam pulang kantor di halte busway Harmoni? Dengan segala hormat, di sana manusia sudah seperti cendol, Pak. Luar biasa padat.
Sepertinya oke juga jika ada kebijakan berupa setidaknya dalam seminggu ada satu hari tanpa kendaraan pribadi. Gunakan transportasi publik! Semoga dengan hal itu mata, hati, dan telinga para pejabat akan terbuka lebar dan mulut mereka tidak lagi berkoar karena kekuasaan, tetapi pembenahan.
Oh, satu lagi. Saya sangat heran dengan mobil jenazah yang dikawal dengan heboh dan memacetkan lalu lintas. Toh udah meninggal. Tidak ada yang perlu buru-buru, kan?
Kembali ke topik, ada banyak misi dan campaign (operasi militer) di ATF Gold. Salah satunya adalah misi pengawalan atau the escort. Intinya, saya selaku pilot pesawat tempur harus mengawal pesawat kargo atau penumpang dari posisi A ke posisi B. Jelas, misi kubu musuh adalah menjatuhkan pesawat kargo atau penumpang. Di sini serunya; pertempuran terjadi. Akan tetapi saya tidak mau membahas escort di bidang militer.
Saya selaku pengguna jalan sering merasa dongkol sendiri ketika terjadi the escort. Tidak mengindahkan lampu lalu lintas, petugas memblokir sementara simpul (persimpangan) agar yang dikawal dapat melaju dengan mulus tanpa hambatan. Sebagai tambahan informasi, kesemrawutan lampu lalu lintas berdampak sistemik pada fase di simpang itu dan simpang-simpang berikutnya. Tidak hanya itu, petugas membunyikan klakson meminta pengguna kendaraan minggir karena ada yang mau lewat di sepanjang ruas jalan. Saya yakin banyak masyarakat pengguna jalan juga merasakan kekesalan yang sama.
Saya sebagai warga biasa menganggap bahwa jalan adalah milik bersama. Artinya, apapun yang terjadi di jalan adalah konsekuensi yang harus diterima bersama. Prinsip duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi seringkali tidak diindahkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan. Pantas saja pembenahan di bidang transportasi seringkali mandek. Toh para pejabat itu tidak merasakan lalu lintas yang sesungguhnya terjadi.
Saya mau mengutip sebuah tweet seorang senior saya. Kira-kira isinya seperti ini: "Siapa bilang Jakarta panas? Di rumah ber-AC, perjalanan ke kantor dengan mobil ber-AC, kantor ber-AC, pulang kantor dengan mobil ber-AC". Agaknya para pejabat dan pemegang kebijakan itu harus merasakan kondisi keseharian masyarakat pada umumnya, misalnya pergi-pulang kantor dengan menggunakan angkutan publik. Pernahkah mereka mengantre saat sore hari jam pulang kantor di halte busway Harmoni? Dengan segala hormat, di sana manusia sudah seperti cendol, Pak. Luar biasa padat.
Sepertinya oke juga jika ada kebijakan berupa setidaknya dalam seminggu ada satu hari tanpa kendaraan pribadi. Gunakan transportasi publik! Semoga dengan hal itu mata, hati, dan telinga para pejabat akan terbuka lebar dan mulut mereka tidak lagi berkoar karena kekuasaan, tetapi pembenahan.
Oh, satu lagi. Saya sangat heran dengan mobil jenazah yang dikawal dengan heboh dan memacetkan lalu lintas. Toh udah meninggal. Tidak ada yang perlu buru-buru, kan?
Selasa, Maret 27, 2012
Pengurangan Subsidi BBM
Saya masih belum bisa mengambil sikap terkait pengurangan subsidi BBM.
Banyak sektor yang harus ditinjau mulai dari ekonomi, perminyakan dunia, perminyakan nasional, energi, sosial, dan lain-lain. Saya tidak mempunyai kapabilitas yang handal untuk menjelaskan sektor-sektor yang telah saya sebutkan. Di sisi lain, saya tetap berusaha memantau perkembangan berita ini lewat media cetak maupun elektronik. Sayangnya, sulit rasanya menemukan informasi yang menjelaskan kasus ini secara sistematis. Kebanyakan informasi justru tidak objektif dan mengandung bumbu tambahan. Saya tidak mau disetir oleh media.
Nantinya, saya berharap bisa berkesimpulan sendiri. Sendiri, tidak ikut-ikutan.
Ada pihak yang berpendapat bahwa pengurangan subsidi BBM bisa menyelamatkan APBN negara hingga puluhan trilyun rupiah sehingga bisa dialokasikan untuk modal lain. Di sisi yang berseberangan, ada yang berpendapat –dengan perhitungan– bahwa itu semua adalah kebohongan yang dilakukan pemerintah untuk memperoleh kelebihan yang lebih besar lagi, bukan menambal kebolongan. Rakyat Indonesia, termasuk saya, dibuat pusing.
Peningkatan harga BBM secara langsung berdampak pada peningkatan harga barang. Hal ini logis karena ada biaya assembly dan distribution dalam proses pembuatan sebuah barang. Ditambah lagi dengan peningkatan tarif angkutan umum karena 60-70% dari total BOK (biaya operasi kendaraan) adalah konsumsi bahan bakar. Biaya transportasi di negara berkembang adalah 30-200% dari biaya total. Sebagai tambahan, negara kepulauan seperti Indonesia memiliki tantangan besar di bidang transportasi karena terjadi transit cost (penambahan biaya) saat perpindahan moda di terminal (misal bandara dan pelabuhan). Jadi, jangan heran jika harga segelas plastik air mineral di tanah Papua adalah lima ribu rupiah. Efisiensi di terminal; itu yang dibutuhkan di Indonesia.
Sekarang saya membayangkan pengurangan subsidi BBM itu terjadi. Artinya, terjadi peningkatan harga di sana-sini. Artinya, pengeluaran masyarakat semakin besar. Artinya, pemerintah punya trilyunan rupiah untuk sektor lain. Lantas, apakah kesejahteraan rakyat terakselerasi? Belum tentu. Apakah terbangun infrastruktur dan sistem logistik sebagai prasarana mobilitas dan penumbuh perekonomian? Tidak pasti. Apa jaminan pemerintah? Tidak ada.
Saya jengah. Masyarakat lelah. Lihatlah media sekarang, isinya korupsi yang berkepanjangan di jajaran tinggi pemerintahan. Dengan mindset kekuasaan (bukan pembenahan), tikus-tikus busuk itu dengan bebas meraup uang rakyat sehingga APBN jebol perlahan-lahan namun pasti. Skenario bunglon terjadi; manis saat kampanye lalu jahanam saat berkuasa. Belum lagi law enforcement yang masih lemah di Indonesia. Di Arab, koruptor dipotong tangannya. Di Cina, koruptor dipenggal kepalanya. Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanannya. Suap-menyuap dengan lembaga yudikatif sudah biasa.
*
The concept of demand management. Sebuah konsep makro yang tidak lagi berkiblat ke prinsip predict and provide, tetapi ke prinsip predict and prevent. Artinya, penekanan jumlah permintaan dilakukan secara masif yang harus diiringi dengan pengembangan keberpihakan angkutan publik. Penekanan jumlah kendaraan pribadi bisa dilakukan dengan perbaikan pelayanan transportasi publik. Akar persoalan membengkaknya subsidi BBM terletak di sisi permintaan, yakni konsumsi secara besar-besaran dari kendaraan pribadi. Miris sekali ketika ada Alphard yang mengantri premium di SPBU.
Agar masyarakat mau beralih moda, angkutan umum harus memiliki asas transportasi: andal, aman, nyaman, efektif, efisien, dan berwawasan lingkungan. Angkutan publik berhak menikmati BBM yang bersubsidi karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Selama ini subsidi angkutan umum hanya 3% tapi 90% lebih untuk kendaraan pribadi. Selain itu, konversi BBM ke BBG masih belum memiliki taring. Di seluruh Indonesia baru ada 20 stasiun pengisi bahan bakar gas. Delapan di Jakarta, hanya empat yang beroperasi. Banyak hal memang yang harus dipertimbangkan seperti converter-kit atau pengalihan produksi secara keseluruhan kendaraan berbahan bakar gas. Padahal harga satu liter BBG lebih murah daripada satu liter premium, yakni Rp 3.100,00 per liter.
*
Other resources. Alternative energy.
Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia (ratusan ribu kilometer), namun potensinya belum dimaksimalkan. Brazil memiliki Pantai Copacabana yang hanya memiliki panjang tujuh kilometer tapi mampu menyumbang 20% dari total APBN Brazil. Pemanfaatan pasang-surut untuk menggerakkan turbin hidro di sepanjang daerah pesisir. Indonesia memiliki 40% dari total energi panas bumi di dunia karena terdapat barisan gunung berapi aktif, namun baru termanfaatkan 4% dari total potensi. Energi matahari! Energi angin! Sejak tahun 2006, pemerintah sudah merencanakan infrastruktur untuk energi terbarukan hingga tahun 2025. Saya yakin konsepnya sudah ada, tetapi dibutuhkan komitmen dan ketegasan secara menyeluruh. Dan tidak korupsi.
Indonesia, harapan itu masih ada.
Hiduplah Indonesia Raya!
Kamis, Maret 22, 2012
Gowes Bandung - Jakarta
Bandung - Cimahi - Padalarang - Cianjur - Cariu - Jonggol - Cileungsi - Bekasi - Jakarta.
Minggu, 18 Maret 2012, 03:30 - 18:30, 15 jam.
Gandrie Ramadhan, Ghazi Binarandi, dan Rendy Anditya. Tiga orang agak waras ini mencari sesuatu yang berbeda. Jika Warung Bandrek dan Lembang sudah biasa, maka Jakarta tujuan berikutnya. Sebatas itu saja. Sampai di Jakarta dengan selamat dan utuh, perjalanan ini berhasil memesona batin saya. Puas.
Niat saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kondisi sepeda yang mumpuni. Berdasarkan hal itu, beberapa peningkatan dilakukan di sepeda, terutama sepeda Ghazi. Ratusan ribu rela dia keluarkan agar perjalanan tidak terkendala masalah internal sepeda. Saya dan Rendy hanya membeli beberapa perlengkapan tambahan seperti P3K, kunci L, ban dalam, pompa, dan beberapa barang lain.
Sebagus apapun sepeda, tetap pengendaranya yang menentukan. The man behind the gun is more important. Sadar akan hal tersebut, kami sengaja melatih fisik dengan gowes beberapa kali ke Warung Bandrek di pagi hari. Selain itu, kami tidak lupa berguru dari orang yang lebih ahli mengenai kondisi selama perjalanan dan teknik bersepeda.
Rendy dan Ghazi menginap di kosan saya di Tubagus. Malam minggu itu kami tidur pukul 21:00 dan memasang alarm tepat pukul 02:00. Sarapan dini hari berupa air putih, roti, susu, dan madu diharapkan menambah stamina dan pemicu eek. Sialnya eek tidak keluar. Peregangan otot kami lakukan dari persendian di daerah kepala hingga ke bagian kaki agar tidak terjadi kram selama perjalanan. Diawali dengan doa dan mengucap bismillah, tepat pukul 03:30 kami berangkat.
Dinginnya Bandung kami atasi dengan jaket parasut ITB yang kami punya sejak diterima di kampus cap gajah. Tubagus, Dago, Cikapayang, Pasopati, Pasteur, lalu selamat tinggal Kota Bandung. Di pinggir jalan Tol Pasteur kami menemui orang mabuk yang sedang dibonceng motor lalu dia berteriak "Asik nih, asik nih, asik nih!" sambil menggoyangkan jempolnya di udara. Oh, freaky. Jalan dari Padalarang menuju Cianjur berupa turunan tiada batas. Lampu penerangan sangat vital karena masih pagi buta dan ada area yang benar-benar hitam alias gelap. Bahkan Rendy hampir jatuh. Sebagai tambahan, kami harus berbagi jalan dengan truk-truk besar.

Jalan sepanjang Cariu - Jonggol - Cileungsi bervariasi berupa turunan, tanjakan, dan datar. Di sini teknik perpindahan gigi sepeda (shifting) sangat penting agar perputaran kaki di pedal selalu konstan, tidak peduli kondisi kontur jalan yang sedang dihadapi. Kalau di jalan menuju Warung Bandrek ada sebuah tanjakan bernama 'putus asa', maka dalam perjalanan ini ada beberapa tanjakan yang saya namakan 'ultra luar biasa putus asa'. Sangat melelahkan otot paha dan punggung.



Kami sempat berhenti untuk makan pisang dan minum air kelapa. Tidak tanggung-tanggung, dua sisir pisang dan tiga batok kelapa kami hajar! Wah, itu luar biasa nikmatnya. Untuk makan siang, kami berhenti di sebuah rumah makan Sunda. Menunya hanya ayam bakar dan pemesanan tidak bisa per bagian melainkan harus satu ayam utuh mulai dari kepala hingga kaki. Ayam bakar ini luar biasa kampung! Dagingnya (otot) sangat melekat di tulang! Makan siang saya akhiri dengan segelas es jeruk. Wah, ini surga.


Pemandangan selama perjalanan Cileungsi - Bekasi - Jakarta bukan lagi sawah yang hijau dan pepohonan yang asri, tetapi sudah berupa beton kawasan industri dan perumahan. Sempat turun hujan dua kali tapi untungnya hanya sebentar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Jalan ini sangat panjang dan membosankan. Ditambah lagi dengan Jalan Kalimalang yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta terasa sangat panjang. Sekitar 20 meter dari rumah Rendy, Ghazi terserempet motor lalu jatuh. Untung lukanya tidak parah. Sampailah kami di tujuan akhir. Hore!
Tidak, tidak. Kami tidak gowes (lagi) ke Bandung dari Jakarta. Tiga manusia dengan tiga sepedanya berjejalan dalam sebuah Panther. Dua jam saja perjalanan dan halo, Bandung!

Sebagai kesimpulan, perjalanan seperti ini cukup sekali semur hidup dan sepeda bukanlah moda transportasi yang tepat untuk perjalanan Bandung - Jakarta.
Minggu, 18 Maret 2012, 03:30 - 18:30, 15 jam.
Gandrie Ramadhan, Ghazi Binarandi, dan Rendy Anditya. Tiga orang agak waras ini mencari sesuatu yang berbeda. Jika Warung Bandrek dan Lembang sudah biasa, maka Jakarta tujuan berikutnya. Sebatas itu saja. Sampai di Jakarta dengan selamat dan utuh, perjalanan ini berhasil memesona batin saya. Puas.
Niat saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kondisi sepeda yang mumpuni. Berdasarkan hal itu, beberapa peningkatan dilakukan di sepeda, terutama sepeda Ghazi. Ratusan ribu rela dia keluarkan agar perjalanan tidak terkendala masalah internal sepeda. Saya dan Rendy hanya membeli beberapa perlengkapan tambahan seperti P3K, kunci L, ban dalam, pompa, dan beberapa barang lain.
Sebagus apapun sepeda, tetap pengendaranya yang menentukan. The man behind the gun is more important. Sadar akan hal tersebut, kami sengaja melatih fisik dengan gowes beberapa kali ke Warung Bandrek di pagi hari. Selain itu, kami tidak lupa berguru dari orang yang lebih ahli mengenai kondisi selama perjalanan dan teknik bersepeda.
Rendy dan Ghazi menginap di kosan saya di Tubagus. Malam minggu itu kami tidur pukul 21:00 dan memasang alarm tepat pukul 02:00. Sarapan dini hari berupa air putih, roti, susu, dan madu diharapkan menambah stamina dan pemicu eek. Sialnya eek tidak keluar. Peregangan otot kami lakukan dari persendian di daerah kepala hingga ke bagian kaki agar tidak terjadi kram selama perjalanan. Diawali dengan doa dan mengucap bismillah, tepat pukul 03:30 kami berangkat.
Dinginnya Bandung kami atasi dengan jaket parasut ITB yang kami punya sejak diterima di kampus cap gajah. Tubagus, Dago, Cikapayang, Pasopati, Pasteur, lalu selamat tinggal Kota Bandung. Di pinggir jalan Tol Pasteur kami menemui orang mabuk yang sedang dibonceng motor lalu dia berteriak "Asik nih, asik nih, asik nih!" sambil menggoyangkan jempolnya di udara. Oh, freaky. Jalan dari Padalarang menuju Cianjur berupa turunan tiada batas. Lampu penerangan sangat vital karena masih pagi buta dan ada area yang benar-benar hitam alias gelap. Bahkan Rendy hampir jatuh. Sebagai tambahan, kami harus berbagi jalan dengan truk-truk besar.

Jalan sepanjang Cariu - Jonggol - Cileungsi bervariasi berupa turunan, tanjakan, dan datar. Di sini teknik perpindahan gigi sepeda (shifting) sangat penting agar perputaran kaki di pedal selalu konstan, tidak peduli kondisi kontur jalan yang sedang dihadapi. Kalau di jalan menuju Warung Bandrek ada sebuah tanjakan bernama 'putus asa', maka dalam perjalanan ini ada beberapa tanjakan yang saya namakan 'ultra luar biasa putus asa'. Sangat melelahkan otot paha dan punggung.



Kami sempat berhenti untuk makan pisang dan minum air kelapa. Tidak tanggung-tanggung, dua sisir pisang dan tiga batok kelapa kami hajar! Wah, itu luar biasa nikmatnya. Untuk makan siang, kami berhenti di sebuah rumah makan Sunda. Menunya hanya ayam bakar dan pemesanan tidak bisa per bagian melainkan harus satu ayam utuh mulai dari kepala hingga kaki. Ayam bakar ini luar biasa kampung! Dagingnya (otot) sangat melekat di tulang! Makan siang saya akhiri dengan segelas es jeruk. Wah, ini surga.


Pemandangan selama perjalanan Cileungsi - Bekasi - Jakarta bukan lagi sawah yang hijau dan pepohonan yang asri, tetapi sudah berupa beton kawasan industri dan perumahan. Sempat turun hujan dua kali tapi untungnya hanya sebentar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Jalan ini sangat panjang dan membosankan. Ditambah lagi dengan Jalan Kalimalang yang menghubungkan Bekasi dengan Jakarta terasa sangat panjang. Sekitar 20 meter dari rumah Rendy, Ghazi terserempet motor lalu jatuh. Untung lukanya tidak parah. Sampailah kami di tujuan akhir. Hore!
Tidak, tidak. Kami tidak gowes (lagi) ke Bandung dari Jakarta. Tiga manusia dengan tiga sepedanya berjejalan dalam sebuah Panther. Dua jam saja perjalanan dan halo, Bandung!

Sebagai kesimpulan, perjalanan seperti ini cukup sekali semur hidup dan sepeda bukanlah moda transportasi yang tepat untuk perjalanan Bandung - Jakarta.
Label:
Pengalaman,
Perjalanan,
Sahabat,
Sepeda
Sabtu, Maret 10, 2012
Hidayah
hi·da·yah n petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.
Saya terlahir Islam. Ayah dan Ibu saya Islam. Mereka menikah secara sakral di bawah panji Islam. Ibu menyebut nama-Nya ketika berusaha mengeluarkan saya dari perutnya dan Ayah mengumandangkan adzan seketika alam dunia menyapa saya dengan gembiranya. Saya hanya bisa menangis.
Dulu, hidayah yang menggiring saya ke payudara Ibu. Mengecap dan meminum ASI dari puting Ibu membuat saya tenang dan damai. Hidayah yang membuat saya mampu merespons peristiwa: tertawa saat bahagia dan merana saat duka. Hidayah yang menuntun saya untuk berpikir. Pelajaran hidup senantiasa direkam agar tidak seperti keledai yang jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lubang yang sama. Hidayah yang membantu saya membedakan kebajikan dengan kebatilan. Dan hidayah yang membuat manusia menjadikan agama sebagai panduan hidup.
Pada kenyataannya, di dunia ini terdapat beberapa golongan manusia. Mereka menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Kalau Tuhan yang dimaksud sama, apakah Tuhan bermasalah dengan metode penyembahan yang berbeda-beda? Saya rasa jawabannya iya.
Saya tidak bisa menjamin diri saya Islam sekarang apabila dulu terlahir sebagai seorang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Yahudi, Konghucu, atau agama lain. Namun, saya bersyukur saya Islam dan satu hal yang saya yakin adalah Tuhan itu satu dan Dia tidak bisa dijangkau dengan nalar manusia.
Berbicara dalam konteks Islam, siapa yang berhak menerima hidayah Islam? Apa saja syarat menerima hidayah Islam? Hanya Dia yang tahu jawabannya. Bahkan seorang Muhammad yang berhati dan berkepribadian suci tidak mampu meluluhkan hati Abu Thalib untuk memeluk Islam.
Apa yang bisa saya lakukan?
Tidak ada selain bermunajat.
Saya terlahir Islam. Ayah dan Ibu saya Islam. Mereka menikah secara sakral di bawah panji Islam. Ibu menyebut nama-Nya ketika berusaha mengeluarkan saya dari perutnya dan Ayah mengumandangkan adzan seketika alam dunia menyapa saya dengan gembiranya. Saya hanya bisa menangis.
Dulu, hidayah yang menggiring saya ke payudara Ibu. Mengecap dan meminum ASI dari puting Ibu membuat saya tenang dan damai. Hidayah yang membuat saya mampu merespons peristiwa: tertawa saat bahagia dan merana saat duka. Hidayah yang menuntun saya untuk berpikir. Pelajaran hidup senantiasa direkam agar tidak seperti keledai yang jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lubang yang sama. Hidayah yang membantu saya membedakan kebajikan dengan kebatilan. Dan hidayah yang membuat manusia menjadikan agama sebagai panduan hidup.
Pada kenyataannya, di dunia ini terdapat beberapa golongan manusia. Mereka menyembah Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Kalau Tuhan yang dimaksud sama, apakah Tuhan bermasalah dengan metode penyembahan yang berbeda-beda? Saya rasa jawabannya iya.
Saya tidak bisa menjamin diri saya Islam sekarang apabila dulu terlahir sebagai seorang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Yahudi, Konghucu, atau agama lain. Namun, saya bersyukur saya Islam dan satu hal yang saya yakin adalah Tuhan itu satu dan Dia tidak bisa dijangkau dengan nalar manusia.
Berbicara dalam konteks Islam, siapa yang berhak menerima hidayah Islam? Apa saja syarat menerima hidayah Islam? Hanya Dia yang tahu jawabannya. Bahkan seorang Muhammad yang berhati dan berkepribadian suci tidak mampu meluluhkan hati Abu Thalib untuk memeluk Islam.
Apa yang bisa saya lakukan?
Tidak ada selain bermunajat.
Langganan:
Postingan (Atom)







