Senin, November 05, 2012

Guangzhou Visit

Berjarak sekitar 3323 kilometer dari Jakarta, Guangzhou adalah salah satu kota metropolitan di Cina. Secara sekelabat bisa diperhatikan bahwa trotoarnya sangat lebar, tidak ada sepeda motor yang boleh masuk ke dalam kota, tidak ada papan reklame yang merusak estetika, tidak ada kabel listrik yang berseliweran, dan banyak toko pangkas rambut. Efektif dua hari saya ditugaskan untuk meninjau BRT (bus rapid transit), bike sharing, dan greenway.

1. BRT
GBRT (Guangzhou BRT) mulai beroperasi pada tahun 2010 dan hingga sekarang menduduki BRT dengan kapasitas tertinggi kedua sedunia setelah TransMillenio (BRT di Bogota, Kolombia). Dengan (hanya) 22,5 kilometer panjang jalur dan 26 halte, GBRT mampu mengangkut 29.900 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Bandingkan dengan TransJakarta (TJ) yang lebih dulu ada pada tahun 2004. Dengan total 134 kilometer panjang jalur dan 197 halte, TJ baru mampu mengangkut 3.400 penumpang per arah per jam saat jam sibuk. Ada apa nih?

TJ tidak direncanakan dengan baik. Simpelnya, gubernur DKI Jakarta waktu itu, Bang Yos, diajak melihat TransMillenio di Bogota lalu dia ingin seperti itu ada di Jakarta. Dan, voila! Jadilah TJ. Semua desain seperti CTRL+C lalu CTRL+V dari Bogota.

Pertama, TJ yang sekarang masih menggunakan konsep trunk only. Sebenarnya trunk-feeder sih tapi feeder bus akan segera berhenti beroperasi karena operator merasa tidak diuntungkan (tidak ada demand). Seperti tidak bercermin dari bus feeder, Dishub DKI malah meresmikan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway) yang setelah saya survei juga sangat minim dipakai oleh masyarakat. Sialnya, sudah biasa bila proyek di Jakarta 'berhenti' sampai peresmian. Peresmian dianggap sebuah keberhasilan. Hal ini sering dijadikan batu loncatan atau roket bagi yang meresmikannya. Setelah peresmian, sebodo teuing kata orang Sunda.

Pak Bos sedang menjelaskan

GBRT menggunakan sistem direct service. Sistem ini bertujuan untuk meminimalisasi transfer sehingga cakupan rute yang dilayani dan frekuensi bus akan bertambah. Direct service di Jakarta direncanakan bekerja sama dengan operator bus sedang yang sudah ada (Kopaja dan Metromini). Tentu saja dengan bus Kopaja dan Metromini yang baru, khusus, dan tidak usang. Gila, saat jam sibuk setiap 10 detik GBRT lewat. 10 detik! Di Jakarta, sayang sekali teman saya harus menunggu hingga satu jam ke arah Lebak Bulus dari Harmoni. Satu jam!

Halte dengan panjang hingga 200 meter
Overtaking lane

Kedua, penambahan armada bus TJ yang dijanjikan oleh Jokowi merupakan angin segar, tetapi harus dibarengi dengan ekspansi halte eksisting. Setiap halte di Guangzhou memiliki overtaking lane sehingga bus bisa menyalip dan tidak terjadi penumpukan bus (bunching) yang menunggu untuk naik-turun penumpang. Selanjutnya, halte dibuat sangat panjang dan terdiri dari beberapa sub-pemberhentian. Rata-rata panjang halte di Guangzhou adalah 200 meter dan yang terpanjang adalah Halte Shidajida dengan empat sub-pemberhentian (285 meter). Bayangkan, 285 meter! Ekspansi halte di Jakarta direncanakan cukup terdiri dari dua sub-pemberhentian.

LED di samping bus
LED di sub-pemberhentian
Daftar bus yang lewat














Dengan direct service dan ekspansi halte, dibutuhkan signage yang bisa diandalkan di halte. Di bus, LED terpasang di bagian depan, belakang, dan samping. Dengan signage yang baik, penumpang bisa tahu tanpa harus bertanya di sub-pemberhentian mana bus yang akan ia naiki datang untuk mengangkutnya. Berbeda dengan halte di Jakarta yang seperti di dalam kotak penjara, halte di Guangzhou dibiarkan terbuka sehingga arus berjalan kaki masuk dan keluar halte bisa lancar.

Kantor GBRT
Berbagai operator pengendali
Mbak sedang menjelaskan











Ketiga, manajemen armada dikendalikan secara profesional. Saat TJ masih menggunakan kertas spreadsheet, GBRT sudah menggunakan teknologi GPS yang semuanya dikendalikan di dalam pusat kontrol BRT (BRT Control Center). Hal ini mutlak diperlukan agar setiap bus bisa dilacak keberadaannya mengingat operator dibayar per kilometer. Informasi dua arah dapat mengalir antara pusat kontrol dengan setiap halte atau bus.

2. Bike Sharing
Bike sharing berbeda dengan bike rental. Jika bike rental berfokus pada penggunaan selama mungkin (profit), maka bike sharing berfokus pada pengumpan (feeder) untuk jarak pendek ke transportasi publik. Bike sharing adalah sistem jaringan sepeda umum dengan sistem sewa secara murah (bahkan satu jam pertama gratis). Berorientasi pada titik asal-tujuan (origin-destination), bike sharing menggantikan perjalanan pendek dengan berjalan kaki pada jarak satu hingga dua kilometer.

Gowes dulu yuk!
Public bike!
Peta pesebaran halte
























Bike sharing sendiri hingga sekarang terdiri dari empat generasi. Semakin tinggi generasi, semakin berteknologi tinggi. Sistem bike sharing tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kebijakan yang menguntungkan dari pemerintah. Sistem ini harus menjadi bagian dari rencana transportasi kota dan didukung oleh pemerintah untuk keberlangsungan sistem. Untuk tahap awal, di Jakarta akan dibuat 10 dari 100 halte bike sharing. Doakan saja Jak-Bike segera terwujud!

3. Greenway
Greenway adalah semacam jalur hijau memanjang yang aman dan nyaman untuk berjalan kaki, berkumpul, dan beraktivitas. Greenway berfungsi sebagai penghubung antara area permukiman dengan area permukiman yang lain, transportasi publik, atau fasilitas sepeda. Konsep ini ideal untuk diterapkan di jalan perkampungan di Jakarta untuk membuat akses menjadi nyaman ke angkutan umum. Sepeda motor dan mobil tidak boleh masuk, hanya pejalan kaki dan pesepeda. Surga! Greenway di Guangzhou adalah gila! Rasanya ingin lari-lari dan guling-guling setiap ke sana. Biar gambar yang menjelaskan.

Main yuk!
Kanan-kiri adalah tempat tinggal penduduk

Bisa buat merenung dan galau
Di bawah jembatan layang







Guling-guling
Awas kecebur, Pak!











Airnya jernih! Banyak ikan!

Masuk greenway!

























Indonesia (seharusnya) tidak kalah! Bahkan melihat potensi yang ada, Indonesia bisa menjadi nomor satu dalam BRT, bike sharing, dan greenway. Singkirkan energi negatif seperti "Cina kan negara komunis sosialis sehingga masyarakatnya mudah diatur" atau "Indonesia kan negara tropis, panas, susah membuat orang rela berjalan atau bersepeda". Ini Indonesia, ini Jakarta, medan yang dihadapi memang seperti ini:  berprinsip demokrasi dan beriklim tropis. Jangan kalah sebelum berperang dan tidak ada waktu untuk mengeluh. To endeavour!

Kulo

Jakarta, saya tak mau kamu bersifat retrogresif, yang bergerak ke belakang, seraya berpura-pura maju. Perubahan ke arah yang lebih baik itu bisa dilakukan. Pertanyaan hanya satu:

Mau tidak?

4 komentar:

tiarakami mengatakan...

mau banget gan greenway-nya mau mau mau

Gandrie Ramadhan mengatakan...

Mau, mau, mau!
Mari wujudkan di Jakarta!
Dan Bandung juga! Hihi.

dhika mengatakan...

permisi gan..sempet liat durasi lampu merah gak brapa lama disono?

soalnya kalo lampu merah yg kelamaan jg bisa membuat penumpukan bus di suatu tempat

Gandrie Ramadhan mengatakan...

Halo, Dhika. Saya tidak sempat meninjau lampu lalu lintas di sana.
Akan tetapi, saya tahu persis bahwa manajemen lalu lintas di sana terutama intersection treatment sudah direkayasa untuk mencegah bus bunching.