Sabtu, Oktober 01, 2011

Rumah Masa Depan

Bumi berputar, bumi makin sesak.

Lonjakan populasi manusia tidak akan pernah bisa terbendung. Hal ini sangat kontras dengan keberadaan daratan di Bumi yang konstan. Waktu SD, perbandingan daratan-lautan di Bumi adalah sekitar 30:70. Jenuh mulai terasa dan puncak jenuh akan dicapai. Ke mana peradaban manusia berikutnya? Bawah laut? Planet lain?

Yang ingin coba aku katakan adalah lahan atau tanah di Bumi ini semakin sedikit untuk dimiliki. Bangunan tempat tinggal cenderung berpola vertikal daripada horizontal, sebut saja apartemen yang sekarang membeludak di tengah maupun pinggir kota. Aku tak mau rumah masa depanku merupakan sekotak ruangan yang berada di lantai 57. Kotak itu kemudian diberi sekat-sekat untuk membedakan fungsi ruang: Kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lain-lain. Sigh.

Aku ingin rumah. Rumah yang sebenarnya.

Selain emas, tanah merupakan investasi jitu. Harganya terus membumbung tinggi setiap tahunnya, apalagi kalau letaknya strategis. Aku mulai memikirkan hal ini walaupun belum bisa banyak bertindak sekarang. Pertanyaannya pertama, mampukah nanti aku membeli sepetak tanah untuk kubangun menjadi rumahku? Pertanyaan kedua, masih adakah lahan kosong nanti?

Aku takut namun mari bermimpi.

Rumah masa depanku tidak perlu besar, cukup sedang saja. Entah, aku malah risih dengan rumah besar berpilar ukuran raksasa di halaman depan, terlebih lagi biasanya rumah sebesar itu hanya dihuni dua sampai tiga orang. Sangat disayangkan. Pagar rumahku berukuran standar lalu kita memasuki halaman yang bisa memuat dua buah mobil. Ada sebuah garasi untuk utak-atik mobil, motor, atau sepeda. Di samping tempat parkir mobil ada halaman berisi rerumputan dan tanaman. Dua buah kursi diletakkan menjelang pintu masuk.

Masuk ke dalam rumah disuguhi dengan ruang tamu yang tidak terlalu besar dengan beberapa kursi ukiran dari Jepara. Diteruskan dengan ruang keluarga berlantai kayu yang cukup besar untuk saling berinteraksi dan bercengkrama. Beberapa sofa empuk dan televisi layar datar memanjakan penghuninya. Ruang keluarga merupakan sebuah pusat dan terhubung ke berbagai ruang lainnya seperti kamar tidurku dengan sang istri, ruang makan, dapur, musholla, kamar mandi, dan halaman belakang. Di halaman belakang terdapat kursi untuk aku membaca novel di Sabtu sore sambil menyeruput kopi dan ditemani gemercik air kolam berisi ikan koi. Aku juga berpikir memelihara kelinci yang nantinya akan beranak.

Untuk ruang makan, kamar mandi, dan dapur cukup dengan kualitas standar saja. Tak perlu di kamar mandi ada bath tub, cukup pancuran air (shower) panas-dingin dan kloset di pintu sebelah. Meja di ruang makan terbuat dari kaca tebal dan kursinya dari kayu. Di dapur tersedia lengkap peralatan memasak dan cerobong untuk mengalirkan panas atau asap saat memasak.

Lantai dua.

Ibu dan anak tangga terbuat dari kayu. Di tangga, di lantai satu-setengah, dipajang foto keluargaku. Berlantai kayu, lantai dua terasa lebih luas karena hanya terdiri dari dua kamar anak, satu kamar pembantu, dua kamar mandi, balkon, dan tempat menjemur. Material kayu terlampau lezat untuk dilewatkan. Warna cokelatnya yang menenangkan dan rasanya yang hangat saat diinjak merupakan kesenangan pribadi. Dua kamar anak ini harus dibuat senyaman mungkin, begitu pula dengan kamar pembantu. Aku sangat menghormati mereka yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Aku tak mau ada hiasan yang aneh-aneh seperti patung binatang atau lukisan tidak jelas. Aku mau rumahku kaya dengan lafazh Allah dan Muhammad.

Kira-kira seperti itulah gambaran umum rumah masa depan. Lebih detailnya izinkan aku berdiskusi dengan istriku nanti. Akan sangat menyenangkan nanti berdua memilih dan membeli perabot rumah tangga seperti kulkas, TV, blender, telepon, kompor gas, gelas, lemari, pagar, kasur, kursi, wastafel, gagang pintu, gorden, dan lain-lain. Ace Hardware dan Index mungkin tujuanku. Hehe.

Honda menegaskan agar jangan takut untuk bermimpi. Ekstra energi itu timbul dari niat dan mimpi. Perjuangan dimulai dari sekarang, Bung!

Seperti apa rumah masa depan Anda?

3 komentar:

tiarakami mengatakan...

dari dulu gw selalu ingin rumah dengan halaman belakang yang luas tempat gw bisa duduk2 sambil main sama anjing gw.
itu saja dulu hahaha

Ghazi Binarandi mengatakan...

Rumah gua nanti di Dago Pakar (kecuali istri gua nggak mau).

ika mengatakan...

gw pengen punya rumah di tepi pantai dengan jendela yang banyak, udara pantai bisa masuk ke rumah kapan pun dia mau,hehe