Minggu, Desember 06, 2015

Pot, Sebuah Batas

Entah apa nama tanaman di atas, yang jelas, ada dua buah pot berisikan tanaman tersebut di halaman atas rumah. Keterbatasan lahan membuat penghijauan menggunakan media tanah di dalam pot menjadi solusi alternatif bagi rumah di kawasan padat penduduk.

Semua tanaman rutin disiram dua kali sehari, pagi dan sore. Ia tumbuh ke atas dan ke samping. Batang utama tumbuh ke atas dan selang beberapa waktu tumbuh pucuk yang siap menjadi cabang yang berdaun ke samping.

Ternyata, tanaman yang sama sering ditemukan di sudut-sudut ibukota dengan versi yang jauh lebih besar. Foto di atas adalah jenis tanaman yang sama seperti foto pertama dan diambil saat hari bebas kendaraan bermotor. Apa perbedaannya?

Oh jelas, tanaman pada foto kedua memiliki batang yang lebih kokoh dan daun yang lebih rimbun. Di dalam tanah, tidak terlihat, terdapat akar yang lebih masif dan kuat. Mengapa bisa? Karena pot, sebuah batas.

Kasus ini bisa menjadi berbagai analogi dalam kehidupan. Intinya, agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas (lebih rimbun), batang harus kokoh dengan pondasi akar yang kuat.

Poin yang paling penting, pot itu adalah sebuah batas, sebuah kekangan. Lepaskan batas karena potensi manusia lebih daripada apa yang sekedar dipikirkan. Ia tidak terbatas.

1 komentar:

renjanaganis mengatakan...

analogi yg bagus sekali bung Gandri. jempol. ^-^b